
Ciuman itu lebih kasar dari sebelumnya, Alyena telah tersudut di sofa dengan kilian menjulang di hadapannya menghimpit tubuhnya, dia menahan dengan kedua tangannya, suara Alyena terdengar mengerang mencoba menghindarinya, meskipun sia-sia saja, pria itu tidak bisa di tolak, dia seakan merenggut dan mencicipi bibir Alyena dan memaksanya membuka, kedua tangannya di pegang, Alyena tidak bisa melawannya, merasakan sensasi aneh yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Pria itu akhirnya melepaskan ciumannya, karena mendengar suara isakan yang keluar dari bibir Alyena.
Flashback
Alyena berjalan seorang diri, ketika dia mendorong trolinya, keranjang telah siap di atasnya, tanpa dia sangka dia bertemu dengan Nalia dan Rudith, mereka berdua melewati Alyena begitu saja, meskipun Nalia terlihat berhenti sebentar seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Ayo Nalia, tunggu apa lagi, kenapa kau lamban sekali sih." Ucap Rudith terlihat mendelik kepada Alyena.
Alyena hanya diam saja dan terus mendorong trolinya, dia kembali ke tempat yang terjauh ketika memetik anggur-anggurnya, dia menghela napasnya merasakan penat yang dirasakannya.
Bunyi bel terdengar kembali, dengan tertunduk Alyena berjalan ke bawah pohon dan berjongkok di sana, memikirkan cara lain agar dapat menghindari tuan Regan.
"Anggap saja aku tidak perduli, ya, dia kan telah menciumku, kenapa aku harus bertemu dengannya, akhh aku tidak perduli lagi, aku hanya ingin sendiri. Alyena mengambil bekalnya dan memakannya di bawah pohon seorang diri, Tch biarkan saja, kenapa aku harus makan dengannya setiap hari sampai-sampai aku di musuhi oleh mereka berdua." Ucap Alyena marah, dia mengabaikan ucapan tuan Regan, setelah makan dia segera beristirahat sebentar dan kembali memetik buah anggurnya.
Sore kembali menjelang, Alyena segera menyimpan hasil anggur yang di petiknya di tempat penyimpanan anggur.
Dia berjalan keluar dari ruang ganti ketika seseorang menarik tangannya dan membawanya pergi sambil menghentaknya, Alyena membelalakkan matanya ketika melihat pria itu menariknya kasar dan membawanya masuk ke dalam villa, pria itu lalu menguncinya membuat Alyena mundur ketakutan.
"Apa yang anda lakukan tuan Regan, lepaskan saya." Ucap Alyena, mundur beberapa langkah terus menghindarinya.
"Aku menunggumu sejak siang tadi, tetapi rupanya segala perkataanku kau anggap lelucon?" Ucapnya.
Alyena terdesak, sedangkan pria itu berjalan dan terlihat menakutkan, dia menarik Alyena dan memeluknya erat. Dia menarik dagu Alyena dan sekali lagi menciumnya, membuat tubuh mereka mundur mencari sofa yang terletak di tengah-tengah ruangan, Alyena kini tersudut sementara pria itu tidak menghentikan ciumannya yang kasar.
Pria itu akhirnya melepaskan ciumannya, karena mendengar suara isakan yang keluar dari bibir Alyena.
Alyena menangis sambil memalingkan wajahnya ke samping, dia tidak mau menatap wajah pria yang masih menghimpitnya. Pria itu menghela napasnya, dia akhirnya duduk di samping tubuh Alyena dan mengacak rambutnya.
Alyena segera berlari menuju pintu Villa tetapi sesampainya di sana, pintu itu telah di kunci olehnya, dia sekali lagi ingin membuka pintu itu tetapi pintu itu tetap tidak bergeming.
"Kau terus saja berlari Alyena, aku akan mengatakan keinginanku, aku menginginkanmu."
"Tidak mau, buka pintunya." Ucap Alyena masih dengan tangisnya yang mengalir di pipinya.
"Kau tidak memiliki pilihan lain Alyena, kau tidak bisa lari dariku, meskipun kau terus berlari dan menjauhiku, lepaskan pintu itu, aku akan membukanya." Ucapnya.
Dia mengambil kunci dari sakunya dan segera membuka pintu villa itu, matanya tidak berpindah dari wajah gadis yang menangis dan terlihat ketakutan itu.
Dia menyentuh pundak Alyena membuatnya sangat terkejut, meskipun dia terkejut Kilian masih memegang kedua bahu Alyena menatapnya lekat-lekat.
"Aku ingin bersama denganmu Alyena, berhentilah menangis, aku tidak akan menyakitimu." Dia mengecup kening Alyena, membuat Alyena sekali lagi terkejut.
"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Kilian.
"T-tidak mau, aku bisa pulang sendiri." Tolak Alyena.
"Tidak, aku akan mengantarmu." Ucap pria itu keras kepala, dia memegang tangan Alyena dengan erat dan membawanya keluar dari Villa, mereka berjalan dalam diam, Alyena merasa tidak nyaman berpegangan tangan dengan pria di sampingnya. Tetapi Alyena tidak bisa berbuat banyak karena tangannya direngkuhnya dengan erat.
"Masuklah." Ucap pria itu.
Tanpa mengucapkan apapun, Alyena langsung berbalik dan segera membuka pintu rumahnya dan menutupnya, napasnya masih memburu, setelah merasa dirinya cukup tenang, dia mengintip dari jendela, pria itu telah berjalan kembali ke mansionnya.
~
Sepanjang malam Alyena merenung, dia duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk dirinya dengan selimut.
"Uang tabunganku setidaknya sudah mencukupi untuk mencari kakak-kakakku, aku akan mencari mereka, aku akan berangkat ke Amerika." Ucap Alyena dengan yakin.
Malam itu dia langsung mengepak pakaiannya dan segala kebutuhannya di dalam tas ranselnya, setelah semuanya telah siap, subuh-subuh sekali dia telah keluar dari rumahnya dan berdiri di halte menunggu bis pertama yang datang pada jam 5 pagi. Alyena naik ke dalam bis dan menatap dari kejauhan desanya yang indah, sejauh mata memandang hanya terlihat perkebunan anggur yang terbentang luas, entah kapan dia akan kembali ke tempat ini, dia sudah mengirimkan pesan kepada Sir Alfon mengenai kepergiannya yang mendadak, dan dia akan segera kembali.
"Selamat tinggal Gimmelwald."
~
Perusahaan itu berdiri dan berbasis di kota besar Seattle, Amerika serikat, perusahaan raksasa yang terkenal dengan nama C. A Multi teknologi yang merupakan perusahaan raksasa yang memiliki banyak cabang di setiap kota di Amerika dan juga di Eropa. Pria itu baru saja keluar dari ruang kantornya, tampak beberapa orang berjalan beriringan dengannya, mereka saling mengobrol serius dan terkadang mereka tertawa, setelah mengantar dua orang pria berjas, mereka saling berjabat tangan.
"Terima kasih Mr. Alvaro kita akan berjumpa dalam meeting selanjutnya, kontrak kerja sama ini saya yakin akan menguntungkan dua perusahaan masing-masing, saya permisi."
Setelah kepergian mereka, seorang pria berdiri menghampirinya. "Tuan, rapat pertemuan selanjutnya akan di adakan di hotel MC golden, tuan Mario sangat mengharapkan kedatangan anda."
"Batalkan, saya harus pergi ke suatu tempat." Ucapnya.
"Baik tuan."
Dia mengambil ponselnya dan mengangkat telepon yang masuk.
"Halo Willy, makan siang? apa kau tidak sibuk meneleponku hanya untuk makan siang bersama."
Ok, aku akan segera ke sana."
Pria itu keluar dari perusahaannya dan menuju mobilnya yang terparkir di pelataran kantor, mobil Maybach Mercedess mewahnya telah melaju kencang di jalanan besar kota Seattle. Tiba-tiba saja wajah tersenyum Alyena terbayang di hadapannya. Jari-jarinya mengetuk stir mobil, tatapannya lurus kedepan, mengingat wajah cantik gadis itu menangis membuat sesuatu bergemuruh di dadanya, dia lalu menggelengkan kepalanya. "Mungkin karena aku terlambat makan siang perutku seakan tertumbuk." Gumamnya sambil memegang perutnya.
°°°
Alyena telah tiba di bandara internasional Zurich, sebentar lagi dia akan berangkat dan meninggalkan negaranya, jantungnya terus berdetak memikirkan petualangannya nanti di kota besar Amerika, tempat asing baginya, seumur hidup dia tidak pernah pergi keluar dari negaranya, dan dengan modal nekat dia berangkat ke kota itu untuk mencari kakak-kakaknya.
"Aku akan baik-baik saja, aku akan segera menemukan Kakakku, dan jika saja...jika saja aku mengalami kesulitan aku akan segera menelepon nomor telepon yang diberikan oleh paman Alvaro, jadi aku tidak akan apa-apa." Alyena terus bergumam di tempat duduknya di dalam pesawat.
Durasi perjalanannya membutuhkan waktu sampai 11 jam lebih perjalanan, Alyena menghabiskan waktunya dengan membaca buku, terkadang menonton dan pergi ke toilet setelah itu dia kembali duduk, kemudian tidur.
"Aku akan baik-baik saja." Gumamnya sebelum tidur.
~
Para pekerja di perkebunan telah berdatangan dan segera mengerjakan pekerjaannya, tidak biasanya tuan Regan telah berada di pintu masuk, setiap orang yang datang melihat ke arahnya dan mengucapkan selamat pagi kepadanya.
Sekarang sudah jam 8 lewat, tetapi Alyena masih belum masuk bekerja, dia berjalan menuju rumahnya karena khawatir terjadi sesuatu padanya, sebelum tiba ke rumah Alyena, terlihat dari kejauhan Sir Alfonso berlari menuju ke tempat tuan Regan.
"Ada apa Alfon?" tanyanya, wajahnya terlihat pucat ketika menemui tuan Regan.
"Tuan Regan, Alyena mengirimkan surat kepadaku, dia pergi tuan." Ucap Sir Alfon sambil memberikan surat yang ada di tangannya lalu membacanya. Alisnya berkerut ketika membacanya.
"Apa di Amerika dia memiliki keluarga?" tanyanya.
"Setahuku tidak tuan, gadis itu sebatang kara, orang tuanya meninggal ketika dia berusia 10 tahun dan ayahnya sempat bekerja di perkebunan anda tetapi dia juga meninggal tidak lama setelah istrinya wafat, setahu saya dia tidak memiliki keluarga sama sekali." Ucap sir Alfon.
Tanpa mengucapkan apapun Kilian pergi dan segera kembali ke mansion, dia terlihat sangat marah, tangannya mengepal kuat sehingga surat yang ada di tangannya menjadi hancur dan jatuh di tanah.
Pria itu berlari-lari dengan cepat mengambil kunci mobilnya dan segera menuju ke bandara internasional Zurich.
"Sepertinya tidak akan terkejar, Alyena mungkin saja sudah ada di pesawat." Ucap sir Alfon ketika melihat mobil sport mewah milik tuan Regan melintas dengan kecepatan penuh.
~
"Apa kau tidak memiliki seseorang yang bisa kau panggil menemanimu makan?" tanya Jafier, ketika tiba di sebuah restaurant mewah, di sana telah duduk Willy sambil menyesap winenya.
Dia mengangkat bahunya, lalu kembali mengangkat gelasnya, "Bagaimana kabar Audry? sekarang dia di New york bukan? tanyanya.
"Ya, dia ada di sini, dia sedang sibuk dengan rancangannya, apalagi sepertinya dia sudah memiliki teman kencan." Ucap Willy, matanya masih terfokus pada orang-orang yang berlalu lalang di jendela besar di sampingnya.
"Oh ya bagaimana dengan gadis yang kau ceritakan itu, apa dia meneleponmu?" tanya Willy.
"Tidak, tidak ada telepon sama sekali darinya."
"Kelihatannya kau kecewa." Ucap Willy sambil tertawa, "Usianya masih sangat muda, apa yang kau pikirkan Jafier dia masih anak-anak." Ucap Willy sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukan seperti itu, aku hanya sedikit prihatin pada Alyena, dia terlihat ketakutan menghadapi si Regan." Jawabnya.
"Siapa namanya?" Tanya Willy.
"Siapa?"
"Yang kau sebutkan tadi, siapa nama gadis itu." Ucap Willy dengan alis berkerut yang dalam.
"Namanya Alyena, kalau tidak salah nama lengkapnya Alyena Adams." Ucap Jafier. Tiba-tiba saja Willy berdiri mendadak dari tempat duduknya.
"Namanya Alyena Adams?"
"Ada apa Will, kau baik-baik saja?"
"Apa kau tahu nomor teleponnya?" tanyanya.
"Gadis itu tidak memiliki ponsel, aku hanya memberikan kartu namaku kepadanya, memangnya ada apa Will?" Tanya Jafier.
Willy masih terdiam berdiri mematung, tiba-tiba saja jafier mengambil ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto di hadapan Willy. "Ini Alyena, dia cantik bukan? aku mengambil fotonya diam-diam sewaktu dia menemaniku mengelilingi desa itu, siapapun dapat melihat dengan jelas kecantikan Alyena."
Willy menatap foto itu yang langsung di rebutnya dari tangan Jafier. "Tidak salah lagi, gadis ini Alyenaku." Ucapan Willy membuat Jafier mengerutkan alisnya.
"Sejak kapan dia menjadi Alyenamu, kau bahkan tidak pernah berbicara dengannya." Willy mengeluarkan liontin dari dalam sakunya dan membukanya, tampak wajah ibunya yang tersenyum di foto itu.
"Dia mirip sekali dengan Alyena, siapa dia?" tanya Jafier.
"Dia ibuku." Ucapnya, membuat minuman yang sempat diminum oleh jafier hampir terhambur keluar.
"Kau bercanda?" Ucapnya.
"Tidak, sudah sejak lama aku mencari Alyena, dia adalah adikku dari suami kedua ibuku bernama Nick Adams.
"Kau serius?" Ucap Jafier tidak percaya.
"Aku harus segera ke Swiss dan menjemputnya, kau bilang dia salah satu pekerja di perkebunan itu bukan?" tanyanya.
"Ya, dia bekerja di keluarga Regan, dan satu hal lagi yang sudah kau ketahui, sepertinya Kilian Regan mengincar Alyena, dia terlihat ketakutan ketika bercerita mengenai pria itu.
"Aku berangkat sekarang Jafier." Ucap Willy, dia pergi meninggalkan jafier begitu saja. Jafier menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka ada kebetulan seperti ini, semoga saja Willy cepat-cepat bertemu dengan Alyena.
~
Mobilnya berhenti tepat di pelataran parkiran di bandara, dia segera keluar dan berlari mengelilingi tempat itu, dia mencari-carinya mengelilingi tempat itu, matanya menatap jadwal keberangkatan ke negara Amerika.
"Sial, sudah satu jam yang lalu." Ucapnya.
"Gadis itu akan kemana, apalagi di kota besar seperti itu." Gumam Kilian, dia segera menelepon kepala pelayan di mansionnya.
"Bernett, segera bawakan passport dan siapkan semuanya dan bawa ke bandara, sekarang." perintahnya.
Dia menatap jam di pergelangan tangannya, entah mengapa jantungnya berdetak kencang ketika mengingat kepergian Alyena, jika sesuatu terjadi padanya ini semua adalah kesalahannya. Tidak ada seorangpun yang di kenalnya di kota besar itu, bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpanya.
Alyena masih berada di pesawat, kini dia sedang membaca buku mengenai kota Amerika, mencari tempat teraman untuk menginap dan mencari flat kecil yang bisa di sewanya jika dia ingin menetap sementara di negara itu, tujuannya adalah kota Seattle, entah mengapa dia lebih memilih kota itu di bandingkan kota-kota lainnya, mungkin karena di kartu nama yang diberikan paman Jafier tertera Seattle di sana.
Alyena adalah gadis yang pintar, meskipun dia sangat lugu, dan dia berasal dari desa, dia tahu apa yang harus di lakukannya ketika tiba di negara yang asing baginya, untung saja Alyena sangat fasih mengucapkan bahasa inggris, selain bahasa jerman yang setiap hari digunakannya, sejak kecil Ayah dan ibunya mengajarkan bahasa inggris yang fasih, jadi dia sama sekali tidak mengalami kesulitan jika berbahasa di negara itu nantinya. Alyena mengerjap dia menatap jarum jam di pergelangan tangannya, tinggal sejam lagi, dan dia akan tiba di negara tempat kakaknya berada.