Flower On The River

Flower On The River
Menemukanmu



Beberapa mobil sudah terparkir di depan villa tempat max menyembunyikan ruzy, mereka mendobraknya dan mendapati max bersimbah darah dengan luka-luka lebam di tubuhnya, dia masih hidup meskipun dia bernapas dengan sulit.


Roger memeriksa tempat itu dan mereka mengangkat dokter max, mendudukkannya di kursi, dia mencoba membuka matanya menatap orang-orang yang berdiri dihadapannya.


"Si..siapa kalian?" tanya dokter max.


Roger mengambil kursi di hadapannya menatap max dengan senjata di tangannya.


"Dimana nona Ruzy?" kata Roger dengan memainkan pistol di tangannya.


"Katakan ! kau menculiknya, dimana kau menyembunyikan nona ruzy."


Max menggeleng perlahan dia membuka matanya yang membengkak, "Seseorang mengambilnya ! aku....aku tidak tahu siapa pria itu."


"Apa maksudmu seseorang mengambilnya?" kata roger dengan wajah datar tetapi suara yang mengancam.


"Dia...dia memakai mantel menutupi wajahnya, dia membawa ruzy."


Roger menodongkan pistol tepat di kepala dokter max.


"Tetapi tetap saja kau telah menculik nona Ruzy."


suara datar roger yang tanpa ekspresi mencoba menarik pelatuk membuat dokter max menggigil ketakutan. "Ampuni...ampuni aku." Teriak dokter max.


"Kau seharusnya berpikir sebelum menculik nona ruzy, kau tidak tahu? kau berhadapan dengan siapa?"


"Siapa...siapa sebenarnya kalian?" tanyanya menatap semua pria-pria sangar dihadapannya.


"Kau menculik cucu tuan Chandelier, kau mengerti apa maksudnya?"


Wajah max seketika pucat, "Kau tinggal menunggu kematianmu." Bisik roger padanya.


~


~


Alex mendapati villa tua di dalam hutan, dia tidak menyangka villa seperti ini ada di tengah-tengah hutan Pinus dekat dengan kediamannya selama ini, kalau dugaannya benar, Juan adalah pelaku pembunuhan yang terjadi selama ini.


Dia menghentikan mobilnya dan mulai berjalan dengan pelan, dengan sembunyi-sembunyi dia menatap mobil milik Juan yang terparkir didepan villa. Alex tidak berani menyalakan pencahayaan lewat ponselnya. Dia melihat cahaya remang-remang dari salah satu ruangan di tempat itu, lalu mendengar suara Juan yang bersenandung, dia kemudian berbalik dan menatap ruzy yang terjebak di dinding dengan wajah ketakutan.


Alex mengatupkan bibirnya, matanya berkilat penuh amarah, berani sekali pria sinting itu mencuri miliknya, mulutnya membentuk garis keras. Dia menatap kayu yang cukup besar lalu mengambilnya dan melihat Juan yang mulai mendekati ruzy dan mengecup jari-jarinya.


"Malam ini kau akan menjadi milikku." gumamnya penuh nafsu. Alex menundukkan tubuhnya berjalan perlahan-lahan membuka pintu belakang.


"Dalam mimpimu Juan", Kayu itu menghempaskan wajah Juan hingga dia terperosok di lantai, darah segar keluar dari hidungnya, meskipun begitu dia masih kuat untuk segera berdiri, Juan mengambil besi panjang yang berada di sampingnya, menjadikannya senjata untuk menyerang Alex, tanpa ragu dia menyerang membabi buta, Alex menghindar dengan cepat lalu menangkap besi yang dihempaskan Juan padanya.


"Alex..., seru ruzy sambil terisak, kakinya begitu lemah hingga dia tidak beranjak dari tempatnya.


"NICK...NICK SADARLAH !" Teriak Alex...


Wajah pria itu tersenyum sangar.


"Nick sudah pergi, tubuh ini milikku!"


Dia berteriak kencang, "RASAKAN INI !" dia menyerang alex tepat di lengannya sehingga lengan bajunya robek dan darah menyerbu membasahi kemejanya.


"ALEX...ALEX." Teriak ruzy menangis, Ketika Alex tidak berdaya untuk menyerang dengan satu tangannya, Juan hendak menusukkan besi itu ke tubuh alex.


"RASAKAN INI, KAU HARUS MATI ALEX!"


Juan tidak bergerak, tubuhnya kaku tangannya seketika berhenti diudara, ruzy menusukkan pisau di belakang Juan, darah merembes di bajunya. Ruzy gemetar ketakutan, Alex lalu berdiri kemudian mendorong tubuh Juan hingga terjatuh.


Dia lalu menghampiri ruzy dan memeluknya dengan erat, "Kau tidak apa-apa sayang?" kata alex menatap ruzy.


"Aku tidak apa-apa alex, tapi tanganmu...kita harus mengehentikan darahnya."


Ruzy merobek roknya lalu mengikatnya ke lengan Alex, dia kemudian kembali memeluk Alex.


"Aku pikir aku akan mati di tempat ini." Isak ruzy di pelukan Alex.


"Tidak akan kubiarkan sayang, aku akan mencarimu kemanapun kau pergi sampai aku menemukanmu."


Alex membelai wajah ruzy kemudian mencium bibirnya, dia sangat merindukannya, ciuman alex kini tidak terkontrol dia melumat dan menciumnya begitu dalam, ruzy membalas ciuman Alex mencoba mengimbanginya Walaupun ruzy kesulitan bernapas.


"Haruskah kalian berciuman di saat seperti ini?" Aksen britishnya membuat mereka terkejut.


Alex berdiri menatap wajah pria kesakitan yang menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Ini aku alex, Nick!" katanya sambil menahan sakit di tubuhnya.


"Nick? bagaimana aku tahu kau itu Nick?" Kata alex waspada.


"Kau pernah menjatuhkanku dari kuda di Texas di depan wanita cantik berasal dari rusia agar dia terkesan padamu."


Ruzy mengernyitkan alisnya kemudian menatap alex, "benarkah?" tanyanya.


"Jangan dengarkan dia sayang, semua itu tidak benar." Kata alex membelalakkan matanya ke arah nick.


Alex mencium bibir ruzy perlahan, "Aku hanya mencintaimu sayang", bisiknya, Nick berdecak menatap mereka dengan tidak sabar.


Alex mencoba membantu nick, mengobati lukanya yang berada di punggungnya. Seketika terdengar ribut-ribut dari luar villa, beberapa mobil berhenti, roger membuka pintu dapur dengan beberapa orang-orangnya.


"Nona Ruzy ! anda baik-baik saja?" tanyanya.


"Aku baik-baik saja roger." Ucap ruzy sambil tersenyum lemah.


"Polisi sebentar lagi akan tiba." Roger mengerling nick lalu menatap alex.


"Apa yang terjadi, siapa pria bermantel yang menculik nona ruzy." Kata roger menatap mereka berdua.


"Juan tevez...., kata Nick, "lebih tepatnya jiwaku yang lainnya, dia yang menculik ruzy." Roger memandang nick, masih dengan ekspresi tidak mengerti.


"Aku memiliki kepribadian yang lain, kepribadian ganda." Kata nick dengan tenang.


"Kepribadian ganda? Jadi maksudmu kau yang menculik ruzy? kau pria bermantel itu?"


kata Roger datar tanpa ekspresi.


"Bisa dibilang begitu." Kata nick masih menahan sakit di punggungnya.


Polisi telah tiba, mereka memeriksa semua tempat itu, beberapa mayat wanita telah ditemukan di basemennya, wanita yang terisak yang di dengar ruzy adalah Rory Adeline dia mantan tunangan alex, dia tampak mengenaskan dengan lebam biru di tubuhnya, wajahnya begitu kurus dengan rambut terpotong-potong tidak teratur.


Dia menatap alex seketika wajahnya yang sayu mengeluarkan air mata.


"Alex? kau datang...kau datang mencariku? aku minta maaf aku.....". Kata-katanya tiba-tiba terhenti menatap ruzy yang dipeluk oleh Alex dengan posesif.


"Aku tidak tahu kalau Juan menculikmu juga Rory..." Kata Alex menatapnya. Rory menatap Ruzy dengan pandangan tidak suka yang menempel erat dipelukan alex.


"Oh ya perkenalkan dia Ruzy istriku." Ruzy memandang alex dengan sedikit tersenyum.


"Oh, benarkah? Kalau begitu semoga kau bahagia Alex", Ucap rory nelangsa, dia kemudian dipapah oleh salah satu polisi menuju ambulance.


Mayat wanita yang sudah tidak berbentuk lagi ditemukan di basemen di salah satu jeruji, dia terkurung disana bertahun-tahun, alex mengenal sosok wanita itu.


"Grace?" gumamnya, dia juga salah satu korban Juan. Alex menggertakkan giginya, meskipun Grace gadis manja dan menyebalkan dia tetaplah sepupu alex.


Dia menutup matanya, rasa sesal dan sedih menghinggapinya, waktu itu dia tidak berusaha keras mencari Grace, gadis itu terkenal suka melarikan diri dan pergi bersama pria-pria yang diinginkannya. Nenek Jenat sangat kehilangan cucunya Grace, dia sudah lama wafat sebelum ibu meninggal, penyakitnya menggerogotinya sehingga dia meninggal dua tahun yang lalu, akhirnya kau bertemu cucu kesayanganmu. Pikir Alex menatap mayat Grace yang dibawa ke mobil mayat.


~


Nick dibawa ke mobil ambulance dengan beberapa polisi yang menemaninya. Alex dan ruzy berjalan di sampingnya.


"Aku akan menerima semua kesalahan dan perbuatanku alex ! ini salahku karena aku begitu lemah." Dia tersenyum menatap sahabatnya ini.


"Aku akan mengunjungimu." Kata alex pada Nick.


"Sebaiknya jangan alex, aku tidak tahu kapan Juan mengambil alih kembali tubuhku, jangan menemuiku dulu, kupikir aku akan ke psikiater mengobati penyakitku ini."


"Maafkan aku ruzy." Kata nick menatap ruzy.


"Kumohon jangan bertemu denganku lagi, dia akan datang kembali jika aku melihatmu."


Ruzy mengangguk sedih. Dia tersenyum menatap ruzy untuk kali terakhir. "Selamat tinggal ruzy", bisiknya, dia berjalan dengan tangan yang diborgol dan beberapa polisi di kanan kirinya, sebelum masuk ke dalam mobil, dia berbalik dan menatap ruzy sebentar lalu masuk ke dalam mobil.


Alex menatap kepergian nick yang menolak bertemu dengan alex sebelum dia sembuh total. Ruzy melihat kesedihan di mata alex, dia kemudian memeluknya erat.


"Kita pulang, Willy pasti sedang mencarimu." Ucap alex mengecup puncak kepala ruzy.


~


Roger menemui tuan Chandelier yang telah sadarkan diri.


"Bagaimana dengan cucuku, ruzy?" Katanya sambil terbata-bata.


"Dia selamat tuan." kata roger membungkuk sedikit.


"Tuan Alex berada disana lebih dahulu menyelamatkan nona Ruzy", jelas Roger.


Tuan Chandelier termenung sebentar lalu kembali menatap roger yang berdiri di sebelahnya.


"Roger hubungi Alex, aku ingin bertemu dengannya."


"Baik tuan."


~


"Hentikan alex ! kata ruzy yang mendorong tubuh alex. Alex mengambil kesempatan mencium ruzy sepanjang waktu selama dalam perjalanan pulang .


"Kita tidak akan tiba tepat waktu jika kau selalu berhenti di sisi jalan hanya untuk menciumku alex." kata ruzy yang menutup bibir Alex dengan tangannya.


"Lima menit lagi sayang, Willy akan menempel kepada ibunya sepanjang waktu ketika kita pulang nanti."


Ucap alex menarik ruzy di atas pangkuannya, ruzy menggelengkan kepalanya ketika mendengarnya tapi tetap saja membalas ciuman alex yang mendominasinya.


Alex menarik bibirnya dari bibir ruzy.


"Aku akan menemui tuan Chandelier malam ini, aku ingin dia merestui pernikahan kita."