Flower On The River

Flower On The River
Vol 6



Pagi hari yang menyejukkan, seperti biasanya Alyena bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan sarapan dan bekalnya untuk dibawa ke perkebunan, jaket coklat menutupi seluruh tubuhnya ketika dia keluar dari rumah, dia kemudian mengunci rumahnya sebelum berangkat kerja. Sebelum berangkat, dia berjalan sebentar sembari menunggui Rudith dan Nalia, sehingga mereka dapat berjalan bersama ke perkebunan. Langit tampak cerah meskipun udaranya masih sangat dingin di pagi hari seperti ini.


Alyna selalu berbalik ke belakang mengharapkan Nalia dan Rudith menepuk punggungnya seperti biasa agar mereka berangkat bersama ke perkebunan, Alyena masih menatap orang-orang yang berjalan menuju ke perkebunan.


"Kemana mereka jam segini belum muncul juga." Ucap Alyena kembali menoleh ke belakang, Alyena memutuskan untuk berangkat sendirian, "mungkin mereka berdua datang terlambat."


Setelah sampai di perkebunan, Alyena segera mengganti bajunya dengan seragam biru yang wajib di kenakan oleh para pekerja di perkebunan anggur, setelah siap, dia membawa keranjang besar yang di dorong oleh troli agar setiap orang dapat mengangkut buah anggur, agar buah yang di angkutnya melimpah. Alyena mulai memetik setiap anggur yang ranum dan terlihat matang, jenis anggur yang terkenal di pedesaannya adalah Pinot Noir dan Merlot merupakan Varietas anggur yang paling banyak dibudidayakan dan terkenal di desanya.


Alyena masih mencari-cari dua temannya yang suka bergosip itu, tetapi sampai siang ini mereka tidak datang juga ke tempat biasanya mereka berkumpul.


Bel terdengar ke seluruh penjuru perkebunan, mereka semua beristirahat untuk menikmati makan siang, begitupun Alyena. Dia menghapus jejak keringat di keningnya, lalu matanya terarah pada sosok pria yang di temui Nalia kemarin, Alyena menghampirinya dia ingin mengetahui keadaan Nalia.


"Bukankah kau yang kemarin ngobrol dengan Nalia, apa kau tahu kenapa dia tidak datang bekerja hari ini?" tanyanya.


Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kemarin Nalia dan temannya Rudith belum kembali dari rumah bibinya di desa seberang, mereka bermalam di rumah bibinya karena ketinggalan bis terakhir."


"Benarkah." Ucap Alyena dengan kecewa. "Siang ini aku harus makan seorang diri, mereka semua berkelompok, humm sebaiknya aku cari tempat yang lebih tenang untuk makan bekalku."


Alyena berjalan dan berhenti di sebuah pohon besar dan duduk di sana, tiba-tiba langkah kaki seseorang membuatnya terkejut.


Sir Alfonso terlihat berlari-lari kecil sambil memegang dadanya dan dia terlihat lega. "Alyena, akhirnya aku bisa menemuimu, segeralah bergegas ke Villa."


Ucapnya.


"Ke villa? maksudnya villa yang di sana itu, sir? Kenapa aku harus kesana?" Tanyanya heran.


"Tuan Regan memanggilmu makan siang di sana bersamanya."


"A-apa, tidak mungkin, tapi kenapa?" Ucap Alyena seperti mau menangis.


"Cepatlah ke sana, dia sedang menunggumu, kau tidak boleh terlambat."


Alyena berdiri dan membawa bekalnya, dengan langkah ragu-ragu, dia berjalan menuju villa itu, tetapi suara-suara membuatnya bersembunyi dia menatap tiga orang pria sedang berbincang sambil menikmati wine.


"Apanya yang makan siang, dia sedang memiliki tamu, kenapa aku harus menemaninya makan siang." Gumamnya.


"Namamu Alyena?" Tiba-tiba seorang pelayan muncul di belakangnya.


"Benar, ada apa?"


"Tuan Regan berpesan untuk datang ke kantornya dan jangan lupa bawa wine putih dari tempat penyimpanan anggur."


"A-apa? Oh aku akan mengambilnya." Alyena bergegas berbalik dan membuka gudang penyimpanan anggur yang letaknya berada di bawah tanah. Tempat itu sangat luas dan memiliki banyak koridor dan masing-masing koridor memiliki lemari tempat anggur di simpan sesuai dengan jenisnya.


Alyena mengingat-ingat lokasi tempat anggur putih itu, dia mengingat ketika pria itu membuka lemari anggur putih itu di simpan. "Kalau tidak salah koridor nomor 4." Dia membuka lemarinya dan mencari-cari anggurnya dan menemukannya. Sebelum menutup lemari anggur, dia mendengar suara langkah kaki yang berada di tempat ini, Alyena segera mencari tempat bersembunyi, dia mundur beberapa langkah dan bersembunyi.


"Banyak juga," suara seorang pria terdengar di balik tembok dingin itu. Alyena berjalan pelan-pelan, dia hendak keluar dari tempat itu tetapi pria itu berbalik dan menyadari ada suara-suara lain yang masuk dan sedang menuju ke tempatnya berada, suara itu suara kilian Regan dan seorang pria yang di ajaknya berbicara.


Dia mundur beberapa langkah mencari tempat bersembunyi, ketika suara itu semakin jelas, dia bersembunyi di tempat Alyena bersembunyi, mereka sama-sama bersembunyi di belakang lemari anggur. Pria itu sangat terkejut melihat seseorang bersembunyi bersamanya.


Siapa pria ini, eh bukankah dia pria di cafe itu? Apa yang dilakukannya di sini?


Javier Alvaro menatap gadis itu dan tentu saja dia masih mengenal wajahnya.


"Kenapa dia belum datang juga Alfon, aku sudah menyuruh seorang pelayan agar menyuruhnya mengambil anggur di bawah sini dan segera ke kantorku."


"Maaf tuan, saya sudah jelas-jelas memberitahu Alyena agar dia ke villa, entah dimana anak itu." Ucapnya. "Mungkin dia sudah ada di kantor anda, tuan." Ucap Alfon.


Kilian menatap setiap koridor dan tidak ada seorang pun yang ada di sana, "mungkin kau benar, sebaiknya kita kembali."


"Baik tuan."


Terdengar pintu yang tertutup, Alyena keluar dari tempat persembunyiannya dan bernapas lega, dia menengok ke tempat menghilangnya kedua pria tadi.


"Apa mereka berdua sudah pergi?" Gumamnya.


"Bukankah kau gadis di Cafe itu? Apa yang kau lakukan di sini?" Suara berat baritonnya membuat Alyena terkejut, dia lalu menyadari bahwa bukan hanya dia saja yang sedang bersembunyi di gudang anggur ini.


Alyena melihat pria itu yang berdiri dihadapannya, dia sedang bersedekap menunggu jawaban Alyena.


"Paman sendiri, kenapa paman berada di sini, tempat ini terlarang bagi orang luar untuk masuk ke dalam gudang anggur kami, kualitasnya nanti jadi buruk." Ucap Alyena dengan suara keras.


"Jadi kau bekerja di perkebunan ini." Ucap Javier.


Alyena bingung dengan ucapannya. "Takut? Kenapa aku harus takut paman?" Ucap Alyena tidak paham dengan situasinya.


Pria itu melangkah ke arah Alyena, membuatnya berjalan mundur ke belakang. Apa-apaan pria ini, apa yang ingin dia lakukan. Merasa dirinya terancam Alyena hendak berbalik dan lari dari pria itu, tetapi lagi-lagi tangannya tertahan dan di pegang olehnya.


Dia menyandarkan Alyena ke salah satu lemari anggur yang bersandar di dinding. Dia memegang kedua bahunya dan menahannya, "Kau harusnya takut, gadis kecil."


A-apa-apaan paman ini


dia memerangkap Alyena di tembok itu dan tersenyum licik di hadapannya. Apa yang harus kulakukan? Menendangnya atau menggigitnya? pikir Alyena.


Tiba-tiba dia mundur beberapa langkah, dan menghembuskan napasnya, sebelum dia mengatakan sesuatu, dengan cepat Alyena segera berlari meninggalkan pria itu dan segera keluar dari gudang penyimpanan anggur itu.


"Nyaris saja, siapa paman itu, kenapa dia ada di bawah, apalagi dia bersembunyi ketika tuan Regan datang, Ah ya aku harus mengantar botol wine ini." Alyena berlari dan mencari ruangan kantor milik tuan Regan, di ujung jalan dia bertemu dengan tuan Alfon.


"Kau kemana saja Alyena, makan siang sudah hampir berakhir, cepat bawa anggur itu kedalam."


"B-baik sir." Tanpa menunggu lama Alyena mengetuk pintu, terdengar suara-suara dari dalam, sepertinya tuan regan memiliki seorang tamu.


"Masuk." Terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk.


Alyena membuka pintu masih memegang anggur di tangannya, jantungnya terasa mau copot saking tegangnya.


"T-tuan ini anggur yang anda minta." Ucap Alyena, masih dengan wajah tertunduk, dia pikir pria ini memiliki seorang tamu, ternyata dia sedang menelepon, Alyena melihatnya memberikan isyarat menyuruhnya untuk duduk. Dengan ragu Alyena duduk di salah satu sofa dengan kikuk, sejak tadi dia berlari kesana kemari dan dia belum makan siang, apalagi jam makan siang akan segera berakhir. Selah beberapa menit, pria itu menyimpan ponselnya dan menatap Alyena yang duduk di sana.


"Apa kau kesasar lagi? mencari lemari wine putih itu." Ucapnya tiba-tiba, dia segera berdiri keluar dari tempat duduknya dan mengambil botol anggur yang diletakkan Alyena di atas meja.


"Maafkan saya tuan, saya masih tidak mengingat lemari penyimpanannya." Ucap Alyena berbohong.


Gara-gara paman tadi, aku jadi terlambat.


"Kau belum makan siang? kita makan siang bersama." Alyena menatapnya dan tidak menyangka kepalanya mengangguk secepat itu, dia sejak tadi sangat lapar, apalagi setelah ini, dia harus kembali ke perkebunan untuk memetik anggur dan dia harus mengisi kembali tenaganya dengan makan.


Pelayan masuk dan menghidangkan berbagai makanan di hadapannya membuat wajahnya bersinar melihat makanan lezat di hidangkan di depannya. Mereka makan tanpa berbicara, meskipun terlihat canggung Alyena sangat senang makan makanan lezat ini. Perutnya terisi dengan full dan dia sudah bertenaga lagi.


Apa sebaiknya aku permisi? sejak tadi bel telah lama berbunyi, apa tidak sopan langsung pergi setelah makan?


"Minumlah bersamaku." Perintahnya.


"Permisi tuan, tapi bel sejak tadi sudah berbunyi dan saya harus kembali bekerja." Ucap Alyena.


"Tidak usah kau risaukan, aku sudah berbicara kepada Sir Alfon, tetap di sini dan temani aku minum." Perintahnya. Alyena terduduk di sana, ingin sekali dia keluar dari situasi ini, bagaimana bisa dia minum anggur pada jam seperti ini, bagaimana jika dia mabuk. Pikirnya.


Pria itu menuangkan anggur ke gelas wine yang di ambilnya dari lemari kacanya, Alyena mengambil gelasnya dan menghirup sedikit aromanya, sama seperti sebelumnya, dia tidak menyukai bau menyengat anggur yang menusuk hidungnya.


"Minumlah."


"B-baik tuan." Alyena mengikuti begitu saja perintah pria itu, dan setelah meneguknya, tenggorokannya terasa terbakar karena dia meminumnya sekaligus, Alyena terbatu-batuk, tenggorokannya terasa perih, "Minum, air putih, aku ingin air putih." Ucapnya dengan suara tercekat. Pria itu segera mengambilkan air putih, Alyena segera meminumnya, tenggorokannya yang perih sedikit demi sedikit membaik, tetapi penglihatannya menjadi kabur, kepalanya menjadi pusing dan dia terjatuh begitu saja di atas sofa dan tidak bergerak.


"Dia betul-betul mabuk?" Ucapnya. "Dia tidak berbohong, dia tidak bisa meminum wine ini, apakah begitu keras?" Pria itu mengangkatnya dan memindahkannya di pintu sebelah kantornya, itu adalah ruangan tempatnya beristirahat jika dia bekerja kemalaman dan menginap di kantornya. Kilian meletakkan Alyena di atas tempat tidur, dan menyelimutinya, dia memandangnya sejenak, lalu duduk di sisi tempat tidur dan menatapnya.


"Apa yang membuatmu istemewa, sehingga aku terus mencarimu?" ucapnya, tangannya terangkat dan menghalau rambut-rambut yang menghalangi di dekat wajah Alyena. Wajahnya cantik, kulitnya terlihat putih bersinar, hidungnya mungil, putih kulitnya sangat kontras dengan bibirnya yang ranum berwarna merah alami. "Cantik." Gumamnya.


•••


Alyena mengerjapkan matanya, berkedip beberapa kali, dia merasakan matahari menyinari wajahnya, setelah mengernyitkan alisnya karena terasa sedikit pusing, Alyena terduduk dan memegang kepalanya yang sedikit sakit. Akhirnya dia menyadari kondisinya.


"Aku di mana." Ucapnya, dia memperhatikan keseluruhan ruangan itu, tempat asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Jantungnya kembali berdetak cepat, "Aku sepertinya mabuk setelah minum wine itu, apa tuan Regan yang membawaku kemari?" Ucap Alyena panik, dia segera turun dari tempat tidur itu, dan melihat pakaian yang dikenakannya masih utuh di tubuhnya. Alyena membuka pintu kamar itu perlahan, dia mengintip dan ketika tidak ada orang, Alyena segera keluar dari kamar dan segera berlari dan keluar dari sana, meskipun kepalanya masih sakit, dia harus segera pergi.


Alyena tidak melewati jalan utama karena pada jam seperti ini para pekerja telah pulang dan pos penjagaan telah ditutup, mereka akan curiga jika Alyena baru pulang pada jam seperti ini. Alyena melewati mansion dengan berlari kencang, tanpa melihat kedepan, dia berlari begitu saja, dia lalu menabrak seseorang yang berjalan, Alyena terjatuh di tanah, pria itu juga turut terjatuh, "Apa yang kau lakukan, kenapa kau berlari?" Ucap suara berat itu.


Alyena mengibaskan tangan dan pakaiannya yang terkena tanah, mereka saling menatap, "Kau lagi gadis kecil, apa yang membuatmu lari seperti itu." tanyanya.


Alyena yang terkejut hanya menatapnya dengan pandangan jengkel. "Aku harus pergi." gumamnya. Pria menjulang dihadapannya menghalangi langkahnya. "Dimana kau tinggal? kenapa kau baru pulang sedangkan pekerja lain telah pulang dari tadi." Alyena menatapnya dengan tatapan marah. "Sebaiknya paman menyingkir, aku harus segera pulang, ayahku sedang sakit keras dan adikku sedang menungguku, apa paman mau bertanggung jawab jika sesuatu terjadi kepada mereka."


"apa? Kalau begitu sebaiknya kau segera kembali." Ucap Javier, dia tidak lagi menghalangi Alyena dan membiarkannya pergi. Alyena mengambil kesempatan itu dan segera keluar dari perkebunan. Beberapa menit saja Alyena telah tiba di rumahnya, dengan terburu-buru dia membuka pintu rumahnya dan menguncinya.


"Ahh sial, Kenapa aku seceroboh itu, mabuk dan tidur di sana." Alyena segera masuk ke dalam dan segera mandi agar pusing dikepalanya segera menghilang, dia menatap dirinya di cermin, wajahnya terlihat segar karena telah tidur beberapa jam, sebelum dia beranjak, matanya beralih ke bagian atas dadanya. "Apa ini? kenapa ada bekas seperti ini?" gumanya sambil memegang bekas kemerahan yang terlihat seperti luka.


Alyena segera keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian tidurnya, perutnya keroncongan, dia membuat makanan instan dan segera menyantapnya, hanya satu sandwich yang dibuatnya dengan bahan seadanya, lalu segera menyantapnya. Ketukan terdengar dari pintu rumahnya, dia tersedak ketika mendengar ketukan pelan itu. Sebelum Alyena keluar, dia meminum segelas air putih, setelah itu dia mengintip sedikit dari pintunya, matanya melebar.


"T-tuan Regan?" Ucapnya terkejut.