
Ruzy menekan ponselnya, hari ini alex tidak menghubunginya sama sekali, dia kembali menekan nomor alex tapi sama sekali tidak diangkatnya. Ruzy mulai lelah, dia menatap jam yang menunjukkan tepat jam 12 malam, Sepertinya Alex terlalu lelah, katanya dia memiliki rapat seharian ini.
Ruzy merebahkan tubuhnya, dia menatap langit-langit kamarnya, perlahan dia menutup matanya dan merasakan kecupan-kecupan ringan di wajahnya dan dipundak ruzy yang hangat di rasakannya, ruzy mengeluh, tidurnya menjadi terganggu tetapi jejak-jejak basah masih dirasakannya, dia membuka matanya yang berat karena kantuk.
"Alex? kau datang?" Ruzy menatap alex yang masih mengecupnya di sepanjang pundaknya.
"Aku sangat merindukanmu ruzy." menghirup wangi ruzy dan kembali mengecupnya. "Kau habis minum Alex? kau mabuk? tanya ruzy yang mendorong tubuh Alex yang menghimpitnya. "Tidak, aku menginginkanmu Ruzy", geramnya.
Ruzy kembali mendorongnya, "Tidak sekarang alex, kau harus mandi dan berganti baju, kau sangat berkeringat Alex." tegur ruzy yang melihat alex merebahkan tubuhnya di sampingnya.
"Sebentar lagi sayang, aku terlalu lelah." Ruzy menggeleng lalu dengan cepat mengambil handuk yang sedikit dibasahkannya, kemudian melepaskan pakaian Alex dan membersihkan tubuhnya yang tidur telentang, menggantinya dengan kimono tidur yang disediakan ruzy.
"Kau terlihat lelah Alex." Ruzy mengecup kening Alex lalu menutupnya dengan selimut, dia lalu berbaring di sampingnya merasakan napasnya yang teratur.
Ruzy tersenyum senang, merasa kantuk perlahan menyergapnya, matanya kini tertutup tanpa mengetahui seseorang berdiri di sudut pintu, dengan pandangan tidak suka melihat mereka berdua.
"Sebentar lagi... sebentar lagi aku akan membawamu darinya." ucap pria itu.
'klak'
Dia lalu bersenandung pelan lalu melompat dari jendela yang terbuka, Angin malam yang dingin, tidak menyurutkan langkahnya bertemu dengan sosok yang dicintainya meskipun hanya memandanginya saja, wajahnya menyeringai dikegelapan malam sedikit terkena sinar bulan membuatnya lebih menakutkan.
~
Suara dikejauhan membuatnya terbangun, Alex membuka matanya yang berat, ruzy tidak ada di sampingnya, dia lalu bangun menuju ke kamar mandi, perkataan nick terngiang di telinganya, memikirkan ruzy yang meninggalkannya sekali lagi membuat tubuh alex bergidik, ketakutan tiba-tiba menyertainya, rasa dingin menjalar ditulang belakangnya, padahal dia sedang mandi air hangat. 'Semua akan baik-baik saja', pikiran itu membuat Alex menguatkan tekadnya.
"Kau sudah bangun sayang, padahal willy ingin membangunkanmu, iya kan Willy?" Kata ruzy memutar Willy digendongannya. Alex tersenyum mengecup Ruzy lalu menggendong Willy.
"Kau tidak nakalkan selama dad pergi Hem?" dia memeluk Willy dan bermain-main dengannya. Suara tawa Willy bergema di kamar ruzy.
"Daddy!" suara Willy terbata-bata menyebut kata dad, Alex terheran dia lalu mencium wajah anaknya, "Sudah kubilang dia dengan mudah menyebut dad, iya kan Willy?" kata Alex senang. Alex seketika berbalik mendengar sesuatu, tetapi mengabaikannya. Seorang pelayan turun dengan tergesa-gesa lalu mengirimkan dengan cepat hasil jepretan yang dia ambil sembunyi-sembunyi dan mengirimkannya pada seseorang.
Tuan Chandelier menatap ponsel yang diberikan roger padanya, menatap foto mereka bertiga, "Roger siapkan mobilku aku ingin pulang." Kata tuan Chandelier.
"Baik tuan."
~
Terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan penthousenya, tuan Chandelier bersama Roger dan dua penjaganya masuk ke penthouse ruzy, menatap sepatu seorang pria yang tertata rapi di rak, matanya berkilat memandangnya, mereka bertiga sedang sarapan bersama di meja makan sedang tertawa-tawa tanpa menyadari tuan Chandelier sedang menatap mereka. Tuan Chandelier menatap kegembiraan di wajah ruzy yang terpancar dari wajahnya yang tertawa bebas.
Seketika tuan Chandelier berbalik dan meninggalkan tempat itu, hanya bibi emy yang menyadari kedatangan tuan Chandelier tapi dia tidak memberitahu ruzy.
"Roger kita ke pitthsburg", kata tuan Chandelier.
"Baik tuan."
"Roger hubungi Alex Collagher aku ingin berbicara dengannya sesampainya di pitthsburg." Kata tuan Chandelier.
"Baik tuan". ucap Roger
~
Alex mengenakan jasnya, dia akan berangkat ke kantor pagi ini, ruzy menghampirinya dan memakaikan dasi abu-abunya, "Jam berapa kau pulang alex, apakah kau akan makan malam bersama kami?" tanya ruzy sambil memakaikan dasinya. Ruzy sedikit berjinjit tapi tangannya tidak sampai menggapai leher alex, tiba-tiba alex mengangkat ruzy kedepan agar dia dapat memasangkan dasinya dengan mudah.
"Aku tak tahu sayang, kalau pekerjaanku selesai aku akan segera kemari." Wajah Ruzy sedikit cemberut.
"Baiklah alex, jangan mabuk lagi, aku akan menjauh darimu jika kau datang seperti semalam." Tegur ruzy padanya, alex memutar bibirnya lalu tersenyum.
"Benarkah? kau sanggup menjauh dariku?" dengan senyum mengejek dia mencoba mencium ruzy tapi alex tiba-tiba berhenti, ia hanya menghembuskan napasnya yang panas padanya.
Ruzy yang sudah menutup matanya lalu mengintip melihat alex tertawa padanya.
"Kau mempermainkanku?" kata ruzy sambil melotot.
Dengan sigap alex mencium bibir ruzy dengan keras dan melumatnya tanpa ampun, beberapa lama yang cukup panjang mereka saling berpelukan tanpa memperdulikan waktu.
"Alex jam berapa sekarang kau sudah terlambat sayang." Bisik ruzy yang menyandarkan dagunya di bahu alex, dia kemudian menurunkan ruzy dari pelukannya.
"Ok, aku pergi sayang."
Dia meninggalkan ruzy dengan tubuh yang menginginkan, dan alex mengetahui itu dengan sengaja meninggalkan ruzy.
Terdengar ponsel berdering dari sakunya, segera Alex mengangkatnya. Wajahnya seketika berubah, dia mengangguk cepat. "Baik saya akan segera ke pitthsburg." Kata Alex tenang, dia mengambil kembali jaketnya kemudian meninggalkan kantornya.
Membutuhkan beberapa jam perjalanan untuk sampai ke pitthsburg, alex berpikir cepat, tuan Chandelier tentu sudah tahu tentang hubunganku dengan ruzy dan selama ini kami sudah kembali bersama. Selama sisa perjalanannya membuat alex berpikir keras apa yang diinginkan tuan Chandelier padanya.
"Nona Ruzy pesan dari tuan Chandelier." Kata Roger menyerahkan surat padanya. Ruzy begitu terkejut.
"Kakek sudah keluar dari rumah sakit? tapi kenapa? kata dokter beberapa hari lagi kakek bisa keluar". jelas ruzy menatap roger.
"Dia menginginkan anda segera ke pitthsburg, bersama tuan William." Kata roger menatap Willy digendongan ruzy.
"Oke Roger, kami akan segera berangkat."
Mereka menuju Rojes enterprise, salah satu perusahaan kakek, mereka menaiki lift yang berlantai 96 lalu naik ke atas gedung, helikopter dengan bertuliskan Rojes E. telah menunggu kami sehingga kami akan lebih cepat sampai ke pitthsburg.
"Sebentar lagi kita akan bertemu kakek, kau senang kan sayang?" sambil mengecup pipi kenyal Willy yang memeluk tubuh ibunya.
"Mommy...mommy? Ruzy menunduk menatap Willy. Dia sedang bermimpi menyebut-nyebut kata mommy, ruzy mengecupnya dan menggoyangkan tubuhnya agar Willy tertidur.