Flower On The River

Flower On The River
Vol 35



"Pagi yang indah ini kau sambut dengan wajah murung di wajahmu, sesuatu terjadi?" Nick baru saja duduk di depan meja milik Alyena, tidak lama clara iku bergabung dengan mereka meskipun perhatiannya hanya kepada layar ponselnya.


"Aku hanya berpikir tentang kak Willy, dia pasti sangat kecewa, tadinya dia merasa bertanggung jawab dan dia bersedia melakukannya, meskipun wanita itu mengerikan tetapi mengetahui kejadian sebenarnya, haaah aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghiburnya."


"Sejak tadi apa sih yang kau bicarakan?" Nick terlihat bingung kemudian menatap jam di pergelangan tangannya.


"Ayo kita makan, sebelum bel istirahat berakhir."


"Malas, kalian pergi saja, aku tidak mau makan, lagi pula beberapa jam lagi kita akan pulang." Alyena kembali memanyunkan bibirnya dan memainkan ponselnya.


"Hm, kalau begitu kita makan setelah pulang sekolah, ada tempat yang bagus yang baru kukunjungi, kalian harus ikut denganku." Ucap Nick sambil menepuk kedua tangannya bersemangat.


"kita mau kemana? Memangnya kita bisa boncengan bertiga?" tanya Alyena menatap Nick dengan heran.


"Tenang saja, hari ini aku bawa mobil, kita bisa pergi bersenang-senang." Dia tertawa bersemangat matanya lalu berakhir kepada Clara sambil menghembuskan napas menatapnya dengan wajah prihatin.


"Aku tidak tega membayangkan pria yang akan menjadi kekasihnya nanti, bagaimana pria itu akan tahan jika dia sibuk terus main game, aku juga pecinta game, tapi tidak separah Clara." Ucap Nick lalu merebut ponselnya dan membawanya lari keluar kelas.


"Nickkkk." Clara mengejarnya dengan kemarahan yang menggelegar. "Awas saja kau Nick." Ucapnya, dia berlari mengejarnya sampai bel istirahat berbunyi.


"Haaah, kenapa kalian tidak jadian saja, dari pada saling mengganggu seperti itu." Ucap Alyena menatap kepergian mereka berdua yang berlarian di lorong kelas. Alyena lalu membuka ponselnya, dia kembali menatap wajah pria yang selalu mencuri ciumannya, meskipun sekarang dia tidak melakukannya


lagi karena janjinya kepada Willy.


***


"Tuan, Mr. Alvaro ada di luar." Ucap seorang sekretaris yang masuk ke ruangan William.


"Biarkan dia masuk."


Jafier berjalan dan membuka pintu kantor Willy, dia tersenyum, lalu meletakkan satu paper cup berisi Espreso yang dibelinya dari luar.


"Kau sibuk."


"Kau masih bertanya, aku harus menyelesaikan proyek di Manhattan, sepertinya akan butuh beberapa hari untuk menyelesaikannya."


"Jangan khawatir, kau bisa pergi dengan tenang, aku yang akan menjaga Alyena." Willy menatap tajam kepada Jafier.


"Apa yang sedang kau pikirkan Jafier, kau pikir aku akan membiarkan paman mesum sepertimu menjaga Alyenaku, tentu saja aku akan menyuruh Audry untuk kembali ke Seattle.


Jafier duduk di salah satu sofa di kantor itu, lalu dia berdecak, "Apa kau tahu Audry suka berpesta? bagaimana jika dia mengajak Alyena pergi ke pesta liarnya yang ada di Club-club itu, dia kan lebih memberikan kebebasan kepada Alyena di bandingkan kau."


"Audry akan kunasehati sebelum aku berangkat ke Manhattan, kau adalah pilihan terakhir yang akan aku hubungi jika tidak ada lagi orang yang kupercaya untuk menjaga Alyena."


"Aku tidak akan sesembrono itu melakukan hal yang tidak di sukai oleh Alyena." Ucapnya terdengar tersinggung.


Meskipun pernah sekali, karena Alyena membuatku marah berteleponan dengan Regan.


"Sudahlah, kau mengganggu pekerjaanku, apa kau tidak sibuk, sepanjang hari dimulutmu hanya ada Alyena saja, itulah kenapa dia selalu kabur darimu."


"Lihat siapa yang bicara, kakaknya sendiri sangat posesif kepada adiknya, bagaimana dia bisa melakukan keinginannya atau hal yang disukainya kalau kau selalu membatasi pergerakannya." Ucap Jafier sambil mendengus.


"Apa aku begitu?"


"Kau baru menyadarinya?" Jafier tertawa melihat kebingungan di wajah William.


"Oke aku pergi, aku akan menjemput Alyena."


***


"Kenapa belum keluar juga?" ucapnya, dia mengambil ponselnya dan menelepon Alyena, beberapa panggilan telepon darinya tidak juga di angkat oleh Alyena.


Mobil Porsche Cayman berwarna putih baru saja keluar dari gerbang, dan tanpa Jafier sadari Alyena berada dalam mobil itu bersama dua temannya, Nick dan Clara.


"Kemana Alyena? kenapa ponselnya tidak di angkat?" Ucapnya kesal.


***


"Kita akan kemana Nick?" Tanya Alyena yang duduk di kursi penumpang sambil mendengarkan musik yang mengalun keras di dalam mobil mewah itu.


"Ke Club."


Alyena membelalakkan matanya. "Kau bercanda ya?" Alyena menatapnya tidak percaya.


"Aku menemukan wanita cantik yang selalu membaca di perpustakaan, setiap hari dia ada di sana, setelah kuselidiki pekerjaannya, kalian tahu? dia seorang bartender di salah saru Club di pusat kota, jadi kita akan kesana dan menyamar menjadi orang dewasa, aku akan masuk ke sana setidaknya untuk meminta nomor teleponnya."


"Dia tidak waras." Ucap Clara.


"Nick jangan bercanda lagi, kita akan kemana." Alyena khawatir jika dia pergi ke tempat aneh dan ketahuan Willy, maka habislah dia, kepercayaan Willy padanya akan menghilang atau yang paling buruknya dia akan menambah penjagaan di sekeliling sekolah, dan menjadi pusat perhatian siswa di sekolah itu, tanpa penjagaanpun sudah banyak yang menjadi hatersnya karena penjagaan William kepadanya yang berlebihan seperti seorang tuan putri yang harus di jaga setiap saat oleh Bodyguard, membuat siswa di sana mengejeknya.


"Jangan khawatir, kita akan merubah penampilan kita dulu di salon rahasiaku, dan setelah itu kita akan hangout, kalianpun bisa menari disana berdansa untuk menghilangkan kepenatan dan stress."


"Bukannya kau yang stress, Nick? Aku tidak merasa pusing atau stress dan harus menari ke tempat itu, aku tinggal nonton, makan dan berjalan-jalan di taman agar segar kembali." Ucap Alyena.


"Kalau aku main game."


"Ck beginilah kalau level kanak-kanak, tingkatan kalian masih rendah."


"Memangnya kau bangga pergi ke tempat itu? bukannya kau akan mabuk dan pusing dan kau akan muntah euh menjijikkan." Ucap Alyena.


Clara hanya mengangguk setuju, tanpa ikut berkomentar.


"Pokoknya kalian ikut dulu temani aku masuk ke dalam, setelah aku mendapatkan nomor ponselnya kita pergi, oke."


Alyena menghembuskan napasnya, "Tch oke, kalau aku mengalami masalah kau akan kuumpankan kepada kak William."


Mereka tiba di salon yang menjadi tempat rahasia Nick, salon mewah yang berada di pusat kota Seattle dengan tulisan besar di atasnya My Beauty, mereka masuk dan pemilik salon serta seluruh karyawan di sana memberikan salam kepada Nick dan membawanya masuk ke dalam.


"Mereka semua mengenalmu Nick." Ucap Alyena.


"Tentu saja, salon ini milik ibuku." Nick lalu memerintahkan empat orang karyawan di salon itu untuk mendandani Alyena dan Clara sementara dua pegawai salon lainnya mendandaninya.


"Aku ingin kalian merubah penampilan mereka menjadi lebih dewasa, orang dewasa yang akan pergi ke Club, elegan dan tentu saja seksi, hati-hati mendandani mereka, jangan sampai ketahuan kalau usia mereka masih 17 tahun."


"Baik tuan."


Alyena dan Clara masing-masing di dandani, wajah mereka di poles sedemikian rupa, setelah hampir sejam akhirnya mereka bertiga selesai.


"Ayo keluar Alyena, kau membuang-buang waktu."


Alyena sekali lagi menatap dirinya di depan cermin di dalam kamar ganti, gaun ketat melekat sempurna di tubuh rampingnya, setiap tonjolan dari lekuk tubuhnya terlihat sempurna, tidak ada yang menyangka dia adalah seorang gadis yang masih di bawah umur, meskipun sebentar lagi Alyena berusia 18 tahun. Dress pendek tanpa lengan itu berwarna salem, melekat pas di tubuhnya, rambut coklatnya jatuh dengan cantik di punggungnya, serta polesan make-upnya tidak diragukan lagi, dia seperti seorang wanita dewasa yang seksi.


"K-kalian jangan menertawaiku ya, kalau kalian tertawa aku tidak mau pergi." Ucap Alyena masih berada dalam kamar ganti.


"Tidak akan ada yang menertawai nona, anda terlihat sempurna." Ucap salah satu pegawai salon itu, dia bahkan terkejut dengan kecantikan Alyena. Dengan malu-malu Alyena keluar dari kamar ganti dan berdiri di hadapan mereka berdua.


"Holy shit." Umpat Nick dan Clara, "Kau perfect Alyena." Mereka mengatakan secara bersama-sama.