
Jeruji itu berdiri dengan kokoh dihadapannya dia terduduk memandang didalam kegelapan, matanya yang coklat terang sedikit menyipit mencari sedikit cahaya dari penjara itu.
"Lagi-lagi aku harus menanggung semua perbuatanmu Juan, kau tidak tahu cara mencintai, kau hanyalah monster yang tercipta dari ketakutanku." Bisik Nick didalam kegelapan.
Suara serak itu berbisik di kegelapan, "Bahkan dengan wanita yang kau cintai pun tidak bisa kau dapatkan Nick, kau hanya harus mengikuti caraku dan kau juga bisa memilikinya, pria bodoh!"
Nick duduk sendiri di sudut tembok yang gelap matanya menatap kedepan, "Caraku mencintai tidak sepertimu Juan, kau menyakitinya."bisik Nick kembali.
"Cih ! Seumur hidup kau tidak akan pernah mendapatkannya jika mengikuti caramu Nick, sekarang baik aku maupun kau tidak ada yang bisa mendapatkannya, meskipun kau yang melihatnya pertama kali ! karena kau terlalu lambat dan terlalu pengecut untuk mengakui perasaanmu."
Nick mengatupkan rahangnya. "DIAM ! DIAM JUAN, jangan pernah menyakitinya lagi, aku bersumpah akan membunuhmu jika kau melakukannya lagi." Teriaknya.
"Hehehe...., bagaimana bisa kau menahannya Nick, berpura-pura berbahagia melihatnya dengan temanmu sendiri, kau pikir bisa menyembunyikan perasaanmu? Kau mencintai ruzy Nick tapi kau terlalu pengecut untuk mengakuinya, dan aku harus membantumu lagi karena kelemahanmu."
"Aku....aku bahagia jika dia bahagia." Bisiknya.
"Berhenti ! aku benci sikap melankolismu itu Nick! sebaiknya aku pergi, nikmati hari-harimu di jeruji ini Nick."
Suaranya menggema di penjara itu. Tanpa disadarinya salah satu officer sudah sejak tadi memperhatikan kelakuan aneh Nick.
"Ada masalah sir !" tanya nick menatapnya didalam kegelapan.
"Er... tidak, tidak ! Penjaga itu hanya mengerlingnya sebentar sambil menggeleng dan bergegas pergi.
~
"Sebaiknya kita pergi bersama sayang, aku juga ingin menemui kakek." Kata Ruzy sambil memasangkan dasi Alex yang berdiri dihadapannya.
Ruzy harus berjinjit untuk memasangkannya sehingga tubuhnya selalu jatuh ke tubuh alex, kedua tangan Alex tiba-tiba mengangkat pinggang ruzy dan melilitkan kakinya di pinggang Alex.
"Bagaimana? sekarang kau bisa memasangkannya sayang?" Bisik alex yang mulai menjelajahi leher jenjang ruzy.
"Hentikan Alex, kita nanti akan terlambat." Meskipun ruzy menegurnya, tubuhnya tetap memberikan akses penuh kepada Alex.
Alex tersenyum miring, "Sebaiknya kita tunda dulu keberangkatan kita", Kata Alex yang menggoda tubuh Ruzy sambil menggendongnya dan membaringkannya diatas tempat tidur.
"Berikan aku waktu, aku akan melakukannya dengan cepat." Bisik Alex serak dan mulai melepas satu persatu pakaian ruzy dan mengecupnya perlahan membuat Ruzy meremang menginginkan lebih, ruzy mulai mendesah mengerang nikmat.
Suara alex menggeram, menahan gerakan kasar yang diinginkannya. "Lakukan yang kau inginkan alex, jangan menahannya." Bisikan ruzy membuat Alex tanpa ragu lagi menyerang ruzy seperti yang diinginkannya.
~
"Sebaiknya kita jangan masuk dulu, sepertinya ibu dan ayahmu Sangat sibuk."
Willy memasang wajah cemberut dan menggembungkan pipinya yang menggemaskan. Bibi Emy kemudian pergi ketika mendengar teriakan dan erangan dari balik pintu kamar ruzy.
"Sebaiknya kita menunggu mereka di ruang makan Willy sayang." sudah hampir tengah hari mereka berdua baru turun dari lantai atas dengan pakaian yang rapi, bibi Emy berada di ruang keluarga sambil bermain-main dengan Willy.
"Maaf, mommy begitu terlambat sayang."
Ucap Ruzy yang mengecup wajah Willy bertubi-tubi. Bibi Emy berdiri dan merapikan baju Willy digendongan Ruzy.
"Bukan masalah sayang, Willy juga kesepian dia mungkin saja menginginkan seorang adik." Guraunya menatap alex dan ruzy yang sedang sarapan. Ruzy lalu terbatuk ketika meminum tehnya.
"Bibi ! apa yang kau katakan." Kata Ruzy menatapnya dengan masih terbatuk-batuk.
"Kupikir ide yang bagus!" kata Alex tersenyum senang.
"Willy masih sangat kecil, dia masih membutuhkan perhatian lebih." Kata Ruzy menatap Alex.
"Nanti kita pikirkan sayang, yang harus kita hadapi sekarang ini adalah tuan Chandelier." Kata Alex yang menyesap kopinya.
"Oh, ya kau benar, sebaiknya kita berangkat sekarang." Kata ruzy yang menggendong Willy.
~
Mereka berangkat ke California tempat tuan Chandelier di rawat, Alex dan ruzy melihat Roger berdiri didepan pintu masuk dan dia sedikit menunduk ketika melihat kedatangannya.
"Bagaimana kakek, Roger?" tanyanya.
"Beliau sedang beristirahat nona, tapi anda berdua boleh masuk, Silahkan!" Sambil membuka pintu lalu membungkukkan sedikit tubuhnya.
Pintu menutup dan tuan Chandelier mengalihkan matanya yang sedang membaca buku kepada ruzy dan alex yang berdiri di hadapannya.
"Aku tidak apa-apa sayang, aku sudah tua tentu saja penyakit akan datang menyerbuku setiap saat, bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja Kakek", kata ruzy yang menggenggam tangan tuan Chandelier. Matanya kini beralih kepada Alex yang masih berdiri di hadapannya kaku seperti patung yunani yang tampan.
"Tuan Collagher, aku ingin memanggilmu Alex saja kalau boleh." Katanya tenang.
"Tentu tuan Chandelier, anda bisa memanggilku Alex." Senyumnya mengembang.
"Aku ingin kau segera menikah dengan ruzy, harusnya aku lakukan dari dulu." Bisik tuan Chandelier.
Mata ruzy berkaca-kaca bahagia, tuan Chandelier bernapas perlahan.
"Aku ingin pernikahannya dilaksanakan dengan cepat, dan yang paling penting aku ingin Willy memiliki seorang ayah yang sah."
"Terima kasih tuan Chandelier." Kata Alex terlihat bahagia dengan wajah berseri-seri.
Tuan Chandelier sedikit tersenyum.
"Berjanjilah satu hal Alex, jangan pernah membuat Cucuku bersedih, atau membuatnya menangis." Bisiknya perlahan.
"Aku akan mencintainya seumur hidupku tuan Chandelier."
"Sekarang aku bisa tenang, kalian berdua sebaiknya kembali Willy pasti menunggu kalian." Kata tuan Chandelier yang mulai terbatuk-batuk. Ruzy dengan cepat mengambil air minum diatas nakas dan memberikannya kepada tuan Chandelier.
"Pergilah aku tidak apa-apa, aku memiliki perawat pribadi." Sambil memandang ruzy yang enggan beranjak.
"Kami akan datang lagi kakek." Kata ruzy lalu mengecup kening kakeknya yang tersenyum.
Dia menatap keduanya yang keluar dari pintu perawatan.
"Kini, aku bisa pergi dengan tenang Cathy, aku tidak membuat kesalahan yang dulu aku lakukan, seandainya... seandainya saja waktu dapat terulang, mungkin kau bisa melihat anakmu menikah Cathy." Dia menutup matanya menangis dalam diam mengingat wajah putrinya yang sudah lama pergi.
~
"Sebaiknya tahanan 807 segera dipindahkan di tempat yang lebih khusus Mr. Rudolf, dia er.... sepertinya mengalami gangguan mental." Kata salah satu penjaga, dia selalu mendengar percakapan dengan suara yang berbeda, tetapi tahanan 807 hanya seorang diri di jerujinya.
"Kapan laporan kesehatannya tiba?" Kata Mr.rudolf dengan wajah yang selalu cemberut dengan alis berkerut seolah-olah masalah selalu berdiri di depan hidungnya.
"Ini Mr.rudolf baru tiba pagi ini." Seorang officer mengirimkannya tadi pagi. Mr Rudolf membuka kertas yang terbungkus dengan dokumen-dokumen yang lainnya, dia kini mulai membacanya.
"DID?? Gangguan identitas disosiatif? Pria itu memiliki kepribadian yang ganda? Wajah cemberutnya kini sedikit berubah.
"Kenapa dia ada di penjaraku?" seharusnya dia di rumah sakit jiwa." Bentaknya.
"Buat permintaan, kirimkan tahanan 807 ke pusat rehabilitasi." Bentaknya sambil melempar berkas-berkas dihadapannya.
"Tapi sir....dia tidak bisa dipindahkan ke sana." Kata salah satu officer.
"Memang apa yang pria itu lakukan sampai dia ditolak." Bentaknya lagi.
"Er..dia menjadi pembunuh berantai sejak umurnya 10 tahun sir, ratusan tulang belulang manusia di temukan di belakang rumahnya di Inggris dan di villanya di Pittsburgh."
Wajahnya seketika berubah dia sedikit ternganga.
"Er...Dan sekarang pria gila itu ada di penjara ini? tidak ! terlalu berbahaya, dia harus di tempatkan di tahanan pusat kota di LA, jangan di pitthsburg, aku tidak ingin pria gila itu disini, dia bisa kapan saja menggorok leherku."
Beberapa officer memegang tangan Nick yang terborgol, wajahnya nampak tenang, seketika dia berbalik memandang Mr.rudolf kepala penjara di pitthsburg.
"Selamat Siang Mr.rudolf." Katanya dengan melengkungkan sedikit bibirnya.
"Klak, kita akan berjumpa kembali."
Wajahnya tiba-tiba pucat dia kemudian teriak-teriak agar pria sinting itu pergi dari penjaranya.
~
Matanya menjelajahi langit-langit yang mulai menggelap, keinginannya tidak terpenuhi, dia tidak bisa memilikinya...sekali saja, apakah sekali saja tidak bisa? hanya ingin melihatnya sekali saja? bisikan itu membuatnya ingin pergi dari bus yang akan membawanya ke LA, Wajahnya tetap tenang, tangannya yang diborgol tidak dapat berbuat banyak. tetapi satu tendangannya membuat salah satu penjaga terjatuh dengan cepat dia mengambil pistol dan senjata tajam yang ada di saku salah satu penjaga.
Gerakan tangannya sangat cepat sehingga mereka semua terbaring dengan berlumuran darah, dia kemudian melompat dari jendela dan berlari kedalam hutan yang gelap.