
Alyena saat itu baru saja turun dari mobilnya dan sampai ke mansion, siang itu cukup terik sehingga Alyena tidak berlama-lama berada di luar mansion, dia baru saja masuk dan melihat Audry memiliki beberapa tamu, "Kak Audry memiliki tamu?" gumamnya.
Alyena sempat mengintip dari ruang masuk, "Sepertinya tamu penting." Ucap Alyena, tetapi ketika Audry melihat Alyena ada di sana, dia segera memanggilnya.
"Kau sudah datang? dari tadi aku menunggumu."
"menungguku?"
"Mereka semua berasal dari salon kecantikan ternama di Seattle serta seluruh pakaiannya berasal dari brand ternama di Eropa dan Amerika, malam ini kita akan ke pesta, hari ini akan ada pesta amal yang di selenggarakan oleh perusahaanku, aku ingin kau hadir di sana bersamaku."
"Wah, hebat kak Audry. Aku bisa ikut juga."
"Tentu saja, sekarang kau harus istirahat lalu mandi, makan dan segera turun ke bawah, kita akan bersiap-siap." Ucap Audry dengan semangat, melihat kegembiraan di wajah kakaknya, membuat Alyena juga turut gembira untuk ikut ke pesta itu, meskipun baru kali ini dia pergi ke pesta-pesta yang pastinya bukan pesta biasa, pasti seluruh orang penting di Seattle akan hadir di sana, para pebisnis, pengusaha seperti kak Audry.
Setelah beristirahat, mandi dan selesai makan. Alyena segera mengikuti Audry ke ruangan lainnya untuk bersiap-siap. Ruangan itu telah di sulap seperti halnya rumah salon yang menyediakan semua perlengkapan kecantikan serta gaun dan sepatu, seorang pelayan membawa Alyena ke ruang pijat dan memijat tubuh Alyena, setelah itu, mereka sibuk memiih-milih gaun yang sesuai untuk Alyena dan Audrey, terlihat kakaknya yang santai dan terbiasa dengan semua ini, sementara Alyena yang baru pertama kalinya, sedikit gugup untuk berangkat ke pesta.
Setelah kesibukan siang itu, mereka semua akhirnya selesai berdandan sore menjelang malam. "Coba kulihat, berbalik ke kamera Alyena, aku akan mengirim ke kak William, dia pasti akan tercengang." Ucap Audrey.
Alyena berjalan perlahan ke depan sebuah cermin, dia sedikit membelalak, "Wuoh hebat, gaunnya cantik sekali." Ucap Alyena, dia lalu menatap dirinya yang begitu berbeda dari biasanya, karena make-up wajahnya tampak sangat cantik, kulit Alyena yang putih menambah keanggunan dan kecantikannya tanpa harus menggunakan make-up berlebihan, rambutnya yang cukup panjang di bentuk sangat indah, gaunnya sangat memukau, berwarna salem lembut yang panjang, serta bagian dada yang tidak begitu pendek.
"Sekarang kita harus segera berangkat sayang, acaranya akan segera di mulai." Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mobil dan menuju hotel tempat di selenggarakannya pesta. Audrey mengirimkan beberapa foto Alyena kepada kakaknya, dan secepat itu William membalasnya.
"Bagaimana? Alyena sangat cantik bukan?"
~
Hari itu William sedang mengadakan rapat penting, bunyi diponselnya membuatnya teralihkan dan dia membukanya, matanya sempat terbelalak ketika melihat foto-foto yang dikirimkan Audry.
Bagaimana? Alyena sangat cantik bukan?"
"Alyenaku sangat cantik, tentu saja, kalian akan pergi kemana?"
"Kami akan pergi menghadiri acara amal perusahaanku, Jadi Alyena tentu saja harus hadir bersamaku."
"Jangan biarkan Alyena bersama pria-pria yang tidak jelas, kau harus temani dia."
"Hei, biarkan dia bersenang-senang, sia bukan lagi anak kecil, oke sampai jumpa."
Willy berhenti mengirimkan pesan kepadanya dan masih menatap beberapa foto Alyena yang cantik. "Kau sangat mirip dengan mom, Alyena." Ucap Willy.
Semuanya keluar dari ruang rapat, kecuali Willy yang mencari tahu mengenai pesta amal yang di selenggarakan oleh perusahaan Audry, "Pesta amal yang diadakan di salah satu hotel ternama di Seattle.
"Kau sedang apa, kenapa kau dari tadi sibuk, apa yang kau lihat?" Jafier lalu melihat foto Alyena yang dikirimkan Audry di ponsel Alyena, dia sedikit terkejut dan tentu saja terpesona dengan kecantikan Alyena, tiba-tiba saja jiwa posesifnya muncul ketika melihat gaun yang di kenakan Alyena. "Mereka akan kemana?" tanyanya dengan nada getir bercampur marah.
"Mereka akan menghadiri pesta amal perusaahaan milik Audry dan membawa Alyena bersamanya." William segera mengumpulkan semua berkas-berkas di atas mejanya, dia lalu menatap Jafier.
"Bagaimana kalau kita ke Club?" Ucap Willy ketika melihat suasana hati Jafier memburuk.
"Lebih baik aku pulang, aku sedikit lelah." Ucapnya.
~
Mereka akhirnya tiba di pesta, suasana sangat meriah, kesan elegan dan mewah tentu saja tidak ketinggalan, Ballroom pesta yang telah di dekorasi sedemikian rupa, dengan dipenuhi tamu-tamu undangan yang telah hadir, Alyena sangat senang, wajahnya terlihat tersenyum, meskipun dia sedikit kikuk, tetapi berkat Audrey di sebelahnya, membuat kepercayaan dirinya kembali naik.
Ketika mereka berjalan para tamu-tamu yang sedang berkumpul menyapa Audrey dan mereka akan mampir untuk saling mengobrol, melihat kakaknya sibuk dengan teman-teman yang di temuinya, Alyena membisikkan sesuatu ke telinga kakaknya.
"Aku ingin makan di sebelah sana, kak Audrey." Bisiknya. Audrey lalu mengangguk dan tersenyum. "Oke, bersenang-senanglah."
Alyena berjalan menuju meja yang telah menyediakan semua makanan yang tersaji serta berbagai macam Cake yang membuat Alyena tampak tergiur dengan tampilannya. Dia mengambil piring kecil untuk mengambil kue-kue itu dan hendak makan di salah satu kursi kosong yang ada di ujung dekat jendela, Alyena tidak begitu perduli mengenai siapa pria-pria tampan yang hadir, karena dia sudah cukup kesulitan menghadapi dua pria tampan yang selalu mengganggunya.
"Kau yakin akan makan semua itu?" Suara itu membuat Alyena berbalik, dan dia cukup terkejut, ternyata Kilian Regan telah berdiri di hadapannya dengan wajah tampannya. Dia memberikan senyum tipis, ketika menatap Alyena yang terkejut dengan kedatangannya.
"Kau tampak sangat cantik Alyena, aku sampai harus melihatmu lekat-lekat dan menyapamu untuk memastikan itu kau, kau datang bersama siapa?"
"Aku datang bersama Kak Audry, dia ada di sana." Ucap Alyena sambil menunjuk Audry yang masih sibuk berbicara.
"Kau mau makan bukan? Aku akan menemanimu."
Alyena hanya menangguk mengiyakan. Mereka duduk di sana, di salah satu meja, Kilian Regan menemani Alyena. Sejak perjumpaan mereka yang terakhir meninggalkan kesan yang buruk bagi Alyena, dia ingin sekali mengabaikan pria ini, tetapi tanpa merasa sesuatu pernah tejadi, pria ini berbicara normal saja kepada Alyena.
"Sepertinya kakakmu selalu menatap kemari, dia mungkin khawatir." Ucap Kilian.
"Apa anda juga tamu undangan kak Audry?" Tanyanya.
"Ya, aku salah satunya, kenapa ?"
"Tidak apa, h-hanya bertanya saja." Alyena dengan canggung duduk sana dan menyuapkan makanan di mulutnya karena sejak tadi pria ini tidak mau meninggalkannya dan hanya menatapnya saja.
"Rupanya kau di sini Kilian." Suara itu membuat Alyena berbalik dan menatap seorang wanita cantik dengan gaun pastel sedang mencari-cari Kilian.
Mata perempuan itu seakan menikam dengan pandangan membunuh ke arah Alyena. Wajah kilian yang tidak suka nampak terpancar di wajahnya. "Ada apa?" Tanyanya pelan tetapi setiap katanya seperti mengeluarkan suara ancaman kepada wanita itu.
"Bagaimana kalau kita duduk di sebelah sana, acara akan segera di mulai." Ucap wanita itu dengan nada ragu kepada Kilian, tetapi tetap saja pandangan matanya seakan ingin menenggelamkan Alyena masuk ke dasar bumi yang paling dalam.
"Pergi." Ucapan pelan dan ringan tetapi siapa saja mendengarnya terdengar mengerikan. Wanita itu menggigit bibirnya, dia merasa di permalukan apalagi di depan wanita itu.
"K-kilian, aku hanya menyampaikan saja, meja kita ada di sebelah...
Kilian Regan hanya menatapnya dengan pelan, mengisyaratkan penolakan kepada wanita itu, tetapi dia tetap bersikukuh untuk mengajak Kilian pergi dari wanita yang sedang makan di hadapannya itu.
Tiba-tiba suara yang akrab di telinga Alyena membuatnya berbalik.
"Kau masih makan Alyena, acara akan segera di mulai, sebaiknya kita ke tempat duduk yang tersedia di sana."
"Baik kak Audry."
Wanita yang mendengar nama Audry di sebut lalu menutup mulutnya, dia tidak menyangka pemilik tempatnya bekerja ada di sebelahnya.
"Selamat malam Nyonya Audry saya sangat senang bisa bertemu dengan anda, sebenarnya sudah lama saya mengagumi anda, saya adalah karyawan di perusahaan anda." Ucap Wanita itu dengan sangat antusias, meskipun Audry hanya menatapnya tanpa meninggalkan kesan bahwa dia menyukai atau merasa tersanjung dengan ucapannya karena sejak tadi, wanita ini menatap Alyena dengan pandangan benci.
"Permisi tuan, saya harus memanggil adik saya."
Wajah wanita bernama Susan Richard nampak terkejut, dia menatap Alyena seperti sebuah pengganggu yang telah merusak rencananya.
Alyena lalu berdiri begitupun Kilian regan yang berdiri di sampingnya dan menatap sopan kepada Audry.
Alyena membisikkan sesuatu ke telinga Audrey. "Pandangan wanita tadi mengerikan, apa kakak menyadarinya?"
Setelah acara penyumbangan dana dan di lanjutkan dengan pelalangan barang-barang berharga, membuat Alyena tampak takjub dengan barang yang akan di lelang, dia sampai mengernyitkan alisnya ketika mengetahui barang-barang apa saja yang akan dilelang dan bernilai jual tinggi.
Saatnya pesta dansa, Alyena tidak tahu berdansa, jadi dia menolak beberapa pria yang datang kepadanya untuk mengajaknya berdansa.
"Sepertinya kau menolak semua pria-pria yang datang kepadamu, apa kau mengaharapkan seseorang yang spesial untuk mengajakmu berdansa?" Suara itu membuat Alyena berbalik dan melihat kembali wanita itu berdiri di hadapannya sambil melipat kedua tangannya.
"Kalau kau mau pria lain, aku bisa mengenalkanmu dengan banyak temanku, tetapi jangan dengannya, jangan dengan Kilian Regan, dia milikku."
Alyena mendengus, dia seakan mendengarkan cerita yang sama sekali tidak menarik, membuatnya ingin menjauh dari wanita ini. "Bukan urusan anda saya berdansa atau tidak, sebaiknya anda pergi, saya ingin sendiri."
"Cih, aku tidak akan membiarkan kalian berbincang lagi." Dia masih berdiri di sana sambil melipat kedua tangannya.
"Kalau kau begitu khawatir dengannya, kenapa kau tidak kesana dan memintanya untuk berdansa denganmu." Ucap Alyena mulai jengkel, mata wanita itu tajam memaku matanya.
"Apa sebaiknya kau pulang saja, lagi pula sepertinya kakakmu sibuk berdansa, dari pada kau menunggunya, lebih baik anak kecil sepertimu pulang."
Alyena lalu tertawa, dia tidak menyangka ada wanita gila lainnya di pesta ini.
"Memangnya kau siapa?" Ucap Alyena akhirnya berbicara. "Sebaiknya kau pergi, saya tidak memiliki urusan dengan anda." Ucap Alyena mulai sebal dengan wanita yang masih berdiri di hadapannya.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Ucap Audry, Wanita itu lalu berbalik dan menatap kepadanya.
"Nyonya Audry, aku hanya menyarankan kepada adik anda untuk berdansa dengan beberapa kenalanku tetapi dia menolaknya, aku hanya bermaksud baik, agar dia tidak hanya duduk di sini saja tanpa melakukan apapun." Ucapnya.
Audrey menyeringai dengan pandangan tidak suka, "Apa yang membuatmu bertanggung jawab harus mencari pasangan untuk adikku, sepertinya adikkupun tidak mengenalmu." Ucap Audry sambil menatap wajah wanita itu seakan-akan dia gila.
"Sebaiknya kau yang pergi dari hadapan kami." Ucap Audry. Wanita itu memandang Alyena yang terakhir kali dengan tatapan marah dan benci.
"Sebaiknya anda menjaga adik anda agar tidak mengganggu kekasih orang lain."
"Siapa yang kau maksud kekasih, Nona?" Tanya Audry.
"Emm, D-dia Kilian Regan, dia adalah kekasihku, tadi aku lihat adik anda sempat menggodanya dan mengobrol dengannya."
Audrey lalu mendengus dan berbalik menatap Alyena, wajahnya terlihat melongo mendengarkan ucapan tidak masuk akal wanita gila ini.
Senyum terbersit di wajah Audry, dia lalu melihat pria itu sedang mengobrol dengan seseorang, dia kemudian mengajaknya ke tempat mereka sedang berdiri, tiba-tiba saja wajah wanita itu terlihat pucat.
"Tuan Kilian Regan bukan? Aku ingin minta maaf karena kekasih anda merasa terganggu sejak tadi."
"Kekasih?" Ucapnya heran sambil memandang di sekitarnya.
"Ya, dia mengatakan kepada adikku untuk berhenti menggoda anda karena anda adalah kekasihnya."
Wajah Kilian terlihat kaku, pandangannya kepada wanita ini sangat marah dan terlihat membunuh. "Maaf atas kesalapahaman ini Nyonya, tetapi dia bukan kekasihku."
"K-kilian, apa yang kau katakan."
Wanita itu berdiri dengan menahan malu karena ucapannya sendiri dan ucapan Kilian yang tidak mengakuinya.
"Kalau kau tidak bisa merebut hati pria yang kau inginkan, jangan menjadikan adikku sebagai tempat untuk melampiaskan kekesalanmu Nona, harusnya kau berusaha lebih keras agar pria yang kau sukai dapat melihatmu juga, bukankah sikapmu sekarang ini adalah tindakan pengecut, apalagi kami baru melihat wajahmu, kan lucu jika kau kesal dengan orang yang pertama kali kau temui."
Setelah Audry mengatakan hal itu, dia lalu membawa Alyena pergi dari ruangan pesta.
"Tch, apa yang ada di kepala wanita itu? Apa dia tidak gila?" Ucap Audry dengan sengaja membesarkan suaranya lalu beranjak dari sana.
Kilian Regan menatapnya dengan benci, dia lalu meninggalkannya begitu saja, tanpa memperdulikan wanita itu menangis di sana seorang diri.
~
Alyena bangun pagi-pagi sekali, mereka kembali dari pesta pada larut malam, saat itu Alyena langsung saja masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Audry hanya mengganti gaunnya dengan yang lebih santai dan kembali pergi bersama teman-temannya dan melanjutkan kembali pestanya.
"Untung saja hari ini aku tidak ke sekolah, jika tidak, sejak tadi aku sudah terlambat ke sekolah.
Alyena menguap setelah itu masuk ke kamar mandi dan segera mandi lalu sarapan, dia berencana akan berjalan-jalan di taman mansion dan melanjutkan pergi ke perpustakaan, setelah itu berbelanja sebentar dan kembali ke mansion untuk makan siang, hanya sesimpel itu, Alyena tampak bahagia.
Telepon berdering ketika dia baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk. Alyena mengangkatnya begitu saja, tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo."
Pagi Alyena."
Mata Alyena membelalak, dia begitu bodoh mengangkatnya begitu saja tanpa melihat siapa yang menelepon.
"P-pagi paman."
"Jadi bagaimana pestamu semalam?"
"Pesta? Emm cukup menyenangkan." Jawabnya.
"Apa kau berdansa dengan seseorang di sana? kata Audry kau bersenang-senang."
"Tentu, kami bersenang-senang selama di pesta."
"Oh ya, apa kau bertemu dengan pria itu? Kilian Regan?"
"Kami sempat mengobrol sebentar."
Suaranya tiba-tiba terdiam. "H-halo." Ucap Alyena.
"Nanti kita bicara lagi."
"Hmm, ada apa dengannya." Ucap Alenya. Setelah siap-siap, Alyena segera sarapan pagi, dia sempat berbincang bersama para pelayan dan kepala pelayan.
~
Setelah seminggu terlewati, aktivitas Alyena berlanjut seperti biasanya, kadang setelah sepulang sekolah dia bersama Nick dan satu lagi yang menjadi teman dekat mereka yaitu Clara, dia adalah gadis yang menyukai bermain game, mereka bertemu pertama kali di perpustakaan, gadis itu tampak cuek tetapi dia selalu bersama Alyena membantunya jika ada yang ingin mengganggunya. Mereka bertiga kadang menghabiskan waktu mereka di mansion.
Melihat Alyena memiliki teman dekat, Audry menjadi tenang, setidaknya teman-teman Alyena anak normal pada umumnya, tidak membawanya kepada pergaulan yang salah dan menyimpang.
"Ughhh, sudah sore seperti ini, Mom akan mengomeliku lagi." Ucap Nick sambil berbaring di rumput taman dan memainkan ponselnya, sementara itu Clara masih bermain game sejak dia datang sampai pada saat dia mau pulang dari mansion, terkadang Nick mengganggunya dengan menyembunyikan ponselnya, meskipun dia suka bermain game, Clara pandai di matematika, hingga dia dan Nick belajar bersama kepada Clara.
Sore itu mereka melambai kepada Alyena, karena sekarang sudah sangat sore, Alyena hendak masuk ke dalam ketika dia mendengarkan Klakson mobil di hadapannya. Alyena lalu berbalik dan menatap mobil mewah yang berhenti di depannya.
Jafier baru saja keluar dari mobilnya dan tersenyum kepadanya. "Bagaimana kabarmu Alyenaku."