
Mereka akhirnya kembali dan berjalan bergandengan tangan, suara klik dari dalam hutan terdengar jelas tanpa adanya flashlight, seseorang mengambil foto mereka berdua. Orang itu lalu memegang ponsel dan tersenyum senang.
~
Jafier menatap Alyena yang bercerita dengan antusias, matanya berbinar terang, setiap dia berbicara, Jafier seakan ikut larut dan terhipnotis dengan keceriaan di wajahnya.
Baru pertama kali dalam hidupnya dia menginginkan seseorang sampai seperti ini, dia harus mengatakannya kepada Willy, dia perlu bicara kepadanya, bagaimanapun sikap Willy nantinya, dia harus mengetahuinya, dia tidak tahan harus bersembunyi seperti ini meskipun sikap seperti itu bukan karena keinginannya tetapi karena keinginan Alyena.
Jafier menghela napasnya ketika hampir tiba di mansion, dia harus rela melepaskan tangan Alyena, agar Willy si posesif itu tidak melihatnya.
~
Kilian Regan berdiri sambil menatap pemandangan dari luar jendelanya, ingatannya tertuju kepada Jafier Alvaro, selain sikap angkuhnya, pria itu terlalu menyombongkan dirinya di hadapan Alyena, seakan dia telah memiliki wanita itu. Ponselnya berdering ada kiriman yang masuk, dia segera membukanya, beberapa gambar yang dilihatnya yang membuatnya naik darah, Jafier Alvaro seperti sedang menguasai Alyena, terlihat menginvasi bibirnya. Geraman terdengar dari pria itu.
Dia kemudian menutup kembali ponselnya, suara umpatan terdengar dari mulutnya, dia kemudian pergi dari kantornya dan menuju ke suatu tempat.
~
Langkah kaki yang sedang mondar mandir di dalam kamarnya terlihat begitu gelisah, sesekali dia menempelkan telinganya ke pintu kamarnya, "Kenapa dia mesti berbicara seperti itu, ughh aku bilang tunggu dulu, seharusnya dia bersabar sebentar saja, lihat hasilnya, dia bahkan tidak membiarkanku keluar selangkahpun dari kamarku untuk menemui Jafier."
Flashback
Mereka makan siang bersama di mansion, sebelum mereka makan, tiba-tiba saja jafier menatap Willy dengan wajah sangat serius, dia kemudian mengatakan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Alyena, ketika Jafier mengucapkannya.
"Willy, berikan Alyena kepadaku, aku ingin menikah dengannya."
Saat itu Willy terbatuk-batuk ketika dia baru saja meneguk air putih, jafier yang tiba-tiba mengucapkan kalimat itu membuat Willy tidak kuasa terbatuk hingga air minumnya tumpah di kemeja depannya.
"Apa yang kau katakan Jafier??" Ucap Willy setelah batuknya reda.
"Apa kau gila?" Geramnya.
"Tentu aku sangat sadar, aku ingin menikahi Alyena, aku serius menjalin hubungan dengannya, aku ingin dia menjadi istriku." Ucap Jafier jelas.
Sekali lagi ucapan jafier membuat Willy bungkam, entah apa yang ingin dikatakannya wajahnya memerah menahan emosi, sepertinya sumpah serapah sedikit lagi mulai keluar dari ujung bibirnya.
"Kau gila ya, apa yang kau katakan?"
"Ya, aku gila, aku tergila-gila kepada Alyena, aku ingin segera memilikinya, untuk itu aku ingin menikahinya, kami sedang menjalin hubungan, Alyena mencintaiku dan aku mencintainya, jadi kau sebagai kakaknya seharusnya merestui kami dan mendoakan kebahagiaan kami."
Sesaat Willy terdiam, "Alyena." Ucap Willy.
"Y-ya kak Willy." Alyena terlihat tunduk mematung.
"Kembali ke kamarmu, aku ingin berbicara dengan jafier."
"Baik kak Willy." Ucap Alyena, matanya masih terpaku kepada jafier, dia menunggu Willy yang akan meledak setiap saat.
"Sejak kapan kalian bersama?" Tanya Willy, dia seakan mengantisipasi apa-apa saja yang telah jafier lakukan kepada Alyena.
"Sudah cukup lama."
"kau yakin kau tidak melakukan apa-apa kepadanya?" Tanya Willy menatap Jafier dengan pandangan menuduh.
"Hei, kau berbicara seakan-akan aku telah melakukan sesuatu kepada Alyena, kami menjalani hubungan normal layaknya seperti pasangan pada umumnya."
"Jangan berbohong, sudah sampai mana, sampai sejauh mana hubunganmu dengan Alyena, apa kalian sudah tidur bersama?" Tuduh Willy.
Jafier menghela napasnya, dia seakan diinterogasi oleh seorang detektif. "Aku berharap aku bisa melakukannya, tetapi aku tidak mau membuat Alyena takut kepadaku, aku ingin melakukannya dengan perlahan sampai dia betul-betul siap dan juga menginginkanku." Ucap Jafier dengan jujur.
"Kau ! Kau dan kepala mesummu harus dijauhkan dari Alyena, aku tidak bisa memikirkan apa yang telah kau lakukan kepada Alyena." Ucap Willy menatap marah kepada Jafier.
"Willy, aku mengatakan ini dengan serius, aku menginginkan Alyena, aku ingin dia menjadi milikku, aku ingin kau mengetahuinya, aku akan melindunginya." Ucap Jafier.
"Kenapa, kenapa harus Alyena." Ucap Willy.
"Dia masih sangat muda, Jafier, aku...
"Aku akan membahagiakannya, aku hanya ingin restumu, Alyena sangat menyayangimu dia tidak mau berbohong terlalu lama kepadamu."
"Bukan hanya masalah itu saja, apa kau telah aman dari wanita-wanita yang selalu mengincarmu, wanita gila yang selalu mencarimu, bagaimana jika wanita itu kembali datang dan menyakiti Alyena, apa yang akan kau lakukan." Ucap Willy.
"Aku akan melindungi Alyena, tidak akan kubiarkan siapapun menyakitinya." Ucapnya. Willy masih belum mengatakan apa-apa, pengakuan Jafier membuatnya mematung, dia seperti masih mencerna setiap perkataan Jafier. Willy terduduk dan memikirkan semua itu.
Sementara Jafier masih memandangnya menunggu keputusannya. "Jafier, kau tahu bukan, kami baru saja bertemu dengan Alyena, bahkan belum sampai sebulan kami bersama-sama, aku dan Audrey ingin membahagiakan Alyena, aku ingin dia merasakan dia juga bagian dari keluarga ini, dia harus menganggap dirinya sebagai seorang pemilik dan nona besar di keluarga ini sama halnya seperti Audrey, dia terlalu lugu, belum merasakan kebahagiaan di usianya, apalagi selama ini dia bekerja untuk membiayai hidupnya, aku ingin dia menikmati hidupnya tanpa menunduk kepada siapapun.
"Tapi kau merestui kami kan, maksudku, oke, aku tidak akan menikahinya sekarang juga tetapi kau harus merestui hubungan kami."
"Tch, kenapa sikapmu seperti ini Jafier, kau bukanlah tipe lelaki seperti ini, kau adalah pria petualang, bagaimana jika nanti kau akan bosan dengan Alyena dan mencampakkannya dan menemukan wanita lain, jika itu terjadi aku akan membunuhmu."
Jafier menatap wajah Willy dengan sangat serius, "Jika aku melakukan hal itu, kau boleh membunuhku, aku tidak akan melakukannya." Ucap Jafier.
"Untuk saat ini aku akan memikirkannya, kau bisa menemui Alyena jika aku ada di sekitar kalian, aku tidak akan membiarkan Alyena bersama dengan singa kelaparan sepertimu."
~
Seseorang menghampirinya, dia kemudian berhenti di lobi rumah sakit, dia membelakangi seorang pria, "Aku ingin kalian membawanya di hadapanku, aku tidak perduli dia adiknya William, dia telah menyakitiku, bahkan William pun tidak datang setidaknya menjengukku." Ucapnya jengkel.
"Aku ingin melihat wajah gadis itu ketika aku memberinya pelajaran, apakah dia masih seangkuh itu di depanku."
"Atau, tunggu dulu, sepertinya menarik kalau kita yang mengunjunginya."
"Baik Nona."
Senyuman terlintas di wajahnya, dengan membawa adiknya, dia bisa melakukan apa saja kepada William. "Aku harus merawat wajahku sebelum bertemu dengan William."
~
Alyena berhenti berjalan ketika suara ketukan terdengar dari luar kamarnya, dia lalu membukanya, Jafier berdiri di sana, dia hendak memeluknya tetapi ternyata ada Willy di belakangnya berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kak Willy aku dan....
"Berhenti, tidak usah kau ulangi lagi, aku tahu apa yang ingin kau katakan, meskipun aku belum memutuskan mengenai hubungan kalian, tetapi jangan bersama dengan Jafier tanpaku, atau bertemu sembunyi-sembunyi di belakangku."
"Ida yang bagus." Ucap Jafier semakin membuat Willy kesal.
"Hari ini aku harus pergi ke kantor, dan Jafier akan ikut denganku, kau tidak apa-apa sendirian di mansion kan? Tapi jangan khawatir kakak akan pulang dengan cepat."
Alyena mengangguk, Jafier ingin mengatakan sesuatu tetapi Willy berdiri diantara mereka berdua.
"Kami pergi Alyena, segera hubungi kami jika sesuatu terjadi."
"Baik." Dia melambaikan tangannya mengantar kepergian dua pria itu. Alyena sedikit merasakan kelegaan, setidaknya kakaknya Willy tahu mengenai hubungannya dengan Jafier, jadi mereka tidak perlu menyembunyikannya lagi, meskipun mereka berdua kesulitan untuk menjauhi pengawasan Willy.
Jam menunjukkan pukul 4 sore hari, saat itu dia sedang duduk tempat bersantai, dia sedang membaca sambil minum secangkir teh dan beberapa Cake di atas meja.
Entah mengapa wajah Alyena terangkat ketika melihat seorang wanita masuk ke dalam mansion, dengan percaya dirinya dia berjalan begitu saja menghampiri Alyena.
"Cih begitu banyak penjaga, aku sampai kerepotan untuk masuk, untung saja pengawalku bisa mengalahkan mereka semua, jadi nona Alyena kau harus bekerja sama denganku, ikut denganku dan aku pastikan kau tidak akan kusakiti."
Alyena berdiri dari tempat duduknya, dia ingin berteriak agar semua penjaga datang, tetapi sayang sekali, sepertinya wanita ini berniat membalaskan dendamnya kepadanya sehingga pengawal-pengawal yang datang bersamanya bukan main-main, mereka seperti telah menyerang seisi mansion.
Penjaga berdatangan tetapi sebagian telah di lumpuhkan sementara ponsel milik Alyena jauh darinya tepat di atas meja. Jika dia mengambilnya wanita itu akan lebih dahulu memelintirnya dan membawanya pergi dari sini, satu-satunya jalan, dia harus berlari ke belakang mansion, di sana terdapat taman pohon pinus. Setidaknya dia bisa mengulur waktu sampai Willy dan Jafier datang ke mansion.
"Ayo, ikut denganku, kalau kau tidak mau bergerak, pengawalku akan membawamu paksa, kita akan bersenang-senang sedikit." Ucapnya, dia lalu terkekeh sambil menatap rendah Alyena.
Alyena dengan cepat berbalik dia berlari sekuat tenaganya, dia sangat cepat dalam berlari untungnya di desanya dia biasa berlari di padang rumput, sehingga berlari sekencang ini bukan masalah untuknya. Para pengawal berbaju hitam itu terus mengejarnya, Alyena ketakutan dia berlari sampai masuk ke dalam taman hutan di belakang mansion. Suara umpatan terdengar dari wanita itu, untung saja Alyena begitu familiar dengan pepohonan dan semak belukar yang ada di sana, dia bisa menyembunyikan tubuhnya di dalam kerimbunan daun-daun liar.
"Sial dimana gadis itu, waktu kita tidak banyak, Alyena menutup mulutnya agar suara napasnya tidak terdengar oleh pria-pria itu. matanya menatap pria-pria mengerikan yang setidaknya telah melewatinya dan berjalan lebih jauh.
Suara langkah kaki itu membuat Alyena terkesiap, dia melihat kakek yang sering di ajaknya berbicara tengah memegang senapan dan menembak salah satu dari tiga orang pria itu. Bunyi senapan membahana terdengar seantero Mansion, seluruh penghuni mansion keluar dari tempat itu, dan dua orang pria berjas itu akhirnya kembali menuju tempat mereka berkumpul.
Alyena mengendap-endap keluar dari persembunyiannya, dia melihat Audry ada di sana, terdengar suaranya yang nyaring mengusir wanita itu.
"KELUAR, KELUAR DARI MANSIONKU." Sementara Wanita bernama belinda memberikan perintah kepada pengawal agar menyuruhnya diam. Mulut Audry di tutup dengan sapu tangan, pandangannya menatap malas ke arah Audry.
"Kau telah salah berurusan denganku sayang, dari dulu kau terlalu angkuh, meskipun kau adiknya William kau sama sekali tidak melihatku, bahkan meremehkanku, apalagi sekarang muncul adik perempuan lainnya yang sama angkuhnya denganmu." Ucap wanita itu.
Para penjaga keluar, mereka saling menyerang, tetapi wanita itu dengan santainya berdiri di sana sambil memainkan kukunya.
"Aku harus menyelamatkan kak Audry," Ucap Alyena. Sementara para pengawal sedang saling menyerang dan hanya dua orang saja yang menjaga wanita itu, Alyena berjalan mengendap-endap lalu memukul kepala pengawal itu dengan kayu dengan sangat keras, saat itu tangan Audry terlepas dari pegangan pengawal itu, dia membantu Alyena menyingkirkan salah satu pengawal lainnya, seketika wajah belinda yang tadinya percaya diri kini terlihat ketakutan dia mundur beberapa langkah.
"Apa yang akan kalian lakukan? menyerangku lagi? Aku tidak akan membiarkannya aku...
Tamparan sangat keras mendarat di pipi wanita itu, Audry telah menamparnya dengan sekuat tenaga hingga dia terhuyung ke belakang.
Dia berbalik dan melihat sebagian pengawal yang di bawanya telah banyak di kalahkan dan jatuh, "Sial, kalian akan menunggu pembalasannku." Dia mencoba berlari tetapi Alyena tidak membiarkannya pergi begitu saja, dia menarik rambut wanita itu dan memukulnya dengan sekuat tenaga, sama halnya dengan Audry, dia pun ikut menyerang wanita itu dan menarik rambutnya.
Tidak lama kemudian Willy datang bersama Jafier, dan membawa polisi bersamanya, semua pengawal wanita itu di tangkap, William dan Jafier menatap keheranan ketiga wanita itu, rambutnya acak-acakan, serta luka lengkap di sekujur tubuh belinda. Dia terlihat tidak sadarkan diri karena serangan Audry dan Alyena, luka di sekujur tubuhnya bukan main-main, Audry dan Alyena betul-betul membuat wanita itu teriak kesakitan, gaun wanita itu pun telah separuh robek karena perkelahian mereka, sehingga tubuhnya hampir terlihat sepenuhnya.
William memandangnya dengan jijik, dia lalu berlari ke arah Audry dan Alyena. "Uruslah Audry aku akan mengurus Alyena." Ucap Jafier.
Alyena sangat letih sehingga tanpa dia sadari dia telah berada di dalam gendongan Jafier, dia membawanya ke kamarnya untuk di obati. Mata Alyena sedikit membuka ketika melihat bayangan Jafier di kegelapan, matanya lalu tertutup karena letih.
~
"Bagaimana dengan Alyena?" Tanya Willy ketika masuk ke dalam kamar Alyena bersama dengan Audry yang kepala dan lengannya tertutup dengan perban kecil, lukanya tidak begitu parah, sebab dia lebih banyak menyerang di bandingkan wanita itu.
"Luka-lukanya tidak begitu banyak, dia cuma letih karena banyak berlari." Ucap Jafier, "Sepertinya Alyena mengambil waktu dengan bersembunyi agar kita datang ke mansion,"
Willy memukul pintu kamar Alyena, "Berani-beraninya wanita itu membawa pengawalnya menyerang Mansionku, lihat saja akh akan memberi pelajaran kepadanya.
"Dia wanita gila." Ucap Audry, meskipun begitu, wajahnya terlihat puas ketika dia telah menyerangnya. "Aku harap Alyena segera bangun, aku ingin menanyakan bagian tubuh mana saja yang dia serang, aku masih geram melihat wanita itu.