
Sudah hampir 5 hari mereka tidak bertemu karena kesibukan Jafier. Sesekali Jafier meneleponnya, itupun jika sudah lewat tengah malam, Alyena kadang tidak mengangkat ponselnya karena telah terbawa buaian mimpi. Setelah selesai teleponan dengan Clara pagi itu, ada pesan masuk dari Jafier. Hanya satu kata yang di tulisnya.
Angkat
"Mmh, bossy sekali." Ponselnya berdering Alyena lalu mengangkatnya.
"Kau berbicara dengan siapa begitu lama?" Suara tidak sabar terdengar darinya.
"Aku tadi berbicara dengan Clara, kami membahas soal liburan tahun ini. Oh ya, kau di mana?" Suara berisik bisa Alyena dengar dari ponselnya. "Kau berada di dalam mobil?"
"Ya, aku sedang berada di perjalanan menuju rumah seseorang." Ucapnya.
Alyena terlihat bingung. "Rumah seseorang?"
"Aku sekarang berada di dekat penthousemu, aku menunggumu di mobil."
"Apa? kau ada di dekat rumah? Tunggu, aku akan segera ke sana." Alyena segera memperbaiki pakaiannya dan mengambil jaketnya, dia bercermin sebentar lalu segera turun ke lantai bawah dan berlari-lari kecil menuju keluar rumah. Dia melihat mobilnya sedang terparkir tidak jauh dari penthouse, setelah tiba, dia segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Alyena duduk di sampingnya dan pelukan erat langsung menyambutnya, serta menguasai tubuhnya, dia menarik Alyena ke dalam pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu, Alyena." Ucap Jafier. Dia menenggelamkan tubuh Alyena di dalam pelukannya, dia melepaskan dekapannya lalu mencium Alyena seakan membalaskan rasa rindunya yang tertahan selama 5 hari. Ciuman lembut itu sedikit demi sedikit berubah menjadi kasar hingga Alyena tidak tahan dan mendorong tubuh Jafier.
Suara napas mereka terdengar panas memburu di dalam mobil. Jafier kembali memeluk Alyena dan membenamkan kepalanya di ceruk leher Alyena. "Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, ini bisa membuatku bertahan seminggu ke depan." Ucapnya sambil terkekeh.
"Pekerjaanmu belum selesai?" Tanyanya.
"Belum sayang, aku hanya kembali ke kantor dan rapat, mengambil berkas-berkas penting dan aku harus segera kembali lagi." Ucapnya dengan suara permohonan maaf, dia bisa mendengar napas tertahan Alyena yang terdengar kecewa.
"Percayalah, aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan kita bisa menghabiskan waktu bersama." Alyena menyandarkan kepalanya di dada Jafier dan menutup matanya.
"Oke, Ngomong-ngomong jangan meneleponku kalau kau sibuk, Jafier. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu." Ucap Alyena
"Jangan khawatir, aku meneleponmu karena aku sangat merindukanmu."
***
Alyena melambaikan tangannya ketika mobil Jafier telah menjauh. Alyena membalikkan tubuhnya ingin segera masuk ke dalam penthouse, dia kemudian terkejut ketika seseorang telah berdiri di hadapannya.
"Halo Alyena, apa itu tadi pacarmu? Hm tampan juga, kau pasti terkejut karena aku tiba-tiba mendatangimu."
Alyena menatap Rudith dengan terkejut, dia tidak menyangka akan kedatangan Rudith langsug ke penthousenya. "Sepertinya kau lupa bagaimana terakhir kali kita bertemu, Rudith," Ucap Alyena menampilkan wajah datarnya.
"Apa kau akan membiarkanku berbincang di sini sementara penthouse mewahmu berada tidak jauh dari tempat kita berdiri." Ucapnya sambil tersenyum.
"Kalau kau tidak mau mengajakku masuk, aku tidak apa-apa, tapi kau akan memperlakukan teman lamamu yang berasal dari desa seperti ini?" Alyena mendengus jengkel, dia tidak menutup-nutupi kejengkelannya.
"Masuklah." Alyena tidak membawanya masuk ke dalam penthousenya, dia membawanya di taman, di sana ada tempat duduk, sehingga mereka bisa mengobrol dengan tenang, meskipun taman itu cukup jauh dan mulai menggelap karena sore telah mulai menyambut malam.
"Aku hanya datang ingin menyapamu, Alyena. Kau masih marah padaku karena peristiwa di perkebunan? bukan hanya kami yang menggosipkanmu, para pekerja di sana bahkan mengataimu j4lang, aku dan Nalia tidak bisa melakukan apa-apa, meskipun kami berupaya menjelaskan bahwa kau bukan j4lang."
"Seepertinya kau sangat menikmatinya ketika memanggilku dengan sebutan j4lang. Oh ya, bagaimana perkembanganmu dengan Kilian Regan? bukannya kau memusuhiku karena waktu itu kami sering makan siang bersama, apakah ada perkembangan?" Alyena tersenyum miring, dia tahu bahwa semua tidak berjalan sesuai keinginannya.
"Sedikit ada perkembangan, kenapa? kau juga ingin merebutnya? Kau kan sudah punya kekasih, apa semua lelaki ingin kau tarik perhatiannya agar mereka hanya menatapmu." Dia tersenyum dengan puas. "Rupanya kau sudah terbiasa dengan kemewahan ini, bagaimana rasanya, Alyena. Menikmati semua ini."
"Kenapa, apa kau terluka aku memiliki semua hal yang tidak kau miliki, sehingga kau terlihat sangat membenciku, kenapa kau tidak menyuruh kilian membelikanmu sesuatu jika kau begitu iri padaku, sebaiknya kau pulang, tidak ada lagi yang harus aku katakan, perbincangan ini tidak ada artinya sama sekali, karena perbincangan ini hanya akan semakin membuatmu benci padaku dan begitupun aku juga membencimu, karena aku semakin menyadari kau gadis seperti apa."
Rudith berdiri, dia bermaksud menampar Alyena, tetapi tangan Alyena menangkisnya dan mendorongnya hingga dia jatuh ke tanah, hari sudah semakin gelap, lampu taman yang redup telah mulai menyala, meskipun begitu, kegelapan masih kental di sekitar taman.
KLAK
Mereka berdua terkejut. Rudith berdiri dengan cepat, mereka berdua mencari asal suara. "Suara apa itu, kau membuat suara aneh, Alyena. Kau sengaja menakutiku."
"Jangan bodoh, aku tidak tahu suara apa itu, cepatlah pergi sebelum suara itu muncul lagi." Ucap Alyena menatap pohon-pohon di sekitarnya.
"Tsk, awas saja, aku akan datang lagi dan menghajarmu."
"Bodoh ! kau pikir aku akan membiarkanmu, kau tidak tahu kau bicara di mana, cepat pergi, sebelum aku memanggil pengawal dan menendangmu keluar dari rumahku."
"Kau !"
KLAK
"Ada apa, Alyena. Kau terlihat ketakutan."
"Aku tadi habis berjalan dari arah taman, aku mendengarkan suara aneh, suara itu mengerikan."
"Oh ya, suara mengerikan? Aku akan menyuruh pengawal untuk mengecek seluruh taman."
***
Pukul 09.00 Alyena telah tiba di kampusnya, perkuliahannya sebentar lagi akan dimulai, tetapi dia masih memiliki waktu 15 menit untuk berbincang bersama dengan Nick dan Clara yang telah tiba lebih dulu ke kampus.
"Morning, kau terlihat sangat lesu, Alyena."
Alyena menguap dan bersandar pada Clara, "Tadi malam aku tidak bisa tidur, suara itu seakan selalu terdengar di telingaku, sungguh menakutkan." Ucap Alyena mengusap-usap lengannya karena tiba-tiba tubuhnya seakan menggigil.
"Suara mengerikan? seperti apa suara itu, kedengarannya menarik." Ucap Nick.
"Mm, suara itu seperti keluar dari mulut seseorang, seperti suara besi atau gigi yang beradu, entahlah. Aku tidak ingin membahasnya lagi, sangat mengerikan.
"Dimana kau mendengar suara aneh itu?" Tanya Clara.
"Di taman, saat itu aku bertengkar dengan Rudith, tidak lama berselang, suara itu muncul, dia lari dan akupun ikut berlari, untung saja kak Willy baru saja keluar dari mobilnya." Ucap Alyena.
"Apa kau menceritakan tentang suara itu?"
Alyena menganggukkan kepalanya. "Tentu, kak Willy menyuruh semua pengawal memeriksa seisi taman."
Nick terlihat berpikir keras, seakan kepalanya berputar-putar memikirkan berbagai rencana. " Aku sudah memutuskan, kita akan mengunjungi taman milik Alyena, kita akan menangkap pelakunya, menurutku ada pria aneh yang tinggal di dalam penthousemu itu, Alyena. Memangnya tamanmu itu luas ya, sampai-sampai kau tidak dapat melihat jika seseorang ada di sana."
Alyena terlihat berpikir. "Mm, kupikir lumayan luas, karena di balik taman yang di penuhi berbagai macam bunga, terdapat banyak pohon di sekitarnya, karena terlalu rimbun, kita tidak bisa melihat orang-orang yang bersembunyi di balik pohon-pohon itu."
Nick memukul tangannya sendiri, dia tersenyum senang seakan menemukan sesuatu yang menyenangkan.
"Baiklah, sebentar sore kami akan datang, Alyena. Aku dan Clara akan mencari tahu suara mengerikan apa itu." Clara terlihat kurang setuju jika melibatkan Nick, semuanya akan kacau, dan pasti menimbulkan masalah.
***
Sepulangnya dari kuliah, Alyena tidak pergi kemanapun, dia sibuk ingin menyambut kedatangan Nick dan Clara. Hari itu, dia akan membuat Cake, setelah masuk ke dapur, dia akhirnya menyerah ketika melihat dapur yang bersih dan tertata rapi oleh chef di penthouse itu, jadi Alyena tinggal memesan agar dibuatkan Cake umtuk tamunya nanti.
Pukul 5 sore mereka akhirnya datang. Nick membuat Alyena ternganga, dia membawa perlengkapan aneh seakan dia akan ikut berperang.
"Aku sudah berulang kali menyuruh Nick agar peralatan konyolnya itu tidak usah dia bawa, lihat saja sebentar para pengawal akan menertawainnya, aku saja tidak mau berdiri di sampingnya."
"Kau saja tidak tahu pentingnya benda-benda ini, helm ini bisa membuatmu bertahan dari serangan apapun, kalung berbentuk bawang ini akan menjauhkanmu dari Vampir dan jubah ini akan ....
"Membuatmu kesulitan berlari jika Vampir itu mengejar kita." Ucap Clara sambil mendengus melihat bawang putih berbentuk lingkaran itu yang melingkar di leher Nick. "Awas saja jika idemu ini membuat kita kembali kesulitan, Nick."
Pukul 8 malam ketika langit mulai menggelap, matahari terbenam dan mulai gelap di kota York sekitar pukul 8 malam, jadi mereka bertiga bersiap-siap akan ke taman setelah selesai makan malam. Beberapa pengawal yang mengawasinya menatap mereka bertiga, mereka berjalan menuju taman tempat Alyena berbincang dengan Rudith. Tempat itu cukup terang karena lampu taman dibiarkan menyala, meskipun begitu. Suasana di taman cukup membuat orang yang berada di sana ketakutan, bunga-bunga yang berbentuk melingkar dan merambat, serta biasanya sangat indah terlihat mengerikan.
"Sepertinya di sini cukup, kita hanya memeriksa di sekitar dan melihat-lihat keadaan, jangan cemas pengawalmu masih mengawasi kita, apalagi ada cctv di sekitar taman."
Alyena mengangguk, baru-baru ini cctv di pasang di taman yang cukup jauh dari penthouse, karena kejadian kemarin membuat Willy khawatir.
Cahaya matahari betul-betul telah tenggelam, malam yang gelap menyambut mereka. Ketiganya memeriksa beberapa area, tetapi tidak begitu jauh, Nick menolak masuk di antara pohon-pohon karena di sana cukup gelap. Setelah 20 menit pencarian mereka, tidak ada yang mencurigakan sama sekali, mereka kembali berkumpul di bangku taman. "Tidak ada apapun, mungkin hanya suara burung hantu atau temanmu itu mengeluarkan suara aneh.
"Dia bukan temanku." dengus Alyena.
Klak
Mereka saling menatap di kegelapan dan tubuh mereka berubah membeku.
KLAK
Suara itu semakin besar. "L-lari ... LARIII." Teriak Nick. Mereka bertiga berlari dengan kencang sampai-sampai mereka menabrak seseorang yang ternyata Willy, dia baru saja pulang. Bibirnya berubah menjadi sangat tipis menatap mereka bertiga dengan marah.