Flower On The River

Flower On The River
Hasrat 2



Tidak ! Ruzy kau harus ingat dia tuan muda di rumah ini, dan dia juga seorang pencuri ! dia mencuri ciumanku. Aku berlari dan bersandar di belakang pintuku, setelah sedikit tenang dengan kejadian tadi aku akhirnya mandi dan menenangkan diriku Sebentar di bathtub sebelum kembali bekerja.


Dia betul-betul pria brengsek, aku ingin sekali memukulnya. Mereka semua sama saja pria kaya dan tampan tapi brengsek bertindak semaunya saja. Aku memegang bibirku yang sedikit bengkak, lalu dengan kasar aku membersihkannya dengan air.


°°°


Pagi menyambut seperti hari-hari sebelumnya, setiap pelayan melakukan tugasnya, Ruzy yang bersama bibinya sedang membantu di dapur karena pekerjaannya akan dilakukan esok harinya.


"Ruzy bawa teh ini ke meja depan, kamu bisakan membawa nampan"? tanya seorang pelayan yang agak kurus ceking dia adalah kepala koki yang menyediakan makanan bagi keluarga ini, Mili sedang sakit, dia tidak bisa membawa makanan dengan keadaannya.


Ruzy yang sangat enggan menerima tugas itu tidak memiliki kesempatan untuk menolak sehingga segera ia mengangguk dan mengambil nampan berisi teko teh.


"Baiklah", dengan segera Ruzy menuju ruang tengah yang merupakan tempat sarapan bagi keluarga itu, disana sudah duduk anggota keluarga Collagher dan kedua temannya.


Sial ! rutuknya, mereka semua ada di sana..


Mata Ruzy yang sedikit menunduk lalu dengan cekatan menaruh teko teh di hadapan nyonya Collagher.


"tuangkan teh dicangkirku". Suara yang familiar itu lagi...


Dengan tertunduk Ruzy menghampiri Alex Collagher yang sedari tadi melirik ke arah Ruzy ketika dia membawa nampan dari arah dapur.


"Teh Alex? kupikir kau tidak meminum teh kawan, kopi adalah kegemaranmu, berpindah haluan"? Nick menatap Alex, lalu berkedip padanya sambil menatap Ruzy yang masih tertunduk.


" Minum kopimu Nick". Memandang Nick dengan tatapan sinis.


Nick selalu cepat membaca situasi.


"Aku ingin minum teh, tuangkan teh kecangkirku juga, sambil menatap Ruzy sambil tersenyum lalu berkedip pada Ruzy, Alex memandang Nick dengan tatapan jengkel.


Brengsek ini selalu cepat kalau ada gadis cantik ! rutuk Alex dangan menggertakkan giginya...


Ruzy hanya tertunduk dengan kedipan Nick. Dengan cepat Ruzy menuang teh lalu menyimpan tekonya kembali lalu pergi menjauh dan kembali ke dapur, pandangan Nick tak berhenti memandangi Ruzy sampai di kejauhan.


"Ehem..jadi kenapa kalian selalu sarapan di rumahku"? Alex mendelik menatap Nick yang memandangi wajah Ruzy dari tadi.


"Iya! Ada apa denganmu sobat"? timpal Nick sambil terkekeh dan berkedip pada Alex.


Alex hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Nick yang mengganggunya.


Sementara Ruzy sedang sibuk di dapur menyiapkan bahan-bahan makanan untuk makan siang sembari menggigit roti karena tidak memiliki waktu untuk sarapan, pekerjaan kali ini lebih menumpuk sehingga untuk sarapan pun Ruzy harus sambil bekerja. Bibi Emy sedang mengupas kentang yang tidak begitu banyak.


"Sepertinya kita masih membutuhkan beberapa kentang lagi". dia lalu menyuruh Ruzy mengambil kentang di gudang makanan, "Ambillah sekeranjang kecil ini Ruzy, dan juga bawalah beberapa botol anggur". Ruzy berdiri dan segera pergi ke gudang makanan di sebuah bangunan dekat dengan kebun sayuran.


Ruzy berjalan melintasi taman tempat duduk bersantai keluarga Collagher, dengan berjalan cepat tanpa memandang siapapun yang duduk di sana.


Ruzy membuka gudang makanan yang cukup besar. di beberapa belokan dia lalu mendapati kentang yang berada di dalam karung lalu dengan cepat memindahkannya ke keranjang. dia kemudian berjalan lagi di tempat penyimpanan berbagai botol-botol anggur dan tahunnya. "Wah banyak sekali, aku tidak ingat anggur mana yang bibi Emy inginkan"?


Dia berjalan sambil membaca tahun dari anggur tersebut.


"Kalau untuk makan siang, sebaiknya kau ambil anggur ini, aku lebih menyukainya". Kata seseorang dengan suara serak dan berat.


Aku terkejut mendengar seseorang berdiri di belakangku, sejak kapan dia masuk ke gudang ini? Aku menatapnya, dan dia adalah tuan muda brengsek yang telah menciumku. Aku spontan mundur beberapa langkah. Dia menatapku dengan tersenyum miring padaku. "Kau terkejut"? dia berjalan sambil memegang sebotol anggur di tangannya.


Aku tidak mengerti dengan pria ini kenapa dia begitu sering muncul di hadapanku? aku memang bersalah memetik bunganya tapi bukankah aku sudah minta maaf padanya? tubuhku dengan spontan menjauh darinya. tetapi pria ini menarik lenganku dengan kasar lalu aku menabrak tubuhnya yang tinggi dan tegap, tubuhnya begitu kokoh sehingga tubuhku terasa sakit ketika menabraknya, dia menahanku di tubuh kerasnya.


"Le..lepaskan aku tuan"! pintaku padanya dan menghindari tatapannya.


Dia kembali menarik daguku sambil menyeringai. "Tidak ada yang bisa menolakku jika aku menginginkannya". katanya kasar, kedua tangannya mencengkram pinggangku membuatku berjengit kesakitan. Suara pintu dari gudang membuatku terkejut, seseorang masuk ke gudang itu, dengan cepat dia menarikku di belakang lemari yang agak tersembunyi, tempat itu sangatlah kecil untuk kami berdua sehingga tubuhku harus menempel di tubuhnya.


Dadaku sampai sesak karena keras tubuhnya. Aku sedikit bergerak karena merasa tidak nyaman dengan posisi seperti itu. Dia lalu berbisik di telingaku. "Jangan bergerak-gerak, karena aku sudah berusaha untuk menahan diriku". Aku memalingkan wajahku darinya, tapi pelukannya bertambah erat, jantungku berdetak cepat.


Aku mendengar suara erangan lolos darinya, "Sial"! gumamnya. Aku mencoba menatapnya, ada apa dengannya? Dia lalu menatapku dengan pandangan gelap di matanya. "Damn". bisiknya.


Lalu dengan kasar dia menciumku, aku sampai tidak bisa bersuara karena takut jika ketahuan. Aku mencoba mendorongnya, tapi dia semakin mengeratkan bibirnya di bibirku. Entah berapa lama dia menciumku, dia kemudian melepaskan ciumannya setelah merasakan kalau aku kesulitan bernapas, dan orang yang masuk ke gudang telah pergi.


Aku mengambil napas dalam-dalam, aku betul-betul kekurangan oksigen, suara napas kami bergema di gudang itu, aku memegang lemari di sampingku untuk menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Aku melihatnya mengambil napas dengan keras, "Apa yang telah kau lakukan padaku"? sambil mengacak rambutnya.


Tanpa sadar aku menamparnya. Plakkk, bunyi tamparanku terdengar jelas di gudang itu, dia tertegun dan menatapku tidak percaya. "Kau pria **** brengsek". bisikku sambil menahan air mataku, aku lalu berlari keluar dari gudang itu.