
Ruzy menunggu di luar kantor polisi dengan tas-tas yang menumpuk di sampingnya, tidak lama kemudian, bibi emy keluar dari ruangan itu, dia menutup sedikit wajahnya karena terangnya sinar matahari, sebuah pelukan tiba-tiba menyerbunya. Dia terkejut memandang ruzy.
"Ruzy? mengapa kau di sini? lalu matanya menatap tumpukan tas-tas besar yang berada di samping kursi.
"Maafkan aku bibi Emy, ini semua kesalahanku". pelukan ruzy begitu erat, dia menangis tersedu memeluk bibi Emy yang menepuk-nepuk pundaknya.
"Cepat atau lambat keluarga itu akan tahu hubungan kalian ruzy, bibi tidak heran dengan sikap nyonya Collagher padaku akhir-akhir ini, rupanya dia sudah mengetahui hubungan kalian, wanita itu terkenal dengan ketenangannya tapi dibalik itu semua tersembunyi kekejamannya melebihi madam janet."
Bibi Emy tersenyum menenangkan, "Sebelum kita pergi kita makan dulu, perut bibi sudah melilit." Ruzy tersenyum dia melepaskan pelukannya lalu mengambil tumpukan tas-tas yang berjejer di samping kursi, lalu berjalan bersama bibinya mencari tempat makan.
~
"Kita akan kemana bibi?" tanya ruzy setelah mereka keluar dari rumah makan, bibi Emy tersenyum lemah, "Kita akan kembali ke Swiss ruzy, tidak ada tempat yang bisa kita datangi di kota ini, selain kembali kerumah." Ruzy mengangguk sambil menyeka air matanya. Mereka menunggu bis yang menuju bandara Pittsburgh Setelah beberapa lama akhirnya mereka naik keatas bis.
"Kau tidak apa-apa sayang?" tanya bibi kepada ruzy yang bersandar di bahunya.
"Aku baik-baik saja bibi."
Sekitar 30 menit lebih perjalanan, mereka akhirnya tiba di bandara, bibi emy menyuruh ruzy menunggu di tempat duduk panjang agar dia bisa membeli tiket untuk mereka berdua, tetapi seseorang menghentikan langkahnya, wajah bibi emy begitu terkejut tubuhnya bergetar menatap pria yang ada dihadapannya, wajah pria itu pernah dilihatnya di foto Cathy yang dipajang dirumahnya di Swiss.
Tuan Chandelier melangkah menuju kearah ruzy pancaran matanya terlihat sendu dan begitu pilu, ruzy berdiri menatap pria yang pernah bertanya tentangnya.
"Ruzy? Ruzy aku kakekmu", bisiknya, "kau mau kemana? kau tidak bisa pergi karena kau adalah cucuku." katanya dengan suara yang nyaris menangis, Wajahnya terbingkai dengan kesedihan begitu dalam, menatap cucunya yang begitu mirip dengan putrinya Cathy. Ruzy memandangnya terheran-heran dengan yang dikatakannya, dia lalu menatap detektif yang berada di sebelahnya.
"Ikutlah dengan kami nona ruzyana, kami akan menjelaskan semuanya." Tubuh bibi emy masih membeku terdiam di tempatnya, beberapa pria berjas mengambil barang-barang mereka, bibi emy memegang tangan ruzy, "Aku...aku pernah melihat anda tuan." Kata bibi Emy kepada tuan Chandelier.
"Benarkah? dimana?" tanyanya. Wajah bibi emy begitu pucat ketika menceritakannya, "Cathy memasang foto anda di rumahnya, Cathy sangat menyukai memasang foto-foto di ruang tamunya." Jelas bibi Emy.
"Benarkah? dia tersenyum mendengarnya, tatapannya kini jatuh pada ruzy yang masih belum mengerti dengan semua ini, "Ikut aku, kakek akan menceritakan semuanya." Dengan sedikit ragu mereka mengikuti tuan Chandelier, dan menatap detektif yang sedikit menunduk kepada ruzy.
Kakek, dia memiliki seorang kakek? pikir ruzy, matanya sangat mirip dengan milikku dan milik mom, mereka masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir diluar yang sudah menunggu mereka. Wajah tuan Chandelier terlihat begitu bahagia, dia memang kehilangan putrinya tapi dia akhirnya menemukan satu-satunya cucu yang begitu lama dia harapkan.
~
Bunyi pintu yang dibuka terdengar begitu keras, Alex masuk ke rumahnya dengan menahan amarahnya, ibunya mengusir ruzy, betul-betul membuat darahnya mendidih.
"Kau sudah datang Alex, kemarilah". Nyonya Collagher sedang duduk dengan beberapa tamunya. Ellena menatap kakaknya dari atas balkon, "Perkenalkan nyonya Catherine, ini anakku alex kau pasti sudah melihatnya waktu di pesta tempo hari."
Nyonya Catherine mengernyitkan dahinya, "Aku tidak melihat pria tampan ini di pesta, mungkin aku melewatkannya nyonya Collagher." Alex memandang ibunya tajam.
"Dan Alex sayang, perkenalkan dia adalah putrinya nyonya Catherine, Rory Catherine Wilson." Alex memandang seorang gadis dengan rambut merah bergelombang, wajahnya tentu cantik tapi tidak bisa dibandingkan dengan kecantikan ruzy. Dia tersenyum kepada Alex dengan wajah memerah.
"Rory, ini anakku alex, gadis itu tersenyum kepada alex, memperlihatkan senyum menggodanya.
"Hai Alex, aku tidak pernah melihatmu di pesta sebelumnya, biasanya aku dapat mengenal orang-orang yang berada di pesta, apalagi pria tampan sepertimu." Mereka tersenyum-senyum mendengar Rory memuji-muji Alex.
"Oh ya." Ingin rasanya alex pergi dari pembicaraan membosankan itu, "Em aku harus pergi ada urusan mendesak." Tanpa menunggu jawaban, gadis itu terlihat begitu kecewa, alex berlalu meninggalkan mereka.
Sesampainya di kamarnya, ellena sudah menunggu alex di sana sambil menyilangkan tangannya, keningnya berkerut sungguh jengkel melihat tingkah ibunya yang menjodohkan alex dengan gadis aneh itu.
"Apa yang terjadi ellena, mengapa Ruzy pergi"."
"Dimana ruzy sekarang?" tanyanya.
"Aku tidak tahu alex, mungkin mereka akan kembali ke Swiss, tidak ada seorangpun yang di kenalnya di kota ini, bibinya menghabiskan separuh usianya di sini."
"SIAL ! Ruzy tidak memiliki ponsel, alamatnya di Swiss pun tidak diketahuinya, apa yang sebenarnya kulakukan tanpa tahu dimana dia tinggal?" dia berbicara kepada dirinya sendiri. Ellena menatapnya dengan menggeleng.
"Ini untukmu." kata ellena yang menyerahkan secarik kertas ke alex. Alex membacanya dan melihat alamat ruzy di kertas itu.
Pintu terbuka lebar, kemarahan nyonya Collagher membuat mereka memandangnya.
"Jangan pernah kau membawa kembali gadis tidak jelas itu, tidakkah kau pernah berpikir alex, kau akan membuat nama besar Collagher yang dijaga bertahun-tahun rusak karena kebodohanmu yang tertarik kepada seorang pelayan."
Alex tertawa sinis, nama besar? jangan membuatku tertawa ibu, Collagher hanya sebuah nama saja, hal itu tidak berarti untukku, jangan mengganggu hidupku, atau aku akan menghancurkan semuanya." Katanya tajam.
Alex pergi meninggalkan ibunya yang sangat marah.
"Mengapa semua anak-anakku menjadi seorang pembangkang? tidak adakah yang mendengarkanku." Teriaknya, ellena mengikuti alex keluar dari kamar, tidak ingin mendengarkan celotehan ibunya.
Joan dan Jessy sangat sedih, mereka tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada tuzy dan bibi emy.
"Kau tahu beberapa waktu lalu detektif brown menemui nyonya, dia mencari ruzy." Joan terkejut.
"Benarkah? lalu apa yang dikatakan nyonya Collagher?" Jessy membisikkan sesuatu ke telinga Joan karena emely baru saja lewat dan mendelik pada mereka berdua.
"Nyonya Collagher menceritakan kalau dia mengusirnya bersama dengan bibinya, dia mengatakan kalau mereka berdua mencuri sesuatu milik keluarga Collagher." Jelas Jessy, Joan menutup mulutnya.
"Tidak mungkin, bukankah bibi emy di tangkap karena dituduh menyembunyikan nona Grace? mengapa dia mengatakan hal yang berbeda?" kata Joan tidak mengerti.
"Mereka menyembunyikan sesuatu, aku yakin itu, Sudah bertahun-tahun bibi emy bekerja disini dan tidak ada yang meragukan kejujurannya." Kata Jessy yang menghembuskan udara dari hidungnya.
"Lalu...apa yang detektif itu katakan?" tanya Joan begitu penasaran.
"Dia akhirnya pergi tanpa memberitahu maksud kedatangannya yang mencari ruzy."
"Aku sangat sedih, mereka berdua orang yang paling dekat dengan kita, kasihan sekali mereka." Kata Jessy menyeka air di matanya.
"Ada apa Joan?" tanya Jessy yang melihatnya melirik ke pintu belakang.
"Sepertinya aku melihat seseorang berdiri di sana." Jessy melangkah mendekati pintu itu dan ternyata kosong.
"Kau tidak salah lihat? tidak ada seorangpun di sini Joan?"
"Benarkah? sepertinya aku melihat seseorang yang mengenakan mantel."
~
Pria itu berdiri di sana untuk beberapa lama, mendengarkan cerita Joan dan Jessy, rahangnya yang terpahat begitu tegang, terdengar gerakan dari mulutnya, "Klak..." Dia berjalan cepat masuk kedalam hutan dengan kemarahannya, menabrak-nabrak pohon Pinus dan melewati semak belukar yang berduri....Suara nyaring terdengar di telinganya, napasnya memburu, dirinya yang sadar kini kembali lagi, menemukan dirinya lagi yang mengenakan mantel hitam, dia berlari sepanjang hutan dan menemukan villanya yang sangat tersembunyi dan tidak jauh dari kediaman Collagher.
Teriakannya menggema sampai di basemen, membuat dua orang wanita yang berada di balik jeruji terbangun, matanya yang lebam dan membiru berusaha untuk dibukanya, ketakutan kembali mendera mereka.