
James brown nama detectif itu, dia berada di salah satu cafe, mengamati tuan Chandelier yang baru saja masuk kedalam gedung sebuah pertunjukan, sambil membuka-buka koran usang di tangannya, matanya tidak berhenti menatap ke arah gedung yang sedang dijaga oleh beberapa pria berpakaian hitam. Bukan hal yang mudah untuk sekedar berbicara dengan tuan Chandelier yang terkenal itu, kau harus memiliki koneksi atau membuatnya terkesan sehingga dia dapat mengenalimu, dengan kata lain kau harus memiliki daftar tunggu, sungguh sulit untuk menemuinya.
Dia akhirnya keluar, tidak lama kemudian detektif itu pun keluar dari cafe, merekatkan jaket coklatnya agar angin dingin tidak menyentuh tubuhnya. Dia masuk ke mobilnya, lalu mengikuti mobil hitam mewah, James brown menaruh curiga pada gadis yang tinggal di kediaman Collagher, liontin yang di temukannya di kamar gadis itu, membuatnya ingin menyelidiki lebih dalam, apakah gadis itu ada hubungannya dengan tuan Chandelier?
Dia menekuk bahunya lebih rendah agar tidak menjadi perhatian, Sepasang matanya tidak berhenti mengikuti mobil SUV yang ada di depannya, setelah 30 menit perjalanan mobil itu memasuki sebuah mansion miliknya dengan beberapa penjaga di sekitar mansion, detektif itu berhenti, sedikit merunduk ketika melihat mobil berwarna silver melewati mobilnya dan masuk ke gerbang itu, memperhatikan dengan seksama dan sesuatu membuatnya terkejut, seorang detektif terkenal di kota ini baru saja turun dari mobilnya, lalu diantar oleh pria berpakaian hitam memasuki mansion.
Sepertinya tuan Chandelier ingin menyelidiki sesuatu, apakah hal ini berkaitan dengan putrinya yang telah melarikan diri dengan seorang pria, hal itu masih misteri, tuan Chandelier menutup rapat-rapat peristiwa itu agar tidak diketahui publik, tapi bagaimanapun...tentu saja hal itu bukan rahasia lagi di antara detektif-detektif di Pittsburgh.
~
Pelukannya kepada ruzy sangat erat, setelah percintaan panas mereka semalam, membuat mereka berdua sangat letih, alex mencium puncak kepala ruzy dan tertidur, setelah bibi Emy menyerah menjauhkan ruzy dari alex, mereka tidak pernah berhenti bertemu di setiap ada kesempatan.
Ruzy akhirnya terbangun, dan menemukan tempat tidurnya kosong, alex telah pergi pagi-pagi sekali, dia terduduk menutupi separuh tubuhnya dengan selimut lalu mengambil secarik kertas di sampingnya. Ruzy kemudian membacanya.
'Temui aku di halte, aku menunggumu'. Alex
Pesan singkat itu membuatnya tersenyum, hari ini alex ingin berkencan dengannya, dia ingin mengajak ruzy berkeliling kota Pittsburgh, hal itu membuat Ruzy sangat senang, dengan cepat dia mengambil handuknya walaupun wajahnya sedikit meringis, setelah mandi ruzy memilih-milih dress yang akan dikenakannya.
"Ugh, aku tidak memiliki banyak pakaian yang cocok, apa yang akan dikatakan Alex ketika aku memakai pakaian model abad pertengahan dengan pundak yang mencuat, aku tidak memiliki dress yang cocok untuk berkencan."
Ketukan terdengar dari pintunya, dia membukanya dan menemukan bungkusan di depan pintunya, dia mengambilnya lalu membuka bungkusan itu, sebuah dress panjang sangat indah berwarna krem yang sangat pas di tubuh ruzy.
Ruzy mengenakannya, sedikit make up membuat dirinya bertambah cantik dan menawan.
Dengan sembunyi-sembunyi ruzy keluar dari gerbang itu dengan bantuan Thomas, supir Alex, Sepertinya hanya dia dan bibi Emy yang tahu hubungan diantara keduanya. Mobil sport Alex sudah menunggu di sana, menatap ruzy dengan senyum menggodanya. Ruzy duduk di sebelah Alex dengan tersenyum senang.
"Kita akan kemana Alex?" tanya Ruzy yang begitu antusias.
Alex mengecup bibir ruzy lalu tersenyum mendengar keceriaan disuara Ruzy.
"Kemanapun sayang, kita akan mengelilingi tempat-tempat yang indah, kau pasti pasti belum pernah mengelilingi kota Pittsburgh." Dia mengemudikan mobilnya dijalanan besar kota Pittsburgh.
~
Sinar di matanya telah menghilang sudah beberapa Minggu dia terkurung di tempat yang bagai neraka baginya.
Teriakan-teriakannya tidak ada gunanya tidak ada yang mendengar jeritan serta tangisannya, air matanya sudah mengering karena terlalu seringnya dia menangis, sayup-sayup rintihan dari bibirnya masih terdengar, pria itu betul-betul menyiksanya. Dia tahu siapa pria yang menculiknya, tapi tidak ada kekuatan untuk melawannya, suara langkah kaki membangunkannya yang bersandar di tembok dingin di balik jeruji.
Dia mencoba membuka matanya yang membiru, mendengar senandungnya dan menyeret sesuatu matanya membelalak, seorang wanita yang terikat dan pingsan, dia menaruhnya di balik jeruji yang berada di sampingnya.
"Apa yang kau pikirkan sayang? tunggulah ! aku tidak akan membuatmu pergi begitu saja dengan mudah."
Grace memeluk erat tubuhnya, ketakutan menatap pria di depannya. Apakah aku memiliki harapan untuk tetap hidup? atau aku akan membusuk di sini seperti korban lainnya. Pikir Grace yang memeluk lututnya sambil terisak.
~
Perjalanan yang begitu menyenangkan bagi mereka berdua, Alex berhenti di sebuah taman terkenal bernama point' state Park pemandangannya betul-betul indah dengan air mancur yang begitu tinggi, alex menarik tangan ruzy dan duduk di tepi sungai dekat taman sambil menikmati gedung pencakar langit dan kota-kota besar dari kejauhan.
"Kau suka?" tanya Alex yang menyandarkan tubuhnya pada kedua sikunya sambil menatap Ruzy.
"Sangat indah Alex." Ruzy yang baru pertama kali melihat pemandangan seperti ini tentu sangat terkagum-kagum dengan panoramanya.
Alex menarik ruzy kedalam pelukannya lalu menciumnya dengan lembut dan mesra, membuat ruzy menginginkan lebih, tapi sadar mereka berada di tempat terbuka.
Setelah berlama-lama di taman, Alex membawa ruzy di duquesne incline yang merupakan kereta gantung yang sudah seabad di jantung kota Pittsburgh tetapi di modifikasi menjadi kereta gantung listrik, mereka dapat melihat keindahan kota Pittsburgh dari atas, Alex memeluk Ruzy sambil menyaksikan pemandangan itu.
"Alex hentikan." Tegur ruzy, tanpa mempedulikan tiga orang yang bersama dengan mereka, Alex tidak berhenti membuat Ruzy tersipu dengan ciuman-ciumannya yang panas. "Tidak apa-apa sayang mereka tidak perduli." Jawab Alex dan melanjutkan aksinya.
Mereka kini masuk ke sebuah restoran yang cukup mewah, Alex memesan tempat VIP agar lebih privat untuk mereka berdua. Ruzy terlihat kesal pada Alex, dia membuatnya malu dengan menciumnya tanpa jeda, sampai salah satu dari mereka yang berada di kereta gantung tertawa melihat ruzy kewalahan dan kehabisan napas karena ciuman Alex.
"Kau marah? tanya Alex tersenyum miring pada Ruzy.
"Kenapa kau tidak bisa menahannya Alex, kita kan sedang berkencan, aku tidak bisa melihat pemandangan itu dengan baik, karena kau tidak berhenti menciumku." Kata Ruzy kesal.
"Kemarilah." kata alex, dengan duduk santai sambil memegang jemari ruzy. Dia menarik ruzy dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Kau marah karena aku menciummu?" tanyanya. ruzy tersipu pipinya memerah, "Kau terus menciumku, aku ingin lebih banyak melihat pemandangan di kota Pittsburgh Alex Jawab Ruzy.
"Baiklah sayang, maafkan aku tapi kau tidak melarangku jika disini bukan?" goda alex, belum sempat ruzy menjawabnya dia lalu menabrakkan bibirnya ke bibir ruzy, melumatnya dan menciumnya dengan rakus, tangannya mulai menjelajahi tubuh ruzy membuatnya menggelinjang di pangkuan Alex, "Jangan terlalu banyak bergerak sayang, atau aku akan melakukannya di sini."
bisiknya.
Tidak beberapa lama terdengar ketukan dari pintu dan dengan segera ruzy memperbaiki bajunya yang sudah setengah terlepas dari tubuhnya. "Masuk." Perintah alex. Seorang pelayan membawa makanan pesanan kami, ruzy menundukkan kepalanya, dia berpikir pasti pelayan ini mengetahui apa yang telah mereka lakukan.
Mereka berjalan di sentral park, menjelajahi kota itu dan berhenti di Chatedral of learning, mereka menikmati bangunan tinggi menjulang bergaya kastil layaknya kastil kerajaan. Alex mengabadikan moment-moment mereka berdua dengan berfoto. Dia lebih banyak memotret ruzy ketika tersenyum, tertawa, berlari diantara tangga kastil dan ketika mereka saling berciuman. Pancaran matanya begitu bahagia, dia berlari begitu cepat meninggalkan alex dibelakang, dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang berjalan, dia menjatuhkan bunga pria itu, ruzy dengan cepat mengambilkannya dan meminta maaf.
"Aku minta maaf sir, aku tadi tidak melihatmu." Kata ruzy menatap pria tua yang memegang kembali bunganya, wajah pria itu begitu terkejut menatap wajah ruzy, mata hazel mereka saling memandang, ruzy tersenyum lalu kembali meminta maaf dan segera berlari ke arah alex yang menunggunya di bawah tangga.