
Jafier sekarang berada di dalam mobilnya, dia membaca berita terbaru yang membuatnya sangat marah, dia segera menelepon orang-orangnya agar mengurusi semua masalah itu dan membereskan berita tidak penting itu, jika di perlukan tangkap mereka yang menyebarkan berita itu.
Ponselnya tiba-tiba berdering, Jafier mengenakan earphonenya ketika Willy meneleponnya.
"Alyena sama sekali belum kembali ke mansion."
"Apa? bagaimana mungkin, sial ! seharusnya tadi aku mengantarnya, gara-gara berita sialan itu."
"Berita apa?"
"Kau lihat sendiri apa yang dilakukan wanita itu untuk mencari perhatianku." Ponselnya di tutup, Jafier lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia lalu menyalakan titik lokasi di ponselnya dan dihubungkan dengan ponsel Alyena, dia sudah mengaturnya sebelum dia memberikan ponsel itu kepada Alyena.
"Dimana kau Alyena?" Ucapnya khawatir. Dia memutar mobilnya menuju ke Townsquare yang berada dekat dengan penthousenya, tetapi setelah ke tempat itu, dia tidak menemukan Alyena.
~
Alyena sekuat tenaga mendorong tubuhnya, pria itu memerangkapnya disudut mobil dengan bibirnya mengulum bibir Alyena, saat itu Alyena tidak menyangka jika pria itu akan menyerangnya.
Ketika mereka selesai makan, Kilian Regan bercerita mengenai perkebunan dan Desa di Gimmelwald, saat itu Alyena merindukan rumahnya yang ada di Swiss, sesaat sebelum Alyena memalingkan wajahnya pria itu telah memerangkapnya di sudut mobil, Alyena mencoba meloloskan diri darinya, tetapi tubuh kilian yang besar tampak menutupi seluruh tubuh Alyena.
Kini bibirnya telah menelusuri bibir Alyena, merasakan napas panas dan manis yang terasa dari bibir gadis itu, seketika suara Alyena menyadarkan Kilian, suara ketakutan dan meringis menahan kesakitan. Dia menarik bibirnya memisahkan dari Alyena.
"Kau tidak apa-apa?" Dia menarik dagu Alyena dengan paksa dan memperhatikan di sekitar bibirnya, terlihat bengkak dan sedikit gigitan darinya di sudut bibirnya yang merah. Kilian memegang tangan Alyena dan menariknya ke pelukannya.
"Aku tidak akan minta maaf." Ucapnya.
Alyena tidak mempunyai kekuatan untuk mendorongnya, pelukan erat dan ciuman kecil di setiap sisi wajahnya membuat Alyena ketakutan. "Sekarang aku akan mengantarmu pulang." Dia melepaskan Alyena dan kembali mendudukkanya di kursi.
Alyena meremas roknya dengan keras, dia tidak sabar ingin segera tiba ke mansion dan berlari menjauh dari pria ini, Alyena ketakutan, ciuman kasarnya masih terasa di bibirnya. Tidak ada pembicaraan apapun selama mereka di dalam mobil. Alyena hanya mengintip kepada pria di sampingnya.
"Aku tidak akan menyerah Alyena, meskipun kau mencintai pria itu, aku akan tetap merebutmu."
Mereka telah tiba di depan mansion, Alyena tidak mengucapkan apapun, dia segera membuka pintu mobil dan segera berlari dan masuk ke dalam mansion.
Mobil Kilian akhirnya pergi, dia tersenyum karena mendapatkan apa yang diinginkannya. Meskipun dengan cara memaksa sekalipun. "Alyena pasti ketakutan." gumamnya.
William telah mengelilingi tempat itu, tetapi Alyena tidak ada di sana, ponselnya lalu berdering, kepala pelayannya meneleponnya bahwa nona Alyena telah kembali ke Mansion.
Segera saja William memutar mobilnya dan membawanya kembali pulang, dia ingin segera menginterogasi Alyena. Pesan cepat dia kirimkan ke ponsel Jafier bahwa Alyena telah kembali, dia akhirnya lega dan segera pergi ke mansion Willy.
~
Alyena masuk ke kamarnya, dia memegang erat dadanya yang berdetak kencang, dia lalu mengunci kamarnya dan duduk di lantai kamar sambil memeluk dirinya sendiri, seharusnya dia tahu pria itu tidak akan membiarkannya begitu saja, dan akan melakukan sesuatu. Alyena saat itu lengah, gara-gara berita itu, dia menjadi bingung sehingga dengan mudahnya dia mengikuti pria itu.
Ponselnya berdering kembali, membuat Alyena tekerjut setengah mati, dia membelalakkan matanya ketika melihat kakaknya telah meneleponnya hampir 100 kali panggilan, sementara Jafier meneleponnya berkali-kali membuatnya merasa bersalah karena tidak menjawabnya.
Telepon itu berasal dari Kilian, Alyena tidak mau mengangkatnya, dia sangat geram dengan pria itu, Alyena hampir saja percaya bahwa dia tulus mengajaknya hanya makan, tetapi setelah itu pria itu mendesaknya di dalam mobil dan melakukan apa yang diinginkannya. Alyena memegang bibirnya, terasa bengkak dan masih terasa perih, dia masih mengingat pria itu memainkan bibirnya seenaknya, mengeksplor dan menggigitnya, membuat tubuh Alyena memanas.
Sebelum William datang ke mansion dia harus bersikap seperti tidak terjadi apa-apa atau tidak pernah bertemu dengan Kilian Regan.
Alyena segera masuk ke kamar mandi, setelah membersihkan dirinya, dia dengan cepat mengeringkan rambutnya dan memakai pakaiannya, dia memoles sedikit lip balm dibibirnya agar nampak seperti biasa. Alyena mengenakan pakaian tidurnya dan mengenakan handuk di sekitar lehernya.
Alyena lalu turun ke lantai bawah, para pelayan telah menyiapkan makan malam, hanya Alyena yang duduk seorang diri di sana, menunggu kakaknya dan berharap-harap cemas apa yang akan di katakan oleh Willy.
Suara mesin mobil terdengar dari luar mansion, Alyena segera menelan ludahnya lalu berakting sedang menyuap makanan di mulutnya padahal dia baru saja selesai makan dengan Kilian di Restaurant, perutnya sangat kenyang, tidak akan bisa terisi lagi.
Langkah sepatu terdengar di lantai keramik
itu, seperti orang yang berjalan terburu-buru.
"Alyena !
Alyena yang sedang makan lalu terbatuk-batuk saat dia melihat William dan Jafier datang bersama, wajah mereka tampak sangat khawatir.
"Alyenaaa !"
Suara keras itu membuat Alyena menelan ludahnya. "Ah, kak William." Ucap Alyena, dia menatap Jafier tetapi tidak menyapanya.
"Kau kemana saja, kau tahu berapa kali aku meneleponmu? katakan, kau pergi kemana saja." Perintah Willy. Alyena terlihat menciut ketika mendengar suara keras Willy, dia terdengar khawatir dan ketakutan.
"M-maafkan aku kak Will, aku hanya jalan-jalan saja sebentar, setelah itu aku....
Alyena bingung menjawabnya, dia sama sekali tidak tahu bagaimana cara mencapai alamat di mansion ini jika menggunakan bis umum, mungkin kalau taksi, Willy akan percaya.
"Setelah itu?"
S-setelah itu aku berkeliling cukup lama dan makan di beberapa tempat dan pulang dengan naik taksi." Alyena harus bicara dan terlihat alami sehingga kebohongannya tidak di ketahui oleh kedua pria yang menuntut jawaban darinya.
William menyipitkan kedua matanya. "Kau tidak sedang bermain-main kata, bukan? aku akan mengetahuinya jika kau berbohong."
Alyena menatap kakaknya, lalu menghembuskan napasnya, "Kak Will, aku baik-baik saja, aku bisa menjaga diriku, terkadang aku juga ingin sendiri menikmati waktuku, aku bukan anak kecil, meskipun aku berasal dari desa, aku tahu arah jalan untuk pulang, aku hanya berjalan-jalan sebentar." Alyena baru kali ini marah pada Willy, Alyena cukup jengkel karena Willy tidak bisa mempercayainya sedikit saja.
Alyena lalu berdiri, dia kemudian meninggalkan mereka berdua, dan masuk ke dalam kamarnya. Setelah menutup pintu, Alyena memegang dadanya. "Nyaris saja, ughh untungnya aku bisa menyembunyikannya dengan menyerang balik, itu adalah taktik jitu jika hendak di marahi, menampilkan wajah kecewa, membalikkan keadaan, serta memberikan ekspresi wajah yang ingin menangis."
"Sebaiknya aku kunci sebelum kak Willy masuk."
Tiba-tiba saja ingatan tentang Kilian Regan membekas di kepala Alyena, ciumannya sangat berbeda dengan ciuman Jafier, dia sangat posesif dan kasar, melewati batas yang seharusnya tidak dilakukannya, untung saja Alyena mengeluarkan isakan ketika pria itu menekan bibirnya membuat Alyena ketakutan.
Ketukan terdengar di pintu kamar Alyena, suara Jafier terdengar dari luar pintu, Alyena kembali mengingat mengenai kejadian wanita yang mencoba membunuh dirinya agar Jafier kembali kepadanya.
Alyena merasa tidak mau dulu bertemu dengan Jafier, dia melihat wajah khawatirnya ketika wajahnya muncul di Tv. "Ugh, untuk apa dia datang kemari, dia harusnya menjaga wanita itu."
"Alyena kau mendengarnya? ini aku, buka pintunya aku ingin berbicara kepadamu, kalau kau tidak mau membukanya, aku akan meminta kunci cadangan dari kepala pelayan Walt, dia pasti akan mudah memberikannya untukku."
Pintu kamar Alyena terbuka, nampak wajah Alyena yang cantik sehabis mandi, Jafier masuk kedalam kamarnya, sementara jantung Alyena berdetak tidak menentu, bagaimana jika dia mengetahui bahwa baru saja Kilian Regan menciumnya, apa Alyena sanggup menyembunyikannya.
Tanpa mengucapkan apapun, dia memeluk Alyena, lalu menyusupka wajahnya di lehernya dan memberikan kecupan kecil disana, kecupan itu berakhir di sudut bibir Alyena.
"Katakan sejujurnya kepadaku, kau kemana saja setelah aku meninggalkanmu di taman, apa kau menemui seseorang?" Tanyanya.
"Hem, apa? aku tidak menemui seseorang." Ucap Alyena.
Dia menampilkan wajah seyakin mungkin, "Aku hanya ingin berjalan-jalan, itu saja, aku memang salah karena melupakan ponselku yang berada di dalam tas."
Apakah aku harus menanyakannya? dan mencoba mengalihkan perhatiannya, sepertinya paman tidak mempercayai kata-kataku.
"Apakah berita itu benar? wanita itu mencoba membunuh dirinya?" Ucap Alyena menatapnya, kedua tangan Jafier masih berada di pinggang Alyena.
"Hmm, ya dia melakukannya untuk menarik perhatianku, dia tidak benar-benar melakukannya, dia sangat takut dengan darah, apalagi kulitnya akan terluka, dia mencintai dirinya lebih dari apapun juga."
"Sepertinya kau sangat mengenalnya." Ucap Alyena mencibir dia masih mengingat wajah khawatir Jafier ketika wajahnya tampil di televisi."
"Jangan percaya dengan berita itu, aku hanya datang ke sana untuk memperingatinya,"
"Aku tidak melihatnya seperti itu."
Jafier menatap wajah Alyena, dia memegang dagunya dan menariknya, "Apa kau cemburu?"
"Tidak juga."
Dia melengkungkan bibirnya membentuk senyuman, "Kau yakin?" Dia tersenyum dan mendaratkan satu kecupan di bibir Alyena, Jafier melirik sudut bibirnya terlihat membentuk bekas gigitan. Sebelum dia menciumnya, dia menatap wajah Alyena, tiba-tiba saja pandangannya tajam menusuk ke mata Alyena, hingga Alyena menjadi gugup dan terlihat cemas.
S-sial dia tahu
"Katakan, siapa yang melakukannya." Ucap Jafier.
Dia memegang kedua bahu Alyena, "Katakan kau tadi bertemu dengan siapa?" Alyena terdesak, dia tidak bisa mengelak lagi, dia harus mengatakannya.
"D-dia Kilian Regan." Ucap Alyena sambil menutup matanya menunduk karena merasa bersalah.
"Apa dia menciummu?" tanyanya.
Alyena mengangguk seketika. Jafier menatapnya dengan pandangan menusuk. Jafier menipiskan bibir, dengan kasar dia mendorong Alyena ke tempat tidurnya dan memerangkapnya di sana.
Alyena ketakutan, dia seperti tidak mengenal sosok pria yang ada di atasnya.
"Apa yang paman lakukan, Kak William akan datang."
"William tidak ada, hanya aku dan kau di sini." Alyena membelalakkan matanya, wajahnya cemas dan rasa takut seketika muncul begitu saja, Jafier yang biasanya tidak akan memaksanya seperti ini, suaranya menggeram dan mendesis ketika Alyena mendorongnya dan memukul-mukulnya. Jantung Alyena berdebar, dia sangat panik, kali ini Jafier betul-betul sangat marah, dia mencium Alyena dengan paksa dan membukanya dengan paksa, kedua tangan Alyena terhentak di atas kepalanya, terpenjara di tangan Jafier. Sementara tangan lainnya menyusup masuk ke dalam pakaian tidur Alyena dan melepaskan ikatan bra miliknya. Alyena memekik, dia berusaha melepaskan dirinya dengan cara menendang dan bergerak-gerak di bawah kuasa Jafier.
Tangannya menemukan apa yang diinginkannya, membuat Alyena melengkungkan tubuhnya menahan serangan yang tidak di sangkanya, sementara bibirnya masih menyatu, menekan dirinya hingga dia kesulitan bernapas. Setelah berlama-lama di kedua gundukan milik Alyena, tangannya kini beralih ke tempat yang membuat Alyena memekik. Suaranya tertutup oleh ciumannya, Alyena menangis membuat Jafier tersadar atas apa yang di lakukannya.
Dia melepaskan pertautan bibirnya dan menatap Alyena yang separuh pakaiannya telah terbuka lebar menampakkan semuanya, dia menangis dan membelakangi Jafier. Tubuhnya gemetar ketakutan saat Jafier berusaha menenangkannya. Jafier mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Alyena, dia menatap dirinya, kemejanya telah terlepas.
Sial, hampir saja aku melakukannya.
Jafier mengambil pakaian Alyena yang terjatuh di lantai dan menaruhnya di atas sofa, tubuhnya masih bergetar di balik selimut, kini dia harus menerima dan menghadapi, jika nantinya Alyena akan ketakutan ketika bersamanya.
Jafier memakai kembali kemejanya, setelah itu dia duduk di tepi tempat tidur Alyena dan menatapnya. Dia mengusap kepalanya, kembali tubuh Alyena berjengit ketakutan.
Dengan perlahan dia membalik tubuh Alyena ke arahnya, mau tidak mau Alyena membalikkan badannya sambil menyelimuti tubuhnya yang polos. Tatapan mereka bertemu, Alyena menolehkan wajahnya tidak mau menatap Jafier.
Dia menarik dagu Alyena dengan paksa dan menghapus air matanya yang mengalir di pipinya. Tatapannya tajam kearah Alyena. Dengan hati-hati, Jafier menariknya dan memeluknya.
"Berhenti menangis." Perintahnya.
Alyena terkesiap, suaranya sangat berbeda dengan Jafier yang biasanya, dia tidak lagi lembut, atau meminta maaf tetapi suaranya terdengar dingin dan tajam.
Alyena mencoba menjauhkan tubuhnya tetapi pelukannya di tahan oleh Jafier. "Kau tahu Alyena, aku menyukaimu, sangat menyukaimu, hingga aku bisa menyakitimu."
Alyena menelan ludahnya, dia tidak sanggup menghadapi Jafier yang kasar seperti ini.
"Jadi, jika kau ingin bersama denganku, kau harus mendengarkan kata-kataku, jika tidak, aku bahkan tidak tahu apa yang akan aku lakukan padamu."
Alyena hanya diam, dia tidak sanggup menatap mata mengerikan Jafier. Meskipun kedua tangan pria itu masih memeluknya erat.
"Aku ingin katakan kepadamu Alyena, jika kau tidak ingin bersama denganku sebaiknya kau menghindariku, jangan mencoba bertemu denganku, karena aku tidak akan melepaskanmu."
Perlahan Jafier melepaskan tubuh Alyena yang dibalut selimut, meskipun Jafier masih merasakan getaran di tubuh Alyena karena takut kepadanya, Jafier tidak bisa merubahnya lagi, Alyena terlanjur takut kepadanya, maka dia tinggal memainkan perannya.