
"Dia pergi?"
Alyena bergumam, dia membuka kedua matanya pelan-pelan pagi itu. Sontak dia terkejut dengan ucapannya sendiri, "Ugh, tentu saja dia sudah pergi, sekarang kan sudah pagi, aku harus berangkat ke sekolah."
Alyena berdiri dan menatap kembali tubuhnya yang terlihat polos, Alyena tidak merasakan kepergian Jafier semalam, dia lalu tertidur begitu saja karena lelah, apalagi matanya masih merah karena menangis. Alyena bergidik, dia memeluk dirinya sendiri dan tiba-tiba saja dia berjongkok. Dia masih mengingat kejadian semalam, sentuhannya di seluruh tubuh Alyena, membuat tubuhnya gemetar.
"Aku tidak mau beremu dengannya." Ucapn Alyena bergimam dengan dirinya sendiri.
Tedengar ketukan pintu dari luar kamarnya. "Nona, tuan William menunggu anda di bawah, beliau akan mengantar anda ke sekolah."
Alyena tidak mengatakan apapun, dia jengkel kepada kakaknya, kenapa dia pergi meninggalkannya selagi paman Jafier ada bersamanya? dia harusnya tidak kemana-mana semalam. Alyena lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dia melepaskan handuknya dan menatap dirinya di depan cermin. Matanya seketika menatap di beberapa tempat di sekitar dada dan perutnya ada tanda kemerahan yang jelas terlihat di sana. Wajah Alyena menjadi merah, dia tidak menyangka tanda seperti itu ada di bagian tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Alyena mengenakan seragamnya dan menyisir rambutnya di depan cermin, tatapannya kembali jatuh pada tempat tidurnya dan pikirannya kembali ketika Jafier memaksa membuka bibirnya. Alyena lalu segera pergi dan mengambil tasnya, dia lalu keluar kamar dan melihat dua orang pelayan baru saja melewatinya dan membungkuk sebentar.
"Emm aku ingin seprai tempat tidurku di ganti, dengan warna yang lain, jangan warna putih." Ucap Alyena.
"Baik Nona."
Apakah mereka akan curiga kalau aku menyuruhnya tiba-tiba seperti itu?
Alyena segera turun ke lantai satu, di meja makan sudah duduk William, dia sedang menelepon seseorang.
"Aku menunggumu sore ini Audry, kau harus segera kembali ke mansion, kenapa kau berlama-lama di Detroit? keluargamu itu ada di Seattle, apalagi aku harus berangkat ke Eropa besok pagi, Alyena akan sendiri kalau kau tidak datang."
Oke, aku akan datang, tanya ke Alyena, apa yang diinginkannya, aku akan membelikan hadiah untuk Alyena.
"Alyena, apa yang kau inginkan sebelum Audry kembali ke Seattle."
"Emm, aku mau ponsel, katakan kepada kak Audry aku ingin ponsel model terbaru."
"Kau mendengarnya Audry? Alyena mau ponsel model terbaru."
Ok, sampai jumpa, sampaikan salam sayangku untuk Alyena.
William mengalihkan matanya kepada Alyena, dia lalu mengingat kata-kata Alyena semalam.
"Alyena mengenai kejadian semalam....
Alyena terkejut, menagapa kakaknya mengatakan mengenai semalam. Wajahnya terlihat serius, "Mengenai kejadian semalam kakak minta maaf karena terlalu mengekangmu, tetapi kau harus tahu Alyena, di luar itu berbahaya, kau tidak bisa berjalan-jalan pada jam seperti itu, dan ponselmu, jangan kau taruh di dalam di tas, letakkan di dalam sakumu, agar kau bisa mendengarnya kalau aku menelepon nanti.
"Oke kak Willy."
"Hari ini kakak yang akan mengantarmu ke sekolah, mungkin seminggu aku akan berada di Eropa, Audry nanti yang akan menemanimu." Ucap William
"Okey."
Hari ini Alyena banyak diam, biasanya dia akan bicara semua hal, mulai dari teman kelasnya, sampai kepada pelajarannya. Willy menatap Alyena.
"Mengapa kau ingin mengganti ponselmu? Bukannya ponsel itu pemberian Jafier?" tanyanya.
"Emm, semalam ponsel itu terkena air, aku pikir akan rusak, jadi sekalian saja minta ponsel terbarunya sama kak Audry." Ucap Alyena dengan gugup, ponsel itu sebenarnya baik-baik saja, tetapi Alyena ingin menggantinya, foto-foto mereka berdua banyak di ponsel itu, ponsel itu juga terhubung dengan lokasi paman Jafier di manapun dia berada.
"Oh ya." William menatap adiknya, lehernya terlihat tegang, dia sama sekali tidak rileks, apa sesuatu terjadi padanya?
Mobil willy berhenti tepat di depan sekolah, Alyena lalu turun dari mobilnya dan melambaikan tangan kepada Willy.
"Apa dia juga berangkat ke eropa?" Ucapnya. Alyena lalu menggeleng, dia kemudian masuk ke dalam sekolahnya.
"Al, hei selamat pagi, ada apa kau terlihat murung." Ucap Nick saat menatap wajah pucat Alyena.
"Aku baik-baik saja, hanya letih saja."
"Bagaimana kalau sepulang sekolah kita belajar bersama, aku akan tunjukkan tempat-tempat favoritku, bagaimana?"
"Aku harus menelepon kak William dulu, nanti dia khawatir."
"Jangan kahawatir, sepulang sekolah aku akan bicara padanya."
"Apa? jangan, kalau kau yang bicara, saat itu juga aku akan di jemput pulang oleh kak William."
"Sepertinya tuan William terlalu melindungimu, bagaimana kalau pria kemarin? bukankah dia pacarmu? meskipun usia kalian cukup jauh, sepertinya kau sangat menyukainya."
"Jangan mengatakannya lagi, kau berisik sekali, Nick." Mereka saling mengobrol hingga sampai ke dalam kelas. Alyena menatap seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka, dia adalah salah seorang pengawal yang mengawasi Alyena.
~
"Kau disini?" Ucap William ketika mendapati Jafier sedang duduk di Cafe tempat biasanya mereka break sebelum kembali bekerja, mereka memesan kopi. "Kali ini kau akan ikut juga, kenapa? biasanya kau akan senang kalau aku berangkat ke eropa agar kau bisa mencuri-curi waktu dengan Alyena."
"Aku harus berangkat kali ini, tanda tanganku di perlukan di sana." Ucap Jafier hanya menatap ponselnya. Dia sedang menatap lokasi dimana sekarang Alyena berada. Meskipun Willy tidak mengatakan apapun, Jafier dapat mengetahui lokasi Alyena.
"Siapa yang menjaga Alyena?" tanyanya.
"Audrey akan pulang sore ini."
"Alyena akan senang, setidaknya Audrey lebih memberikan kebebasan kepadanya dibandingkan jika kau yang bersamanya."
"Tch, lihat saja, siapa yang di sukai Alyena, aku atau Audrey yang menemaninya."
Jafier tidak mengatakan apap-apa lagi, dia masih mengingat wajah ketakutan Alyena ketika dia memaksakan keinginannya, serta tangisnya yang mengalir di pipinya dan bibirnya yang lembut ketika dia menciumnya, wanginya sangat mempengaruhi Jafier.
"Oh ya, Alyena meminta ponsel baru dari Audrey, katanya ponselnya basah terkena air jadi dia meminta yang baru kepada Audrey."
Jafier mengangkat satu alisnya. "Oh ya?" Dia lalu berdiri dari tempat duduknya dan menatap jam di pergelangan tangannya.
"Kau mau pergi?" tanyanya.
"Ya, aku akan pergi ke suatu tempat."
Balutan Jasnya melekat pas di tubuhnya, dia memasukkan satu tangannya ke kantung celananya sambil berjalan keluar dari Cafe break itu. Dia lalu berjalan sambil mengenakan kacamata hitamnya, setelah itu dia masuk kedalam mobilnya dan mengendarainya. Pada jam seperti ini Alyena telah pulang dari sekolah, kalau dia beruntung, Alyena akan masuk ke dalam mobilnya, mungkin dia akan meminta maaf atau memaksanya lagi agar menuruti keinginannya, sejak tadi Jafier sangat merindukannya, wajahnya yang menangis selalu terbayang dikepalanya.
Seluruh siswa di sekolah itu akhirnya pulang, mereka tampak melambai dengan teman-temannya, Jari Jafier menepuk-nepuk stir kemudi dan menunggu Alyena. Akhirnya Alyena keluar dari gerbang sekolahnya, dia berdiri di sana sambil menunggu jemputan yang akan mengantarnya kembali ke mansion, sebelum mobilnya bergerak, sebuah motor berwarna hitam berhenti di depan Alyena, dia memberikan helmnya kepada Alyena, sementara anak lelaki itu tidak menggunakan Helm, dia memegang tangan Alyena agar bisa naik ke motor tingginya, tatapan Jafier membulat ketika posisi duduk Alyena dengan menggunakan rok terlihat naik ke atas dan sangat minim, siapa saja dapat melihat kulit halusnya hingga sampai ke paha bagian atas.
Jafier keluar dari mobilnya, dia segera berjalan cepat untuk menghentikan mereka, tetapi sayang sekali sebelum Jafier tiba di sana, motor itu telah melaju kencang.
"Sial, kemana mereka pergi?"
Jafier masuk ke dalam mobilnya, dia segera menyusul mereka, dia mencari-carinya di setiap sudut jalan, tetapi dia tidak menemukan mereka berdua.
~
"katakan kepadaku kalau ada sesuatu yang tidak kau tidak mengerti."
"Oke, terima kasih kau sudah membawaku ke sini, nanti aku bisa pergi sendiri ke tempat ini, setidaknya aku bisa mengerjakan pr dengan tenang, apalagi koleksi buku-bukunya banyak." Ucap Alyena.
Nick mengangguk-angguk bangga, berkat dirinyalah Alyena bisa mengetahui perpistakaan favoritnya. Mereka mengerjakan tugas-tugas mereka dengan tenang dalam keadaan diam, tidak ada yang perlu Alyena tanyakan, karena dia juga cukup mengerti pelajaran itu, mereka asyik dengan tugas masing-masing.
Setelah satu setengah jam mengerjakan tugas, akhirnya mereka selesai, sebelum itu pekerjaan rumah Alyena di periksa oleh Nick, dia seperti seorang guru, yang memeriksa tugas Alyena. "Cukup bagus, hanya beberapa kesalahan penempatan saja."
Alyena menepuk tangannya, dengan lugunya dia menunggu sambil berdebar dengan hasil yang telah di periksa oleh Nick.
"Tidak begitu burukkan?" Tanyanya.
"Hem, tidak juga, Ahhh aku lapar, aku ingin makan."
"Bagaimana kalau kita makan, di seberang jalan sana ada Food Court aku juga sangat lapar."
"Lets go." Ucap Nick.
Mereka duduk di sana sambil mengunyah makanan yang di pesannya di mobil truck mini itu, tidak lama kemudian seorang pengawal menghampiri Alyena.
"Nona, tuan William telah menunggu anda, beliau ingin makan bersama anda sekarang."
Alyena menatapnya, tampak mulutnya masih mengunyah burger yang di pesannya serta kentang goreng yang berserakan di atas meja.
"Segeralah pergi, lagi pula pr kita juga sudah selesai, aku juga harus segera pulang."
"Oke, makasih dengan jalan-jalannya, Nick."
"Tentu, kapan saja." Dia memakai helmnya dan melambai sebentar, dia akhirnya pergi. Alyena masih memegang burgernya yang masih di gigit setengah, dia lalu mengikuti pengawal itu masuk ke dalam mobilnya.
Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di salah satu restaurant yang pernah Alyena dan William kunjungi. Alyena masuk dan melihat William duduk dengan seseorang, dan dia melambai kepada Alyena.
"Pria itu, sepertinya aku mengenalnya, dia...paman Jafier." Gumam Alyena dengan langkah ragu untuk mendekati tempat duduk mereka
"Lama sekali, kau dari mana saja Alyena."
"A-apa? aku tadi bersama Nick ke perpustakaan mengerjakan tugas sekolah." Ucap Alyena jujur. Dia kemudian duduk di antara mereka berdua, pria itu adalah Jafier, dia melirik ke Alyena dengan sorot mata yang marah, terlihat tajam langsung menatap wajah Alyena.
Alyena memalingkan wajahnya tidak mau bertemu mata dengannya, hingga lehernya terus menghadap ke arah William.
Willy tentu saja menyadari jarak di antara mereka, sepertinya mereka seperti orang asing, Alyena tidak menegur Jafier sama sekali dan terlihat ingin menghindarinya sejauh mungkin. Sementara Jafier hanya diam, sesekali dia menatap wajah Alyena lalu memalingkan kembali wajahnya ke wine yang sedang di sesapnya.
"Kalian bertengkar ya?" Tanya Willy. Menatap Alyena dan Jafier.
"Tidak biasanya Alyena tidak menegurmu dengan panggilan sayangnya, Pamannn" Ucap Willy sambil menirukan suara Alyena ketika memanggil Jafier.
"A-aku tidak seperti itu kak Willy."
Ucap Alyena dengan gugup, meskipun setengah mati Alyena ingin menghilangkan kegugupannya di hadapan Jafier, tetapi rasa gugupnya tidak mau pergi, ketika dia membaui aroma wangi dari tubuh Jafier, seakan wangi itu terus menempel di hidung Alyena.
"Tetapi bagus juga, kalian bisa menjaga jarak, dan tidak melakukan sesuatu di belakangku." Ucap Willy. Makanan mereka akhirnya datang, mereka makan dengan tenang, William dan Jafier terus mengobrol mengenai perusahaan, sedangkan Alyena hanya memainkan ponselnya sesekali dia mengirimkan pesan kepada Nick, karena bosan dia mencoba mengirimkan gambar Emoticon kepada Nick dan tentu saja Nick yang sikapnya kekanakan dan suka hal-hal seperti itu membalas dengan cepat, bahkan dalam beberapa menit pesan Alyena di penuhi gambar Emoticon milik Nick. Alyena tersenyum, dia lalu menggelengkan kepalanya.
Senyuman Alyena yang terus menatap ponselnya membuat jafier menatap tidak suka, ketika William menelepon dengan sibuk, tanpa memperhatikan di sekitarnya, Jafier merebut ponsel Alyena.
Alyena mengerjap, matanya menatap Jafier dengan tatapan marah, tetapi Jafier dengan keras kepala tetap mengambil ponsel Alyena dan melihat semua pesan masuknya, membuat Alyena sangat sebal.
"Paman, berikan ponselku." gumam Alyena dengan marah.
Senyuman miring terpancar di wajah Jafier. "Akhirnya kau menyebut juga namaku." Ucap Jafier. Ketika Willy berbalik dan membelakangi mereka karena sibuk menelepon, jafier mengambil kesempatan itu untuk menarik Alyena ikut dengannya.
"Lepaskan aku, paman."
Kakinya seperti terseret mengikuti kemana Jafier membawanya, tubuhnya tertarik karena pegangan di pergelangan tangannya yang di pegang erat oleh Jafeir. Mereka berhenti di belakang taman yang cukup sepi, melihat tidak ada seorangpun di sana, membuat Alyena tampak ketakutan dan memikirkan yang tidak-tidak yang bisa di lakukan lelaki ini.
"Apa yang kau lakukan dengan pria itu Alyena, mengapa kau naik ke atas motor seperti itu dan memperlihatkan....
Jafier menarik pinggang Alyena dan mendekapnya erat ke tubuhnya, dia lalu memegang roknya dan menempelkan tangannya dengan tidak sopan ke bagian paha atas Alyena.
"Kau mempertontonkan ini di hadapan orang-orang banyak." Ucap Jafier dengan geram.
Alyena mencoba menyingkirkan tangan Jafier dari roknya, tetapi seluruh tubuhnya bahkan menempel di tubuh Jafier yang keras.
"Lepaskan aku, apa yang kau lakukan, paman." Ucap Alyena gusar, dia menggoyangkan dengan gigih tubuhnya ke samping kiri dan kanan tetapi itu semua tidak ada gunanya. Senyuman terlihat di wajahnya, dia mendekatkan wajahnya agar mata mereka dapat bertemu, sentuhannya terasa intim, membuat Alyena mengeluarkan suara penolakan dari bibirnya.
Terdengar langkah sepatu dari kejauhan membuat Jafier menatap ke arah datangnya suara dan kesempatan itu membuat Alyena melepaskan pelukannya di pinggangnya. Alyena berjalan dengan cepat dia menengok kebelakang dan melihat pria itu tersenyum dari kejauhan, ketika mata mereka saling bertemu.
Sesampainya di tempat duduk, William masih saja menelepon, dia bicara dengan serius kepada seseorang, tangan Alyena bergelayut di lengan William dengan menundukkan sedikit kepalanya agar kakaknya dapat melihat wajahnya.
"Kak William? Ayo kita pulang, aku lelah sekali, aku mau pulang sekarang." Ucapnya mendesak William.
Willy mengangkat satu jarinya menyuruh Alyena menunggu sebentar lagi. Alyena terlihat mengeluh, pria itu bahkan telah tiba di meja makan, pandangannya menyelidik ketika dia melihat dari kejauhan Alyena yang bergelayut di tangan Willy dan mengatakan sesuatu di telinganya.
"Sepertinya Alyena telah terbiasa bermanja-manja denganmu Willy." Ucap Jafier, ketika dia kembali, Willy telah menutup ponselnya.
"Kenapa? kau terdengar cemburu, wajar saja dia bermanja padaku, dia kan adikku." Ucap Willy sambil memegang tangan adiknya seakan Jafier akan menjambretnya.
Willy lalu terbahak, ketika melihat wajah Jafier yang menatapnya seakan mau melenyapkannya ke dasar tanah. "Kau seharusnya melihat wajahmu sekarang ini, Jafier." Ucap Willy sambil menggelengkan kepalanya.
Jafier bersedekap, dia lalu menatap Willy dan mengungkapkan sesuatu yang tidak di mengerti oleh Alyena. "Kau harus mengingat janjimu Willy, aku sudah pernah mengatakan kepadamu waktu itu, tetapi aku menagih janjimu yang sebelumnya, kau masih ingat?"
William terlihat tidak mau membahasnya, dia mengambil ponselnya. "Jangan menghindar Willy, kau ingat kan apa perkataanmu sewaktu kau masih mencari Alyena." Ucap Jafier.
"A-apa yang kukatakan ya?"
"Tch, jelas kau mengingatnya, kau berjanji padaku, jika aku membawa adikmu Alyena kembali kepadamu, kau berjanji akan menerima permintaanku, apapun itu, sekarang aku menagih janjimu, dan kau harus memenuhinya."
"Baiklah, aku memang pernah mengatakan itu padamu, sewaktu aku masih mencari Alyena, aku akan mengabulkan semua keinginan orang yang bisa membawa adikku kepadaku."
Jafier tersenyum, tampak senyumnya membuat Alyena tahu permintaan pria ini berkaitan dengannya.
"Bagus, sekarang dengarkan keinginanku, aku ingin menikah dengan Alyena setelah kembali dari eropa."