Flower On The River

Flower On The River
Vol 16



Pria itu mengambil buku yang berada di atas kepala Alyena, dia berdiri tanpa mengucapkan apapun, sementara Alyena juga tidak berbalik. Tangan itu memeluk pinggangnya, dia merengkuhnya dengan erat, lalu menunduk sedikit dan merekatkan wajahnya ke dalam rambut panjang Alyena.


"Wangi yang sangat kurindukan, aku sangat merindukanmu Alyena."


Tubuh Alyena bergetar, dia tidak berani berbalik dan menatap pria itu, tetapi pria itu membalikkan tubuh Alyena agar dia menatapnya.


"Kita berjumpa lagi, meskipun keadaannya seperti ini, aku menyelinap dengan sembunyi-sembunyi ke mansion Collagher hanya untuk bertemu denganmu," bisik pria itu.


"Kau semakin sulit untuk di temui, kau tahu betapa besarnya resiko yang harus ku tempuh untuk menemuimu?" Ucapnya.


Alyena seakan terhipnotis, matanya hanya membelalak ketakutan, dan tubuhnya tiba-tiba bergetar.


"T-tuan Regan?" Bisik Alyena.


"Jangan memanggilku tuan, sebut namaku dengan nama kilian. Ucapnya, matanya memaku tajam mata coklat milik Alyena, seakan tidak bisa berpindah kemanapun.


"Sebut namaku." Pintanya.


"K-kilian." Ucap Alyena pelan.


Dia melengkungkan bibirnya, puas dengan kepatuhan dari sikap Alyena, dia menarik tubuh kecil Alyena kedalam pelukannya. "Bagus, lain kali, kau harus memanggilku dengan namaku, itu membuatku semakin dekat denganmu." Ucapnya.


Kilian mengecup puncak kepala Alyena, lalu mengecup keningnya, kedua pipinya dan hidungnya, meskipun dia tahu Alyena gemetaran di tubuh besarnya, dia tidak menghiraukannya, dia ingin melanjutkan kecupannya di tempat favoritnya, tetapi ketika dia hendak mengangkat dagu Alyena. Dia mendengar langkah kaki seseorang yang membuka pintu perpustakaan.


"Tuan, ada yang datang, kita harus segera pergi." Ucap suara itu.


"Tch, sial."


"Kita akan segera bertemu lagi Alyena." Dia tersenyum, janjinya kepada Alyena seakan janji mengerikan di kegelapan, dia beranjak dari hadapan Alyena dan segera keluar dari perpustakaan, tubuh Alyena bergetar, kakinya tidak mampu berpijak di atas lantai, dia terduduk di lantai perpustakaan dengan ketakutan.


Pintu itu di buka, tampak kepala pelayan Walt datang dan seorang pelayan yang membawakan cake dan secangkir teh, ketika dia mencari Alyena, dia terkejut ketika melihatnya terduduk di lantai dengan buku yang tergeletak di hadapannya.


"Nona Alyena, nona anda tidak apa-apa." Ucap Sir Walt sambil berjongkok di hadapan Alyena, dia memanggilnya dengan suara panik. Dia berbalik kepada pelayan itu.


"Panggil dokter, cepat." Perintahnya.


Pelayan itu berlari, dengan cepat memanggil dokter pribadi keluarga Collagher.


~


Setelah keluar dari mobilnya, Willy berlari dan segera naik ke lantai atas, menuju kamar Alyena, dia meninggalkan rapatnya begitu saja dan segera menuju ke mansion ketika mendapatkan telepon dari kepala pelayan mengenai kondisi Alyena.


Willy masuk ke kamar Alyena, beberapa pelayan berada di sana menemaninya, dokter pribadi Collgaher baru saja selesai memeriksa kondisi Alyena.


"Apa yang terjadi? ada apa dengan Alyena?" Tanyanya, dia memandang Kepala pelayan Walt lalu ke dokter pribadinya.


"Tuan William, Nona Alyena mengalami shock, sesuatu terjadi kepadanya tuan, tubuhnya tadi bergetar hebat, tetapi sekarang sudah lebih baikan, saya telah memberikan obat dengan dosis kecil agar nona Alyena dapat tertidur pulas, setelah dia tidur, dia akan kembali membaik." Ucap dokter itu.


"Dimana Sharp?" Tanyanya.


Kepala pengawal itu segera muncul. "Periksa cctv ketika nona Alyena berada di dalam perpustakaan, cepat." Ucap Willy dengan marah.


"Baik tuan."


Willy segera mengikuti kepala keamanan dan masuk ke ruang sistem, dimana semua ruangan dapat di lihat dari layar monitor.


"Tuan, sepertinya seseorang telah menghapus rekaman ketika nona ada di perpustakaan."


"Apa kau bilang? Jadi maksudmu seseorang telah menyusup ke mansionku dan melakukan semaunya," Matanya tajam menatap kepala pengawal itu karena ketidakbecusannya menjalankan tugas, bagaimana bisa seorang penyusup masuk ke dalam mansionnya?


"Kumpulkan seluruh pengawal yang ada di mansion, sekarang."


"Baik tuan."


~


Setelah mendapat kabar dari Willy, Jafier segera datang, dan mencari Willy.


"Bagaimana, apa kau sudah mengetahui siapa penyusup itu?" Tanyanya.


"Mereka menghapusnya, sial ! Siapa yang telah berani menyusup ke mansionku, aku akan segera mengetahuinya." Ucapnya.


"Bagaimana dengan Alyena? Dia baik-baik saja kan."


"Ya, menurut dokter dia baik-baik saja, tetapi dia mengalami shock, entah apa yang terjadi."


Seorang pengawal datang kepadanya, "Sir, semua cctv telah kami periksa, di monitor nomor 7 sepertinya seorang pria masuk melalui jalan belakang, ada seseorang yang memasukkannya." Jafier menatap Willy sambil menyilangkan kedua tangannya, berpikir tentang sesuatu,.


"Alyena tidak aman berada di mansionmu sendiri Willy, apa sebaiknya dia di pindahkan ke penthouseku untuk sementara sampai kalian menemukan siapa pelakunya."


Mata Willy menyipit menatap curiga kepada Jafier. "Kenapa harus di tempatmu? Aku bisa membawanya ke tempat pribadiku." Ucap Willy.


"Setidaknya di penthouseku lebih aman, keamanan di penthouseku cukup tinggi di bandingkan di sini, kau selalu keluar ke berbagai negara dan kau jarang berada di Mansionmu sendiri, bagaimana kau tahu siapa saja yang keluar masuk di mansion ini."


"Penthouseku lebih aman dibandingkan di tempat pribadi yang kau maksudkan, bukankah di tempat itu kau pernah tidur dengan seorang model? Kau mau membawa Alyena ke tempat itu?" Ucap Jafier tidak percaya.


"Jangan membawanya ke tempat mesummu, lebih baik aku yang akan menjaganya di penthouseku, setidaknya lebih aman dan Alyena jugq telah terbiasa di sana."


Willy terlihat memikirkannya dan menimbang-nimbang semua ucapan Jafier.


"Audrey dimana?" tanya Jafier.


"Pagi-pagi sekali dia kembali ke Detroit, mungkin lusa baru kembali ke mansion." Ucap Willy tanpa memandangnya, dia masih menimbang-nimbang keputusannya untuk memindahkan Alyena ke tempat Jafier.


Jafier membuka pintu kamar Alyena, dia masih tertidur, wajahnya terlihat damai, dia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Alyena.


Apa yang dilakukan orang itu sampai Alyena ketakutan seperti ini? pikirannya tertuju kepada Kilian Regan, tetapi sayangnya tidak ada bukti apapun mengenai kedatangan pria itu, tetapi Jafier merasa bahwa ketakutan Alyena ada hubungannya dengan pria itu.


Alyena membuka kedua matanya, dia akhirnya tersadar, ingatannya kembali ketika dia berada di perpustakaan, dan kilian Regan ada di sana dan mengecupnya.


"Alyena, kau baik-baik saja?" Ucap Jafier lebih mendekat kepada Alyena, dia berbicara dengan suara lembut agar Alyena tidak terkejut dengan kehadirannya.


Matanya beralih kepada Jafier, dia lalu bangun dari tidurnya dan menghambur ke pelukan Jafier, dia memeluknya erat.


"Alyena apa yang terjadi? Katakan kepadaku."


Alyena menggelengkan kepalanya, dia masih memeluk erat Jafier membenamkan wajahnya di dada bidangnya.


"Setidaknya beritahu aku, apa yang terjadi."


"Nanti, aku belum siap berbicara sekarang." Bisik Alyena.


"Kak Willy di mana?"


Alyena mengangkat kepalanya lalu melepaskan pelukannya. "Sekarang aku baik-baik saja, paman." Dia menghalau rambut Alyena yang menutupi sebagian wajahnya, lalu membelai wajahnya, tanpa dia sadari tangannya bermain di bibir Alyena menyapunya dengan jempolnya.


"Berbaringlah kembali Alyena, kau pasti ingin beristirahat." Jafier berdiri dari tempat duduknya, tangan Alyena memegang jemari Jafier.


"Temani aku sampai aku tertidur, paman." bisiknya.


Jafier kembali duduk dan memegang tangannya, Alyena memejamkan matanya, rasa kantuk kembali datang menghampirinya, tidak lama, diapun kembali tertidur hanyut dalam mimpi.


Jafier keluar dari kamarnya lalu menutup pintunya, tiba-tiba tatapan tajam terarah kepadanya.


"Aku tidak tahu kalau kalian sedekat itu, mengapa kau memegang tangannya." Tanya Willy dengan tatapan menuduh.


"Sudahlah Willy, sebaiknya kau mencari penyusup yang membuat Alyena ketakutan, aku sudah bertanya kepadanya, tetapi dia belum siap memberitahukan kepadaku." Ucap Jafier.


"Hanya kepadamu? kenapa harus diberitahukan kepadamu? aku kakaknya." Ucap Willy terlihat marah. Jafier hanya mengangkat bahunya dan tertawa melihat kecemburuan yang di perlihatkan Willy, lelaki ini sama sekali tidak pernah memperlihatkan kecemburuan seperti itu kepada wanita manapun, dia bertindak konyol seperti itu hanya untuk Alyena.


~


Pria itu sedang berdiri di depan sebuah lukisan, setelan jasnya nampak pas di tubuhnya, dia menatap lukisan seorang gadis yang berdiri di antara perkebunan, tampak rambut panjangnya di terbangkan angin. wanita-wanita yang melihatnya akan berhenti sebentar, lalu ber bisik-bisik mencoba berkenalan dengannya.


Seorang pengawal mendekatinya, dia berdiri di sampingnya.


"Bagaimana? apa mereka mencurigaimu?" tanyanya.


"Tidak tuan, mereka masih mencari penyusup itu, tetapi mereka belum menemukannya." Ucapnya.


"Hehe, tentu saja mereka tidak akan menemukannya, apalagi sang penyusup adalah kepala keamanannya sendiri, William terlalu lengah, mansionnya sangat terbuka bagi siapapun, sistem keamanannya sangat buruk, tetapi menguntungkan untukku." Ucapnya.


"Kembalilah sebelum mereka mencurigaimu, Sharp."


"Baik tuan."


"Alyena, sebentar lagi kita akan bertemu, entah mengapa kau sangat berpengaruh padaku, jika seseorang bertanya, kenapa? entahlah, tidak ada yang tahu jawabannya, yang kuinginkan hanyalah kau berada di sisiku."


~


Willy menyetujui usul Jafier, dia akan memindahkan Alyena untuk sementara waktu ke tempatnya Jafier, meskipun banyak tempat yang bisa di tinggali oleh Alyena, tetapi dia ingin keamanannya terjamin dan ada yang selalu memperhatikannya, karena Willy dan Audrey sangat sibuk, kadang mereka menghabiskan waktunya di luar mansion karena pekerjaaan.


Alyena cukup senang dengan pengaturan itu, apalagi dia bisa bersama paman Jafier dan bisa bertemu dengannya. Mobil Jafier telah menjemput mereka. Willy mengantar Alyena dan Jafier sampai mereka berdua masuk ke dalam mobil.


"Jaga Alyenaku baik-baik, jika sesuatu terjadi hubungi aku segera, Jafier."


"Ok, Will, kami pergi."


Sebelum mobil berangkat, Willy menundukkan kepalanya dan berbicara dengan nada pelan langsung menatap Jafier "Aku percaya padamu, Jafier, Alyena akan baik-baik saja bersamamu kan?" dia tersenyum memberikan peringatan kepada Jafier.


"Tentu Will."


Mobil mereka akhirnya betul-betul pergi, Willy betul-betul marah, gara-gara penyusup itu Alyena harus berpisah dengannya. "Awas saja jika kau kutemukan." Gumam Willy sambil mengepalkan tangannya, dia kemudian masuk ke dalam mansion.


~


"Kau baik-baik saja, apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Jafier ketika melihat Alyena hanya diam saja di dalam mobil, biasanya dia cerewet dan menanyakan berbagai hal kepada Jafier.


"Aku baik-baik saja, paman." Ucapnya.


Jafier melirik ke arah Alyena, dia ingin menanyakan peristiwa apa yang terjadi kemarin sampai-sampai dia ketakutan seperti itu.


"Alyena?"


"Hem? iya paman."


"Aku boleh bertanya tentang kejadian kemarin?" tanyanya lagi.


"B-bisakah nanti saja? aku akan mengatakan dengan paman tapi nanti, aku butuh waktu." Ucap Alyena.


"Ok, tapi jangan lama-lama, ceritamu akan memudahkan Willy untuk mencari tahu siapa penyusup itu, jika kau diam saja, maka Willy harus bekerja keras untuk mencari mereka."


Alyena tertunduk, dia memainkan jari-jarinya. "A-aku akan memberitahu paman, tapi bukan sekarang." Cicit Alyena. Dia ingin sekali memberitahu siapa yang telah menyusup ke dalam mansion tetapi mereka berdua pasti mengingingkan penjelasan yang detail dan lengkap, apa dia harus menceritakan bagaimana Kilian regan mengecup wajahnya dengan seenaknya dan memeluknya dengan erat, Alyena akan malu sekali.


Selama di dalam perjalanan Alyena tidak banyak bercerita, dengan cepat mereka tiba di penthouse milik Jafier, dua orang pengawal menyambut kedatangan mereka dan membuka palang pembatas agar mobil mereka bisa lewat.


Jafier membukakan pintu mobil untuk Alyena dan barang-barang penting lainnya, Alyena tidak membawa banyak barang-barangnya, dia hanya mengenakan ranselnya karena di kamarnya yang dulu pakaian yang dibelikan oleh Jafier masih lengkap.


"Dari semua barang yang ada di mansion, kau hanya mengambil ranselmu saja, Alyena, apa kau sangat suka tas ransel itu? kita bisa berbelanja jika kau mau." Ucapnya, dia memperhatikan sedikit sobekan di tas milik Alyena.


"Em aku suka menggunakan tas ini, tidak ada yang special, tas-tas yang diberikan kak Willy dan kak Audrey terlihat sangat mahal, aku tidak tega membawanya dan merusaknya, karena aku sedikit ceroboh." Ucap Alyena sambil tersenyum.


"Jika Willy mendengarmu dia akan kecewa, kau tidak memakai barang yang dibelikan untukmu." Ucap Jafier sambil mengacak rambut Alyena dan membawanya masuk ke dalam penthouse.


~


Seorang pria berdiri di dekat taman, dia sedang menelepon seseorang, "Tuan, Nona Alyena dipindahkan ke suatu tempat, dia baru saja naik ke mobil tuan Jafier." Ucapnya.


Suara dari telepon terdiam, dia tidak mengatakan apapun.


"Tuan, anda di sana?" tanyanya.


Ponselnya di matikan, terdengar bantingan keras barang-barang di atas meja Kilian, dia kemudian memijat keningnya. "Jafier Alfaro, kau sangat mengganggu, kali ini aku akan menghadapimu." Ucap Regan.


~


Alyena masuk ke dalam kamar tidurnya, tidak ada yang berubah, tetap sama seperti waktu dia tinggalkan, pakaian dan aksesoris yang dibelikan paman Jafier masih ada di dalam lemarinya. hanya saja seprai yang telah diganti dan balkonnya terbuka lebar memperlihatkan pemandangan kota lewat balkon kamar Alyena.


Pintu lalu membuka, Jafier masuk sambil membawakan dua gelas minuman hangat, mereka lalu duduk di teras balkon sambil bercerita, Jafier membuka pembicaraan lagi, dia tidak tahan dengan diamnya Alyena, dia juga sangat penasaran siapa yang dilihat Alyena di perpustakaan itu hingga dia ketakutan.


"Alyena?"


Alyena berbalik setelah meneguk teh hangat buatan Jafier. "Kau harus menceritakan kepadaku, kalau kau diam saja, sama saja kau melindungi penyusup itu." Ucapnya.


Mata Alyena membelalak, "B-bukan seperti itu, paman."


"Kalau begitu kau harus menjelaskannya kepadaku, atau begini saja aku akan menebaknya dan kau tinggal menganggukkan kepalamu, Alyena." Ucapnya.


"Apa kau bertemu Kilian Regan sewaktu di perpustakaan?" tanyanya.


Pertanyaan telak Jafier membuat mata Alyena yang sedang menunduk terbelalak, tangannya saling bertaut, tanpa Alyena bilangpun Jafier sudah tahu jawabannya.


"Sial, aku akan memberinya pelajaran." Gumam Jafier. Dia kemudian menarik tangan Alyena, dan membawanya ke dalam pelukannya. Alyena menjadi semakin terbelalak, posisi mereka yang seperti ini membuatnya tidak nyaman. Alyena sedang duduk di pangkuan Jafier dan pelukan eratnya membuat Alyena sesak napas.


"P-paman, aku tidak bisa bernapas." Ucap Alyena. Dia mendorong lembut pelukan Jafier. Mereka saling menatap, posisi seperti ini membuat siapapun akan salah paham ketika melihatnya. Jafier baru menyadari apa yang dilakukannya, dia lalu melepaskan Alyena dan membiarkannya kembali duduk di tempat duduknya, sambil menjaga jarak dengannya.