Flower On The River

Flower On The River
Percintaan Alex 3



Pria-pria bersetelan hitam berbaris sedang menunggu seseorang yang akan keluar dari gedung pertunjukan di pusat kota Pittsburgh, pria paruh baya itu baru saja keluar dari gedung pertunjukan, dengan tergopoh-gopoh seseorang mengikutinya dari belakang dan dengan cepat membukakan pintu mobilnya, dia menunduk padanya, "Semoga perjalanannya lancar tuan Chandelier".


Pria paruh baya itu memandang jalanan besar kota Pittsburgh dengan mata hazelnya menerawang memikirkan sesuatu, "Kembali ke mansion Roger."


"Baik tuan."


Kesedihan terpancar dari wajahnya, sudah beberapa tahun dia tidak melihat putrinya, dan kabar bahwa putrinya telah meninggal membuatnya begitu sedih, dia sudah menyewa separuh detectif di kota ini tapi satu kabar yang didengarnya menjelaskan bahwa mereka berdua sudah tiada, dia menghapus air di matanya dengan saputangan.


"Telepon kembali detektif itu aku ingin bicara dengannya." dengan tidak sabar dia merogoh kantongnya dan meminum obat penenang yang selalu dibawanya.


~


Wanita itu menjerit dipelukannya, suara mereka beradu di keremangan malam, club itu sering kali di datanginya menjadi tempat pelampiasannya dan melepas segala kepenatannya.


"Ada apa denganmu hari ini max? siapa ruzy? Kau berteriak menyebut namanya." Mata max menatap wanita yang berbaring di sebelahnya dengan tatapan membunuh.


"Lakukan saja tugasmu, aku ingin kau lebih liar dari biasanya." Perintah max pada wanita yang tersenyum menggoda padanya.


"Bukan masalah sayang."


Membayangkannya sebagai Ruzy membuatnya semakin ingin memilikinya, menatapnya ketika terbaring sakit, melupakan bahwa dia adalah seorang dokter, ingin rasanya membawanya kabur waktu itu dan memilikinya, seandainya saja bibinya tidak berada di sana dia akan menculiknya dan menjadikan ruzy miliknya.


~


Ruzy terbangun, menatap langit-langit kamar yang terukir indah, sangat berbeda dengan kamarnya yang kecil, dia merasakan hembusan napas yang teratur disebelahnya, menatap Alex yang terjaga semalaman, menunggui dan mengompresnya. Ruzy meletakkan jarinya kebibirnya, dia mengingat nyonya collagher mengetuk di kamar Alex semalam.


Untungnya nona ellena datang, sehingga Alex tidak perlu bertemu dengan ibunya. Ruzy tidur menyamping memandangi wajah tampan yang ditatapnya, pria ini tidak sedikitpun memberikan kesempatan padaku untuk berbicara normal padanya, serangannya pada tubuhku selalu dia utamakan.


Alex membuka matanya dan menatap wajah cantik ruzy dihadapannya, dia tersenyum lalu memegang dagu ruzy dan mengecup bibirnya.


"Kau bangun? sepertinya panasmu sudah mulai turun." Sambil memegang keningnya, ruzy hanya mengangguk padanya. Alex mendekapnya memeluknya erat, mereka saling menatap, satu pancaran dari mata alex menyiratkan keinginannya untuk memiliki Ruzy malam ini, getaran itu seperti listrik di tubuh mereka yang muncul begitu saja, percintaan panas mereka pun dimulai, tetapi tidak berhenti sampai disitu, hingga fajar menyingsing, alex tidak melepaskan ruzy begitu saja.


"Alex... hentikan aku sangat lelah, tetapi Alex seperti tidak mendengarkan perkataan ruzy, dia membuat ruzy teriak untuk kesekian kalinya begitupun dengannya, dia bergerak cepat dan akhirnya menemukan pelepasannya.


Tubuhnya ambruk di tubuh ruzy, "Tidurlah sayang, kau pasti sangat lelah", senyumnya, mengingat percintaan panjang mereka semalaman.


~


Bibi Emy mondar mandir di depan kamar tuan Alex menatap gelisah pintu berwarna coklat yang masih tertutup sampai sekarang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, "Emy? apa yang kau lakukan di depan kamar tuan Alex?" tanya tuan Ollie, yang menatapnya curiga.


"Eh...Aku ingin mengambil cucian-cucian kotor tapi rupanya tuan Alex belum bangun." Katanya sambil memandang gelisah pintu itu.


"Bukankah itu bukan tugasmu? biarkan pelayan yang lain mengurusnya, mereka akan mengantarnya nanti siang, kenapa kau terburu-buru sekali Emy."


"Ba..baiklah saya permisi." Memandang kembali pintu itu lalu beranjak pergi. Terdengar ponsel yang berdering beberapa kali, membuat mereka menggeliat dari tidurnya, ruzy menarik selimut hingga menutupi dadanya, tetapi alex selalu menariknya kembali.


Ruzy terduduk dan merasakan sakit di antara kedua kakinya, dia menggelung rambutnya dan menempelkan selimut di tubuhnya. mencari baju-bajunya yang berserakan di lantai, dengan meringis ruzy masuk ke kamar mandi, ingin menghilangkan wangi tubuh alex di tubuhnya. "Ugh, bagaimana aku bisa keluar dari sini?" gumamnya.


Setelah mandi ruzy memakai kembali dressnya yang kusut, lalu duduk di samping jendela memandang pemandangan dari jendela kamar alex. Tiba-tiba Ruzy menemukan sepasang mata coklat terang memandangnya dari bawah langsung menuju kamar Alex, dengan cepat ruzy bersembunyi.


Ternyata tuan Nick melihatnya dari tadi, betapa memalukannya, dia pasti tahu apa yang kami lakukan semalam? pikir ruzy dengan wajah memerah.


Tangan kekarnya memeluk ruzy dari belakang, dan menghirup wangi ruzy lalu mengecup pelan di sekitar rahang dan leher Ruzy, "Kenapa kau tidak membangunkanku sayang, ngomong-ngomong bagaimana dengan tubuhmu?" Dia membalik rubuh ruzy dan menatapnya, "Kau bisa berjalan?" tanya Alex membuat ruzy memalingkan wajahnya karena malu.


"Tentu, aku baik-baik saja." Pancaran mata Alex seperti menggoda.


"Aku tidak menyangka tubuhmu begitu kuat menahannya sayang, aku pikir kau tidak akan bisa berjalan untuk sehari, kau tahu maksudku." Dia terkekeh di leher ruzy.


"Benarkah kau masih sanggup?" Godaan Alex membuat ruzy mundur beberapa langkah dan memukulnya.


"Aku ingin kembali ke dapur Alex, bibi pasti khawatir." Tegasnya, melihat keinginan alex, membuat ruzy meringis. Sakit diantara kedua kakinya masih terasa, dia tidak bisa menerima serangan alex lagi atau ruzy betul-betul tidak bisa beraktivitas hari ini.


~


Nick menyandarkan kepalanya di kursi tempat mereka biasanya duduk bercengkrama, dia datang terlalu cepat, menunggu ricky membuatnya bosan, dia melihat ruzy mengendap-endap keluar dari pintu belakang, dan berlari sambil berjinjit, Nick memandangnya sambil mengamatinya, sedikit melengkungkan bibirnya. Sepertinya Alex menikmati percintaannya semalam, pikirnya.


"Apa yang membuatmu tersenyum nick? ada yang menarik?" Ricky baru saja datang lalu duduk di sampingnya.


"Sesuatu yang menarik?" dia tersenyum.


"Ya, aku menemukan sesuatu yang menarik."


"Dan apa itu?" tanya Ricky.


"Tidak akan menarik bagimu, jadi berhentilah bertanya." Kata Nick bosan.


"Dimana Alex? semalam dia pergi dan berlari meninggalkan Cynthia begitu saja, dia mengomeliku katanya aku membuang-buang waktunya, Cynthia mengatakan padaku, pria idiot mana yang berani meninggalkannya?" kata ricky sambil menuang susu di kopinya.


"Dan idiot itu sedang menuju kemari." Kata Nick tersenyum memandang Alex yang berjalan menuju taman. Mereka berdua memandang Alex dengan senyum mengejek dan menuduh.


"Ada apa? kenapa kalian memandangku seperti itu?" tanya alex.


"Jadi..... bagaimana Ruzy?" kata Nick dengan memicingkan matanya.


"Apa maksudmu Nick? dengan santai Alex mengambil segelas kopi dan meminumnya.


"Kau tahu apa maksudku, menyerangnya membabi buta sampai jam segini dia baru keluar dari kamarmu!" kata nick menatap Alex, Ricky menganga mendengarnya.


"Dasar Kau maniak." kata ricky yang tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Ck, diamlah kalian berdua." Wajah Alex berubah seketika melihat dokter max datang kembali dan keluar dari mobilnya.


Dokter Max berjalan tanpa melihat Alex yang duduk di taman dan memperhatikannya.


~


Ruzy membuka pintunya dan dengan cepat menguncinya, "Huh hampir saja." Dengan cepat dia berganti baju, lalu segera menuju ke dapur.


"Ruzy? kau baik-baik saja?" Ruzy berbalik dan menemukan dokter max menghampirinya.


"Aku baik-baik saja sekarang." Kata ruzy Kikuk, dia tidak lupa dengan perlakuan dokter max padanya. "Benarkah?" tangannya tiba-tiba ingin memegang kening ruzy tetapi sesuatu menahannya.


"Cukup dengan bertanya saja bukan? dokter max." Kata Alex yang menepis tangannya. Alex menarik tangan ruzy.


"dia baik-baik saja, obat yang kau berikan padanya sudah di minumnya dokter max."


Wajah dokter max menegang, tetapi dia tentu saja menahan emosinya dengan sikapnya yang profesional. "Benarkah? itu bagus sekali, Aku tidak tahu kalau tuan Alex begitu peduli terhadap pelayannya."


"Dia milikku." Kata Alex tajam sambil memeluk pinggang ruzy begitu erat. "Jadi aku sarankan padamu, jauhi ruzy."


Dokter max melengkungkan bibirnya, "Milik? benarkah? aku harap kau betul-betul bisa menjaganya." Mereka berdua saling menatap, lalu tanpa berkata-kata dokter max pergi.


"Jangan pernah aku melihatmu bersamanya Ruzy", kata Alex dengan mata menyala, ruzy hanya mengangguk padanya.