Flower On The River

Flower On The River
Vol 21



Tubuhnya terasa ngilu, tetapi dia merasakan nyeri di tangannya, dia mengerjap dan membuka matanya perlahan, dia sedang berbaring di kamarnya sendiri, "Ugh, perih sekali." Gumam Alyena.


Seseorang memegang tangannya dan membantunya untuk duduk, dia kemudian berbalik dan melihat jafier duduk di sampingnya, dari tadi dia menunggui Alyena yang tertidur.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.


"Huuh? Aku baik, cuma perih sedikit saja." Jawabnya, Jafier menatapnya lalu menghalau rambut yang menempel karena keringat di keningnya.


"Maafkan aku, karena terlambat datang menolongmu, bagaimana jika kau tidak lari dan mereka membawamu dariku." Ucap Jafier, wajahnya terlihat penuh penyesalan.


"Aku baik-baik saja paman, aku juga bersama kak Audry," Ucap Alyena mencoba menenangkannya, dia tampak sangat menyesal.


Alyena memeluknya, dan membiarkan tubuhnya beristirahat di pelukannya, Alyena menutup matanya. Wangi colognenya menusuk hidung Alyena. Jafier memeluknya erat. "Tidurlah kembali, aku akan di sini menemanimu."


"Emh, ok."


Alyena betul-betul tertidur di dalam pelukannya, wangi pria itu begitu menenangkan Alyena. Dia dapat merasakan tubuhnya di angkat dan di baringkan di atas tempat tidur, Jafier menyelimutinya dan mengecup keningnya sebelum dia keluar dari kamar Alyena.


Setelah beberapa jam tertidur Alyena kembali terbangun karena haus, dia menatap jam di ponselnya, "Ehm pukul 3? Ugh aku haus sekali." Alyena lalu beranjak dari tempat tidurnya, dia kemudian berbalik karena ponselnya berdering, dia tidak mengenali nomor itu, perlahan dia mulai mengangkatnya.


"Halo?"


"Alyena, kau baik-baik saja?"


"S-siapa?"


"Kau tidak mengenal suaraku? Ini aku, Kilian."


Alyena terkejut bukan main, bagaimana tuan Regan mengetahui nomor ponselnya?


"Aku dengar sesuatu terjadi di mansion, kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?" Tanyanya.


"Aku baik-baik saja." Jawabnya.


"Apa sekarang kau berada di kamarmu?"


Mata Alyena membulat, dia lalu menatap ke sekelilingnya, suara kekehan terdengar dari seberang telepon.


"Jangan khawatir, aku tidak ada di sana, aku hanya menebaknya saja, kenapa kau bangun?"


"A-apa? Ehm aku haus jadi aku terbangun."


"Kau sudah minum?" Tanyanya.


"Belum," Alyena merasa aneh dengan pembicaraan mereka di tengah malam begini.


"Kalau begitu aku tutup, segeralah minum dan tidur." Ucapnya.


Dia menutup teleponnya, "Di mana dia tahu nomor ponselku? Dan mengapa dia tahu mansion ini telah di serang? Apa ada mata-matanya di mansion ini lagi?" Gumam Alyena.


~


Pagi kembali menyambut, perih dari luka di tubuh Alyena masih terasa, dia bangun dan segera mandi, lalu bersiap-siap sarapan. Hari ini paman Jafier berjanji akan datang pagi-pagi untuk sarapan bersama kami, dan untuk itu Alyena harus terlihat cantik di depannya.


Dia mengambil ponselnya, lalu membukanya, kemudian dia menghapus panggilan telepon dari tuan Regan, dia tidak mau Jafier mendapatkan nomor itu di ponselnya, terkadang juga kakaknya Willy memeriksa ponsel Alyena, meskipun jafier tidak setuju dengan sikap Willy, dia mengatakan ponsel itu privasi Alyena, dia tidak boleh seenaknya membukanya. Tetapi Willy yang keras kepala tidak mendengarkan ucapan Jafier.


Alyena keluar dan segera turun ke lantai bawah, dia sudah mulai terbiasa tinggal di mansion ini, setelah turun, tidak ada seorangpun yang berada di meja makan, padahal sarapan sudah terhidang di sana, Alyena duduk dan menunggu mereka semua, tetapi setelah beberapa lama menunggu, seseorang menutup mata Alyena dengan kedua tangannya, wanginya tentu saja dikenalinya. Alyena tersenyum, dia kemudian berbalik dan memegang tangannya, ciuman selamat pagi mendarat di bibirnya.


Mata Alyena melotot, dia kemudian memperhatikan sekitarnya, takut kalau saja Willy tiba-tiba melihat mereka berdua.


"Paman, apa yang kau lakukan, bagaimana kalau kak Willy melihat kita?" Tegurnya.


Dia mencium sekali lagi, ciuman panjang hingga kepalanya terdorong ke belakang.


"Tidak akan." Ucap Jafier setelah melepaskan bibirnya. "Willy sedang sibuk mengurus keluarga Belinda Haven, sejak semalam Willy telah berangkat ke Manhattan, kali ini dia betul-betul akan mengurus keluarga Haven, mereka akan menyesali perbuatannya,"


"Apa yang akan kak Willy lakukan kepada wanita itu."


"Banyak, kau ingin mendengar salah satunya?" Ucapnya.


Alyena mengangguk, "Apa yang akan dilakukan kak Willy?"


"Hem, coba kuingat-ingat mungkin dia akan menghancurkan aset keluarga itu, beserta saham-sahamnya, itu termasuk kategori masih sangat ringan."


"B-benarkah, bagaimana jika yang paling terburuk yang akan dilakukan kak Willy?" Jafier memeluk Alyena dari belakang, lalu memberikan kecupan di pipinya.


"Kau yakin ingin mendengarnya?" Tanyanya.


"Ya, aku ingin mendengarnya." Senyum Alyena.


"Belinda mungkin akan di bawa ke penjara paling mengerikan di salah satu penjara di Eropa, Kau tahu? Willy sanggup melakukan itu semua, dan hal itu hanya bagian kecil yang mampu di lakukannya,"


"Mengerikan sekali, apa yang akan terjadi dengan wanita itu nantinya?" Ucapnya.


"Dia akan mendapat perlakuan yang terburuk yang pernah di terimanya, dan dia pantas mendapatkannya," Jafier menatap wajah Alyena yang terlihat menyesal mendengarnya, wajah kasihan yang diperlihatkan Alyena kepada wanita itu tidak pantas di dapatkannya.


"Jangan merasa kasihan dengan wanita itu, Alyena. Belinda Haven adalah wanita yang mengerikan, dia sangat kejam jika dia mencemburui seorang wanita, tetapi aku tidak akan menceritakannya kepadamu, kau bisa saja muntah." Ucap Jafier.


Alyena mengangguk cepat, dia tidak sanggup mendengar hal mengerikan yang tidak bisa dia bayangkan.


"Kak Audrey sepertinya belum bangun, apa dia mungkin tidak bisa mengangkat tubuhnya? Mungkin aku harus membawakannya makanan." Ucap Alyena.


"Audrey tidak di sini sayang, semalam dia berangkat bersama Willy mengurus wanita itu, kau tidak tahu bagaimana geramnya Audrey ketika dia di serang oleh Belinda, dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika wanita itu terluka dan menderita."


"Berhenti membicarakan wanita itu sayang, bagaimana dengan lukamu, apa masih perih, kau sudah mengolesi obat di tempat yang terluka?"


"Oh, ini bukan apa-apa paman, meskipun perih tapi beberapa hari saja lukanya akan menghilang."


Jafier menggeleng tidak menyetujui, "Setelah sarapan, aku akan mengobati lukamu." Alyena mengangguk sambil mulai sarapan bersamanya.


~


"Aw, sakit." Ucap Alyena merasakan perih tepat di sikunya, bekas cakaran dari wanita itu telihat seperti goresan panjang yang merah, Jafier sedang memberikan obat dan meniupnya agar tidak perih.


"Bagaimana sekarang? Masih sakit?"


"Sudah puas menatapku?" Ucapnya sambil menaikkan satu alisnya.


"Hem? Aku tidak melihat paman," elak Alyena, matanya kemudian mengelilingi tempat itu, dia memalingkan wajahnya dari Jafier.


"Sekarang waktunya kau yang mengobatiku." Ucap Jafier.


"Hah? Memangnya paman terluka ya, dimana?" Ucap Alyena memperhatikan wajahnya dan tubuh Jafier. Dia lalu tersenyum kemudian menarik Alyena dari kursinya, dia membawanya ke pangkuannya menghadap ke tubuh jafier. Alyena membelalakkan matanya ketika memperhatikan posisinya, posisi mereka terlihat sangat intim, tubuh mereka saling mendesak erat di kursi itu, apalagi Alyena merasa malu karena kakinya terbuka selebar itu dan duduk di atas pangkuannya.


"Jangan menundukkan wajahmu, aku ingin melihat wajah meronamu." Bisik Jafier, sambil memberikan kecupan kecil di bibir Alyena.


Alyena mengangkat wajahnya menatap langsung mata pria tampan di hadapannya, dengan berani, Alyena mengangkat tangannya dan menyentuh rambut halus yang berada di janggutnya, dia selalu mencukur janggutnya, lalu memegang bibir penuh yang membuka, dia mengecup tangan Alyena, mengantarkan gelenyar aneh di tubuhnya.


Tangannya mulai memegang hidungnya merasakan napas hangat yang menghembus di permuakaan kulit Alyena. Dia mendengar suara aneh dari jafier, Alyena menatap mata itu, terlihat keinginan kuat Jafier kepadanya, dia memeluk kasar Alyena dan menciumnya, bibirnya panas membakar membuat Alyena mencoba membalasnya tetapi Jafier yang dominan tidak bisa diimbangi, dia terus menjelajahi setiap bibir Alyena, mencicipinya dan meraupnya tampa ampun. Napas Alyena memburu, dia kemudian terkesiap ketika Jafier memindahkan bibirnya itu dileher jenjang Alyena, membuatnya memekik karena terkejut.


"Tidak apa-apa sayang, jangan menahan desahanmu, aku ingin mendengarnya." Bisik Jafier.


"P-paman berhenti, sepertinya tubuhku terasa panas dan...


Dia tidak melanjutkan ucapannya, bibirnya kembali dipaksa membuka oleh Jafier. Alyena mengeluh ketika dia tidak sanggup lagi mengikuti gairah Jafier yang meletup-letup.


Alyena begitu terkejut ketika satu tangannya menyusup di bawah baju Alyena, dia mulai menjalankan jemarinya membuat Alyena memekik dan tiba-tiba mendorong Jafier karena merasakan sesuatu yang aneh yang menggelitik di tubuhnya.


"A-aku...mau ke kamar mandi, paman." Alyena berlari dan masuk ke kamar mandi, jantungnya berdetak tidak menentu, dia memegang dadanya, dia berlari karena merasakan sesuatu berdenyut dan mengeras di celana jafier, membuat Alyena ketakutan.


"Apa yang akan paman katakan dengan sikapku ini?"


Satu ketukan terdengar dari pintu kamar mandi. "Alyena kau baik-baik saja?" Suara jafier menggema di luar, suaranya terdengar khawatir.


"A-aku baik paman, aku akan segera keluar." Teriak Alyena.


Jafier memijat keningnya, dia terlalu terhanyut dengan kelembutan Alyena dan melakukannya dengan kasar, dia harusnya tahu bahwa ini pengalaman pertama Alyena, dia harusnya pelan-pelan dan melakukannya dengan lembut.


~


Alyena keluar dari kamar mandi setelah hatinya telah siap, "Kau tidak apa-apa, maafkan aku Alyena, harusnya aku lebih lembut kepadamu." Ucap Jafier sedikit menunduk menatap mata coklat berbinar itu.


"Kenapa paman minta maaf, aku hanya....


"Lebih baik kita kembali ke bawah, kita lebih baik mengobrol di taman." Ucap Jafier.


Setidaknya aku tidak akan memikirkan menyerang Alyena jika kami di tempat terbuka.


~


Mobil itu berhenti tepat di depan mansion, tatapannya tajam ketika melihat mereka dari kejauhan kelihatan mengobrol dan terlihat sangat dekat, terkadang Alyena memegang wajah pria itu dan sebaliknya pria itu memberikan kecupan kilat di bibirnya.


"Jalan." Perintahnya.


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Hubungi wanita itu, dia setidaknya harus membereskan kisah cintanya yang berliku itu sebelum Alyena terlalu jauh menyukai pria itu." Ucapnya.


Senyum smirk terlihat di wajahnya, "Kita akan lihat bagaimana kau mengatasi wanita bebal itu, Jafier Alvaro,"


~


"Lihat, lihat mereka berdua, mesra sekali ugh aku sangat iri melihatnya, Nona Alyena beruntung sekali mendapatkan pria setampan tuan Jafier, uhh apakah tidak ada seorang pria seperti itu untukku?" Ucap salah satu pelayan yang baru saja mengantar teh lemon kepada mereka berdua.


Para pelayan di mansion ini senang bergosip, apalagi mengenai teman-teman tuannya yang datang ke mansion, mereka bahkan menyiapkan lemari khusus make up di dapur, agar mereka dapat memoles wajahnya ketika ada tamu tampan yang datang.


Seorang pelayan bersandar di salah satu tembok, "Hemm, tapi seharusnya Nona Alyena tidak tergoda dengan Tuan Jafier." Ucapnya.


"Memangnya kenapa?" Tanya salah seorang pelayan yang menatapnya heran.


"Kalian tidak tahu ya, sewaktu tuan Jafier masih remaja, dia memiliki seorang wanita yang dicintainya, tapi wanita itu telah menikah." Ucapnya.


"Lalu apa masalahnya, lagi pula wanita itu sudah menikah, tuan Jafier kan bebas."


"Ck ck Wanita itu bercerai dengan suaminya dan terus mengejar tuan Jafier, padahal tuan Jafier berkali-kali menolaknya, meskipun wanita itu dulunya cinta pertamanya, tetapi dia wanita halus, licik dan licin, kalian tidak ingat, dia bahkan cemburu kepada Nona Audry, wanita itu menganggap tuan Jafier adalah miliknya, wanita posesif yang mengerikan, dia seperti orang sakit jiwa."


"Kalau begitu bagaimana nasib Nona Alyena, dia harus menghadapi wanita itu, apalagi dia hampir saja di culik oleh wanita gila si belinda itu, huuuh cobaannya berat, aku harap Nona Alyena kuat menghadapinya." Ucap seorang pelayan.


Alyena cukup lama bersandar di samping dapur, dia tadi hendak ke kamarnya tetapi suara-suara ribut pelayan itu membuatnya berhenti dan mendengar semua cerita mereka.


"Siapa wanita yang mereka maksud?" tiba-tiba saja tubuh Alyena bergidik, "Apa aku harus menghadapi satu lagi wanita yang mirip dengan belinda?" Ucapnya sambil memeluk tubuhnya.


~


"Nyonya ada informasi mengejutkan yang saya dapatkan dari Kota Seattle, anda ingin mendengarnya?" Ucap salah seorang pelayan kepada Nyonyanya yang berbaring di sofa sambil menutup matanya yang lelah sehabis puas berbelanja.


"Informasi apa? kalau bukan mengenai Jafier, aku tidak mau mendengarnya." tuturnya.


"Tepat sekali nyonya, ini mengenai tuan Alvaro." Wanita itu lalu membuka matanya, wajah cantik dengan berbalut kain satin panjang duduk tegak menghadap kepada pelayan itu.


"Tuan jafier akhirnya berhenti berpetualang Nyonya, dia akhirnya melabuhkan pilihannya kepada seseorang."


"Hem, benarkah? Apa itu berita palsu? Jafier tidak mudah tertarik dengan seorang wanita, aku merelakan dia berpetualang kepada wanita-wanita murahan itu sampai dia bosan, dan pada akhirnya dia akan datang kepadaku, tetapi jika dia memilih seorang wanita lain di belakangku, aku tidak akan membiarkannya, aku sudah cukup sabar menantinya, dan membenciku semaunya, aku rela bercerai untuknya, tetapi dia memilih wanita lain? jafier pasti bercanda, iya kan?"


"iya Nyonya."


Pelayan itu memutar kedua bola matanya dan mendengus.


Kau yang meninggalkannya dan memilih pria lain, dan kau ingin tuan Jafier kembali? kau yang telah bercanda, Nyonya.


"Siapkan tiket pesawatku, aku ingin kembali ke Seattle dan menyadarkan jafier bahwa dia telah melakukan kesalahan besar." Ucapnya sambil kembali berbaring dan menutup kedua matanya.


~


"Bagaimana kalau kita masak dan makan malam bersama?" Ucap Jafier, dia menemani Alyena sepanjang hari sampai menjelang makan malam.


"Aku mau paman, sepertinya makanan paman akan lezat." Ucap Alyena terlihat senang, matanya lalu tertuju pada ponselnya yang sejak tadi berdering.


Sepertinya paman sibuk sekali, tetapi dia mengabaikan semua pesan dan teleponnya hanya untuk menemaniku sepanjang hari.