
Wanita itu sangat malu, setelah Willy meninggalkan kamarnya, ivy segera memakai pakaiannya, dia terlihat terburu-buru memakainya. "Kenapa aku sungguh bodoh, uhh aku sangat malu, bagaimana aku bisa menghadapinya?" Ucap Ivy. Setelah menenangkan diri, Ivy kembali duduk dan mengusap wajahnya. Dia mendengar langkah kaki seseorang dan dia membaringkan tubuhnya secepat mungkin dan menutup matanya.
Willy berdiri di hadapannya, dia berdiri cukup lama memandang wajah gadis manis yang sedang tidur di sofanya. Wajahnya terlihat manis dan putih pucat, pipinya kemerahan karena telah meneguk minuman itu dengan sekali teguk. Willy masih memandangnya, dia lalu melipat kedua tangannya.
"Bangunlah, apa kau berniat supaya aku menggendongmu ke tempat tidur? Jadi kau berpura-pura tidur untuk menggodaku?" Gadis itu lalu terduduk dengan sempoyongan dia berdiri, dia tidak bohong, dia pusing dan mabuk, tanpa memperhatikan langkahnya dia jatuh di pelukan Willy.
"M-maafkan aku tuan, aku sungguh mabuk." Dia memegang kedua bahu Willy karena tidak mampu memijakkan kakinya yang terus bergoyang hendak terjatuh. Willy merapatkan bibirnya, dia bisa merasakan aroma manis dari gadis di depannya. Ivy terus merapatkan tubuhnya kepada Willy agar tidak terjatuh. Dia membelalakkan matanya ketika merasakan sesuatu menggembung di bawah sana. Ivy dapat merasakannya, dia mengangkat wajahnya dan mereka saling menatap.
"Aku berubah pikiran, aku menginginkanmu Ivy, sekarang. Salahkan dirimu yang menggodaku." Willy mengangkat gadis itu dengan sangat mudah. Dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, Ivy ingin menolaknya, dia berusaha untuk mengatakan sesuatu tetapi Willy sudah mencumbunya, dia menguasai bibir itu dengan mudahnya, tatapan sayu dan wajah pasrah ivy membuat Willy semakin bergairah ingin memilikinya.
Ivy menggoyangkan kepalanya berusaha menolak serangan Willy, tetapi tubuhnya berkata lain, dia lebih memberikan akses kepada pria itu untuk menyentuhnya. Malam itu Ivy memberikan dirinya kepada Willy, suara napas beradu, mengerang dan saling membutuhkan terdengar di malam itu, hingga Willy menghentikan dirinya ketika malam telah begitu larut.
Willy menatapanya kemudian bangun dari tidurnya, baru kali ini dia merasakan tubuhnya terasa puas akan tetapi dia masih membutuhkannya, dia tidak akan melepaskan gadis itu.
****
Adams Mansion
Ivy termenung sambil menatap mansion besar yang berada di London. Pria itu membawanya ke sebuah mansion, Ivy duduk di dekat jendela sambil memeluk tubuhnya yang entah sudah berapa kali William menyentuhnya selama mereka di York. Sekarang dirinya terasa berbeda, setiap kali pria itu menyentuhnya dia akan mereseponnya dengan liar secara alami, entah bagaimana dia bisa seperti itu, tetapi semakin hari tubuhnya sudah terbiasa dengan pria itu.
Pintu di ketuk, Alyena membukanya dan mendapati gadis itu sedang duduk merenung dan duduk seorang diri disana.
"Hai, boleh aku duduk bersamamu?" Ucap Alyena tersenyum.
Ivy mengangguk, lalu membiarkan Alyena duduk di depannya.
"Boleh aku panggil ivy?" Ucap Alyena. Gadis itu tersenyum sambil mengangguk.
"Kemarin kita sudah berkenalan, jangan sungkan selama di sini, erm ngomong-ngomong apa kak Willy memperlakukanmu dengan baik, maksudku apakah dia kasar kepadamu? Apa dia berjanji menikah denganmu?" Ucap Alyena dengan pertanyaan bertubi-tubi. Ivy mengangkat jemarinya. Lalu tersenyum malu-malu. Dia memperlihatkan cincin di jemarinya.
"W-willy mengatakan dia ingin menikah denganku."
"Wuaaahh, hebat." Suara itu terdengar dari luar kamar, Clara masuk begitupun Audry. Mereka lalu mengelilingi Ivy meminta semua detail ceritanya. Ivy yang lugu bahkan menceritakan bagaimana ketika dia pertama kali tidur dengan Willy. Wanita-wanita itu menahan napas dan menutup mulut dengan tangannya.
"Terus, bagaimana kelanjutannya," Ucap Clara antusias.
"Aku mendorongnya, dan mengatakan tubuhku tidak bisa menerimanya lagi, aku kesakitan." Ucapnya dengan wajah merona. Suara tawa dan teriakan terdengar dari kamar Ivy. Suara pintu menjeblak terbuka, ketiga tersangka itu berlarian karena melihat wajah murka Willy.
"Ivy, apa yang kau katakan kepada mereka?" Ucap Willy sambil mengusap wajahnya putus asa, dia berjalan mendekati Ivy.
"M-mereka bertanya, jadi aku menjawabnya," Willy menarik Ivy dan memeluknya. "Lain kali jika mereka mengajakmu bercerita kau tidak boleh menceritakannya meskipun mereka memaksa, kau mengerti?" Ucap Willy, sambil memeluk tubuh ivy dengan erat.
Ivy menganggukkan kepalanya merasakan jantungnya berdebar sangat kencang ketika pria ini mendekapnya dan memeluknya seperti ini, wangi mint dan wood kental tercium dari napasnya, kemejanya yang memiliki wangi yang segar membuat Ivy tanpa sadar mengendusnya.
Sepertinya aku mencintai pria ini, apa aku akan mengatakan perasaanku?
Ivy berdehem, dia berjinjit mencoba menyesuaikan tinggi badan mereka tetapi tentu saja tidak bisa, Willy mengangkatnya hingga mereka dapat saling bertatap muka.
"Aku ... aku menyukaimu." Ucap Ivy sambil merona.
"Kita akan menikah minggu ini, kita tidak perlu menunggu lagi, aku ingin pernikahan kita segera di laksanakan."
"Benarkah? Aku bahagia sekali Willy." Ucap Ivy, pertama kalinya dia mengucapkan nama Willy, sering kali dia memanggilnya dengan tuanku. Ivy lalu mengangguk penuh semangat sambil memeluknya dan menangis di pelukannya.
****
Seven years Later
Mansion Adams itu tampak indah, taman yang begitu luas serta pohon-pohon yang tertata rapi, Para pengawal berdiri di sekitar mansion. Rumah pribadi milik Alyena Adams itu juga terlihat ramai hari ini, beberapa mobil mewah masuk ke dalam mansion, suara anak-anak kecil berlarian di antara taman di sore itu. Kedua bocah itu sering kali bertengkar. Mereka memperebutkan mainan yang baru saja di belikan oleh bibinya Audry.
"Anak-anak jangan bertengkar, Oke. Sebentar lagi si kembar datang, kalian menunggu Axton dan Ashton kan? Dia tidak akan mau bermain dengan kalian, jika kalian nakal." Ucap sang ibu.
Kedua anaknya berlarian sambil saling mengejek di antara rok ibunya, mereka saling mengeluarkan lidah dan memutari ibunya. "Anak-anak kita masuk sekarang, Ayah kalian sebentar lagi pulang." Ucap Alyena memegang kedua tangan putra dan putrinya.
Alyena dan Jafier dikarunia dua orang anak. Putra pertama mereka bernama Carl Alvaro berusia 6 tahun dan putri kedua mereka bernama Kelly Alvaro berusia 4 tahun setengah. Hari ini Jafier akan pulang lebih awal karena hari ini adalah hari special yaitu ulang tahun putri mereka Kelly.
Mobil hitam itu terparkir di pelataran mansion, kedua anak kembar bernama Axton dan Ashton Collagher keluar dari mobil, mereka berdua berusia 5 tahun setengah, Ashton memegang kedua tangan orang tua mereka sedangkan Axton berlarian menjauh dan ingin segera tiba ke dalam mansion mencari sepupu mereka.
"Axton jangan berlari, nanti kau terjatuh." Teriak Willy sedangkan Ashton menatap ayahnya dan mengucapkan kata-kata yang sama seperti yang Willy ucapkan.
"Axton jangan berlari, nanti kau terjatuh." Ivy yang mendengarnya tersenyum.
"Kenapa Ashton tidak ikut bersama Axton? Ayo cepat ke sana." Ucap Ivy, anaknya itupun berlari mengikuti saudaranya yang sudah jauh.
"Kenapa kau menyuruh Ash berlari? nanti dia jatuh, Ivy." Ucap Willy menatap anak-anaknya yang berlarian.
"Ash terlalu sering berada di ruang baca dan bermainnya, dia lebih suka berada di dalam ruangan di bandingkan bermain di luar, dia juga harus berlarian bersama Axton." Ucap Ivy.
Willy memeluk Ivy dan mereka berjalan bersama menuju ke dalam mansion. Pesta itu di adakan di taman, seluruh keluarga berkumpul. Tidak lupa Nick dan Clara juga datang bersama, mereka kini memiliki seorang putri bernama Darby Wedny, kini putri kecilnya berusia satu tahun, dia tampak lucu dan putri kecilnya itu sangat mirip ayahnya.
Mereka semua berkumpul ketika pesta ulang tahun Kally segera di mulai, semua tampak ribut dan heboh karena tidak henti bercerita, apalagi kue ulang tahun yang di berikan lilin dengan angka 5 di atas kue itu selalu saja mati karena seringnya di tiup oleh Axton yang berdiri di samping Kelly, dia menatap antusias lilin di atas kue ulang tahun yang menyala, sehingga Kelly akhirnya menangis karena ketika dia meniup lilin itu, selalu saja padam sebelum dia meniupnya.
Ivy menggendong Axton dan memberikannya kepada Willy, sementara itu Ashton kembali berdiri di samping Kelly, dia meniru apa yang tadi dilakukan saudara kembarnya Axton. Ivy kembali menarik putranya dan menggendong mereka. Sebelum ulang tahun di mulai Audry berlarian.
"Apa aku terlambat?" Ucap Audry sambil berlarian, suara napasnya terdengar memburu, dia mendorong troli yang di penuhi hadiah-hadiah dan cemilan untuk keponakannya. Audry datang bersama suaminya.
Audry menikah dengan teman bisnis Willy bernama Cedric Dalbert setelah menjalani hubungan selama setahun lebih dan akhirnya mereka memutuskan menikah. Mereka belum di karuniai anak, jadi mereka biasanya membawa Carl atau kelly, terkadang dia membawa Axton berlibur sementara Ashton tidak pernah mau berpisah dari Ayah dan ibunya, berbeda dengan Axton yang bebas, dia suka pergi dan ikut kemanapun paman atau bibinya membawanya.
Setelah Kelly meniup lilin, mereka berkumpul bersama, menikmati kebersamaan, makan-makan dan saling bercerita dengan heboh. Alyena masuk ke dalam, dia hendak mengambil kado ulang tahun untuk putri mereka. Kado besar itu berada di atas kursi, dia mengambilnya dan berdiri sebentar di depan jendela. matanya kembali menatap langit yang telah terbenam dan di gantikan menjadi langit biru malam dengan taburan bintang, dia mengingat kembali kisah dirinya yang dulu pernah memandang langit sama seperti saat ini, tetapi itu dulu, ketika dia berada di atas bukit di desa Gimmelwald, dahulu dia seorang diri menatap langit dengan kesepian.
"Alyena? Semua menunggumu sayang. Kelly tidak sabar ingin membuka hadiah-hadiahnya bersamamu." Ucap Jafier berjalan dan memeluk Alyena dia mengecup puncak kepalanya dan mengikuti arah pandang Alyena. "Kau melihat bintang? Bintangnya sangat indah malam ini." Gumam Jafier.
Tetapi sekarang, dia tidak sendiri lagi, karena keluarga yang dicintainya selalu hadir bersamanya.
๐ END ๐
Hai teman2 Readers semua terima kasih sudah setia membaca Flower on the Reaver session 1 dan 2, sampai pada epsiode 125, dari awal episode Ruzy sampai kepada cerita anak-anaknya ๐๐ trima kasih yang sudah baca, like, vote and Coment. Terima kasih dukungannya selama ini, semoga teman-teman Readers suka novel-novel berikutnya๐๐