Flower On The River

Flower On The River
Vol 45



Mansion mewah berdiri kokoh tepat di hadapannya, dia tersenyum sangat senang, setelah memasuki mansion milik keluarga Regan, dia masuk dan di antar oleh pengawal. Dia menengok kiri dan kanan dan tersenyum lebar. "Mewah, indah dan masa depan cerah terbentang di hadapanku, aku tidak sabar memulai hari-hariku di sini."


Pengawal mengantar gadis itu kepada seorang wanita yang baru saja keluar dari pintu coklat di belakangnya. Dia menganggukkan kepalanya dan segera pergi.


"Namamu Rudith Cassle?" Ucap seorang wanita berkacamata menatapnya dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya.


"I-iya, namaku Rudith Cassle."


"Ikut aku." Perintahnya.


Ruddith berjalan dan mengikuti wanita tua yang berwajah lonjong dengan lipstik merahnya, dia lalu berbalik ketika melihat dari kejauhan mobil mewah yang baru saja masuk ke dalam mansion. Rudith berhenti berjalan, dia ingin melihat siapa yang akan keluar dari mobil itu.


Kilian Regan baru saja keluar dari mobilnya, tiba-tiba dia memekik, "T-tuan Kilian." Teriaknya.


Wanita itu berbalik, dia melihat gadis itu teriak dan menatap dari kejauhan tuan Kilian Regan yang sedang berjalan menuju ke ruang utama di temani empat pengawalnya.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau memang seorang pelayan dari perkebunan Gimmelwald? kenapa sikapmu sangat bar-bar dan tidak tahu aturan dasar seorang pelayan? kau harus banyak belajar Nona Rudith Cassle," Suara wanita itu mencekam, terlihat wajah Rudith sedikit kesal dengan tegurannya, ketika mereka berjalan dia mendengus di belakangnya.


"Anak zaman sekarang, tidak tahu aturan." Gumam wanita itu.


Lihat saja, kalau aku sudah menjadi Nyonya Regan di mansion ini, kau yang pertama kali akan kupecat.


Senyum kemenangan mengembang di wajahnya, dia merasa sangat beruntung melihat Kilian Regan di depan matanya, dia tidak akan membiarkan siapapun mendekatinya, bahkan Nona Susan Richard sekalipun, karena dia merasa Kilian Regan hanya miliknya.


***


Setelah pulang kuliah, Jafier sudah menunggunya di depan kampus, dia tersenyum melihat Alyena sedang berjalan menuju ke arah mobilnya. Tiba-tiba saja seorang pria berpakaian Football berlari ke arahnya dan mendekati Alyena. Jafier menurunkan sedikit kaca jendela mobil dan mendengarkan isi percakapan mereka.


"Namamu Alyena bukan?" Ucap pria berambut coklat perunggu dengan tubuh tinggi dan atletis.


Alyena menatapnya, sedikit merasa heran karena dia tidak mengenalnya. "Ya, aku Alyena." Pria itu tersenyum.


"Hai, namaku Albert Cuz, aku pemain tim Foottball, kau tahu kan tim Football kita terkenal?"


"Apa? maaf aku bukan penggemar olah raga."


"Oh ya? Oh Sorry, kalau begitu aku langsung saja. Ok, aku ingin mengatakan kepadamu, besok malam ada party merayakan kemenangan kami, kau mau menjadi partnerku? Aku ....


"Alyena."


Suara itu membuat Alyena berbalik, Jafier keluar dari mobilnya, dia berjalan mendekati mereka.


"Siapa dia?" tanya pria yang berdiri di hadapan Alyena, wajahnya tiba-tiba terlihat tidak suka, dia terlihat terintimidasi dengan penampilan Jafier. Alyena menatap tidak suka kepada pria Football ini, dia bertanya dengan nada tidak sopan.


Alyena memalingkan wajahnya, lalu menatap Jafier, hari ini dia terlihat tampan dengan balutan jas yang melekat pas di tubuh seksinya dan berjalan sambil mengenakan kacamata hitamnya, dia lalu tersenyum kepada Alyena, dia memberikan kecupan di pipinya.


"Baru pulang?"


"Ya, baru saja selesai." Jafier tersenyum dan menatap pria yang tingginya hampir setinggi Jafier.


"Bagaimana? Apa kau bersedia?" Ucap pria itu tidak menyerah dan tidak suka dengan kedatangan Jafier.


"Maaf, saya tidak bisa pergi." Jawab Alyena.


"Sayang sekali, aku sudah lama melihatmu dan berniat mengajakmu ke ....


Jafier tersenyum tenang, dia sudah lihat bagaimana pria ini bersikap kurang ajar dan tidak sopan, seakan-akan Jafier tidak ada di sana, dia berjalan perlahan di depan pria itu.


"Jaga dirimu agar tetap utuh, jika kau berbicara sekali lagi, aku yakinkan bahwa wajahmu itu tidak akan sama lagi ketika kau pulang ke rumah orang tuamu, sebaiknya kau pergi, kau tidak tahu berhadapan dengan siapa."


Mata pria itu membulat, dia mundur beberapa langkah dan kemudian berlalu pergi.


"Pecundang." Ucap Alyena.


"Kau tahu dia?" Tanya Jafier.


"Tidak juga, tetapi dia menjadi perbincangan teman-temanku, dia suka berganti pacar hanya dalam waktu satu bulan, setelah itu dia mencari yang lain."


"Sepertinya dia berusaha mendekatimu."


"Entah, aku tidak suka melihat tingkahnya, kata teman-temanku dia biasanya masuk ke dalam kelas perkuliahan dan mengganggu gadis yang diincarnya."


"Oh ya?" Jafier menatapnya dari kejauhan dengan seringai tajam berbahaya. "Pria itu terlihat berbahaya." gumam Jafier.


"Kita akan pergi makan dan aku akan mengantramu pulang."


"Ok." Mereka berjalan dan masuk ke dalam mobil, tampak dari kejauhan pria itu melihat Alyena dan Jafier masuk ke dalam mobil dan tersenyum mengejek. Tetapi Jafier sejak tadi memperhatikannya, dia lalu mengetik sesuatu di ponselnya.


***


"Apa yang kalian bicarakan, sampai kak Willy mengundangmu ke kantornya?" mereka berada di salah satu restaurant yang telah direservasi oleh Jafier.


"Pembicaraan biasa saja, masalah perusahaan sayang." Ucap Jafier. Alyena menatapnya tidak percaya.


"Kau berbohong, apa itu tentang aku? Katakan, apa yang kak Willy inginkan." Bujuk Alyena.


Jafier tersenyum. "Seperti biasa, Willy masih tidak mengizinkan hubungan kita," Ucapnya sambil menggeleng dan tersenyum menenangkan. Ponsel Alyena berdering, dan itu dari Willy.


"Aku ke kampusmu dan kau tidak ada, kau dimana?"


"Aku sedang makan bersama Jafier." Jawabnya.


"Dimana?"


"Jangan khawatir kak Willy, aku akan segera pulang." Alyena menutup ponselnya, dia jengkel dengan perlakuan Willy kepadanya.


"Dia ingin menjemputmu?"


"Mm, tapi aku tidak memberikan alamat restaurant ini."


"Sebaiknya kita segera pulang, sebelum dia melacak ponselmu." Setelah mereka makan, Jafier mengantar Alyena pulang. Setelah hampir setengah jam perjalanan mereka tiba di penthouse Collagher.


"Aku akan menghubungimu sebentar."


Alyena mengangguk, dia menarik kerah Jafier dan menciumnya. Dia melepaskan ciumannya dan segera keluar dari mobil. Jafier mencoba menyadarkan dirinya dari ciuman Alyena yang memabukkan, dia melambai kepadanya dan akhirnya pergi.


Alyena berjalan masuk ke penthousenya dan menatap Willy yang melipat kedua tangannya tepat di depan pintu mansion.


"Ini bahkan belum jam 4 kak Will, bagaimana aku bisa terlambat?"


"Segeralah mandi kita akan berangkat ke pesta, Audry akan membantumu bersiap-siap."


"Pesta apa?"


"Hari ini kita di undang di pesta Kilian Regan, dia merayakan keberhasilannya di kediamannya, dia mengundangmu dan juga Audry." Alyena ingin mendengus tetapi di tahannya.


"Oky, aku akan segera bersiap-siap."


Dia berjalan masuk sambil memegang erat ponselnya, dia tidak mau Willy kembali menyitanya.


***


Pesta itu di adakan di Mansion mewah milik Kilian Regan, kali ini pesta yang dia gelar di adakan langsung di kediamannya, dia merayakan kesuksesan perusahaannya dan mengundang orang-orang penting dan itu termasuk keluarga Collagher.


Mereka baru saja tiba, Alyena menatap Mansion mewah dan megah, lampu berjejer tertata rapi menyambut para tamu undangan, dua pilar raksasa berdiri kokoh di setiap bangunannya, taman bunga di sepanjang jalan ketika hendak masuk ke dalam mansion.


"Emm, mansion ini sangat megah." Gumam Audry.


Alyena tidak terlalu memperhatikannya, dia sibuk membalas pesan Jafier. Willy menatap jengkel ketika melihat pikiran Alyena di tempat lain.


"Simpan dulu ponselmu, Alyena."


"Ah, Oke." Alyena menyimpannya di dalam tas kecil dan mulai berjalan mengikuti dua kakaknya. Malam ini Alyena tampak cantik dengan mengenakan Floor-length dress berwarna biru kristal dengan rambut bergelombang cantik yang jatuh di pinggang Alyena.


Mereka masuk dan setiap tamu menatap mereka yang baru saja datang, William Collagher dengan penuh pesona yang masih melajang hingga kini menjadi perhatian para wanita di pesta itu, William datang dan menyapa tuan rumah dengan menggandeng Alyena di tangannya.


Mereka yang tidak mengenal Alyena, memandang ingin tahu kepadanya, William terkenal di antara para wanita cantik, karena sejak tadi pandangan tajam mengarah kepada Alyena.


"Kak Audry, kenapa banyak wanita melihat kepadaku? mengerikan sekali."


Audry tersenyum miring. "Karena banyak wanita di sini mengincar Willy dan mereka telah di tolak dan sepertinya mereka berkumpul membuat Club pecinta Willy."


"Ukh, mengerikan sekali." Bisik Alyena.


Suara nampan yang jatuh mengalihkan pandangan para tamu, dan tidak jauh di seberang sana di dekat minuman yang tersaji, terlihat seorang gadis yang mematung karena melihat sesuatu yang membuat tubuhnya membeku.


"A-Alyena? Apa yang dia lakukan di sini?" Ucap gadis itu yang masih berdiri heran dengan nampan di tangannya, tanpa memperdulikan minuman yang terjatuh di lantai. Dua orang pelayan yang berpakaian sama dengannya segera membersihkan kekacauan yang di timbulkan pelayan baru itu. Seseorang tiba-tiba menarik tangannya. Dia adalah wanita yang di temuinya tadi siang.


"Apa yang kau lakukan gadis bodoh, kau membuat kekacauan di pesta sepenting ini, padahal kau baru bekerja di sini." Ucap wanita itu sambil berdesis marah.


Rudith terlihat tidak menyesal, dia masih memikirkan wanita cantik bergaun biru yang mirip dengan Alyena, dan sedang berdiri di depan tuan Kilian Regan, seakan ingin mencuri perhatiannya.


"Siapa wanita bergaun biru itu?" Tanyanya tanpa melihat situasinya sendiri. Satu tamparan membekas di wajahnya, karena sejak tadi dia tidak mempedulikan omongan wanita yang menjadi kepala pelayan di dapur itu.


Rudith memegang pipinya dan menatapnya tajam. "Apa tujuanmu datang ke sini? tidak ada sedikitpun pekerjaanmu yang sempurna kau hanya pengacau." Wanita itu meninggalkannya, sedangkan Rudith menatap tajam padanya.


"Jika nanti aku bersama tuan Regan, kau akan mendapatkan balasanku." Gumamnya. Dia kembali ke sudut pintu ruang utama tempat para pelayan menghidangkan makanan dan minuman, sekali lagi dia melihat gadis itu, dia masih berdiri di sana dan bergelayut pada seorang pria tampan di sampingnya.


"Dia Alyena, aku yakin itu, lihat dia sekarang, apa yang telah di lakukannya sehingga dia mendapatkan semua itu? apa dia menjadi gadis j4lang yang menjual tubuhnya dan bisa menikmati kemewahan, Ck ck lihat saja, aku tidak akan membiarkan wanita itu mendekati Kilianku."


***


"Kau tampak sangat mempesona Nona Alyena." Ucap Kilian ketika William sedang sibuk mengobrol.


"Ini berkat Kak Audry." Ucap Alyena terlihat cuek.


"Sepertinya aku tidak bisa menarik perhatianmu malam ini, apa kau bisa memberiku satu cara agar kau membuka sedikit saja peluang untukku?"


"A-apa? maafkan aku," Ucap Alyena, dia membenci situasinya sekarang ini, dia mencari-cari Audry dan dia terlihat sibuk berbicara dengan teman pria dan wanita yang ada di sudut. Alyena cemberut, tidak ada seorangpun yang di kenalnya di pesta ini. "Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan minuman untukmu." Kilian pergi, tinggal Alyena berdiri seorang diri.


Tiga orang wanita mendekati Alyena, wajah mereka terlihat dewasa dan cantik, gaun seksi membalut tubuh indah mereka, ketiga wanita ini berdiri di hadapan Alyena.


"Kau siapa? Apa hubunganmu dengan William." Salah satu wanita berambut pirang mendekatinya.


"Aku partnernya malam ini, kenapa?" Ucap Alynena menantang.


"Apa kau gadis yang digosipkan meluluhkan hati William, dia milik kami, kau hanyalah gadis cilik, apa yang dia lihat dari tubuhmu." Ucap salah satu dari mereka. Alyena tersenyum.


"Jika saja ada satu dari kalian yang menjadi kekasih William, aku tidak akan bisa menerimanya, aku akan menolak wanita kasar seperti kalian." Ucap Alyena.


"Dasar j4lang kecil, kau tidak tahu berbicara dengan siapa."


"Dan kau tidak tahu berhadapan dengan siapa." Ucap Alyena tanpa takut sedikitpun. Sejak tadi seorang pelayan mengatur-atur gelas di atas meja sambil mendengarkan percakapan mereka, sekarang dia yakin, gadis itu adalah Alyena meskipun dari sikap dan cara bicaranya jauh berbeda dengan Alyena yang dulu. Dia tersenyum senang ketika melihat dia di desak oleh tiga wanita mengerikan.


"Alyena? Apa yang terjadi?" Ucap Audry mendatangi Alyena dengan segera ketika melihatnya menghadapi tiga wanita pengacau itu.


"tidak terjadi apa-apa kok, kak Audry." Senyum Alyena. Ketiga wanita itu dengan cepat merubah paras mereka dengan tersenyum ramah kepada Audry.


"Permisi Nona Audry. Kalau boleh kami tahu, apa hubungan anda dengan gadis kecil ini?" Ucap mereka.


Audry memutar kedua bola matanya, "Sebenarnya ini bukan urusan kalian ingin mengetahui urusan di keluarga Collagher, tapi demi keamanan Alyena. Aku harus memberitahu kalian, dia adalah adikku yang ketiga."


"Adik? mana mungkin, Keluarga Collagher hanya kalian berdua saja."


"Sepertinya kalian ketinggalan berita ya, Alyena Collagher adalah adik kami yang ketiga, sekarang kalian pergi atau William akan datang karena kalian telah mengganggu adik kesayangannya.


Alyena menepuk punggung Audry, dia kemudian berbisik kepadanya. "Kak Audry terlalu berlebihan, lihat mereka ketakutan." Kikik Alyena.


Mata mereka sontak membulat ketika mengetahuinya, mereka seakan mengutuk diri mereka sendiri. Sementara di sisi lain, pelayan yang sejak tadi menguping terlihat membatu, informasi itu membuatnya shock berat.


"Audry, Alyena, apa yang terjadi?" William datang, mata tajamnya lalu beralih kepada tiga wanita yang terlihat menciut di sana. Dia berjalan begitu saja tanpa menghiraukan kehadiran ketiga wanita cantik itu.


"Tidak ada yang terjadi kak Willy." Ujarnya.


"Mau berdansa denganku Alyena?" Ucap Willy.


"Okey," Alyena menyambut tangan Willy sambil tersenyum manis dan menuju ke lantai dansa.


Sejak tadi Rudith memperhatikan Alyena, dia berlari masuk ke dalam ketika Alyena sempat meliriknya, dia lalu memalingkan wajahnya. Dia tidak sanggup jika Alyena mengetahui seperti apa dia sekarang, gadis itu mengintip dari balik tembok dengan kebencian yang dalam.


"Kenapa harus dia, kenapa dia mendapatkan semua yang kuinginkan." Gumamnya.


"Karena kau tidak akan pantas." Suara itu mengagetkannya. Dia berbalik dan bertemu dengan kepala pelayan di dapur itu lagi. "Ambil gelas-gelas kosong itu dan bawa ke tempat cucian di belakang, jangan bermimpi terlalu tinggi, nanti kau sendiri akan terluka, tidak ada Cinderella untuk ukuran gadis licik sepertimu." Ucapnya sambil tersenyum sinis.