Flower On The River

Flower On The River
Liontin



Beberapa hari ini polisi hilir mudik di kediaman Collagher, mereka menyisir hutan tapi hasilnya nihil, Grace tidak di temukan, beberapa mobil patroli berlalu lalang setiap hari di kediaman Collagher. Sementara itu bibi Emy berusaha menjauhkan Ruzy dari Alex, tidak dibiarkannya ruzy mendekati meja makan, atau menyuruhnya mengantar teh bahkan untuk membawa jemuran yang biasa Ruzy lakukan ketika pagi hari.


Dia terus menahannya di dapur menyuruhnya mengupas kentang yang menggunung atau apa saja asalkan ruzy tidak hilang dari pandangannya.


"Ada apa ya dengan bibi Emy? mengapa dia menahan ruzy beberapa hari ini di dapur tanpa membiarkannya keluar dari sini selangkahpun". Bisik Joan pada Jessy.


"Sesuatu pasti terjadi, lihat saja bagaimana wajah bibi Emy, seperti orang tidak tidur beberapa hari." sambung Joan sambil mengerling bibi emy dan ruzy.


Langkah besar tuan Ollie membuat mereka semua berbalik menatapnya.


"Kalian semua ikut aku, nyonya Collagher ingin mengatakan sesuatu." Jelas tuan Ollie, bibi Emy membelalakkan matanya, wajahnya kini pucat lalu menatap Ruzy.


Mereka semua di kumpulkan di ruang tengah, nyonya Collagher Alex serta ellena berada di sana begitupun dua orang detektif serta beberapa polisi.


Nyonya Collagher berdiri di samping detektif itu, menatap satu persatu pelayan-pelayannya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian semua, karena beberapa pembunuhan mengerikan terjadi di sini, aku minta kalian mengantar mereka..." sambil menunjuk detektif dan beberapa polisi. "Membawa ke masing-masing kamar kalian di belakang taman, mereka ingin memeriksa kamar kalian begitupun barang-barang kalian."


Seketika wajah bibi Emy terlihat lega, dia pikir nyonya Collagher sudah mengetahui hubungan tuan Alex dan Ruzy. Mereka semua menunduk patuh, mereka berbaris dan satu persatu mengantar detektif itu ke kamar pelayan.


Mata Alex tidak lepas dari ruzy, beberapa hari ini dia tidak melihatnya, rahangnya kaku..wajah marahnya membuat ruzy menciut mengalihkan pandangannya. Bibi Emy menarik tangan Ruzy dengan cepat melangkah menuju kamar belakang.


"Jangan menghilang dari pandanganku Ruzy, bibi betul-betul akan memulangkanmu ke Swiss jika kau tidak menuruti perkataan bibi." Jelas bibi Emy dengan mata menyala.


Ruzy tidak protes hanya diam mengikuti bibi Emy yang membawanya kesana kemari. Ruzy menyeka keringatnya yang bercucuran setelah membongkar isi lemarinya memperlihatkan kepada detektif segala sesuatu di lemari dan kopernya. Tiba-tiba wajah salah satu detektif menatap kotak beludru Berwarna hitam yang berada di atas baju-baju Ruzy.


Dia membukanya, dan menemukan sebuah liontin dengan rantainya yang terbuat dari logam, di atas liontin itu tertera ukiran nama Grigori&Chandhelier. Mata detektif itu berucap pelan, 'Chandelier'? Ruzy berbalik menatap sang detektif yang memegang liontin ibunya.


"Ini milikmu?" Tanyanya menatap lekat Ruzy. Ruzy menganggukkan kepalanya.


"Liontin itu milik ibuku."


"Nama belakang ibumu Chandelier?" tanyanya lagi. Ruzy kembali mengangguk.


"nama ayahku Adrik grigori dia berasal dari rusia."


Wajah detektif itu tiba-tiba berubah, "bagaimana dengan ibumu?".... Suaranya kini bersemangat.


"Apa yang ingin anda ketahui detektif?" Bibi Emy tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar ruzy memandang tidak suka kepada detektif itu.


"Aku hanya mengingat nama yang sama dengan Chandelier." Kata detektif yang selesai memeriksa kamar ruzy. Dia keluar dari kamar Ruzy dan mengerling wajahnya.


"Kau tidak boleh memberitahu identitas orang tuamu kepada orang yang tidak dikenal ruzy Jangan mengatakan nama ibumu kepada siapapun.


Ruzy hanya mengangguk kepada bibi Emy.


~


Hari itu mereka semua sangat lelah setelah membereskan kembali kamar-kamar pelayan, mereka harus menyiapkan makan malam untuk keluarga Collagher.


"Kita harus bergegas membuat makan malam anak-anak, sebentar lagi hari makin gelap." Jelas tuan Ollie sambil menepuk kedua tangannya, seperti seorang pelatih.


Mereka semua tampak sibuk sampai-sampai bibi Emy melupakan penjagaannya terhadap Ruzy.


Ruzy mengambil peralatan makan, lalu membawanya ke ruang makan lalu mengaturnya di tiap-tiap tempat duduk. Ketika dia sudah mengatur dan hendak keluar dari ruangan itu tiba-tiba tangan besar menariknya ke pintu lain dan dengan cepat menutupnya.


Ruzy berbalik dan menatap mata hitam yang juga menatapnya. "Kenapa kau menghindariku Ruzy? beberapa hari ini aku tidak melihatmu", genggamannya begitu kuat di tangan Ruzy.


"Sakit Alex", ruzy menegurnya sehingga dia sedikit melepaskan cengkeramannya.


"Aku sangat merindukanmu, kau tahu...aku menunggumu di taman tapi kau tidak pernah datang Ruzy."


Ruzy hanya menunduk, dengan ragu Ruzy kembali menatap Alex, "Bibi Emy.... mengetahui tentang kita." ucapnya lirih, Wajah Alex seperti tidak mengerti.


"Terus? kenapa kalau dia tahu tentang kita, bukankah itu lebih bagus lagi?" Senyumnya.


"Bibi Emy mengatakan kepadaku....tidak ada harapan kita dapat bersama." Jelas ruzy, sambil memainkan jarinya di dada Alex.


"Omong kosong Ruzy, aku yang menentukan tentang masa depan kita." Alex memeluknya untuk beberapa waktu lalu menciumnya tanpa henti, menyandarkan tubuh ruzy di tembok di samping jendela di bawah sinar bulan.


"Mmph..Alex hentikan", Ruzy bernapas pendek-pendek, "aku sudah terlalu lama di sini, bibi pasti mencariku." kata Ruzy yang berusaha mengambil napas panjang.


"Ck, baiklah sayang...lain kali aku akan menculikmu lagi." Kedipnya kepada Ruzy yang dibalasnya dengan pelukan terakhir untuk ruzy. Dia segera keluar dari kamar itu secara sembunyi-sembunyi memperhatikan jika saja ada orang yang lewat dan ruzy berlari sambil berjinjit di sepanjang koridor.


~


Ruzy berjalan cepat diantara koridor lalu tanpa sengaja menabrak tubuh madam Janet yang kembali dari memeriksa ruang makan.


"Maafkan aku madam." Ruzy menundukkan kepalanya dan berdiri dengan cepat. Tubuh madam janet sedikit tersentak ke belakang, dia memperbaiki posisinya dan bertanya padanya, "Siapa namamu"? tanyanya dengan nada mengancam. "Ru..Ruzy Wilhelm madam". Kata Ruzy yang masih menunduk.


Sebuah tamparan keras terdengar di koridor itu. "Sungguh sangat tidak sopan, baru kali ini aku menemukan pelayan tidak berguna sepertimu". Ruzy terpelanting di lantai, bibirnya pecah, sedikit darah keluar dari bibir merahnya.


Kali ini madam Janet dengan tatapan angkuh sekali lagi melayangkan tangannya ke arah Ruzy, tapi seseorang menangkap tangan keriputnya.


"KAU..Berani sekali kau menghentikanku." Matanya yang coklat kecil melotot pada pria bermata coklat terang dengan rambut pirang. Ruzy berbalik menatap tuan Nick yang memegang tangan madam Janet.


"Lepaskan tanganku anak sialan!" Nick hanya menatap madam Janet dengan tanpa ekspresi, dia menggenggam tangannya begitu keras sampai madam Janet mengeluh.


Wajah madam Janet kini kesakitan, dia meringis di tangan Nick. Wajah smirk dari Nick sangat mengerikan karena kemarahannya, "Tuan...tuan Nick lepaskan tangannya". bisik ruzy padanya yang dengan cepat berdiri memegang lengan nick.


Seketika tangannya mengendur, madam Janet memijit-mijit tangannya yang kesakitan sambil menatap pria dihadapannya.


"Siapa kau? Kau tidak tahu aku madam Collagher? perlakuanmu sungguh tidak....". Suara madam Janet terhenti, Nick melangkah cepat lalu membisikkan sesuatu di telinga madam Janet, tiba-tiba membuatnya bungkam.


"Sebaiknya anda pergi madam Janet, Sepertinya nyonya Collagher mencari anda." Katanya dengan aksen Inggrisnya pada madam Janet. Dia berjalan sempoyongan berbalik sebentar lalu berjalan cepat menghindari tatapan Nick.


"Kau tidak apa-apa Ruzy?" napasnya begitu teratur seakan peristiwa tadi bukan apa-apa baginya.


"I..iya tuan Nick terima kasih." bisik ruzy dengan bibir yang mulai membiru.


"Apa yang kalian lakukan di situ?" tanya Alex yang menatap nick dan ruzy di koridor. Dia berjalan dan wajahnya terheran melihat bibir Ruzy. "Ada apa dengan bibirmu Ruzy?" tanyanya marah.


"Kau bisa menanyakan kepada nenek tersayangmu Alex." Nick lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Wajah Alex sangat gusar lalu menarik ruzy ke ruang kerjanya mengobati bibirnya yang berdarah.