Flower On The River

Flower On The River
Vol 66



Dua hari menjelang pernikahan Alyena


Persiapan pernikahan Alyena sudah mencapai 90 persen, semua sudah siap, tinggal menunggu hari yang di tunggu-tunggu ketika mereka mengucapkan janji suci mereka. Dua hari ini mereka tidak bertemu, lagi-lagi karena larangan Willy, dia mengatakan mereka akan bertemu ketika waktu menjelang pernikahan. Hari itu Alyena baru saja keluar dari kamar mandi, ponselnya lalu berdering dan itu berasal dari Kilian Regan. Dengan ragu Alyena mengangkatnya.


"Halo?" Suara Alyena terdengar dari seberang telepon Kilian, tidak ada suara di sana, hanya suara pekikan seorang wanita dari seberang telepon.


"Halo?" Alyena mengernyitkan alisnya.


"Kau pasti Alyena, haaah sudah lama aku ingin bertemu denganmu, Alyena. Sepertinya kau beruntung kali ini, karena kau akan menikah dengann kekasihmu, bukan dengan Kilian Regan, dia adalah kekasihku."


"Dasar wanita gila." Ucap Alyena, dia hendak menutup ponselnya tetapi suara wanita itu berteriak mengancam.


"Jangan pernah kau mengganggu Kilian, biarkan dia sendiri, jangan pernah menegurnya lagi, nanti dia goyah karena....


Alyena mendengus dan menutup ponselnya. "Siapa sih wanita itu? kenapa juga dia menyebut-nyebut nama Kilian Regan, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya." Ucap Alyena jengkel. Dia duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya. "Satu musuh lagi? padahal aku tidak melakukan apapun, lihat saja, wanita gila itu pasti ada di sekitarku." Dia menghela napas dan melanjutkan mengeringkan rambutnya.


***


"Kau sungguh akan menikah?" Suara itu membuat Jafier berbalik, suara itu berasal dari belakangnya, dia sedang bersandar santai di kursi dekat kolam renang ketika paman dan bibinya telah datang.


Jafier berbalik dan menatap kedatangan mereka. Dia lalu tersenyum senang.


"Paman, bibi? Harusnya kau meneleponku kalau kalian akan datang. Aku bisa menjemput kalian di bandara."


"Jangan khawatir Jafier, calon pengantin tidak boleh keluar rumah terlalu lama, jadi siapa wanita beruntung yang akan menjadi pengantinmu?" Jafier tersenyum dia terlihat bahagia.


"Namanya Alyena Collagher, dia adalah adik dari William Collhagher." Ucap Jafier.


"Ah, aku tahu keluarga terkenal itu, jadi kau akan menikahi nona muda yang terkenal itu, kau tahu? bibimu sering kali datang ke acara fashion shownya, dia adalah perancang yang sukses."


Jafier tertawa pelan dan menggeleng. "Bukan dia paman, keluarga Collagher memiliki adik perempuan yang ketiga, aku akan menikah dengan Alyena, bukan dengan Audry."


Seketika alisnya mengernyit tidak mengerti. "Collagher memiliki putri ketiga?" Ucapnya heran.


"Mm ya paman, ceritanya panjang, sudah sejak lama aku melamarnya tapi baru sekarang, Willy menerima lamaranku untuk Alyena."


Paman dan bibi Collagher merupakan orang tua kedua bagi Jafier. Dia selalu memperhatikan Jafier layaknya anak kandung mereka sendiri, ibu Jafier telah wafat, adapun ayah Jafier telah menikah lagi, dan sudah cukup lama Jafier tidak berhubungan lagi dengan keluarga kecil ayahnya.


Bibi dan paman Jafier masih berpikir tentang putri ketiga keluarga Collagher, dia jelas tahu bahwa saat tuan Alex Collagher di makamkan, dia ada di sana, bagaimana bisa Collagher memiliki anak perempuan lainnya, kecuali Nyonya Ruzy telah menikah lagi dengan seorang pria. "Siapa pria itu?" Gumamnya.


Paman Jafier itu bernama Roul, dia adalah rekan bisnis Alex yang cukup dekat. Karena penasaran, dia lalu mencari tahu mengenai latar belakang Alyena. Dan data-data yang dia temukan cukup mengejutkan. "Menikah dengan Nick Adams? itu tidak mungkin, Jadi gadis itu adalah keturunan Adams?" Gumamnya, dia segera menelepon seseorang dan membicarakan sesuatu yang penting kepada mereka.


***


Hari yang di nanti telah tiba, saat itu pagi-pagi sekali Alyena telah bersiap-siap, dia di temani oleh Audry dan Clara. Mereka tampak terpukau dengan Alyena. Hari ini dia sangat cantik dan mempesona.


Alyena mengenakan Wedding dress yang sangat indah berwarna putih menyilaukan, dia tampak sangat cantik dan anggun, gaun pengantin itu menjuntai hingga ke lantai, di kedua tangannya memegang bunga indah berwarna pink.


"Kau seperti seorang putri dari kerajaan Eropa, Alyena." Ucap Audry, dia tidak henti-hentinya mengambil foto adiknya dari setiap sudut.


"Kau sangat terlihat seperti mom, kau tahu? Mommy itu sangat putih, tetapi tidak ada yang mengambil warna kulit seputih porselen milik mommy, semuanya hasil dari perpaduan daddy, begitupun dirimu, Alyena. Kulit ayahmu tidak jauh berbeda dengan ayahku Alex, jadi kau tidak mendapatkan putih asli Mom, meskipun kau begitu mirip dengannya." Ucap Audry. Meskipun begitu, Alyena tetap bangga karena di antara kakak-kakaknya, dialah yang lebih mirip ibunya.


Pintu ruangan itu terbuka, Willy masuk dan berhenti ketika melihat Alyena, dia duduk di sana seperti sebuah patung yang sangat cantik.


"Aku seperti tidak rela menikahkanmu dengan pria itu, apalagi dia hanya dua tahun lebih muda dariku. Tsk, sebaiknya Jafier memperhatikan tingkahnya jika dia ingin menjadi bagian Collagher." Ucap Willy


***


Sebelum tangan Jafier menyentuh tangan Alyena, pintu menjeblak terbuka. Seorang pria dengan setelan jas berwarna hitam memasuki ruangan itu diikuti oleh puluhan pria berjas lainnya yang membuat barisan di sepanjang kursi tamu, para pengawal Collagher segera bergerak menghadapi mereka.


Willy mengangkat tangannya agar pengawalnya melihat aba-abanya. Sementara itu, Jafier telah merengkuh Alyena di belakang punggungnya. Dengan tenang Willy maju ke depan. Auranya mengerikan menatap pria tinggi di hadapannya. Mata biru pria itu menatap Alyena begitu lama, dia kemudian mengangguk kepadanya.


"Namaku Arthur Frezh, merupakan ajudan dari keluarga besar bangsawan Adams yang ada di inggris." Ucap pria itu, dia kemudian menyingkir dan seseorang masuk. Pria tua itu memegang tongkat serta berjalan dengan perlahan. Dia mengangguk hormat, dan matanya mengarah kepada Alyena.


"Maafkan kedatangan saya yang mengganggu upacara pernikahan Nona kami. Saya sangat bersyukur, karena di usiaku yang sudah tua ini masih di pertemukan dengan keturunan Adams satu-satunya. Nama saya adalah Harbert Ghovin, saya adalah kepala pelayan di keluarga Adams, sejak kepergian tuan muda Nick Adams, kedua orang tua tuan Nick sangat shock berat, mereka sangat kehilangan. Mereka tidak memiliki pewaris lain selain tuan muda Nick yang sudah menghilang sejak bertahun-tahun, dan akhirnya setelah sekian lama, saya mendapatkan informasi penting bahwa putri kandung Nick Adams akan menikah hari ini. Saya bisa pergi dengan tenang ketika menyerahkan hak waris sah kepada Nona Alyena Adams, keturunan terakhir keluarga Adams." Ucap pria itu, sambil menghapus air matanya dengan sapu tangannya.


"Wuow hebat, ternyata Alyena adalah keturunan bangsawan di eropa, aku tidak tahu itu." Bisik Nick.


Ruangan pernikahan itu di penuhi para pengawal sehingga terlihat seakan di penuhi lautan jas berwarna hitam.


"Jadi, apa keinginan anda datang kemari?" Tanya Willy.


"Sebagai pewaris sah terakhir keluarga Adams, saya ingin Nona Alyena menerima gelas kebangsawanannya dan menerima nama Adams sebagai nama belakangnya, serta memenuhi kewajibannya mengelola seluruh warisan serta perusahaan yang keluarga Adams miliki, sebagai keturunan asli, sehingga aku bisa pergi dengan tenang."


"Sebaiknya hal itu kita bicarakan nanti, pernikahan akan segera di lanjutkan." Ucap Jafier. Pria bernama Harbert itu mengangguk hormat lalu mengambil tempat duduk di bagian depan.


Willy terlihat bingung, dia tidak konsentrasi ketika pernikahan berlangsung, kepalanya di penuhi dengan Alyena yang akan merubah namanya menjadi Adams, dan dia sungguh tidak menyukainya.


Matanya melotot ketika tersadar bahwa di depan matanya, Jafier sedang mencium Alyena sambil mengangkat tubuhnya dan memutarnya. Dia tiba-tiba berdiri sambil berkacak pinggang, Audry memegang lengan jas kakaknya, menyuruhnya agar duduk, semua orang tertawa melihat kemarahan di wajah Willy.


"Paman Willy sungguh lucu, sampai sekarang aku penasaran, siapa gadis beruntung yang akan mendapatkan sikap over protektif dan posesifnya, aku pasti akan merasa kasihan dengan gadis itu." Ucap Nick


"Menurutku paman Willy akan menemukan gadis seperti Alyena, dia kan tidak suka gadis liar pemberani yang suka menentang, mereka tidak akan cocok, apa perlu aku mengenalkannya dengan kakak sepupuku yang berasal dari Australia? Dia cantik dan imut apalagi sikapnya mirip dengan Alyena." Ucap Clara.


"Aku mendengar semua ucapan kalian kids, hati-hati, setelah Alyena, bisa saja aku akan menikahkan kalian berdua, berhenti mencarikanku jodoh." Ucap Willy berbalik, mereka berdua tanpa sadar membicarakan Willy yang duduk tepat di hadapan mereka.


"Kenalkan gadis itu kepadaku Clara, aku ingin menemuinya," Bisik Audry kepada Clara. Dia betul-betul harus menemukan pasangan yang tepat untuk kakaknya ini, agar nanti dia tidak mengganggu rumah tangga Alyena dengan aturan-aturan konyolnya.


***


Pria itu berdiri di bangku bagian belakang seorang diri dengan wajah geram, tangannya terkepal kuat-kuat. Matanya menatap tajam pasangan bahagia itu. Hatinya terasa sakit, dia mengingat ketika sehari sebelum Jafier melamar Alyena. Dialah yang terlebih dahulu mendatangi William, dia datang hendak melamarnya.


"Kilian, salah satu syaratku adalah Alyena harus menikah dengan pria yang di cintainya. Maafkan aku, tetapi Alyena mencintai orang lain dan yang saya inginkan, agar Alyena dapat hidup bahagia bersama orang yang dicintainya dan yang mencintainya." Ucap William dengan wajah serius menatap Kilian


Pria itu lalu berdiri dari tempat duduknya, dia kemudian meninggalkan ruangan pesta pernikahan, dia berjalan hingga tiba di depan pintu. Kilian berbalik, sekali lagi menatap dari kejauhan wajah cantik Alyena yang sedang berbahagia.


"Selamat tinggal Alyena, semoga kita tidak pernah bertemu lagi." Bisiknya.


***


Pesta berlangsung sepanjang malam, setelah memotong kue, kedua mempelai pengantin itu berdansa diiringi lagu romantis di tengah-tengah para tamu undangan. Jafier menatap Alyena dengan tatapan lembut dan dekapan kuat di pinggangnya.


"Sekarang kau telah menjadi milikku, Alyena. Kau adalah istri dari Jafier Alvaro. Apa kau suka dengan sebutan Nyonya Alvaro?" Ucap Jafier di telinga Alyena.


Alyena menganggukkan kepalanya, "Aku suka, nama itu cocok untukku." Ucap Alyena bahagia, senyuman tidak pernah terlepas di wajahnya. Sementara kedua pasangan saling berdansa mesra, Willy menatap mereka sambil menopang dagu dengan tangannya di meja.


"Awas saja jika dia menyakiti Alyena, aku akan mengejar Jafier sampai ke ujung dunia sekalipun." Ucap Willy.


"Begitupun aku tuan Collagher, sebagai Nyonya Adams, kami akan bertanggung jawab dengan keselamatan Nyonya kami." Ucap pria tua itu tidak mau kalah dengan Willy. Dia memutar bola matanya, sejak tadi kepala pelayan seabad itu sering kali menanggapi ucapan Willy dan menyetujuinya. Jafier menatap ke arah Willy dan kepala pelayan Harbert.


Jafier menghela napas. "Sepertinya bukan hanya Willy saja yang akan over protektif kepadamu Alyena, lihat pandangan mereka berdua, terlihat sama bukan? Kita berdua harus hati-hati kepada mereka." Ucap Jafier.


"Apa kita harus melarikan diri saat bulan madu? Aku khawatir mereka berdua akan ikut beserta rombongannya." Ucap Alyena sambil tertawa, dia menatap Jafier yang terlihat putus asa menatap Willy dan kepala pelayan Harbert yang menatapnya tajam.