Flower On The River

Flower On The River
Penantian panjang 2



~Pitthsburg kediaman Collagher


Tahun-tahun pun berganti terlewat begitu saja dengan cepat, wanita paruh baya itu duduk menatap sungai yang mengalir deras sama derasnya ketika dia masih gadis dahulu. Mata hazelnya yang cerah masih begitu cantik dia tersenyum menatap bunga-bunga yang bermekaran ditepi sungai.


"Mom, kenapa kau duduk sendirian di sini?"


kata seorang gadis cantik yang menutupi tubuh ibunya dengan selimut.


"Kau tahu audry, ibu sering sekali tidur di dekat pohon ini setelah bekerja." Gadis itu tersenyum lalu mengecup puncak kepala ibunya.


"Apakah Willy akan datang hari ini? ibu ingin berbicara kepadanya, ada sesuatu yang ingin ibu katakan kepada kalian berdua." Kata Ruzy menatap putrinya yang duduk disebelahnya.


"Aku akan menghubunginya lagi mom, kakak sangat sibuk baru beberapa hari ini dia baru saja kembali dari eropa." Kata audry bersandar di pundak ibunya.


Mereka menunggu Willy putranya pada saat makan malam, terdengar suara mesin mobil dan suara pintu mobil yang menutup, William atau biasa dipanggil willy oleh ibu dan adiknya baru saja keluar dari mobilnya, wajahnya sangat mirip dengan ayahnya kecuali matanya yang berwarna hazel cerah seperti milik ibunya.


"Kau akhirnya datang Willy, bagaimana perjalananmu sayang." Ucap ruzy menatap anaknya yang langsung mengecup pipi ibunya.


"Maaf aku terlambat mom."


Willy akhir-akhir ini begitu sibuk, selama ini dia pergi dari satu negara ke negara lainnya, perusahaannya berkembang begitu pesat, Willy memiliki banyak perusahaan raksasa di berbagai negara di Eropa maupun di Amerika, sehingga dia begitu sulit untuk ditemui.


"Audrey mengatakan padaku ada sesuatu yang ingin mom bicarakan kepada kami?"


Ucap Willy yang duduk di samping ibunya dan mulai mengiris steak dengan potongan kecil-kecil lalu memberikannya kepada ibunya.


Ruzy mengangguk, dia tersenyum kemudian matanya menerawang.


"Ibu ingin kembali ke gimmelwald di swiss sayang." Willy terkejut dia lalu menghentikan makannya.


"Mom?? ke Swiss??" Ucap Willy begitu terkejut. Ruzy hanya tersenyum menatap kedua anaknya yang terkejut mendengar keinginannya.


"Aku ingin kita kepemakaman menjenguk ayahmu besok, setelah itu ibu ingin pergi ke Swiss Willy."


Kata ruzy tersenyum. Dia tahu Willy dan Audrey yang sangat menyayangi dirinya tidak rela membiarkannya pergi.


"Ibu ingin kembali ke kampung halaman ibu sayang."


Willy memegang tangan ibunya, dengan wajah permohonan kepada ibunya agar tidak pergi.


"Biarkan ibu pergi Willy." kata ruzy menenangkan. Setelah Willy berpikir cukup lama dia akhirnya berbicara.


"Baiklah mom, aku dan audrey akan sering menjenguk ibu."


Kata Willy dengan tersenyum sedih. Mereka berdua berdiri dan memeluk ibunya, mereka sangat menyayanginya, semenjak ayahnya alex meninggal beberapa tahun yang lalu, Willy dan Audrey tidak pernah meninggalkan ibunya meskipun keduanya sangat sibuk dengan pekerjaan mereka.


~


Desa itu bernama Gimmelwald tepatnya di pegunungan Alpen bernesse di swiss, desa terpencil yang betul-betul sepi dari hiruk pikuk kota, hanya desiran angin dari gunung Alpen yang membawa suara yang menyejukkan.


Beberapa hari ini ruzy pergi ke gunung memetik bunga yang bermekaran indah di sana.


"Nyonya akan ke sana lagi?" tanya seorang pelayan kepadanya.


Ruzy dengan lembut tersenyum.


"Hari ini cuacanya sangat indah bukan, kau tidak usah menemaniku, buatkan aku sup hangat saja setelah aku kembali aku ingin menikmatinya".


"Baik nyonya."


Meskipun usia telah merenggut masa mudanya, tapi wajah cantiknya tetap terlihat dengan jelas. Dia bersenandung sambil memetik bunga yang berwarna warni snow buttercup dengan warna kuning cerah tumbuh dengan liar di antara bebatuan.


Langkahnya terdengar menghampiri ruzy yang sedang memetik bunga sembari bersenandung.


"Ruzy?


Ucap pria itu. Seketika ruzy berbalik menatap pria dengan mata coklat terang yang memandangnya.


Ruzy begitu terkejut, mulutnya sedikit terbuka.


suara ruzy bergetar menatap pria yang tersenyum padanya, Wajah tampannya tentu saja tidak meninggalkannya meskipun usianya tidak muda lagi.


Dia melangkah mendekati ruzy dengan tatapan yang sama seperti waktu masih muda dahulu. Ruzy menatapnya dan berdiri kaku tanpa beranjak dari tempatnya.


Dengan perlahan tangan nick mengusap lembut wajah ruzy, memandang wajah yang sangat dirindukannya.


"Aku sangat merindukanmu ruzy, sangat..."


Pandangannya yang hangat membuat ruzy tersenyum.


"Selama ini kau dimana Nick?" tanya ruzy yang membiarkan nick mengusap wajahnya.


"Selama ini aku berada di sini di kampung halamanmu, aku...aku selalu merindukanmu ruzy, meskipun alex nantinya akan membenciku, jika nyawa tidak ada lagi didalam tubuhku dan kami akan bertemu nanti. tapi... bertahun-tahun aku tidak bisa melupakanmu...aku mencintaimu ruzy."


Pengakuannya membuat ruzy begitu terkejut, mata hazelnya yang bulat membuat nick tiba-tiba mengecupnya.


"Maafkan jika aku lancang, tapi aku sungguh tidak bisa melupakanmu ruzy aku...aku mencintaimu."


Dia tertunduk, pria tinggi dihadapannya nampak rapuh berusaha keras mengakui perasaannya yang dipendamnya selama bertahun-tahun. Ruzy membelai wajahnya, menghapus air yang tergenang di mata coklatnya.


Dia memeluk nick yang balas memeluknya.


"Ruzy, kumohon biarkan aku bersamamu sampai akhir usia kita, habiskan sisa hidupmu bersamaku...kumohon padamu."


Ruzy menatap hangat nick yang air matanya jatuh di pipinya, dia kemudian menghapusnya, menatapnya dengan wajah sendu.


"Jika kau menginginkannya nick, aku akan menghabiskan sisa usiaku bersamamu." Ucap ruzy.


Nick tersenyum begitu gembira, ia mengangkat ruzy dan memeluknya lalu mencium bibirnya dan mengecup keningnya.


"Aku mencintaimu ruzy."


Ruzy bersandar di bahu nick sambil menatap bunga-bunga yang bermekaran di pegunungan Alpen bernesse yang sunyi hanya suara angin yang dibawa dari pegunungan Alpen membawa kesejukan kepada mereka berdua.


"Nick? er..bagaimana dengan Juan?" Tanya ruzy dengan ragu. Nick tersenyum menatapnya penuh cinta.


"Dia sudah lama tertidur ruzy, cintaku padamu lebih kuat dibandingkan cintanya padamu." Ruzy kembali bersandar di bahunya.


Mereka berpegangan tangan memeluk satu sama lain sampai akhir usia menanti mereka berdua.


@@@


Hy tmn2 readers 😊 ini aku kasi visual pemeran flower on the river...ini menurut author pribadi yaaaaa....jadi tmn2 yg mw berimajinasi dgn tokoh yg lainnya silahkan😆


Ruzyana Chandelier



Alex Collagher



Nick/Juan



Dokter Max



Ricky



~FIN~


Hy tmn2 readers ☺️ Flower on the river akhirnya Fin di episode 55, semoga kalian suka yaaa endingnya...btw berikan ulasannya yaaaa tmn2😉 jgn lupa like vote and comentnya 😆and nantikan novel2 aq selanjutnya yaaa...terima kasih sudah mampir🙏☺️ voteeenya slalu kutunggu👍😁💕