
"Benarkah? lalu hari ini kau pergi dengan siapa?" tanyanya, dia mulai berjalan pelan mendekat ke tempat Alyena berdiri dengan aura mengerikan di sekelilingnya.
Alyena menelan ludahnya, kakinya sontak mundur beberapa langkah ke belakang, pria itu sudah berdiri di hadapannya dengan siluetnya yang tinggi menutupi seluruh tubuh Alyena.
"Aku pergi dengan salah satu tamu anda, A-aku hanya menemaninya mengelilingi desa ini." Ucap Alyena.
tangannya menarik dagu Alyena ke atas sehingga wajahnya mendongak dan menatap langsung matanya.
"Kau menolak makan siang denganku, dan kau sengaja bersembunyi dariku."
"A-apa? Aku tidak...
Alyena tidak bisa berkata-kata apa lagi karena sebenarnya begitulah adanya, dia merasa aneh dan janggal jika terus makan siang dengan pemilik perkebunan ini, apalagi dengan peristiwa malam itu, membuat Alyena semakin waspada.
"Ikut denganku." Tangannya menggapai tangan Alyena dan memegangnya erat, rahangnya bergerak-gerak seperti menahan marah, Alyena terantuk-antuk ketika berjalan karena pria itu menariknya sesuka hatinya.
Alyena ingin sekali berteriak minta tolong kepada siapa saja, dia tidak mau terjebak bersama pria ini.
Mereka memasuki Villa, Kilian Regan membuka pintu Villa dan kemudian menutupnya, tangannya masih menggenggam tangan Alyena, dia berjalan lurus ke depan dan naik ke lantai dua, di atas villa itu, pemandangan indah yang terbentang luas tersaji di hadapan mereka berdua, dari kejauhan nampak pegunungan yang indah, tetapi itu semua tidak ada artinya bagi Alyena, dia tidak bisa menghapus kerisauan di dalam hatinya, Kilian mendudukkan Alyena di salah satu kursi.
"Duduk." Perintahnya.
Alyena meremas-remas kedua tangannya. Pria itu mengambil dua buah gelas dan sebotol anggur yang sengaja disiapkan di dalam lemari.
"Aku sengaja menyimpan anggur ini untuk kau cicipi." Dia menuang wine berwarna merah itu ke gelas di depan Alyena lalu menuangkan di gelasnya sendiri.
"Cicipilah, aromanya begitu manis dan rasanya tidak sepekat kemarin, wine itu tidak begitu keras, sangat cocok untukmu, Alyena." Pria itu duduk di hadapannya sambil memperhatikan Alyena memegang gelas winenya dan sedikit menggoyangkan gelasnya lalu menghirup wanginya. Alyena mencicipi sedikit minuman itu dan merasakan rasa manis yang ringan dan harum wangi bunga-bunga tercium di hidungnya.
"Kau suka?" Tanyanya.
Alyena mengangguk cepat, "I-iya tuan, rasanya ringan." Cicit Alyena.
"Aku tahu kau akan menyukainya, aku sengaja memesannya dari luar kota, anggur itu terkenal karena rasanya yang manis dan ringan apalagi beraroma bunga sangat cocok untukmu."
Alyena tidak tahu harus mengatakan apa, dia juga tidak mau menatap pria di hadapannya ini, auranya terasa kental mendominasi seakan menekan Alyena hanya untuk mendengarkannya.
Punggungnya melekat erat di kursi, sekuat tenaga menahan dirinya agar tangannya tidak bergetar karena ketakutan.
"T-tuan, bolehkah aku pulang? Aku sangat lelah dan besok aku harus kerja." Gumam Alyena memberanikan dirinya untuk berbicara, tetapi suaranya tetap begitu pelan dan kecil.
"Kau lelah karena kau menemani Jafier bukan?" Kilian mengambil napas, lalu bernapas dengan berat. "Baiklah, kau boleh pulang." Ucapnya.
"B-benarkah?" Tanyanya dengan wajah senang yang tidak di tutup-tutupi. Seketika Alyena berdiri, dia menunduk sedikit dan berjalan melewatinya, tangannya tiba-tiba tertahan hingga tubuhnya tidak bisa menahan keseimbangan di kakinya, tubuhnya hampir terjatuh tetapi kilian menangkapnya dan menariknya, dia telah duduk di pangkuan pria itu.
Jantung Alyena berdegub sangat kencang, dia hendak berdiri, tetapi pria itu memegang pinggangnya menahannya untuk pergi kemanapun.
"T-tuan, lepaskan saya," Ucap Alyena.
"Tidak." Jawabnya.
"A-apa? Tidak mau, lepaskan tangan anda, jangan menyentuhku." Ucap Alyena berusaha melepaskan dirinya dari pelukan pria ini. Kedua tangannya mendorong keras tubuh kuat itu.
"Kalau kau terus bergerak, jangan salahkan aku Alyena, aku tidak akan melakukan apapun selama kau mematuhi apa yang kuinginkan."
"Sudah kubilang jangan bergerak." Ucapnya dengan suara tertahan.
Alyena mengikuti ucapannya, pria itu memijat-mijat keningnya. "Baiklah kau boleh berdiri." Ucapnya, Alyena menatapnya dengan pandangan aneh, pria itu seperti mengendalikan dirinya, napasnya terdengar sungguh berat.
"Anda baik-baik saja, apa perlu saya panggilkan dokter?" Tanya Alyena.
"Sebaiknya kau pulang, sebelum saya berubah pikiran." Ucapnya sambil menggertakkan giginya.
"B-baik." Cicit Alyena, sebelum Alyena pergi pria itu kembali menahan tangannya.
"Besok siang aku tunggu di kantorku, jangan coba menghindar Alyena."
"Baik." Ucapnya, dia melepaskan tangan Alyena dan membiarkannya pergi. Sebelum Alyena menutup pintu, terdengar suara umpatan keras dari dalam ruangan.
~
"Bukankah itu Alyena?" Ucap Jafier sejam sebelum keberangkatannya, dia mengejar Alyena yang baru saja keluar dari perkebunan.
"Alyena, tunggu."
Alyena berbalik dan menatap pria tinggi berparas tampan yang terlihat khawatir, tampak kerutan kecil membekas di sekitar alisnya.
"Apa yang kau lakukan di Villa itu Alyena? bukankah di atas sana ada Kilian Regan?" Tanyanya.
"Tadi tuan Regan mengajakku mencicipi wine yang baru saja masuk ke gudang, jadi aku menemaninya sebentar minum."
"Kau tidak apa-apakan, maksudku dia tidak melakukan sesuatu kepadamu?" Tanyanya.
"A-apa? Tidak, dia tidak melakukan apapun, dia hanya menawariku anggur dan setelah itu dia membiarkanku pulang, itu saja." Ucap Alyena dengan bersemu merah, dia tidak memberitahukan bagian tentang dirinya duduk di pangkuan tuan Regan lalu membuatnya marah.
Pria itu terlihat lega dan menghembuskan napasnya, "sebaiknya kau masuk, kau pasti lelah, oh ya sebentar lagi aku akan berangkat."
"Kalau begitu hati-hati di jalan paman, selamat tinggal." Ucap Alyena sambil tersenyum.
Dia menepuk pelan kepala Alyena. "Jaga dirimu baik-baik, dan jika sesuatu terjadi hubungi aku segera, kau mengerti."
Alyena mengangguk dan memberikan lambaian kepada pria itu, dia pergi dan segera menghilang dari pandangan Alyena.
~
Pesawat menuju New york.
"Sejak tadi kau terlihat gelisah, ada apa?"
"Sepertinya bukan pilihan yang tepat aku membiarkan gadis itu berada di sana." Ucapnya.
"Memang kenapa, apa dia sedang dalam bahaya? baru kali ini aku melihatmu seperti ini."
Jafier terlihat tidak tenang, dia mengkhawatirkan keadaan Alyena tetapi bagaimanapun dia tidak bisa kembali ke desa itu, perjalanannya akan membutuhkan waktu berjam-jam.
"Dia akan menghubungimu jika sesuatu terjadi." Ucap Willy menenangkannya.
~
Sekali lagi Alyena sudah ada di dalam kantor tuan Regan, mereka makan dalam diam, meskipun makanan lezat terhidang di depannya tetapi Alyena sungguh merasa tidak nyaman, setiap pelayan yang masuk membawa makanan, mereka akan menatap Alyena dengan pandangan curiga dan mendelikkan mata ke arahnya, Alyena hanya mengangkat bahunya, dia juga tidak ingin berada dalam situasi seperti ini.
"Ada apa? kau tidak suka makanannya?" Tanyanya.
"S-saya suka tuan, ini sangat lezat."
Dia bisa saja mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan, wanita yang berpengalaman dan tentu saja dewasa, tetapi keberadaan gadis ini di sekitarnya membuat Kilian lebih tenang dan keinginannya terus berkembang semakin besar ketika dia bersamanya.
Waktu begitu cepat bergulir, sudah dua minggu sejak kedatangan dua tamu tampan itu, setiap haripun Alyena harus menemani makan siang tuan Regan dan itu membuat Alyena sangat kesulitan untuk menyembunyikannya dari teman-temannya. Mereka kembali makan bersama, Alyena mengintipnya diam-diam, ingin menyampaikan sesuatu.
Pria itu tidak mengatakan apapun sejak tadi, dia makan dalam diam, Alyena menarik napas mencoba memberanikan dirinya.
"Tuan, bolehkan saya makan siang bersama teman-temanku lagi? Aku...aku ingin makan siang bersama teman-temanku." Ucap alyena sambil tertunduk.
Suara pisau dan garpunya terhenti, dia meletakkannya di atas piringnya.
"Kenapa? Apa kau bosan makan siang bersamaku?"
"A-apa? bukan begitu, aku hanya ingin makan siang bersama mereka, sudah lama aku tidak bersama mereka." Ucap Alyena mengintipnya sembunyi-sembunyi.
"Baiklah, besok kau bisa makan siang bersama mereka, tetap ada syarat yang harus kau lakukan."
"Syarat?" tanyanya.
"Ya, jika kau makan siang bersama teman-temanmu, kau harus menggantinya dengan makan malam bersamaku di Villa, kau mengerti Alyena."
"Apa?" Mata Alyena membulat, ingin memprotesnya, tetapi bibirnya terkunci rapat.
Setelah makan siang, Alyena kembali ke perkebunan, dia mulai memetik buah anggurnya.
"Aku heran, kenapa setiap hari Alyena tidak bisa makan siang bersama kita, ternyata dia selalu makan bersama tuan Regan, ada salah satu pekerja yang melihatnya berjalan menuju kantor tuan Regan setiap hari." Ucap Rudith.
"Kenapa Alyena tidak menceritakannya kepada kita, aku turut senang jika dia bisa bersama tuan Regan." Ucap Nalia.
"Huuh, entahlah mungkin dia tidak mau berbagi kesenangan dengan kita, padahal aku yang pertama kali melihat tuan Regan, tidak di sangka Alyena dapat berbuat seperti itu."
"Sudahlah Rudith, jangan membicarakan Alyena lagi." Tegur Nalia.
Alyena mendengarnya dari balik kebun anggur, dia mundur dengan wajah sedih, ingin sekali Alyena menceritakan semua kejadian yang di alaminya tetapi dia tidak mau kedepannya mereka akan mendapat masalah karenanya.
Alyena sengaja berlama-lama sebelum keluar dari perkebunan. Dia mendorong trolinya menuju tempat penyimpanan anggur, teman-temannya telah pulang. Alyena segera mengganti bajunya, lalu bersiap untuk pulang.
Seseorang berdiri di pintu masuk, seluruh tubuhnya menghalangi jalan keluar dari pintu itu.
"Ikut aku, ada anggur yang baru saja masuk." Ucap tuan Regan. Dia kemudian berjalan di depan Alyena, dengan wajah cemberut dia terpaksa mengikuti tuan Regan, mereka masuk ke tempat penyimpanan anggur di bawah tanah, dia berjalan melewati beberapa koridor dan membuka salah satu lemari dan mengeluarkan satu botol wine berwarna kekuningan.
"Kau mungkin tidak akan menyukainya."
"Apa?" Alyena mengernyitkan alisnya.
kalau aku tidak suka kenapa dia mengajakku ke sini, dia bisa meminum sendiri wine barunya.
Pria itu menuangkan winenya ke gelas yang ada di atas meja, dia tidak memberikan gelas itu kepada Alyena, dia hanya meminumnya seorang diri, membuat Alyena terheran-heran.
Kenapa dia mengajakku kalau dia ingin minum sendirian, meskipun bukan berarti aku ingin minum anggur itu.
Dia tersenyum setelah menyimpan gelas wine itu di atas meja, "Kau tahu? semua yang ingin kau katakan dapat terlihat di wajahmu, kau pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak memberikanmu wine ini."
Alyena hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya.
"Karena wine ini sangat keras jika diminum olehmu, aku pastikan kau akan mabuk jika meminumnya." Ucapnya. Alyena masih tidak mengerti, kalau dia tahu aku tidak bisa meminumnya, untuk apa dia memanggilku.
"Sepertinya kau tidak nyaman bersamaku, Alyena."
"A-apa? bukan seperti itu tuan, aku hanya...
"Hanya?"
"Jangan khawatir, aku tidak membutuhkan alasanmu, aku hanya ingin bersamamu, apa itu tidak boleh? hanya sebentar saja." Ucapnya, dia mulai melangkah mendekat ke tempat Alyena berdiri.
"Mungkin yang kulakukan ini akan kusesali ketika selesai melakukannya, karena kau mungkin tidak akan datang makan siang bersama denganku lagi." Ucapnya, wajahnya terlihat tenang tetapi setiap ucapannya membuat jantung Alyena berdebar kencang.
Dia terus berjalan dan sudah berdiri di hadapan Alyena, menjulang di hadapannya, tangannya terangkat memegang pipi Alyena, dan menghalau rambut-rambutnya yang menutupi sedikit keningnya.
"T-tuan Regan, apa yang anda lakukan?" Ucap Alyena, napasnya menjadi sesak karena tidak bisa menahan deguban jantungnya yang berdetak keras.
Dia tersenyum tipis, dan malam itu dia mencium Alyena, tangannya berada di pinggangnya, menghimpitnya di antara lemari kaca wine, sedangkan tangannya yang lain memerangkap tengkuk Alyena agar kepalanya tidak bergerak-gerak.
Kedua tangan Alyena mendorong sekuat tenaga tubuh pria itu, ciuman yang tadinya lembut menjadi kasar tidak terkendali, Alyena mulai memukul-mukul dada pria itu, setelah beberapa lama, dia melepaskan Alyena, membiarkannya bernapas. Pria itu sangat ahli dalam berciuman, membuat Alyena kewalahan dan tidak bisa menapaki kakinya di lantai.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Alyena menutup bibirnya dan mendorong keras tubuh pria itu, dia kemudian memaksa kakinya untuk berlari keluar dari gudang itu, dia berlari sekencang-kencangnya.
Setelah tiba di rumahnya, dia menguncinya dan bernapas dengan keras, dia memegang bibirnya, ciuman itu adalah pertama baginya.
Alyena segera masuk ke kamarnya dan segera mandi, tubuhnya masih bergetar, dia ketakutan, apa yang akan dilakukannya ketika mereka akan bertemu lagi? Alyena lalu mengingat ucapan pria itu.
Mungkin yang kulakukan ini akan kusesali ketika selesai melakukannya, karena kau mungkin tidak akan datang makan siang bersama denganku lagi.
"Bukankah ini alasan masuk akal, aku tidak perlu membuat alasan untuk menghindarinya, mulai besok aku bisa makan bersama yang lainnya, tetapi tiba-tiba Alyena mengingat pembicaraan antara Rudith dan Nalia, dia tertunduk sedih, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Aku tidak perlu memikirkannya, aku akan baik-baik saja." Ucap Alyena.
~
Pria itu berdiri di lantai 2 di villanya, tangannya memegang gelas Wine, dia menatap pemandangan malam dari kejauhan, dia mengingat kembali saat-saat dia mencium gadis itu, wajahnya yang putih bersemu dengan cantik, bibirnya membuka terlihat sempurna untuknya. Dia memijat keningnya dan menertawai dirinya sendiri, dia yang mencium gadis itu tetapi dia sendiri yang terlihat frustasi seakan tidak mau melepaskan gadis itu kemanapun.
"Mungkin kali ini aku akan melakukannya sedikit memaksa, dia pasti mulai menghindariku lagi." gumamnya.
~
Pagi sudah menyinari desa itu sehingga setiap penghuni di desa itu melakukan aktivitas mereka masing-masing, sama halnya dengan Alyena yang telah bersiap-siap akan berangkat kerja, setelah sarapan, dan menyiapkan bekal, Alyena segera keluar dari rumahnya, dia tidak lagi berbalik ke belakang menunggui temannya, dia yakin mereka tidak akan datang setelah Alyena telah tiba terlebih dahulu di perkebunan, setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja, Alyena mendorong trolinya dan mengenakan topinya, dia memasuki perkebunan dan mulai memetik anggurnya lebih jauh dari yang lainnya.
"Kenapa kau sendirian?" Suara itu mengangetkan Alyena, tuan Regan berada di sana berdiri dengan kemeja berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, dia berdiri dan memasukkan tangannya di saku celananya.
"T-tuan Regan." Ucap Alyena takut-takut.
"Aku bersama Sir Alfon dan sir Royand sedang melakukan pemeriksaan di gudang sebelah, dan aku melihatmu seorang diri di sini, bukankah tempatmu cukup jauh dari teman-temanmu?" tanyanya.
"T-tidak ada apa-apa tuan." Alyena tidak mau menatap wajahnya, pandangannya akan jatuh kebibir itu lagi, dan itu membuat jantung Alyena berdetak keras mengingat kejadian semalam.
Dia telah berdiri di depan Alyena, menarik dagunya agar menatap matanya. "Aku tunggu di ruanganku sebentar siang, kita makan siang bersama." Ucapnya.
"T-tapi anda bilang hari ini aku bisa makan siang bersama teman-temanku." Ucap Alyena protes.
Dia tersenyum tipis, "Sepertinya teman-temanmu itu tidak menginginkan kau untuk bergabung dengan mereka, aku menunggumu di kantorku." Dia melepaskan dagu Alyena dan segera pergi meninggalkannya.
"Tidak adakah seseorang yang bisa menolongku?" Ucap Alyena seperti mau menangis.