
Jantung Alyena berdetak kencang, dia duduk di depan kakaknya bersama Jafier
Mereka berdua duduk di sofa sambil menatap Willy dengan serius. Willy memperhatikan mereka berdua, dan mengira-ngira keinginan mereka berdua masuk ke ruang kerjanya.
"Willy. Aku akan menikah dengan Alyena." Ucap Jafier tegas. Alyena menelan ludahnya kasar.
Apa kak Willy akan meledak, atau mengusir Jafier atau memberikan satu pukulan di wajahnya? Apa yang akan kakak lakukan?
Melihat Willy tidak meresponnya, membuat Alyena berbicara.
"Kakak, aku mencintai Jafier, biarkan kami menikah." Ucap Alyena deg-degan. Willy mengambil napas, dia terlihat lelah.
"Aku sudah mendengar mengenai kedatangan Kilian Regan ke penthouse, dan aku juga sudah mendengarkan bahwa pria itu melamarmu." Ucap Willy.
"Apa karena hal ini kalian ingin menikah? Jafier. Kau tidak bisa menikahi Alyena hanya karena pria lain melamarnya dan kau pun terburu-buru melamarnya. Kita harus memikirkannya dengan matang." Ucap Willy.
"Apa maksudmu aku terburu-buru, Willy? Sejak Alyena sekolah aku sudah melamarnya, hingga kesekian kali lamaranku kau tolak, kau bahkan membawa pergi Alyena dariku, meskipun aku tahu saat itu aku memang salah, tetapi aku bersungguh-sungguh mencintai dan ingin menikahi Alyena."
Willy menggerakkan jari-jarinya di atas meja. "Baiklah aku akan terima lamaranmu dengan beberapa syarat-syarat penting yang akan aku katakan. Alyena, bisa kau tinggalkan kami sebentar. Aku ingin bicara dengan Jafier."
Alyena menyetujuinya, wajahnya terlihat sangat bahagia. Dia lalu keluar dan segera pergi menuju ruang perpustakaan sambil menunggu Jafier dan kakaknya selesai berbicara.
Willy menautkan Jari-jarinya, dia menatap wajah pria di depannya sambil mengernyitkan alisnya.
"Kenapa kau terlihat sangat tua, Jafier?" Ucap Willy tiba-tiba.
"Jangan mencari alasan lain, kau tadi sudah menyetujui pernikahan kami, jadi katakan apa syarat yang kau inginkan?" Ucap Jafier mengantisipasi perkataan Willy.
"Persyaratan ini berlaku kepada siapa saja yang kelak menikah dengan Alyena, aku sudah menulis catatan-catatan penting syarat untuk menjadi suami Alyena." Ucap Willy dengan menatap tajam wajah Jafier.
Jafier hampir ternganga mendengarnya, "Kau betul-betul menyiapkan semuanya Will, seperti yang aku katakan, carilah seorang wanita untuk mendampingimu, dan hilangkan sikap posesif berlebihanmu kepada adikmu."
"Tsk, cerewet, bukan aku yang dibahas di sini, tetapi kau. Jika kau ingin menikah dengan Alyena, aku akan membacakan syaratnya, jika kau mampu memenuhi semuanya. Aku akan menerima pernikahan kalian."
Pertama, Alyena harus menikah dengan orang yang dicintainya." Ucap Willy memberikan point di setiap syaratnya.
"Itu sudah jelas kan." Ucap Jafier. Willy lalu menggelengkan kepalanya tidak sabar. "Yang kedua, setelah Alyena menikah, dia harus tetap tinggal bersama kami. Jadi, jika kalian menikah, Alyena tidak boleh kemana-mana, kalian harus tinggal bersamaku." Ucap Willy tegas.
"Willy, bagaimana kau bisa seperti itu. Jika Alyena sudah menjadi istriku, tentu saja dia harus tinggal bersamaku, bersama suaminya. Bukan tinggal bersama kakak-kakaknya." Ucap Jafier tidak setuju. "Dan apakah saat bulan madu, kau juga ingin ikut dengan kami?" Ucap Jafier.
"Mm, mungkin saja." Ucap Willy, Jafier menyandarkan punggungnya di kursi lalu tertawa tidak percaya. "Bagaimana jika aku tidak memenuhi salah satunya, misalnya Alyena akan tinggal bersamaku, di mansionku."
Willy turut menyandarkan tubuhnya ke kursinya. "Kalau begitu kau harus menyerah, aku bilang siapapun menyanggupi persyaratanku, maka aku akan menerimanya."
Jafier mengiyakan persyaratannya dengan memandang tajam Willy. "Baiklah, tentu saja aku sanggup, bahkan jika kau menginginkan kami pindah ke kamarmu pun aku akan sanggup." Ucap Jafier jengkel.
Mata Willy menyipit, "Lalu selanjutnya, Jika Alyena siap di malam pertamanya, barulah dia boleh melakukannya. Aku tidak akan membiarkan kau memaksakan kehendakmu hingga menyakitinya."
"Baiklah, kita akan lihat siapa yang menginginkan malam pertama kami dengan antusias, kau pasti akan terkejut." Ucap Jafier sambil mengangkat satu alisnya, dia tidak tahu saja bagaimana liarnya Alyena ketika mereka sedang berdua saja, bahkan Jafier yang harus mengingatkan Alyena jika mereka berdua sudah di luar batas.
"Berikutnya, Alyena boleh mengandung jika kuliahnya telah selesai, aku tidak mau dia hamil, lalu mengurus perkuliahannya dengan perut membuncit dan berjalan kesana kemari."
"Oke aku akan menyanggupinya." Ucap Jafier.
"Dan yang paling penting, jika saja aku mendengar informasi mengenai wanita-wanita di masa lalumu, atau wanita yang menggodamu hingga menyakiti Alyena, aku akan membawa Alyena pergi darimu."
"Jadi kau menyanggupi semua persyaratanku?"
"Ya aku menyetujui semuanya."
"Bagus, sekarang kalian tinggal menentukan waktu pernikahan kalian, biar aku yang mengurusi semuanya." Ucap Willy.
***
Kesibukan jelas terlihat di kediaman Collagher, beberapa hari ini perancang busana yang di terkenal keluar masuk ke dalam penthouse mereka. Gosip itu akhirnya terdengar ke telinga Kilian Regan. Mendengar semua itu, dia lalu berdiri dari tempat duduknya. Rasa kecewa terlihat di wajahnya.
"Ada apa dengan wajahmu Kilian?" Ucap wanita itu. Pagi ini susan datang lagi di kantornya, dia hendak mengatakan sesuatu yang penting kepada Kilian, tetapi siapa yang sangka, ponselnya berdering dan memberitahukan kepada Kilian bahwa Alyena sebentar lagi akan menikah dengan Jafier.
Wajahnya pucat, berita itu tidak di sangka membuatnya shock bukan main. Dia tidak tahu apa yang akan di lakukannya, apakah dia akan menghentikan pernikahan itu? atau membunuh Jafier agar memiliki Alyena? bukankah itu konyol?
Suara-suara di belakangnya membuat Kilian tersadar, ternyata susan masih ada di sana dan entah ocehan apa yang sedang dia katakan.
"Kilian kau mendengarkan aku?" Ucapnya.
"Mendengarkan apa?" Susan menggeleng tidak percaya. "Ayahku merestui hubungan kita, dia ingin agar kita menikah, jadi bagaimana menurutmu? Jika kau setuju, aku akan segera mengurus semuanya." Ucap wanita itu bersemangat.
Kilian menatapnya tajam. "Apa kau gila susan? Sebaiknya kau pulang dan aku tidak ingin mendengar omong kosongmu." Ucap Kilian sangat marah. Dia keluar dari kantornya meninggalkan wanita itu sendiri.
Dia mengambil mobilnya lalu meninggalkan kantornya siang itu. Kilian menuju ke penthouse Alyena, dia memandangnya dari kejauhan. Dia tidak menyadari wanita itu membuntutinya dari kejauhan.
"Siapa pemilik penthouse ini?" Ucap wanita itu.
Mobilnya kembali melaju dan membaca nama depan dari kediaman itu. "Collagher?" Ucap susan.
"Apa hubungannya Collagher dengan Kilian?"
Dia berhenti sejenak ketika melihat satu mobil mewah baru saja keluar dari penthouse itu. Karena penasaran, wanita itu mengikutinya. Dia berhenti di depan sebuah Cafe terkenal, seorang wanita baru saja turun dan bertemu dengan dua orang yang sedang menunggunya.
"Siapa wanita itu?" Ucap Susan, karena sangat penasaran, diapun turut memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam Cafe itu. Dia mencari tempat duduk yang tidak jauh dari mereka bertiga, dia lalu mendengarkan setiap ucapan mereka.
"Kau pasti sangat bahagia, Alyena." Ucap Clara sambil menatapnya dan menyeruput ice coklatnya.
"Lihat calon pengantin kita ini, dia tersenyum malu-malu." Ucap Nick.
"Hentikan, kalian kenapa sih, orang-orang menatap ke arah kita."
"Huh? siapa yang peduli. Oh ya, jadi si Regan itu sudah menyerah ya, kalian tidak pernah bertemu lagi?" Tanya Nick.
"Tidak, aku sibuk bertengkar dengan para rubah betina dan mengobati luka-lukaku, lagi pula dia rekan bisnis Willy, kenapa juga aku mesti bertemu dengannya?" Ucap Alyena tidak sabar, dia ingin mengalihkan pembicaraan dari Kilian Regan.
"Jangan membicarakannya, sekarang yang terpenting, paman Jafier sebentar lagi akan menjadi milikmu, dan kau akan bebas memilikinya." Ucap Clara dengan suara genitnya.
Wanita itu mengernyitkan alisnya. "Jafier? Maksudnya Jafier Alvaro? Owh jadi wanita itu kekasihnya? Lalu, kenapa Kilian mendatangi penthousenya?" Ucap wanita itu bertanya-tanya. Pemahaman lalu muncul di kepalanya.
"Sepertinya wanita yang selalu menolak Kilian adalah gadis ini, beberapa kali Kilian pernah menyebut namanya melalui telepon. "Apakah wanita itu bernama Alyena?" Ucapnya.
Mereka bertiga sontak berbalik, Clara dengan wajah masam serta Nick menampilkan wajah permusuhan. "Apa lagi ini Alyena, siapa lagi wanita yang membuntuti kita, apakah kau mengenalnya? Alyena menatap wanita itu yang sekarang terkaget karena ketahuan.
"Baru kali ini aku melihatnya." Ucap Alyena. Sebelum Nick dan Clara berdiri, wanita itu sudah pergi dengan berlari-lari kecil. "Fiuhh, mereka bertiga, sedangkan aku sendirian? tidak sebanding, aku benci berkelahi. Entah apa langkah selanjutnya yang akan Kilian lakukan?"