Flower On The River

Flower On The River
Vol 38



Aku mencintaimu Alyena.


William Collagher




Jantung Alyena semakin berdetak ketika mendengarnya, suaranya yang pelan, lembut seperti suara permohonan kepadanya.


"Kau mendengarnya?"


Alyena memegang dadanya, jantungnya berdegub sangat kencang, perasaannya kini campur aduk, tidak menentu dia ingin mengatakan sesuatu tetapi, bibirnya terasa kering.


"Aku hanya ingin memberitahumu ini, jika Willy bersikeras membawamu, jangan salahkan aku nantinya Alyena, aku hanya ingin kau kembali kepadaku."


Tiba-tiba genggaman ponsel Alyena terlepas, William telah berdiri di sana dengan marah. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan, aku akan tetap membawa Alyena, jangan mencoba menghalangiku atau kau akan menyesalinya Jafier."


Alyena menelan ludahnya, kakaknya pergi begitu saja dan mengambil ponsel Alyena tanpa memberikan kesempatan untuknya berbicara. Alyena kembali mengintip dari balkon apartemennya, dia melihat mobil Porsche itu masih ada di sana, dia membuka kaca jendela mobilnya dan bertatapan langsung dengan Alyena meskipun jaraknya jauh.


Smirk menghiasi wajahnya, entah apa yang di rencanakan pria itu.


***


"Alyena, bangun." Suara itu membuat Alyena menggumam-gumam, tengah malam begini dia sudah larut dalam tidurnya, tetapi suara Willy terdengar di telinganya.


"Mm, kakak? Ada apa? kenapa kakak bangun jam begini?" Ucap Alyena menatap jam di atas meja. "Sekarang jam 2 pagi kak Will." Ucap Alyena.


Audry berdiri di sana, sambil mengambil koper yang berada di dalam kamar Alyena. "Bangunlah honey kakakmu yang gila ini akan berangkat sekarang."


Alyena bangun dari tidurnya dengan terkejut. "Kak Willy serius mau pergi pada jam seperti ini?" Ucap Alyena tidak percaya.


"Ya, kita harus pergi sekarang."


Alyena segera bangun dari tidurnya, wajahnya yang terlihat mengantuk dan sepenuhnya masih belum sadar dengan benar. "C'mon Alyena, jangan tidur lagi, kita harus berangkat, kau bisa melanjutkan tidurmu nanti di pesawat."


Mereka akhirnya berada di dalam mobil, Audry mengantar kepergian mereka, perjalanan mereka akan memakan waktu yang panjang hingga tiba di Manchester, begitu pikir Audry. Alyena bersandar di kursi penumpang, dia tidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya.


"Bagaimana Trav, kau melihat mereka?" Ucap Willy ketika dia mengenakan earphonenya dan sedang menghubungi pria bernama Trav.


"Mereka bergerak tuan."


"Kecoh mobil mereka, jangan sampai mereka tahu kami telah berada di bandara."


"Baik tuan."


Willy kembali melajukan mobilnya sekencang-kencangnya, perjalanan mereka tidak jauh dari bandara. Tidak ada mobil mencurigakan yang Willy lihat, mereka tiba tepat waktu, sekitar sepuluh orang pria telah berada di sana sebagai tameng bagi Willy ketika ada musuh yang mendekat.


"Dia benar-benar gila, apa ini pertunjukkan kepada kami seberapa kuatnya kalian berdua? Mereka tidak waras." Gumam Audry. Sebentar lagi mereka akan berangkat dan sampai saat ini, Jafier sama sekali tidak terlihat.


***


Pria itu masih berada di salah satu kamar di hotel, dia sedang tidur sampai seseorang meneleponnya.


"Halo." Ucap Jafier.


"Sepertinya ada yang mencurigakan Sir, mobil tuan William tidak ada di tempatnya, tetapi kami masih melihat ketiganya masih berada di apartemen."


Perasaan Jafier tidak menentu sudah setengah jam telah berlalu, dia lalu mengenakan pakaiannya dan segera berangkat ke Apartemen Audry. Dia tiba di sana, tanpa menunggu, dia lalu keluar dari mobilnya dan berlari menuju apartemen milik Audry.


Jafier menggedornya kuat-kuat, tetapi tidak ada yang membuka pintu, setidaknya dia harus melihat kemarahan di wajah willy ketika dia di ganggu tengah malam buta begini. Seseorang membukanya tapi bukan Willy, tetapi pakaiannya itu milik William.


"Sial! kita di kecoh, segera ke airport sekarang, lakukan sesuatu untuk menahan kepergian mereka, lakukan sebelum aku tiba."


Baik tuan


Jafier memukul berkali-kali kemudi stirnya dengan keras, dia merasa di bodohi oleh William, dengan kecepatan tinggi mobil terus melaju hingga akhirnya tiba di bandara.


"Bagaimana, apakah mereka masih di sana?"


Kami masih belum tahu tuan, 10 orang penjaga berdiri di sana, seperti memblokir siapa saja yang mendekati area yang mereka jaga.


Jafier masuk dan berlari ke tempat yang di penuhi oleh para bodyguard milik William, sedangkan Jafier bersama 7 orang pengawal datang dan tanpa rasa takut ingin berjalan masuk ke sana.


"Menyingkir, aku ingin bertemu dengan William." Ucap Jafier tenang.


"Maaf tuan, kami di perintahkan untuk melarang siapapun masuk ke dalam, itu pesan tuan William, anda sebaiknya mundur."


"Kau mengancamku?"


"Itu tergantung keinginan anda tuan, kami hanya menjalankan perintah. Pengawal di belakang Jafier mengeluarkan senjata dari balik jasnya dan membidik langsung kearah sepuluh pengawal yang juga sama-sama mengeluarkan senjata mereka.


"Pergi sekarang juga." Ucap Jafier dengan suara dingin penuh ancaman.


Pengawal itu tersenyum aneh, "Kalau itu mau tuan, silahkan lewat sini." Ucap pria berambut hitam itu.


Jafier berjalan cepat dan memasuki ruangan, dia melihat ruangan itu telah kosong, Willy dan Alyena telah berangkat, dia sudah terlambat setengah jam, Willy sengaja melakukannya agar pria itu terkecoh dengan jadwal keberangkatan mereka, dia ingin Jafier menganggap bahwa mereka berangkat lebih cepat dari yang seharusnya.


"Sial ! Brengsek kau Willy."


Jafier menelepon Audry, deringan pertama langsung dijawab olehnya.


"Kau dimana."


"Dimana lagi, aku berada di Detroit, di apartemenku."


"Kau tahu kemana Willy membawa Alyena?"


"Tentu saja, mereka berangkat ke Manchester."


"Tidak ada yang berangkat ke manchester malam ini."


Apa kau bercanda? tunggu sebentar aku akan menghubungi Willy sebentar lagi."


Audry mematikan ponselnya, sementara Jafier kebingungan, karena malam ini tidak ada keberangkatan menuju ke London.


"Sial !"


***


"Dia pasti akan memeriksa jadwal semua keberangkatan, Tch mana mungkin aku pergi begitu saja, sementara dia menempatkan pengawalnya di beberapa area, kita akan berangkat beberapa jam lagi, kau tidurlah, sebentar lagi kakak akan membangunkanmu." Ucap William. Mereka masih belum berangkat, William sengaja memperlihatkan dirinya di airport agar pengawal Jafier segera menghubunginya, dan mengira mereka telah berangkat, padahal Willy berencana akan berangkat sekitar jam 7 pagi, hal ini semua dilakukannya untuk mengecoh Jafier dan pengawal-pengawalnya.


Mereka masih berada di Area parkiran, tersembunyi di dalam mobil SUV hitam, tidak ada yang menyangka jika William mengamati mereka sejak tadi dari dalam mobil.


Kemarahan Jafier tidak bisa di bendungnya, dia telah kehilangan mereka, dia berjalan dia area parkiran dengan marah, lalu membuka pintu mobilnya, tidak lama mobilnya melaju bersama pengawal-pengawalnya. Willy berbalik dan melihat Alyena masih tertidur, sekarang jam 4 pagi, masih ada beberapa jam sebelum keberangkatan mereka.


"Selamat jalan Jafier, kau tidak akan melihat Alyena untuk selamanya."


***


York, kota kecil di utara inggris


"Kau sudah mengambil semua yang kau butuhkan?" Tanya Willy.


"Tentu kak Willy, aku sudah mengambil semuanya, kakak tenang saja, aku berangkat ya."


Willy mengantar Alyena sampai ke mobilnya. "Aku pergi, jangan lupa kakak harus makan siang, jangan bekerja terus sampai lupa makan."


Willy tersenyum. "Ok, hati-hati di jalan Alyena."


Alyena melambaikan tangannya kepada kakaknya, tidak terasa sudah 8 bulan sejak kepergian mereka dari Seattle dan melarikan diri dari Jafier, saat mereka telah tiba di kota kecil ini, Willy tidak lagi menyinggung nama Jafier. Sepertinya bagi kak Willy, memaafkan Jafier sangatlah berat, dia masih sangat marah kepadanya.


Alyena menyusuri kota York ini, dia baru saja akan memulai perkuliahaannya yang berjalan baru 1 bulan. Kota York adalah sebuah kota di North Yorkshier, inggris dekat Sungai Ouse dan Foss. Kota ini terkenal dengan kotanya yang tua yang menyisakan sejarah panjang mengenai kekaisaran romawi, jadi di kota ini banyak menyisakan bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun.


Alyena seperti biasanya mengendarai mobilnya dan sekitar 20 menit perjalanan dia sampai ke kampusnya, hari yang sibuk bagi Alyena, tetapi itu membuatnya senang dengan menyibukkan diri, dia tidak lagi mengingat pria itu, entah mengapa semakin hari dia selalu memikirkannya, meskipun dia ingin meningkarinya tetapi jantungnya akan berdegub kencang tatkala mendengar nama itu disebut.


Sekedar informasi, Nick dan Clara telah mendengar langsung bahwa Alyena berkuliah di kota kecil ini, dan mereka berdua tidak disangka turut menginginkan berkuliah di tempat yang sama meskipun dengan jurusan yang berbeda.


Alyena tersenyum ketika melihat dua sahabatnya itu sedang duduk di atas rerumputan sambil mengobrol, perkuliahannya akan dimulai 30 menit lagi, jadi dia memiliki cukup waktu untuk mengobrol bersama dengan mereka.


"you're late."


Ucap Clara sambil menunjuk Alyena dari kejauhan, Alyena hanya mengangkat bahunya dan tersenyum kepada keduanya.


"Kalian saja yang terlalu cepat datang, sepertinya kalian berdua serius sekali, kalian sedang membahas apa?" Tanyanya. Hanya sebuah pesta yang ingin di kunjungi Nick, dia ingin mengajak kita, tetapi aku menolaknya, terakhir kali gara-gara dia, kau mengalami masalah serius dan harus pergi ke kota ini." Ucap Clara.


"Kalian tidak tahu, ibuku sangat menunggu-nunggu pesta ini, dia mengharapkanku datang ke pesta penting itu, untuk mewakili ayah dan ibuku, jika tidak, aku akan segera di pulangkan ke Seattle, Jadi C'mon kalian berdua temani aku Ok."


"Aku sih ok saja, tapi bagaimana dengan Alyena? Kak Willy tidak akan membiarkannya pergi ke pesta itu begitu saja, dia akan menghadapi masalah, tapi sampai kapan kakakmu itu seperti itu Alyena? dia terlalu Over protektif padamu." Ucap Clara.


Alyena hanya mengangkat bahunya, pertanyaan itu sudah lama dia dengar dari Audry kakaknya, dia selalu bertengkar dengan Willy, karena dirinya yang terlalu Over kepada Alyena.


"Jadi bagaimana Alyena, kau ikut kan?" Ucap Nick sambil mengatupkan jari-jarinya memohon kepadanya.


"Ermm, Ok aku akan ikut, tetapi aku akan bicara dengan kak Audry bukan kepada Kak Willy, dia tentu saja akan menyetujuinya, dia pun sangat senang mendandaniku." Ucap Alyena, dia bersyukur bahwa Audry sudah tinggal bersama mereka, sehingga dia banyak membantu Alyena untuk keperluan belajar berpakaian yang trendy, stylish dan belajar menggunakan make-up yang benar.


"Kalau begitu aku akan pergi ke rumahmu, kita akan di make-up oleh kak Audry." Ucap Clara.


"Aku ikut." Ucap Nick mengangkat tangannya.


***


Pria itu berdiri di sudut, dia sedang mengisap cerutunya, sambil memegang Wine di tangannya, pesta seperti ini sangat membuatnya bosan, apalagi semenjak beberapa bulan ini terasa kosong baginya, dia hanya kerja dan kerja. Kabar mengenai Willy pun simpang siur, semenjak mereka berdua pergi, Jafier masih mencari mereka, tetapi dia sama sekali tidak menemukannya.


"Kau sedang sendirian?"


Suara itu terdengar sensual dan menggoda, seorang wanita mendekatinya, dengan gaun minim berwarna merah menyala, dengan lipstiknya yang Full dengan warna merah menggoda, dia lalu berdiri di samping Jafier dan menautkan kedua tangannya ke lengan Jafier.


"Kau sepertinya memiliki segudang masalah yang bertumpuk di pikiranmu, aku bisa meringankannya jika saja kau menginginkanku malam ini bersamamu." Ucap wanita yang menyandarkan kepalanya di lengan Jafier.


"Jika kau sudah tahu, begitu banyak masalah yang bertumpuk di kepalaku, jadi sebaiknya kau pergi, aku tidak tertarik dengan j4lang sekarang ini." Ucap Jafier mengabaikan wanita itu yang terlihat tersinggung dan langsung pergi meninggalkannya.


***


"Bagaimana penampilanku?" Ucap Alyena kepada mereka berdua. Mereka mengacungkan jempol tetapi kepada Audry yang telah sibuk mendandani mereka.


"Kak Audry memang hebat, Alyena tampak seperti putri inggris di kerajaan." Ucap Nick.


"Jadi, kalau aku apa?" Tanya Clara menatap datar Nick.


"Kau bisa jadi ibu tiri Putri." Ucap Nick sambil tertawa dan lari dari serangan Clara yang mau memukulnya dengan Stilettonya.


"Kak Audry, katakan kepada kak Willy nanti ya, kami akan segera pulang koq."


"Jangan khawatir, bersenang-senanglah." Ucap Audry, dia mengantar mereka bertiga naik keatas mobil limousine yang telah di sediakan khusus untuk kepergian mereka ke pesta.


Setelah 30 menit perjalanan menuju tempat yang di tuju, mereka bertiga akhirnya tiba di pesta itu, pesta itu bukan sembarang pesta, para pengusaha terkenal dari berbagai negara akan turut hadir di tempat ini, dan Nick mewakili keluarganya yaitu keluarga besar Wedny turut hadir di pesta penting malam ini.


Mereka bertiga masuk ke dalam ruang pesta, suasana di dalam tentu sangat elegan dan sangatlah mewah, tentu saja karena orang-orang yang datangpun bukanlah sembarang orang.


"Trus, kita akan kemana, Nick." Ucap Alyena.


"Cari tempat duduk, dan kalian bisa mengambil makanan di sana dan membawanya ke meja ini." Ucap Nick. Clara memutar bola matanya.


"Kau pikir kami seidiot itu? tentu saja kami akan bersenang-senang dan berkenalan dengan pria-pria tampan yang sejak tadi melirik ke arah kita." Ucap Clara.


"Tentu saja sudah pasti mereka tidak melirik kepadamu." Ucap Nick sambil terkekeh.


"Kalian berdua tidak bisa tenang dan...


"Bolehkah aku sedikit berbincang dengan Nona yang cantik ini?" Suara pria itu baru saja terdengar dari arah belakang Alyena. Seorang pria muda yang tidak di kenalnya, dia terus memperhatikan ke arah Alyena sejak dia memasuki ballroom ini.


"Kau mengenalnya?" Bisik Nick.


"Tentu saja tidak." bisik Alyena. Pria itu tersenyum. Seakan mereka bertiga sangat lucu, hingga dia tertawa. "Maafkan aku, tetapi kami agak terburu-buru." Tolak Alyena.


"Kau yakin?"


"Tentu saja, kami harus segera pergi."


"Memangnya kita mau kemana Alyena, apa kau sedang terburu-buru?" Ucap Nick sambil mengerutkan alisnya.


"Dasar idiot." Ucap Clara menggelengkan kepalanya melihat betapa tidak mengertinya pria satu ini.