
Flashback
"Masuk dan jangan bertingkah aneh atau aku akan melakukan sesuatu yang akan kau sesali.
Dia mengikuti apa yang diucapkan Rudith, dia masuk di antara pohon-pohon dan berjalan di depannya, sementara gadis itu memegang benda tajam yang di ambil dari dalam tasnya dan mencoba menakuti Alyena.
"Masuk lebih dalam lagi, aku tahu kau itu pengecut Alyena, kau hanya berlindung di bawah ketiak kakak-kakakmu, kau bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri dan beraninya menggoda pria-pria dengan tampang lugumu itu.
"Sudah selesai kau mengoceh? Apa yang kau inginkan datang ke rumahku, Rudith. Kau itu sakit Rudith, kebencianmu kepadaku tidak beralasan. Apa yang membuatmu begitu membenciku? Apa karena kau iri dengan semua yang kudapatkan?" Ucap Alyena.
Dia lalu tertawa seperti orang gila. "Aku? iri padamu? Kau terlalu besar kepala Alyena, membandingkan dirimu denganku, membuatku ingin muntah."
"Kalau begitu kenapa kau melakukan semua ini kepadaku. Apa karena otakmu sudah tidak beres, sehingga kau menyerang orang dengan tidak beralasan?" Ucap Alyena jengkel.
"Hati-hati mulutmu itu Alyena, jangan mencoba memprovokasiku, semua ini gara-gara kau j4lang !" Ucapnya.
"Kenapa gara-gara aku, hidupmu yang kau anggap menyedihkan, kenapa kau limpahkan kesalahan kepadaku?"
"Karena aku tersiksa, aku tidak tenang jika melihatmu tertawa bebas dan bahagia Aku ingin segera melenyapkanmu, Alyena. Kau membuat hidupku hancur ..." Ucapannya di akhiri dengan seringai mengerikan dari wajahnya. Dia berlari dan mendorong Alyena, lalu membabi buta menyerangnya.
Rudith menyerang Alyena sekuat tenaga, hingga dia terjatuh di tanah, dia memukul bibir Alyena hingga berdarah, Alyena sekuat tenaga melawannya dan menarik rambutnya keras hingga tubuhnya ikut tertarik ke belakang, dia kemudian mendorongnya menjauh dari tubuhnya. Alyena mengambil kayu dan menyerang Rudith, tetapi Rudith dengan liar menyayat tangan Alyena hingga berbekas. Mereka berguling di tanah saling menyerang, Rudith duduk di atas tubuh Alyena dan mencekiknya sekuat tenaga. Alyena berusaha menjangkaunya. Tetapi tangannya sekuat tenaga mencekik lehernya hingga kakinya meronta-ronta. Wajah Alyena mulai memerah.
Langkah kaki itu terdengar mendekat di antara pepohonan, dia memasang sesuatu di giginya dan membunyikannya.
Klak, klak
Gadis itu berhenti sejenak, dia berbalik ke kiri dan kanan mencari asal suara, lalu seseorang mendekat ke arahnya dan memukul kepalanya dengan kayu sekuat tenaga hingga Rudith jatuh pingsan. Pria itu mendorong tubuh Rudith menjauh dari atas tubuh Alyena dan segera memanggil-manggil namanya.
"Nona Alyena, nona Alyena sadarlah." Pria tua itu mengambil talkie walkienya dan segera menghubungi pengawal agar mereka segera datang.
***
Willy berlari-lari membawa Alyena ke ruang gawat darurat, Alyena segera di baringkan dan segera di bawa keruangan lain oleh beberapa perawat untuk mendapatkan penanganan. Dokter segera masuk dan memeriksa kondisinya.
Sementara Willy dan Jafier menunggu di luar ruangan, Audry berlari-lari dan terlihat shock ketika mendengarnya.
"Bagaimana Alyena, bagaimana keadaannya." Tanya Audry khawatir, wajahnya terlihat pucat.
"Dia tidak sadarkan diri, gadis gila itu menyerangnya hingga Alyena mengeluarkan banyak darah." Ucap Willy merasa tidak berguna sebagai kakak yang tidak bisa melindungi adiknya.
Terdengar langkah kaki tiga orang pria. Dua diantaranya melaporkan semua yang terjadi. Salah satunya yang ikut adalah pria tukang kebun yang merawat bunga-bunga di taman. Dia menundukkan sedikit tubuhnya.
"Aku pernah melihat anda berbincang dengan adikku di taman." Ucap Willy merasa heran melihat pria tua itu datang ke rumah sakit.
"Iya tuan, saya mengobrol dengan Nona Alyena karena dia menyukai bunga-bunga di taman, dia selalu menceritakan kisah ayah dan ibunya kepada saya." Ucapnya.
"Alyena bercerita kepada anda? tapi kenapa?" Tanyanya heran.
Willy menatap pria tua ini dengan curiga. "Kaulah yang membunyikan suara-suara aneh itu, seperti suara aneh yang di keluarkan oleh pria itu." Ucap Willy menuduhnya.
"M-maafkan saya tuan, saya tinggal di dekat pohon di belakang taman, pada saat gadis itu mengganggu Nona Alyena, saya memiliki ide menirukan suara tuan Nick. Saya sudah tua, tidak sanggup untuk menghadapi anak-anak muda itu, saya berniat menakuti-nakuti saja tuan, tetapi sepertinya apa yang saya lakukan menambah panjang masalah jadi saya berhenti. Tetapi tiba-tiba Nona Alyena datang bersama wanita itu. Dia mencekik Nona Alyena, jadi saya yang memukul gadis itu hingga pingsan, tuan." Ucap Tom.
Willy mengambil napas. "Jadi kau menyamarkan suaranya? Aku pikir pria mengerikan itu hidup kembali, aku seperti mau jantungan ketika mendengar beritanya." Ucap Willy. Pintu itu terbuka nampak dokter baru saja keluar.
"Bagaimana keadaannya dokter? tanya Jafier sangat khawatir, dia mengikuti dokter itu.
"Untung saja lukanya tidak dalam, sehingga kami bisa menangani dengan cepat, mungkin pasien akan sedikit shock karena cekikan kuat yang di alaminya tadi, tapi dia akan baik-baik saja, bekas sayatan serta pukulan di bibirnya telah kami obati dengan baik."
Mereka semua mengambil napas lega. Willy menutup wajahnya dengan tangannya. "Syukurlah, aku takut sekali jika lukanya parah." Matanya berpindah kepada para pengawal yang masih berdiri di sana.
"Urus segera wanita itu. Aku tidak mau dia masuk penjara begitu saja, dia harus menerima hukuman karena berani mengganggu keluarga Collagher. Kau tahu bagaimana mengurusnya. Buat dia mengaku dengan mulutnya sendiri, karena saya yakin, gadis sinting itu tidak mau mengakui kesalahannya. Setelah dia mengaku, bawa dia ke kantor polisi dan segera siapkan bukti-buktinya. Aku ingin gadis itu mendekam di penjara selamanya."
"Baik tuan."
Kedua pengawal itu pergi, begitupun Tom yang memberi sedikit hormat dan segera berbalik. Willy menghentikan jalannya. Dia kemudian berbicara dengannya.
"Aku ingin berterima kasih padamu, Tom. Berkat pertolonganmu, Alyena dengan cepat bisa di selamatkan. Saya mengucapkan terima kasih."
Pria itu tersenyum kepadanya. "Jangan berterima kasih tuan William, itu sudah tugas saya melindungi nona Alyena dari semua yang mengganggunya. Dia adalah majikan saya dari Almarhum ayahnya Nick. Dia Nona besar kami dari keluarga Adams." Dia menunduk sebentar dan segera pergi dari sana. Semua kata-katanya membuat Willy terdiam. Ada sesuatu yang kurang disukainya ketika mendengarkan ucapan pria tua itu.
"Dari keluarga Adams? Tsk, Alyena adalah Collagher, bukan keluarga Adams. Tidak ada yang bisa merubah nama itu untuk Alyenaku." Gumam Willy ketika menatap pria tua itu dari kejauhan.
***
Napasnya berat dan sesak, dia tidak bisa bernapas, tubuhnya ingin segera menyingkirkan apapun yang mencekiknya hingga dia kesulitan bernapas. Peluh membasahi kening Alyena, alisnya berkerut, dia bermimpi buruk.
Matanya tiba-tiba membuka, dengan cepat dia memegang lehernya karena kesulitan bernapas. Napas Alyena memburu, matanya kini menerawang melihat ruangan familiar dan infus di tangannya, dia akhirnya menyadari dia ada di mana.
Sekarang pukul 2 dini hari, Alyena menatap kiri dan kanannya, dia melihat Willy sedang berbaring di sofa, sedangkan Jafier duduk di samping tempat tidurnya. Alyena menyentuh pelan tangan Jafier. Sentuhannya membuat dia terbangun.
"Kau sudah bangun, sayang. Bagaimana tubuhmu, apakah masih ada yang sakit? Aku akan segera memanggil dokter." Ucap Jafier sambil membelai rambut Alyena, dan mengambil saputangan menyingkirkan keringat yang ada di keningnya. Alyena menggeleng.
"Aku baik-baik saja. Aku tadi bermimpi buruk." Ucap Alyena. Mata Jafier terlihat fokus di bibirnya. Alyena lalu memegang bibir yang di pukul oleh Rudith.
"Aku jelek ya, sekarang wajahku pasti lebam. Ugh kau menatapku karena wajahku pasti kebiruan dan jelek." Ucap Alyena mencoba menutupi wajahnya. Jafier memegang tangannya perlahan dia mengecup pelan bibir Alyena. Dia lalu tersenyum
"Kau cantik seperti biasanya." Bisik Jafier. Dia berhati-hati mengecup bibir Alyena. lalu mengusap kepalanya. "Tidurlah Alyena, kau harus banyak istirahat." Alyena mengangguk dan segera menutup matanya, efek obatnya masih bekerja sehingga tidak lama kemudian Alyena tidur dengan cepat.
Jafier mendengar suara-suara di belakangnya dan berbalik menatap Willy. "Kau bangun? Aku tidak menyadarinya." Ucap Jafier. Dia lalu berdiri dan berjalan di depan Willy yang memandangi Alyena yang sedang tertidur.
"Willy, sekarang aku mengatakan kepadamu dengan sungguh-sungguh. Aku tidak mau menundanya lagi. izinkan aku menikahi Alyena. Aku mencintainya dan dia mencintaiku." Ucap Jafier.
Willy menatap Jafier dengan pandangan membunuh, tetapi dia kembali melihat Alyena. Dia mau adiknya berbahagia. "J-jangan mendesakku. Aku akan memikirkannya. Aku akan melihat bagaimana sikapmu kepada Alyena dan aku harus merasa yakin dulu kalau wanita-wanita gila sudah tidak ada lagi di sampingmu." Ucap Willy dengan suara tidak sabar.