
Kota Zurrch
Alyna berlari cukup jauh, dia melihat ke belakang, dan bersyukur paman itu tidak mengejarnya. "Kenapa aku sial sekali hari ini." Ucapnya, dia akhirnya sampai di tempat yang di tuju, Market yang menyediakan semua kebutuhannya, apalagi super market itu besar dan harganya pun cukup miring di bandingkan harga yang ada di pasar Gimmelwald, Alyena berjalan sambil mendorong trolinya dan melihat-lihat berbagai macam kebutuhan sehari-hari yang akan dibelinya.
•••
"Apa yang terjadi Javier, ada apa dengan tanganmu?" Willy menatap tangan javier yang sejak tadi di pegangnya terus.
"Bukan hal yang penting, hanya ada kucing kecil yang menggigit tanganku tadi." Jawabnya sambil mengibaskan tangannya.
"Kucing?" Ucap willy sambil menatap pelayan yang masih berdiri di sana dengan tubuh gemetar.
"Maaf, aku terlambat, tadi penerbangannya sempat tertunda, bagaimana jika kita berangkat sekarang ke desa itu." Javier mengangguk menyetujui. Willy segera keluar dari cafe itu, sementara Javier berbalik menatap pria yang berdiri kaku di sebelahnya. Dia mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada pemilik Cafe.
"Segera hubungi aku jika kau melihat gadis itu lagi."
Manager cafe mengambilnya dengan gemetar, "B-baik tuan, saya akan menghubungi anda jika gadis itu kembali ke cafe kami." Pria itu keluar dari cafe, akhirnya dia bisa bernapas lega, meskipun dia tahu siapa pria yang memberikannya kartu nama, tetapi dia tetap mengambil kartu namanya. Seorang pria menghampirinya, ketika kedua pria tampan itu telah keluar dari Cafe.
"Siapa dia, kelihatannya kau takut sekali." Tanyanya.
"Bodoh, kau tidak tahu? Dia tuan Jafier Alvaro, pengusaha nomor 1 di Amerika dan Eropa, jika dia mau, hanya jentikan jari dari tangannya Cafe ini akan hancur lebur dan kalian semua akan jadi pengangguran, jadi kita harus berhati-hati kepadanya, baca majalah ini dan kau akan tahu siapa pria tadi." Dia memberikan majalah Forbs yang di pegangnya, kepada pria yang ada di sampingnya.
•••
Alyena telah membeli semua kebutuhannya, dia mendorong trolinya dan segera membayar belanjaannya, dia sangat bersyukur, masih ada beberapa Franch swiss yang tersisa di dompetnya, dia harus menyisihkannya untuk di tabung agar suatu hari dia bisa berangkat ke negara raksasa itu.
Alyena berdiri di stasiun kereta api dan menunggu bis yang akan datang 10 menit lagi, meskipun dia bisa naik kereta ekspress yang hanya memakan waktu tidak sampai sejam untuk bisa sampai di desanya, tetapi dia lebih memilih naik bis, selain biayanya murah, perbedaannya hanya 1 jam perjalanan dan hari ini dia tidak begitu terburu-buru untuk pulang.
•••
Sir Alfon berjalan hilir mudik dengan gelisah, orang-orang sampai memandanginya, dia menatap kembali dari kejauhan, "Sudah waktunya makan siang, Alyena belum kembali juga." Ucapnya sambil meremas-remas jarinya, Sir Alfon berjalan menuju Villa yang berada di seberang Mansion, villa mewah yang sengaja di bangun sebagai tempat bersantai dan menikmati makan siang ataupun malam, yang berada tidak jauh dari perkebunan anggur, di sana telah duduk tuan Regan sambil menyesap wine dan menikmati pemandangan indah perkebunan anggur.
Kilian berbalik menatap ke pintu luar ketika melihat pria tua itu datang kepadanya, dia melepaskan topinya. "Tuan, erm gadis itu tidak bisa makan siang dengan anda, dia telah berangkat ke kota beberapa jam yang lalu, saya sudah sempat mengejarnya, tetapi saya terlambat beberapa menit ketika dia telah naik bis menuju ke kota."
Pria itu masih menatap perkebunan anggur tanpa melihat bagaimana gugupnya pria yang berdiri di sampingnya, rambut coklat perunggunya tertiup angin siang itu, wajah tampan dengan garis rahang yang tegas, matanya terlihat tajam ketika mendengar laporan darinya.
"Dia kemana?"
"Dia ke kota, tuan. Setiap bulan setelah menerima upah, Alyena biasanya pergi ke kota untuk membeli barang kebutuhannya."
"Hemm benarkah, bukan masalah Alfon, kau bisa kembali dan menikmati makan siangmu."
"Baik tuan."
Sir Alfon pergi meninggalkan pria itu, dia tersenyum, tatapannya beralih ke gelas wine yang berada di tangannya. Meskipun gadis itu bukan seseorang yang penting yang harus di pikirkannya tetapi melihat penolakan gadis itu terhadap wine yang dibuat di perkebunan ini, membuatnya sedikit tertarik dan ingin bertemu dengannya, dia ingin agar gadis itu menyadari bahwa wine yang dibuat dari hasil perkebunan ini sangat lezat dan berbeda dengan kualitas anggur dari tempat lain.
•••
Akhirnya Alyena telah sampai di perbatasan desanya, dia berjalan beberapa menit untuk sampai di rumahnya, barang belanjaannya pun tidak begitu banyak, hingga dia bisa menikmati waktunya berjalan santai dan menikmati pemandangan indah di desanya, padang rumput yang luas, angin berhembus sejuk dan dingin, tetapi Alyena sudah terbiasa dengan suhu dingin di desanya.
"Dingin." Ucap willy, dia mengambil jaket tebalnya meskipun dia melihat cuaca cerah di luar sana.
Mobilnya melaju cukup pelan ketika melintasi daerah itu, meskipun bukan jalanan bebatuan yang tidak mudah di lewati, tetapi jalanan itu cukup terjal dan para pengendara harus berhati-hati ketika melintasinya.
Dua mobil mewah melintasi jalanan menuju desa yang terkenal dengan kebun anggurnya yang luas, dan semua itu milik keluarga Regan. Pria itu bersandar di kursi mobilnya, matanya terus mengawasi pemandangan alam yang indah dari kaca mobilnya, dia melihat seseorang berjalan dengan mantel busa yang menutupi separuh tubuhnya dengan menenteng barang bawaan yang cukup banyak.
"Ada juga yang berjalan kaki di tempat sejauh ini?" Gumamnya.
Matanya sempat melirik kepada pejalan kaki itu, dia tidak melihat dengan jelas wajahnya karena tertutupi oleh penutup dari jaket yang digunakannya. Dia melewatinya begitu saja, matanya beralih ke kaca spion dan menatap dari kejauhan.
Tuan Kilian Regan telah berdiri di depan mansion menyambut kedatangan dua pemilik perusahaan raksasa yang ingin bertemu dengannya, dua pria itu telah tiba di mansion milik keluarga Regan, beberapa pengawal dengan sigap membuakakan pintu mobil mereka.
"Selamat datang di keluarga Regan tuan-tuan, saya tidak menyangka mendapat kehormatan besar ini bisa bertemu dengan anda yang terkenal." Ucapnya kepada mereka berdua, mereka saling berjabat tangan dan mempersilahkan kepada kedua tamunya untuk masuk ke dalam mansion.
•••
"Ugh akhirnya sampai juga, lelahnyaaa." Ucap Alyena ketika sampai di dalam rumahnya, dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk dan meluruskan kakinya yang telah berjalan cukup jauh, meskipun bagi Alyena perjalanan itu hanya mengambil waktu beberapa menit saja.
"Aku harus membongkar belanjaanku dan menatanya, setelah itu membuat makan siang dan aku bisa sedikit beristirahat, pikirannya tiba-tiba teralihkan kepada sosok pria yang di temuinya di Cafe tadi, dia kemudian mendengus.
Langit sore hari yang indah, memancarkan warna merah dan oranye, tampak tergambar indah dilangit sore itu, seperti biasa Alyena akan menikmati waktunya di atas bukit, tempat biasa ibunya berjalan-jalan dan duduk di sana bersama ayahya. Tempat itu merupakan tempat khusus dan sangat special buat Alyena, dia bisa melupakan kesedihannya dan merasa dekat dengan ayah dan ibunya, dia duduk seorang diri di sana sambil bersenandung.
Tetapi, dia berhenti berjalan ketika melihat seseorang berdiri di sana, Alyena bersembunyi di balik pohon-pohon besar, sehingga orang itu tidak bisa melihatnya.
"Siapa pria itu? Kenapa dia ada di tempat mommy? Apa dia pendatang baru?" Ucap Alyena, dia tidak suka jika ada seseorang yang datang ke tempat specialnya.
Pria itu berwajah tampan berambut hitam dengan mata hazel yang terang, wajahnya terlihat sedih ketika berdiri di sana, setelah beberapa menit, dia seperti menghapus sesuatu di wajahnya dan segera pergi dari bukit itu. Alyena masih sembunyi di sana diantara pepohonan, pria itu tidak menyadari keberadaan Alyena. Setelah pria itu pergi, Alyena akhirnya bernapas lega dan berjalan ke tempat biasanya dia menghabiskan waktunya.
Rasa penasaran menghampirinya, siapa pria itu? dia bukanlah orang yang tinggal di desa ini. "Tch, siapapun dia, dia tidak boleh berada di tempat specialku ini." Ucap Alyena sambil menggelengkan kepalanya dengan tidak suka.
•••
Alyena kembali ke rumahnya ketika menjelang malam, meskipun tampak terang dan suasanya terlihat masih sore hari tetapi sekarang menunjukkan jam 7 malam, dia harus segera kembali ke rumahnya dan menyiapkan makan malam untuknya, Alyena membuka pagar rumahnya ketika saat itu mereka saling bertatapan, pria itu adalah tuan Regan yang sedang berkuda dan hendak kembali ke mansionnya.
"T-tuan, sore eh malam." Ucap Alyena dengan gugup.
Kilian menatap gadis itu dan beralih kepada rumah yang berada di depannya.
"Kau tinggal di sini?" tanyanya.
"ya tuan, saya tinggal di sini." ucap Alyena dengan suara kecil, entah mengapa dia memiliki perasaan tidak senang jika tempat tinggalnya diketahui pria ini.
Dia kemudian melihat tangannya, lalu menatap Alyena. "Tanganku sedikit terluka ketika melewati semak belukar tadi, kau punya obat?"
"A-apa, Ah ya tuan, silahkan masuk." Ucap Alyena dengan gugup, dia membuka pagarnya lalu membiarkan pria ini masuk setelah mengikat tali kekang kudanya di pembatas pagar.
Dia menatap rumah itu, rumah itu layaknya seperti sebuah Villa di dominasi dengan kayu dibandingkan dengan batu. Pria itu mengikuti Alyena sampai masuk ke dalam rumahnya. Kembali matanya menerawangi ruang kecil namun bersih dan rapi, tercium wangi lavender yang dominan di ruangan itu.
"S-silahkan suduk tuan, saya akan mengambil kotak obatnya."
Alyena berjalan cepat menuju dapur dan membuka lemari untuk mencari kotak obat yang selalu dia sediakan jika tangannya terluka ketika memetik buah anggur, lemari itu cukup tinggi hingga Alyena harus berjinjit untuk mengambilnya.
"Kenapa aku menyimpannya di atas sana, apa yang kupikirkan." Ucapnya selagi menggapai-gapai kotak obat yang hanya menyentuh bagian ujung jarinya. Dia terus berjinjit, tanpa dia sadari wangi Wood dan mint yang kental menusuk hidungnya, pria itu telah berada di belakangnya mengambil kotak obat itu dengan mudah.
"Kau ingin mengambil ini?" Ucapnya.
Dengan sangat terkejut Alyena refleks berbalik dan menabrak tubuh pria itu. "Ouch, m-maafkan aku." Ucap Alyena. Pria itu masih berdiri di sana, tidak ada suara yang keluar darinya, dengan takut-takut Alyena mengangkat kepalanya dan hendak menatapnya, dan tanpa dia sangka pria itu memandangnya, suasana aneh nampak janggal terasa bagi Alyena.
Kenapa dia tidak menyingkir? posisi ini membuat salah paham ketika ada orang yang melihat, apa yang dipikirkannya?
"P-permisi tuan, bisakah anda mundur beberapa langkah, saya tidak bisa bergerak dengan posisi seperti ini." Ucap Alyena terjebak di antara lemari dapur dan tubuh pria itu.
Pria itu seperti sedang mengendus sesuatu, rasa aneh dan tidak mengenakkan terdengar di telinga Alyena.
Apa dia mengendus rambutku? aku belum pakai shampo sejak kemarin.
"Lavender, kau menggunakan shampo dengan wangi lavender?"
"A-apa, iya tuan, tetapi bisakah anda mundur, aku tidak bisa....
Kedua tangan pria itu tiba-tiba berada di antara sisi kepala Alyena, dia membungkuk sedikit hingga wajah mereka dapat sejajar. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya.
"Haaah, apa maksud tuan, aku sebenarnya?" Ucap Alyena tidak mengerti. Wajah mereka begitu dekat hingga Alyena seperti berhenti bernapas ketika merasakan napas pria itu tepat di depan wajahnya. Matanya tajam meneliti setiap jengkal wajah Alyena dan memperhatikannya lekat-lekat.
"T-tuan sudah malam, aku harus....
"Sst, jangan bicara, aku mecoba menenangkan diriku," Ucapnya. Tatapannya masih memindai wajah Alyena, membuat jantungnya berdegup tidak menentu, panas dingin dapat dirasakannya. Mereka saling menatap dalam diam, Alyena mencoba mengalihkan matanya, tetapi pria itu menarik dagunya agar dia menatapnya.
"Jangan menghindariku apalagi menolakku, kau mengerti." Ucapnya, seperti sebuah janji yang mengerikan di telinga Alyena.
Alyena yang terkejut dengan ucapan itu, begitu saja menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Bagus," pria itu akhirnya memberikan jarak diantara mereka berdua, dia segera berjalan dan keluar dari dapur, Alyena berjalan mengikutinya, meskipun kakinya lemas tak tertahankan.
Pria itu berbalik dan tersenyum tipis kepadanya. "Kau tidak perlu mengobatiku." Ucapnya, hanya itu saja yang dia ucapkan, kemudian pria itu keluar dari rumah Alyena dan menutup pintunya lalu beranjak dari sana.
Alyena terduduk dilantai dengan jantung berdegub kencang. "Kenapa dia seperti itu kepadaku?" Alyena betul-betul takut, dia memegang dadanya agar detak jantungya kembali normal.