
Malam itu dokter max datang ke kediaman Collagher, terburu-buru masuk ke dalam rumah dan mulai memeriksa madam Janet, "Dia mengalami shock, dia harus banyak istirahat, jangan biarkan dia mengalami emosi berlebihan, tidak baik untuk jantungnya." Nyonya Collagher mengangguk, mengantar dokter max keluar kamar.
"Anda dokter max? bagaimana keadaan nenekku?apakah dia baik-baik saja?" tanya Grace dengan memasang wajah sedih dan khawatir.
"Dia akan baik-baik saja jika banyak istirahat dan menjaga emosinya tetap stabil." Jawab nyonya Collagher. Dokter max hanya tersenyum menatap grace yang duduk berhimpitan di sebelahnya.
"Menginaplah malam ini dokter max sepertinya hujan tidak akan reda malam ini, bahaya jika anda berkendara malam-malam begini." Kata nyonya Collagher, yang langsung di setujui grace yang memegang lengan dokter max. "Menginaplah dokter max, aku tidak punya teman mengobrol." Rajuknya.
Nyonya Collagher hanya menggeleng melihat Tingkah laku Grace yang genit itu. "Tuan Ollie antarkan dokter max ke kamarnya."
Tuan Ollie menunduk padanya.
"Baik nyonya." Tuan Max silahkan ikut dengan saya."
Max melepaskan tangan Grace yang mendekapnya. Dia berjalan mengikuti tuan Ollie, matanya mencari-cari sosok ruzy tapi tidak di temukannya di rumah seluas ini.
Tiba-tiba wajahnya tersenyum senang melihat Ruzy yang membawa peralatan makan dari atas meja.
"Sebentar tuan Ollie saya perlu bicara dengan nona Ruzy, katakan saja di mana kamar tamunya."
Mata Ollie membulat dan menunduk. "Di lantai dua sebelah kanan tuan max." Dia tersenyum kepada tuan Ollie dan dengan cepat mengejar Ruzy.
"Ruzy? sebelum dokter max memanggil ruzy seseorang menarik ruzy lalu memeluknya, dokter max memandang mereka di kegelapan malam, dia berhenti dan menyembunyikan dirinya di balik tanaman liar.
Alex memeluk ruzy dan menempelkan erat tubuh Ruzy ke tubuhnya, ciuman-ciumannya membuat ruzy kehabisan napas, "Alex lepaskan...aku tidak bisa bernapas." Alex tidak menghiraukan perkataannya, dia mencium bibir Ruzy dengan rakus, sehingga ruzy tidak bisa memijakkan kakinya di tanah, Alex kini menggendongnya membawanya di taman dekat sungai, mereka bercumbu tanpa mengetahui seseorang tengah menatapnya.
Getaran panas menjalar di sekujur tubuh dokter max, melihatnya mencumbu ruzy membuatnya semakin ingin memilikinya, tetapi sesuatu menarik perhatiannya, bukan hanya dia yang berada di situ, seseorang tengah berdiri diseberang sungai di kegelapan malam, bermantel panjang menutupi wajahnya, dia terkekeh menatap dokter max yang bersembunyi di balik semak. Dokter max terkejut dengan sosok itu.
Dia kembali ke kamar tamu yang disediakan untuknya, dia duduk memikirkan seseorang yang berdiri di dalam hutan. Siapa orang itu? mungkinkah dia pelakunya? tiba-tiba wajah Ruzy terbersit di ingatannya "Sial ! tidak akan kubiarkan kau memiliki Ruzy seorang diri Alex ! aku tidak akan menyerah begitu saja." Tangannya mengepal mengingat kejadian tadi.
~
"Kau menyakitiku Alex!" teriak ruzy padanya. Alex menyadari ketika tangannya tengah menjelajahi tubuh Ruzy dan tanpa sadar menggigit pundaknya dan memberikan tanda.
Ruzy mendorongnya, memperbaiki bajunya yang sedikit terbuka.
"Maafkan aku sayang, aku tidak sadar, aku terlalu bergairah malam ini."
"Tanda kebiruan di tubuhku belum menghilang Alex, dan kau menambahnya lagi!" Kata Ruzy jengkel, mengibaskan bajunya dari dedaunan yang menempel. Alex membantu Ruzy menghilangkan dedaunan di tubuhnya. "Maafkan aku sayang kau sangat...."
"Sepertinya kalian bersenang-senang malam ini, siapa wanita ini Alex?"
Suara Grace yang tajam menatap Alex dan Ruzy yang berada di taman, Grace membuntuti dokter max dan mendapati mereka bercumbu.
"Alex seleramu betul-betul rendah, seorang pelayan?? aku betul-betul tidak percaya, apakah bibi Susan tahu jika kau meniduri pelayan rendahan ini?" atau kau perlu bantuanku? Dia bersedekap memasang wajah jijik ke arah Ruzy.
PLAK, Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Grace.
"PERGI ! SEKARANG !" teriaknya, Membuat Grace berjengit ketakutan baru kali ini Alex terlihat menakutkan. Alex memegang kepalanya, lalu sikapnya kembali tenang ketika melihat ruzy yang membeku di tempatnya.
"Apa yang harus aku lakukan Alex? bagaimana kalau nona Grace memberitahu nyonya Collagher dan dia memecat kami?" Wajahnya pucat Seketika. Alex memeluk Ruzy menenangkannya.
"Biar aku yang mengurusnya sayang."
~
"Sialan ! wanita jalang itu mendahuluiku, padahal tubuhku lebih seksi dibandingkan wanita kotor itu selera Alex sangat rendah." gumamnya sambil mengompres pipinya yang memerah.
'Klak...
"Suara itu lagi, Grace berjalan ke jendela kamarnya mencari sumber suara, 'hehe, terdengar kekehan seorang pria .
"Tunjukkan dirimu brengsek, kau....". Grace terperanjat pria bermantel itu masuk melalui jendelanya.
"Keluar dari sini atau aku akan teriak !" Ancamannya tidak berguna sama sekali, dia melangkah ke arah Grace, mengendap-endap lalu menarik Grace kepelukannya, memegang erat tangannya, lalu membungkam bibirnya. Grace mencoba berontak tetapi tubuh pria itu begitu kuat, diangkatnya Grace di pundaknya, wajahnya kini terlihat oleh Grace.
"Bukankah kau yang kemarin?" mengapa kau melakukan ini? aku akan membayarmu tapi lepaskan aku dulu." Geraman menakutkan keluar dari pria itu. "Uang? aku memiliki semuanya...kau akan menjadi koleksiku yang cantik sayang!"
Mata Grace membulat, dia mencoba teriak lalu menghentakkan tubuhnya agar terjatuh dari pundak pria itu. tetapi tidak ada gunanya sekali dia menangkapmu tidak ada yang bisa lolos darinya.
~
Teriakan ruzy menggema di kamar itu, desahan demi desahan lolos dari mulutnya, gerakan alex membuat ruzy mendesah, kini dia telah memiliki ruzy sepenuhnya. Setelah beberapa bantuan kecil dari alex, ruzy teriak, menemukan pelepasannya. Gemuruh napasnya seperti tersiksa, tubuhnya sangat sakit dan perih. Mereka berpelukan di kabin milik alex.
~Siang itu.....
Hari ini giliran ruzy berangkat ke pasar, dia pergi bersama Jessy dan salah satu pelayan yang pernah membantu ruzy. Wajah Alex tidak suka memandang keakraban diantara keduanya.
Dia menculik ruzy dari dalam pasar, dan menyuruhnya masuk ke mobilnya. Dia membisikkan sesuatu ke supirnya, dia mengangguk lalu berlalu meninggalkan alex dan ruzy.
"Kita akan kemana Alex? aku harus segera pulang, jelas ruzy menatap Alex yang seperti tidak mendengarnya.
"Aku ingin memilikimu hari ini ! kau pikir aku tidak tahu bagaimana dokter max pernah menciummu, dan bagaimana dengan pria latin itu yang selalu menatapmu?" Alex menggeram, dia sangat marah mendengar dokter max menginginkan ruzy dan pernah membawa ruzy ke rumahnya, dia tanpa sengaja mendengar pembicaraan Nick dan Ricky tentang dokter max yang mencium paksa ruzy.
Ketika sampai di kabin, Alex menyerang ruzy dengan bertubi-tubi, sampai mereka lupa menghentikan percintaan mereka, hingga akhirnya alex betul-betul memiliki ruzy sepenuhnya.
"Kau baik-baik saja? tanya Alex padanya. Mata Ruzy berkabut, dia berbalik memandang mata hitam yang berada di sampingnya tersenyum padanya. ruzy mengangguk.
"Aku baik-baik saja". Kata Ruzy dengan wajah memerah. "Kau masih nyeri?" tanya Alex tanpa malu, membuat ruzy menyembunyikan wajahnya di balik selimut. "Ya, sedikit."
Alex mengecup dahinya, "Sekarang kau sudah menjadi milikku ruzy." Alex mendekapnya lembut mereka tertidur tanpa mengetahui penculikan terjadi di kediaman Collagher.