Flower On The River

Flower On The River
Vol 68



Alyena membuka matanya perlahan, baru kali ini dia merasakan tubuhnya seakan telah melakukan pekerjaan berat karena sendi-sendinya seakan mau copot, Alyena tidak sadar mengerang ketika dia sedikit menggoyangkan tubuhnya, karena sakit di tubuh sensitifnya. Alyena menatap punggung polos itu yang sedang membelakanginya, ketika merasakan pergerakan Alyena, dia berbalik dan mereka saling menatap.


"Morning." Ucapnya sambil memberikan kecupan kilat di bibirnya.


"Pagi Ouch, sakit." Ucap Alyena refleks ketika dia menggerakkan kakinya.


"Apa sakit?" Ucap Jafier. Alyena mengangguk tetapi senyumnya terlihat di wajah cantknya. Jafier lalu bangun begitu saja tanpa mempedulikan ke telanjangannya di depan Alyena. Sedangkan Alyena membelalakkan matanya, dia ingin mengalihkan pandangannya, tetapi dia sedikit penasaran mengapa tubuhnya sakit di tempat tertentunya. Dengan sembunyi-sembunyi dia menatapnya, dan sekali lagi dia membelalak. Apakah that thing betul-betul berada di dalam dirinya? Pikir Alyena hingga pipinya kembali merona.


"Berhenti berpikir yang tidak-tidak, Alyena. Tubuhmu masih sakit, dan aku tidak akan bisa melakukannya." Ucap Jafier. Dia melangkah ke tempat tidur dan mengangkat Alyena dengan mudah.


"Jafier, setidaknya b-biarkan aku mengenakan handuk, bagaimana jika ada yang datang ke pulau ini?" Ucap Alyena.


"Tidak ada yang akan datang ke pulau ini sayang, di pulau ini hanya kita berdua saja, aku tidak mengizinkan siapapun menginjakkan kakinya di pulau milik kita, bahkan pengawal dan pelayan, aku sudah memerintahkan mereka untuk tidak ke villa ini, jadi biar aku yang melayani istriku di Villa ini selama kita berbulan madu."


Alyena mengangguk memutuskan mempercayai Jafier tentu saja. Dia membiarkan Jafier membawanya ke kamar mandi, setibanya di kamar mandi, air hangat dan wewangian menyambut Alyena, dengan lembut dan perlahan, Jafier menurunkan Alyena di dalam bathub.


"Bagaimana, apakah panasnya cocok untukmu?" Ucap Jafier. Alyena mengangguk sambil tersenyum.


"Mm rasanya menenangkan membuatku rileks, trima kasih Mr Alvaro." Ucap Alyena.


Jafier memberikan kecupan di bibirnya, "tentu Mrs Alvaro." Senyum Jafier, dia membelai lembut tengkuk Alyena dan memijat sedikit punggungnya


"Apa kau mau aku ikut bergabung?" Ucap Jafier sambil melengkungkan bibirnya ketika melihat wajah khawatir Alyena.


"Hanya mandi tanpa melakukan apapun, aku berjanji." Dia mengangkat tangannya seperti sedang bersumpah.


"O-oky, tapi kau harus memegang janjimu, aku tidak bisa melakukannya lagi, jafier." Gumam Alyena cepat.


Senyuman Jafier mengartikan sesuatu, dia kemudian bergabung bersamanya.


***


Hari itu mereka berencana mengelilingi kota Venicia, suasana romantis tentu saja akan menyambut kedua pengantin baru itu. Tetapi sayang sekali karena Alyena masih tidak begitu kuat untuk berjalan-jalan, jadi mereka memutuskan menghabiskan waktunya di villa menikmati deburan ombak serta pemandangan indah pantai di depan Villa mereka, pemandangan indah dan romantis seakan membuat Jafier dan Alyena larut dalam kemesraan mereka berdua, hingga matahari begitu terik, mereka baru melepaskan diri masing-masing ketika perut Alyena berbunyi nyaring.


Jafier tertawa mendengar bunyi indah dari perut Alyena. Jafier lalu mengangkat Alyena, membiarkan Alyena duduk di depan Villa sambil menikmati pemandangan indah di depan Villa, sementara itu Jafier masuk ke dalam dan akan menyiapkan makan siang mereka.


"Hari ini aku yang akan memasak, dan melayani Mrs Alvaro, oke?" Alyena tersenyum sambil mengangguk.


***


Sudah dua minggu mereka berada di Venice, kota romantis itu pun telah mereka jelajahi bersama dan menikmati beragam wisata menyenangkan mereka berdua. Saatnya mereka berdua kembali ke London. Mereka berdua telah tiba di bandara, mobil jemputan telan menunggu mereka berdua tetapi ketika mereka keluar dari pintu, Harbert telah menunggu di sana dengan para pengawalnya.


"Senang sekali berjumpa dengan tuan dan Nyonya. Sebelum tuan William datang menjemput, aku ingin Nyonya mengunjungi mansion milik tuan Nick, dan menerima gelar kebangsawanan keluarga Adams karena kami telah lama menunggu saat hari ini tiba." Ucap pria itu.


Alyena menatap Jafier. "Lakukan yang kau inginkan sayang, lagi pula kita jangan menundanya lagi, jika tidak, dia akan datang terus di hadapan kita dan mengingatkan mengenai gelar kebangsawananmu, sepertinya inilah waktunya sayang." Ucap Jafier.


"Baiklah, kau benar Jafier. Kita pergi sekarang." Mereka berdua masuk ke dalam mobil Limousine berwarna hitam, sesaat mereka telah berangkat, mobil Willy baru saja muncul untuk menjemput mereka.


Seorang pengawal berlari-lari menghampiri William. "Tuan, sepertinya mereka mendahului anda, dia membawa Nyonya Alyena ke Londo."


"Ck sial."


Ponsel William berdering, dia menatap layar ponsel itu. "Alyena kau pergi kemana? kenapa kau pergi ke tempat itu?"


"Tenang kakak, aku hanya menambah jadwal bulan maduku bersama Jafier di mansion milik ayah, kau jangan khawatir aku akan segera kembali, jaga kesehatanmu kak Willy." Alyena lalu menutupnya.


"Kita kembali." Ucap William sambil menggeleng. "Apa? menambah jadwal bulan madu? Apa Jafier yang mengajar Alyena kata-kata itu, awas saja kau Jafier." Mobil mereka akhirnya kembali ke penthouse.


***


Bangunan tua itu terletak jauh dari pusat kota, mansion dengan arsitektur unik serasa berada di abad pertengahan. Alyena merasa seperti masuk ke kediaman bangsawa di abad pertengahan.


"Wah hebat, apakah ini mansion milik Ayah?" Ucap Alyena ketika dia baru saja keluar dari mobil setelah masuk dari pintu gerbang yang cukup jauh.


"Iya Nyonya, dan sekarang mansion ini adalah milik anda, meskipun terlihat tua, mansion ini bernilai tinggi." Ucapnya, para pelayan dan pengawal telah berbaris rapi di sana menyambut kedatangan Alyena. Mereka berdua masuk dan menikmati keindahan mansion yang tiga kali lebih luas dari mansion milik kakaknya.


"Bagaimana? anda menyukainya?" Ucap pria itu. Alyena mengangguk senang, "Ya, sangat indah, aku seperti berada di mansion keluarga bangsawan, iya kan Jafier." Ucap Alyena. Jafier mengangguk. "Kau benar sayang, mansion ini pasti memiliki sejarah panjang."


"Anda benar tuan, silahkan lewat sini, saya akan menunjukkan kamar utama anda dan Nyonya." Mereka bersama-sama berjalan lau naik ke lantai dua, di sana terdapat satu-satunya pintu berwarna coklat, dia membukanya dan mempersilahkan Alyena dan Jafier masuk.


"Sebaiknya anda berdua beristirahat, anda pasti lelah." Dia undur diri dan menutup pintu itu. Alyena menatap kamar tidur mereka, sangat luas dan mewah, barang-barang yang ada di dalam kamar telah tersedia untuk mereka berdua. Alyena bahkan tercengang melihat lukisannya bersama Jafier di pajang di dinding kamarnya. Kamar Alyena menghadap langsung ke arah taman dan terlihat sungai buatan mengalir deras di bawah sana, sehingga pemandangannya sangat indah dan terlihat spektakuler.


Jafier memeluk Alyena dari belakang, dia menyandarkan dagunya di tengkuknya. "Kau suka di sini?" Ucap Jafier sambil memberikan kecupan kecil di leher jenjangnya.


"Aku menyukainya Jafier, tetapi dimanapun tempatnya asalkan kau ada di sana, aku menyukainya." Ucap Alyena.


"Jangan mencoba menggodaku, karena kau pasti ingin beristirahat karena sangat lelah." Ucap Jafier. Alyena membalikkan tubuhnya dan menyandarkannya di dada Jafier.


"Bagaimana kalau aku menginginkannya sekarang, aku tidak lelah, aku membutuhkanmu." Bisik Alyena. Satu bisikan Alyena membuat Jafier mengangkat Alyena dan membawanya ke tempat tidur berukuran king size di kamar itu.


***


Makan malam telah tersedia, mereka menyiapkan segalanya dengan sempurna. Alyena menatap tuan Harbert berdiri di sana, melayani keperluan mereka.


"Mr. Harbert duduklah bersama kami, kita makan bersama." Ucap Alyena, permintaannya tentu saja tidak bisa di tolaknya.


"Terima kasih Nyonya Alyena." Ucap Harbert, mereka berbincang-bincang setelah sambil makan menanyakan mengenai seputar mansion dan keluarga Adams. "Bagaimana jika kami mengadakan pesta di mansion ini? Kami ingin mengundang teman-temanku, bagaimana?"


"Kedengarannya sangat menyenangkan, bagaimana Harbert?" Ucap Jafier


"Tentu saja Nyonya, itu merupakan keberuntungan kami melayani tamu-tamu Nyonya, sudah lama mansion ini tidak mengadakan pesta, kami juga merencanakan membuat penyambutan kedatangan kalian berdua."


Malam itu terasa panjang, mansion tua itu mengingatkan Alyena akan ayahnya sewaktu ia kecil. Dia bisa merasakan ayahnya berada di setiap koridor di mansion ini berlari-lari dan menjelajahi mansion dengan kaki kecilnya, bersama orang tuanya.


"Apa yang kau pikirkan Honey?" Ucap Jafier memeluk pinggang Alyena dan mendaratkan ciuman di tengkuknya. "Hmm, aku memikirkan Dad, aku merasakan keberadaan Daddy saat dia berlari-lari ketika masih kecil di mansion."


Alyena membalas pelukan Jafier. "Aku menginginkanmu Jafier, sekarang." Ucap Alyena sambil melompat dan menyilangakn kedua kakinya di pinggang Jafier. Senyuman terlihat di wajah Jafier.


"Kapan saja sayang." Bisik Jafier. Ciumannya mendarat di bibir penuh itu, sehingga mereka telah berada di atas tempat tidur menikmati waktu mereka berdua.


***


Hari itu adalah hari yang special, karena dia telah mengundang teman-teman dekatnya untuk hadir di pesta yang mereka rencanakan. Segala persiapan telah siap, Alyena telah mulai mengenal pelayan di mansion itu satu persatu, sehingga dia tidak sungkan lagi memanggil nama mereka.


Satu persatu keluarga dan teman-teman mereka telah tiba di mansion. Clara dan Nick tiba paling awal, mereka lalu memeluk Alyena.


"Katakan, apa kami telah memiliki keponakan?" Ucap Nick. Clara memukul lengannya.


"Apa sih yang kau tanyakan, tentu saja belum, mereka masih membutuhkan waktu yang banyak untuk mereka berdua menghabiskan waktu dan bercinta, semua itu butuh proses, Nick."


"Berhenti membicarakan percintaan orang lain, bagaimana dengan kalian, aku menunggu undangan dari kalian." Sebuah mobil baru saja masuk dan dia Audry. Dia membuka pintu mobilnya dan menghambur bersama mereka. Dia memeluk Alyena dan menatapnya.


"Coba kulihat wajahmu Alyena, apa ini efek karena kau telah menikah? Kau terlihat semakin cantik." Ucap Audry. Dia lalu memegang perutnya. " Apa ponakanku belum datang ke dunia ini?" Ucap Audry sambil memegang perut rata Alyena.


Satu mobil kembali masuk ke parkiran mansion, dan dia adalah Willy, hal yang paling membuat tercengang mereka semua adalah karena Willy datang tidak seorang diri, dia datang bersama seorang gadis cantik, dia membukakakannya pintu, gadis itu terlihat cantik dan terlihat kikuk dan kaku. Willy menjambret tangan wanita itu dan membawanya kedepan mereka semua.


"Bagaimana kabarmu Alyena." Ucap Willy memberikan kecupan di kening adiknya. Alyena tersenyum.


"Aku baik kak." Matanya beralih kepada gadis di samping kakaknya.


"Oh ya, perkenalkan namanya Ivy Ainsley," Ucap William sambil memegang posesif pinggang gadis itu, dia terlihat tegang dan tidak terlalu nyaman dengan sentuhan Willy.


"Dan dia adikku Alyena." Ucap Willy, gadis itu sepertinya setahun atau dua tahun lebih tua di bandingkan Alyena. Dia memiliki senyum manis dan ramah kepada mereka semua.


"Senang akhirnya bertemu dengan gadis yang datang bersama dengan kak Willy, dan menjadi pendampingnya." Ucap Alyena. Gadis itu tersenyum malu-malu.


"Terima kasih telah mengundangku, aku senang bisa bertemu dengan kalian semua." Ucapnya


"Jangan sungkan." Ucap Alyena sambil tersenyum. Mereka akhirnya masuk dan melanjutkan cerita mereka di dalam mansion


Pesta itu di hadiri oleh teman dekat saja, sehingga suasananya tidak begitu ramai, mereka makan malam bersama sambil berbincang, Alyena memperhatikan Willy dan gadis itu, dia terlihat menurut dengan Willy, hubungan apa yang sebenarnya mereka miliki? Alyena sangat penasaran melihat mereka berdua.


Clara dan Nick sejak tadi menatap sembunyi-sembunyi Willy dan gadis itu. "Kau yakin paman Willy tidak memaksanya? wanita itu menuruti semua kemauannya, aku curiga bagaimana hal ini bisa terjadi." Ucap Nick.


"Sepertinya dia adalah versi Alyena yang penurut, karena sekarang Alyena kita sudah berubah, dia sedikit pembangkang dan liar, aku yakin paman Jafier kesulitan menghadapinya di tempat tidur." Ucap Clara.


"Kalian tahu? tidak ada gunanya kalian berdua berbisik, kami bisa mendengar semua pembicaraan kalian." Ucap Audry.


Setelah makan malam, mereka mengadakan pesta di halaman mansion, halaman itu telah di rubah menjadi pesta kebun. Musik pun mengalun di taman mansion. Alyena dan Jafier berdansa, sementara Audry mendorong Nick dan Clara untuk berdansa bersama.


"Aku tidak melihat kak Willy." Ucap Alyena.


"Jangan khawatir sayang, dia sedang sibuk dengan wanitanya." Ucap Jafier kembali mengalihkan perhatian Alyena.


"Kenapa, kau cemburu?"


"Tentu saja tidak, aku bersyukur ada seseorang lagi yang akan menerima proteksi berlebihan Kak Willy." Ucap Alyena sambil tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di dada Jafier.


"Jafier? Apa kita semua berakhir bahagia? Aku harap seperti itu." Ucap Alyena tiba-tiba. Jafier mengecup puncak kepala Alyena.


"Kita semua tentu saja berakhir bahagia, jangan khawatir, aku akan selalu berada di sampingmu." Bisik Jafier.


***


Sebulan sebelumnya


Langkah kaki itu memasuki koridor gelap yang sepi, dua orang officer menemani kepala pelayan mansion, tidak lain adalah Mr Harbert.


"Silahkan lewat sini." Ucap mereka. Sebuah ruangan khusus yang dibuatkan untuknya. Kaca jendela tebal menjadi pemisah, seorang pria duduk di sana, mata coklat dan rambut coklatnya terlihat telah memutih sepenuhnya dengan wajah keriput menghiasi wajahnya.


"Selamat malam Tuan Nick, aku sangat senang bisa bertemu dengan anda." Ucap Harbert dengan keahliannya dalam bersikap tenang. Pria itu berbalik menatap kearah kepala pelayannya di mansion orang tuanya itu.


"Halo Harbert, aku senang kau menemuiku sebelum aku pergi. Aku sudah menuliskan surat wasiat untuk putriku. Setelah ini aku tidak akan pernah ada lagi di dunia ini, jika aku masih ada, berarti itu bukan aku. Kau mengerti maksudku? Jadi, jangan berusaha membuatku keluar dari sini, apapun yang terjadi, apapun yang kuminta jangan mengeluarkanku, kau mengerti?"


"Aku mengerti tuan Nick, seminggu lagi, Nona Alyena akan menikah, aku akan segera mengunjunginya.


"Bagus." Senyum Nick.


"Aku percayakan semuanya padamu." Bisik Nick. Tiba-tiba dia menunduk, dia menunduk begitu lama. Suasana hening dan mencekam dapat di rasakan Harbert.


"Tuan Nick, anda baik-baik saja? Tuan Nick?" Ucap Harbert. Pria itu lalu mengangkat kepalanya, mata tajamnya tepat menatap wajah Harbert.


"Halo Harbert, lama tidak berjumpa, aku ingin meminta sesuatu padamu, keluarkan aku dari sini, Klak."


Harbert lalu berdiri dengan cepat. "M-maafkan aku tuan Juan, aku harus pergi." Ucap Harbert. Senyuman terpancar di wajahnya.


"Kalau begitu berikan salamku kepada putriku dan menantuku tersayang. Suatu hari aku akan mengunjungi mereka. Klak."


Harbert berlari-lari meninggalkan koridor gelap itu dan segera meninggalkan penjara terbesar yang ada di amerika.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi tuan juan, selama aku masih hidup."