
Jafier baru saja keluar dari mobilnya, dia mengenakan pakaian Casual berbalut jaket panjang dan jeans. Dia tersenyum tipis, tampak kerinduan di wajahnya ketika melihat Alyena berdiri di sana.
"Aku merindukanmu Alyenaku." Dia berjalan dengan langkahnya yang lebar menuju ke tempat Alyena berdiri.
"P-paman." Bisik Alyena.
Kakinya tidak bisa beranjak, dia terdiam mematung di sana, kedua tangannya terbuka lebar, dia lalu memeluk Alyena dengan begitu erat, dia tidak perduli dengan Alyena yang marah padanya, dia hanya memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya di rambut Alyena dan menghirupnya dalam-dalam.
Tubuh Alyena kaku, meskipun begitu Jafier tidak berhenti untuk melepaskan pelukannya, dia lalu mengangkat kepalanya agar dapat melihat wajah Alyena.
"Kau semakin cantik." Bisik Jafier. Dia menarik dagu Alyena dan menciumnya, Alyena tidak siap dengan semua itu, Jafier selalu melakukan dengan semaunya, dia menciumnya dan memegang tengkuknya agar Alyena tidak bergerak.
Alyena mendorongnya sekuat tenaga, dia tidak mau pria ini menciumnya tepat di depan gerbang mansion, di sana banyak para penjaga yang berdiri di sana.
Bibir jafier masih melekat erat ke bibi Alyena, dia kemudia melepaskan ciumannya saat Alyena bernapas dengan kesusahan.
Setelah Jafier melepaskan ciumannya dia memegang tangan Alyena dan membawanya ke mobilnya.
"Aku tidak mau ke mana-mana, aku mau menunggu kak Willy." Ucapnya.
"Aku masih ingin bersamamu." Ucapnya.
Alyena melepaskan tangannya dengan paksa, tetapi Jafier memegangnya kembali, Alyena tidak mau pria ini berbuat semaunya saja, dia lalu menggigit lengan Jafier yang refleks dia lepaskan pegangannya dari tangan Alyena.
Sementara Alyena berlari masuk ke dalam mansion. "Ck, aku kan marah kepadanya, kenapa dia bersikap seperti tidak pernah terjadi apapun, sama seperti Kilian regan, Tch, mereka semua sama saja."
Alyena yang kabur dari tangan Jafier menjadi tontonan yang menyegarkan dari para pengawal yang berjaga di sekitar mansion, jafier lalu masuk kedalam mobilnya dan masuk ke pelataran parkir mansion.
"Kenapa kau lari-lari seperti itu Alyena? Bagaimana kalau kau nanti jatuh? Siapa yang mengejarmu?" Ucap Audry.
Suara langkah kaki membuat Audry berbalik dan benar saja sesuai dengan yang di perkirakan dia adalah Jafier.
"Kau datang? Di mana kak Willy." Tanyanya.
"Dia memiliki urusan penting dengan seorang model yang meraung-raung di bandara, jadi sepertinya dia harus menyesaikan dulu urusannya." Ucap Jafier, matanya terpaku pada Alyena yang duduk di samping Audry.
Jafier lalu duduk di sebelahnya dan membalikkan tubuhnya kemudian menatapnya. "Kenapa kau lari Alyena, apalagi kau sudah pandai menggigit." Ucap jafier sambil memperhatikan Alyena yang sedang memainkan ponselnya.
Tanpa ragu jafier memegang tangan Alyena dia menghentikannya dari bermain ponsel saja.
"K-karena kau menciumku." Ucap Alyena terus terang, sementara Audry menatap Jafier dengan marah.
"Maafkan aku, aku sangat merindukanmu Alyena, jadi aku tidak bisa menahan-nahannya lagi, lagi pula, kita akan segera menikah."
"Siapa yang akan menikah dengan paman?" Ucap Alyena dengan wajah marah menatap ke arah jafier, dia dengan seenaknya memutuskan sendiri.
"Kau akan menikah denganku."
"Tidak mau."
"Kita akan lihat saja nanti." Ucap Jafier sambil melengkungkan bibirnya menatap Alyena.
Sementara Alyena mendengus dan memalingkan wajahnya jauh-jauh. Jafier terkekeh, dia suka melihat perlawanan dari Alyena.
"Sudahlah Jafier, jangan mengganggu Alyena lagi, apa kau tidak ada kerjaan? Bukannya kau sibuk bersama Willy?"
"Cukup sibuk, tapi aku punya banyak waktu untuk Alyenaku." Ucap Jafier santai seakan yang dikatakannya hal yang wajar.
"Euh, apa sih yang kau katakan Jafier, lihat saja wajah Alyena, dia ketakutan mendengarmu." Ucap Audry menahan tawa, sementara Alyena ingin beranjak dari tempat duduknya, tetapi Jafier yang lincah memegang tangannya dengan erat.
"Kau tidak akan kemana-mana, aku masih ingin melihat wajah istriku."
Audry tergelak mendengar ucapan Jafier yang membuat Alyena merinding. Sementara Audry menganggap ucapannya sangat lucu, meskipun dia mengacak rambut Alyena agar bersabar.
"Apa aku harus pergi meninggalkan kalian berdua?"
A-aku ikut kak Audry." Cicit Alyena memegang pinggang Audry.
"Lihat, dia takut kepadamu Jafier, jadi sebaiknya berhenti menyebut menikah di depan Alyena, atau dia akan lari darimu." Peringat Audry. Jafier lalu berdecak, sementara tangannya masih menggenggam tangan Alyena dan menautkan jari-jarinya di antara jari Alyena.
"Aku mau makan malam dengan kalian, sebentar lagi juga Willy akan datang, dia harus membereskan model itu dulu, dia wanita mengerikan yang menyusahkan."
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kau tidak baca berita?"
"Wanita itu ingin agar Willy bertanggung jawab, katanya kehamilannya sekarang sudah 1 bulan, dan Willy harus menikahinya."
"Apa yang dikatakan Willy?"
"Dia bilang dia pertama kali bertemu dengan wanita itu."
"Apa dia yakin? Willy kan pria petualang, aku ragu dia mengingat nama wanita terakhir yang tidur dengannya."
"Tch, dari mana kau dengar gosip itu Audry, apa kau lebih percaya berita sampah itu di bandingkan kakakmu sendiri?" Suara itu baru saja terdengar dari luar, Willy baru saja datang, matanya lalu menatap tangan Jafier yang masih memegang tangan Alyena, dia kemudian menarik tangan Alyena dan menjauhkannya dari tangan Jafier.
"Jangan memaksanya Jafier, bukankah kita sudah sepakat, sampai Alyena sendiri yang mengingkanmu, barulah aku mengabulkan pernikahanmu dengannya, tetapi kalau kau memaksanya, aku tidak akan membiarkannya berakhir denganmu."
"Berhenti membicarakan Alyena seakan dia tidak ada di sini." Ucap Audry sambil menggelengkan kepalanya.
"A-aku mau ke kamarku." Ucap Alyena, dia segera berjalan dan bersembunyi di kamarnya, dia mengunci pintu kamarnya, dia bersandar di belakang pintu lalu memegang bibirnya yang telah di cium oleh Jafier. Jantungnya berdetak kencang sekali lagi, "Ini karena aku takut kepadanya, bukan karena kehadirannya di mansion ini." Gumam Alyena meyakinkan dirinya.
Alyena menghabiskan waktunya berchat bersama Clara dan Nick, mereka betul-betul penghiburnya di kala dirinya sedang sendiri. Satu ketukan terdengar dari kamarnya.
"Alyena makan malam, kami menunggumu di bawah."
"Suara itu paman Jafier." Alyena turun dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan-lahan, dia kemudian menyandarkan tinganya di pintu agar dapat mendengarkan suara dari luar. Dengan perlahan Alyena membuka pintu kamarnya, dan akan segera turun, tiba-tiba seseorang memegang tangannya, Alyena terkejut, dia lalu berbalik dan menatapnya. Jafier sedang bersandar di samping pintu kamarnya, menunggu dia keluar.
"A-apa yang paman lakukan di sini?" Ucap Alyena dengan gugup. Tatapannya tajam memandang Alyena, dia tidak memalingkan wajahnya, dia kemudian memegang pipi Alyena dan menyelipkan rambutnya di keningnya.
Alyena tidak dapat beranjak, dia berjalan mundur lalu tersudut di dinding pintu kamarnya.
"P-paman mau apa?" Ucapnya, jantungnya berdetak kencang, Alyena merasa bisa mendengarkan detak jantungnya melaui telinganya. Jafier menelusuri wajahnya dengan jari tangannya, lalu perlahan Alyena tanpa sadar menutup kedua matanya, berharap-harap cemas. Suara seseorang tersenyum membuat Alyena kembali membuka matanya.
"Kau mengharapkanku menciummu?" Bisik Jafier menyandarkan satu tanganya di dinding, mengurung Alyena di dalamnya
"S-siapa yang mengharapkannya aku hanya....
Pipi Alyena merona merah, dia lalu memalingkan wajahnya karena malu. Jafier memegang dagunya agar Alyena menatapnya. Jafier lalu mencium Alyena membuatnya memekik karena terkejut, bibirnya saling bertautan, sementara Alyena memegang kemeja Jafier dengan kuat, tubuhnya akan jatuh jika saja Jafier tidak memegang pinggangnya. Setelah ciuman mereka yang panjang di depan kamar, Jafier lalu melepaskan bibirnya, dan memberikan kecupan kilat.
"Saatnya makan malam, William akan membunuhku jika dia tahu aku menciummu lagi." Ucap Jafier, dia memegang tangan Alyena hingga turun ke lantai satu sementara kaki Alyena masih belum kuat untuk berpijak, napasnya pun masih belum normal.
"T-tunggu, paman turun dulu, aku harus ke kamar mandi."
"Aku akan tunggu."
"Tidak mau, aku bisa turun sendiri."
Alyena berlari ke kamarnya, dia menguncinya dan mencoba menetralkan napasnya yang masih memburu, setelah mengambil napas panjang, dia akhirnya keluar dari kamarnya.
Mereka akhirnya makan malam bersama, meskipun kali ini Alyena tidak terlalu banyak bicara.
"Kau baik-baik saja Alyena?" Tanya William.
"Emm, ya aku baik."
"Kenapa kau diam saja."
"Itu karena ada Jafier bersama kita, Alyena tidak mau dipandangi terus oleh Jafier." ucap Audry
"Benarkah? Kalau begitu kau harus pulang Jafier, nanti Alyena diam terus gara-gara kau ada di sini." Ucap William.
Jafier hanya tersenyum, "Benarkah Alyena?"
"Apa?"
"Aku tidak begitu." Ucapnya, tetapi pipinya merah merona, dan jafier mengetahui apa yang diingat gadis di depannya ini.
"Besok aku yang akan mengantarmu ke sekolah."
"Apa?" Ucap Alyena, dia begitu terkejut.
"Sekalian aku sarapan pagi di sini, biar aku yang mengantarmu ke sekolah."
Audry mendengus mendengarnya. "Kalau kau selalu membuat ucapan yang mengagetkan begitu, lama-lama Alyena akan lari darimu."
"Coba saja lari, aku akan mengejarmu kemanapun itu."
"Apakah ini tantangan?" Ucap Audry.
"Jangan bercanda Audry, jangan berpikir untuk menyembunyikan Alyena dariku."
Setelah makan malam, Alyena kembali ke kamarnya, seperti biasa dia pasti mengunci kamarnya jika Jafier masih ada di mansion ini, dia tidak mau pria itu kembali masuk ke dalam kamarnya. Ponselnya lalu berbunyi dan dia adalah Kilian Regan.
"Halo."
"Halo Alyena, bagaimana kabarmu."
"Aku baik." Jawabnya.
"Apakah Jafier ada di sana?" Tanyanya.
"Ya, dia ada di sini, dia sedang berbincang dengan Kak Willy, kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mendengar suaramu saja, Oh ya mengenai pesta yang lalu jangan terlalu kau pikirkan."
"Emm tidak apa-apa, aku juga tidak terlalu memikirkannya koq."
Tiba-tiba ketukan terdengar cukup keras dari pintu kamarnya, Alyena lalu mengintip dan menatap melalui lubang pintu, dia lalu melihat jafier sedang berada di depan pintu dengan wajah marah, rahangnya terlihat terkatup rapat.
"paman Jafier? Kenapa dia memukul pintu kamar?" Gumamnya. Mata Alyena tiba-tiba membelalak, apakah dia tahu aku sedang menelepon dengan Kilian Regan? Dengan cepat Alyena lalu menutupnya.