
"Sesuatu mengganggumu Jafier? Sejak tadi kau diam saja." Willy menyadari sesuatu yang aneh telah terjadi pada pria yang duduk hadapannya.
"Tidak ada." Jawabnya.
"Kau yakin? Kau terlihat memikirkan sesuatu, apa ada masalah."
"Aku baik-baik saja."
Mereka melanjutkan makan, setelah itu mereka melakukan pertemuan dan berbincang, setelah lewat beberapa jam, mereka kembali menikmati waktu mereka masing-masing.
Willy sedang berdiri dan menatap perkebunan anggur yang luas terbentang di hadapannya, dia mengingat di desa ini ibunya menginginkan untuk tinggal dan menetap di desa kelahirannya, setelah itu dia bertemu dengan pria bernama Nick dan mereka memiliki seorang putri bernama Alyena, "Dimana dia sekarang?" Ucap willy. "Apakah dia baik-baik saja?" Willy mengambil ponselnya dan kembali menghubungi detektif yang masih mencari keberadaan Alyena.
°°°
Dia membuka pintunya dan menatap pria pemilik perkebunan itu dengan terkejut.
"T-tuan Regan?" Ucap Alyena
Dia berdiri di sana dengan mengenakan jaket hitamnya, wajahnya terlihat marah, entah menapa malam-malam begini dia datang dengan alis berkerut seperti Alyena telah melakukan kesalahan kepadanya.
"Kenapa kau pergi?"
"Maaf?"
"Tanpa mengucapkan apapun, kau tahu? Kantorku tepat berada di samping tempatmu tidur." Dia terlihat marah, wajahnya memberengut kesal, membuat Alyena salah tingkah dan tidak tahu apa yang akan di katakannya.
"T-tadi sore aku begitu terkejut ketika bangun, jadi aku pergi begitu saja tanpa pamit kepada anda, tuan." Ucap Alyena, ingin sekali dia memalingkan wajahnya, dia tidak tahan berlama-lama saling tatap dengannya.
Sekali lagi dia berdiri di sana tanpa mengucapkan apapun, membuat Alyena tidak tahan dengan suasana canggung yang terasa aneh dan menyesakkan ini.
"Aku ingin pergi ke gudang tempat penyimpanan anggur, kau boleh menemaniku, ada jenis anggur baru yang masuk ke gudang sore tadi, mungkin kau cocok dengan rasanya."
"Sekarang tuan?" tanya Alyena.
"Ya."
Pria itu lalu berbalik dan berjalan begitu saja, dia berjalan di depan, dengan Alyena yang berada di belakangnya, langkah yang begitu malas dan tubuh yang letih dan wajah yang cemberut, ingin sekali dia perlihatkan itu semua kepada pria di depannya ini kalau sekarang dia begitu lelah dan ingin segera tidur.
Alyena mengikuti kemana pria itu membawanya, mereka masuk ke dalam gudang bawah tanah yang berpenarangan redup, setiap koridor di lengkapi dengan lampu kecil, meskipun begitu penerangannya masih terlihat gelap.
Hal pertama yang harus kau ketahui sebagai seorang wanita adalah jangan pernah mengikuti seorang pria ke tempat yang gelap.
kata-kata bibi Rudith terus terngiang-ngiang di telinganya, tetapi sekarang ini, Alyena sedang melakukan hal yang terlarang itu, mengikuti pria pemilik perkebunan ini ke tempat yang gelap.
Alyna menjaga jarak sejauh mungkin dengan pria di hadapannya, dia masuk ke koridor 7 dan berhenti di depan lemari ke tiga, dia membuka lemari itu dan mengeluarkan sebotol anggur berwarna merah pekat, tuan Regan menutup kembali lemari itu dan berjalan ke tempat Alyena berdiri.
"Wine ini baru saja masuk ke dalam gudang, aku berpikir ini mungkin cocok untukmu dan kau tidak akan mudah mabuk, rasanya ringan, kau mau mencobanya?"
"A-apa, sekarang?" Tanya Alyena menatap pria itu dengan waspada, dia tidak tahu sejak kapan dia menjadi teman minum wine pria ini. Jika Rudith mengetahuinya dia pasti cemburu setengah mati.
Tanpa menunggu jawaban Alyena, pria itu mengambil gelas wine yang di sediakan di salah satu lemari, dia mengambil dua gelas dan memberikannya kepada Alyena.
"Cobalah." Ucapnya.
Alyena mencium aroma manis dari anggur yang ada di tangannya, dia meneguknya sedikit, tanpa sadar Alyena memperlihatkan ekpresi tidak suka di wajahnya.
"Kenapa? Kau tidak menyukainya?" Tanyanya cukup terkejut.
"Tuan, anggur ini memang manis tetapi bagiku rasanya terlampau manis dan aku tidak begitu menyukai yang....
Alyena terdiam melihat ekspresi pria dihadapannya, "kau tidak menyukainya?" Tanyanya.
"Suka, aku suka dengan semua anggur, tetapi kali ini sepertinya tidak begitu cocok denganku, tuan." Ucap Alyena dengan canggung.
Astaga, apa aku membuatnya sekecewa itu, mengapa dia meminta pendapatku? Dia kan bisa meminta pendapat orang yang betul-betul memahami tentang wine. Pikir Alyena.
Dia menghembuskan napasnya? apakah dia merasa seperti sebuah kesalahan membawaku mencicipi anggur mahal yang baru masuk ke gudangnya, kenapa juga dia menyuruhku mencicipinya, pria ini aneh.
"Dimana orang tuamu Alyena." Tanyanya tiba-tiba.
"Apa? Oh, mereka berdua telah lama wafat, tuan."
"Bagaimana dengan keluargamu yang lain?" Tanyanya.
"Erm, aku memilikinya, tetapi aku belum pernah bertemu dengan mereka." Ucap Alyena, terlihat canggung, dia tidak pernah menceritakan sesuatu yang pribadi kepada seseorang.
Dia terdiam sejenak, lalu berjalan mendekati Alyena dan berdiri tepat di hadapannya, matanya terus menatap wajah Alyena tanpa mengucapkan apapun, suasana yang tidak mengenakkan ini membuat Alyena ingin kabur dari ruangan gelap itu.
Saya masih 17 tahun, tuan. Ugh, apa aku harus mengatakannya? mengapa dia terus memandangku dengan wajah seperti itu, atau aku akan bilang, maaf tuan, saya tidak tertarik dengan anda, anda bukanlah tipe saya.
"Apa yang kau pikirkan, kau memiliki ekpresi wajah yang berbeda setiap saat."
"Apa? t-tidak ada yang saya pikirkan, tuan." Ucap Alyena dengan bibir bergetar, dia merasa ketakutan, dia ingin segera keluar dari tempat ini dan menjauh dari pria ini.
"Kau takut padaku?" Tanyanya.
"Apa? B-bukan begitu tuan, aku hanya...
Tiba-tiba saja tubuhnya telah terdorong ke belakang, dia terjebak di antara lemari anggur dan tubuh pria itu, Alyena terkejut dan ketakutan, tubuhnya terhimpit diantaranya, pria itu membuatnya tidak bisa bergerak, napasnya terdengar cepat, dan wajahnya begitu dekat dengan Alyena.
Ingin sekali Alyena berteriak, tetapi suaranya tidak bisa keluar sedikitpun, saking terkejutnya dia tidak mengucapkan apapun. Matanya membelalak ketika pria itu menghimpitnya. "Tuan, lepaskan saya, apa yang anda lakukan?" Ucap Alyena suaranya mulai bergetar.
"Kau harusnya tidak mengikuti seorang pria ke tempat sunyi seperti ini Alyena, kau terlalu ceroboh, membuat dirimu dalam bahaya, sekarang apa yang akan kau lakukan jika aku ingin melakukan sesuatu kepadamu, kau menolak anggurku untuk yang kedua kalinya, hem."
Matanya terus menatap wajah ketakutan Alyena, tangannya berada di pinggang Alyena, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku sudah bilang padamu, jangan menghindariku." Ucapnya sambil menarik dagu Alyena agar dia menatap wajahnya, Alyena betul-betul ketakutan, kakinya sangat lemah sekarang ini untuk berlari, apa yang harus di lakukannya? Pria itu tiba-tiba mengendusnya, membuat Alyena mendorongnya, meskipun dia sudah mendorong sekuat tenaga, pria itu tidak bergeming.
"Aku menyukai wangimu." Bisik pria itu di telinganya. Dia mendekati wajah Alyena tetapi tiba-tiba dia berhenti karena mendengar suara-suara dari luar pintu. Alyena mengambil kesempatan itu untuk meloloskan diri darinya, dia akhirnya terlepas dari pelukan erat pria itu. Alyena berlari cepat meninggalkan pria itu, dia ingin menangis tetapi sekuat tenaga dia menahannya. Dia membuka gudang itu dan berlari kencang, tanpa di sangka dia menabrak seseorang.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.
Malam itu begitu gelap sehingga Alyena tidak melihat siapa yang di tabraknya.
A-aku baik-baik saja." Ucap Alyena dengan suara bergetar.
Pria itu memegang tangan Alyena agar dia berdiri, karena sejak tadi dia terduduk di tanah.
"Apa yang kau lakukan di tempat penyimpanan anggur selarut ini, apa ada orang di bawah sana?" Tanyanya penasaran.
Suara langkah kaki membuatnya berbalik, dan menatap pria pemilik perkebunan anggur yang baru saja keluar dari gudang itu, dia mengangkat satu alisnya dan melihat ketakutan dari wajah gadis ini, sepertinya dia paham dengan situasi yang terjadi.
"Tuan William, apa yang anda lakukan malam-malam begini di luar?" tanyanya.
"Saya hanya sedang berjalan-jalan, dan kebetulan bertemu dengan nona ini, dia kelihatannya terburu-buru, sebaiknya anda pergi nona apalagi sudah sangat larut, kau mau kuantar?" Tanya willy.
"T-tidak, terima kasih." Ucap Alyena, dia menunduk sedikit dan akhirnya pergi meninggalkan dua pria itu. Dia berjalan sangat cepat agar dia segera sampai di rumahnya. Setelah tiba di rumahnya, Alyena mengunci rapat-rapat pintunya, bulu kuduknya meremang, tubuhnya terasa menggigil, dia masih bisa merasakan tangan pria itu ketika menyentuh pinggangnya.
°°°
William kembali ke kamarnya setelah berbincang sebentar dengan Kilian Regan, dia terkekeh lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Apa yang telah dia lakukan didalam gudang dengan seorang gadis? Gumam Willy. "Rupanya tuan Regan yang terkenal dingin itu suka bermain-main dengan pekerjanya." Ucap Willy.
Malam itu Kilian Regan berjalan, suara langkah kakinya terdengar pelan, dan berhenti tepat di depan rumah Alyena, dia berdiri di sana memandang rumah kecilnya, setelah memandang cukup lama pria itu akhirnya berbalik dan kembali ke mansionnya.
"Apa aku sudah membuatnya ketakutan?" Ucapnya, pria itu tersenyum, entah mengapa semua itu membuatnya lebih tertarik dengan gadis belia itu.
°°°
Pagi-pagi sekali Alyena terbangun, dia memikirkan kejadian semalam, dia masih ketakutan dan tidak ingin bertemu dengan tuan Regan. Dia menatap jam di atas meja dan segera beranjak dari tempat tidurnya, Alena membuat sarapan dan bekal seperti biasanya, pukul 7 lewat dia sudah keluar dari rumahnya.
"Alyenaaa." Teriakan itu membuatnya berbalik dan melihat Rudith, Nalia dan seorang pria yang menjadi pacar Nalia entah siapa namanya Alyena lupa.
"Baru sehari kita berpisah kami sudah merindukanmu Alyena," ucap Nalia sambil menepuk punggungnya.
"Ada apa denganmu, kenapa wajahmu pucat, apa kau di copet ketika pergi ke kota." Ucap Rudith sambil memperhatikan wajah Alyena.
"Aku masih mengantuk dan sedikit lelah." Ucap Alyena terlihat kesal, dia kesal dengan mereka berdua.
"Kau kesal dengan kami ya."
"Nggak tuh, harusnya kalian mengajakku, aku ingin bersama-sama dengan kalian." Ucap Alyena dengan sungguh-sungguh.
Mereka berdua tertawa dan mencubit pipi Alyena. "Aduhh cute sekali, hari itu kan kau ke kota, bagaimana aku bisa mengajakmu." Ucap Rudith sambil tertawa. Mereka memasuki perkebunan dan segera masuk ke ruang ganti, Alyena tampak waspada, dan terlihat tegang. Mereka berjalan memasuki kawasan itu, tampak dari jendela mansion seseorang berdiri di sana memperhatikan Alyena yang baru saja masuk ke perkebunan, sejak tadi dia menunggu gadis itu, dia melihatnya bercerita dengan teman-temannya dan tertawa lepas dengan mereka.
"Dia tidak pernah tertawa seperti itu di depanku." Ucapnya.
°°°
Gara-gara anggur ini aku harus berurusan dengan tuan Regan
Suasana hati Alyena tampak buruk saat memetik anggur-anggur itu dan meletakkannya di keranjangnya, Nalia sejak tadi memperhatikan sikap Alyena.
"Apa buah anggur itu melakukan kesalahan kepadamu, Alyena sayang? kau harus memetiknya dengan lembut, jika tidak, Sir Royand akan memarahimu jika nanti mereka mensortir buah anggur ini." Ucap Rudith.
"Apa yang membuatmu kesal?" tanyanya.
"Tidak ada." Jawab Alyena tanpa menatap wajah temannya, tangannya masih sibuk memetik buah anggur itu. Rudith melepaskan kaus tangannya dan memegang kening Alyena. "Tidak demam koq." Ucapnya.
Menjelang siang hari, bunyi bel sebentar lagi terdengar ke seluruh perkebunan, para pekerja akan berhenti mengerjakan tugasnya kemudian beristirahat dan makan siang. Hal itu membuat Alyena semakin takut, bagaimana jika Sir Alfon mencarinya lagi? apa yang harus di katakannya untuk menolaknya.
°°°
"Malam ini kita akan kembali ke Amerika, tetapi karena ada badai, sepertinya kita harus menunggu sehari lagi di tempat ini." Ucap William sambil berdiri di dekat pos perkebunan anggur dan memperhatikan orang-orang yang bekerja dan berlalu lalang di hadapan mereka.
"Aku ingin berjalan-jalan sebentar." Ucap Jafier kepada Willy, dia memasuki perkebunan yang luas itu, tampak pakaian biru terlihat sedang memetik buah anggur yang matang. Dia berjalan cukup jauh dan menikmati udara sejuk di tengah-tengah perkebunan. Suara gumaman seseorang membuat Jafier mencari asal suara dan sepertinya dia mengenal suara ini.
"Apa aku harus bilang aku sakit perut dan muntah-muntah? atau aku akan bilang ayahku dan adikku sedang sakit dan aku harus pulang merawat mereka, tetapi sepertinya itu tidak akan berhasil, aku kan sudah bilang kalau aku seorang diri dan tidak pernah bertemu dengan keluargaku, huuh apa yang harus kulakukan?"
"Jadi waktu itu kau berbohong padaku?" Ucapnya.
Alyena sangat terkejut mendengar suara seorang pria tepat di belakangnya. "Apa, apa yang anda lakukan di sini?" tanyanya.
"Apa yang kulakukan? aku hanya sedang berjalan-jalan dan mendengarkan kebohongan seseorang, kepada siapa kau akan berbohong Nona Alyena?"
"Kenapa paman tahu namaku?" Ucap Alyena tidak suka.
"Berhenti memanggilku paman, namaku Jafier." Ucapnya, sambil memperhatikan wajah gadis ini, sepertinya usianya masih sangat muda, mungkin sekitar 17 tahun, tetapi tinggi badan serta postur tubunnya terlihat dewasa. Mata coklatnya yang terang membelalak kepada Jafier.
"Sepertinya kau memetik buah anggurmu tidak cukup baik." Ucap Javier sambil mengambil beberapa anggur di keranjang milik Alyena dan memperhatikannya.
"Aku sedang sibuk, paman jangan menganggu kesibukan orang lain." Ucap Alyena dengan ketus.
"Oh ya? tetapi katakan kepadaku, kepada siapa kau akan berbohong?" tanyanya, dia tersenyum melihat kegugupan di wajahnya, matanya bergerak kekiri dan ke kanan.
"i-itu bukan urusan paman, aku harus bekerja, sebaiknya paman melanjutkan jalan-jalan paman saja." Hidung Alyena mendengus melihat wajah pria itu, dia tersenyum seakan perbincangan mereka lucu dan menarik.
"Alfon, hubungi Alyena, aku ingin makan siang dengannya." Ucap pria itu kepada Sir Alfon melalui sambungan telepon.