
Mereka tiba di penthouse Jafier, mereka berdua masuk dan makanan telah terhidang di atas meja makan, setelah meletakkan tasnya, Alyena masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangannya di westafel, terdengar suara-suara dari luar, Alyena mengintip sebentar dan mendengar Jafier sedang menelepon dengan seseorang, "Apa itu kak Willy yang sedang meneleponnya?" gumam Alyena.
Alyena baru saja keluar dari kamar mandi, ketika Jafier selesai menata sesuatu di atas meja.
"Wine?" Ucapnya.
"Paman minum Wine di siang hari seperti ini? bukannya paman akan berangkat ke kantor? setelah kita makan siang?" Ucap Alyena sedikit heran, dia lalu duduk di hadapan Jafier, senyuman terlintas di bibirnya.
"Tidak masalah sayang, aku biasa meminumnya setelah makan." Ucapnya.
"Oh ya?" Alyena memperhatikan wine itu, melihat botol wine mengingatkannya akan tuan Regan, dan Alyena juga tidak begitu menyukainya, dia lebih memilih meminum minuman bersoda di bandingkan minuman itu.
Mereka makan dalam diam, Alyena mengintip sembunyi-sembunyi pria yang makan tampak elegan di hadapannya, sementara dia sendiri makan dengan blepotan, bahkan terdengar suara-suara dari mulutnya. Alyena mencoba mengikutinya, agar dia tampak seperti dirinya, tetapi sayang sekali, dia tidak mampu melakukannya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Ha? tidak apa-apa."
"Kau terlalu diam hari ini, ada sesuatu yang terjadi, hem?"
"Tidak ada paman, semuanya baik-baik saja." Ucap Alyena sambil menyelipkan rambut di belakang telinganya.
"Bagaimana bisa kau bilang semua baik-baik saja, kalau ada seorang pria hampir saja menyerangmu di sekolah." Ucap Jaifer.
Alyena cukup terkejut, dia kemudian menatapnya seakan tahu semua yang dilakukan Alyena di sekolah. "Dia hanya mengajak berkumpul bersama teman-temannya tapi aku menolaknya, pengawal kak Willy ada di sana jadi mereka tidak melakukan apa-apa." Ucap Alyena, dia menghabisakn suapan terakhir ke mulutnya, setelah itu dia meminum air yang diletakkan di sebelah piringnya.
Jafier terus menatap Alyena membuatnya salah tingkah. "Ada apa paman?" Jafier tidak memalingkan wajahnya, dia terus menatapnya, kedua sikunya di atas meja, dia menatap Alyena lekat-lekat.
"Alyena? Apa kau pernah menerima telepon dari Kilian Regan?" Tanyanya.
"A-apa?" Seketika Alyena sedikit terbatuk-batuk lalu meneguk cepat airnya. Mata tajamnya tidak berpindah kepada Alyena.
"Katakan kepadaku, apa dia sering meneleponmu?" Wajahnya tampak serius, dia terlihat tidak senang dengan reaksi yang diberikan Alyena.
Alyena yang tidak pandai berbohong akhirnya mengangguk kepadanya, dia menatap Jafier sembunyi-sembunyi. "A-aku tidak tahu dimana dia mendapatkan nomor teleponku, dia juga membuatku terkejut." Ucap Alyena, sekali lagi mengintip Jafier perlahan.
Jafier terlihat melipat kedua tangannya, wajahnya terlihat marah, pandangannya lurus ke depan, sedangkan Alyena merapatkan bibirnya rapat-rapat, seperti dia melakukan kesalahan karena telah berkata jujur.
"Alyena?" Ucapnya. Alyena mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan tampak menyeringai di depannya.
"Jangan lagi menerima panggilan telepon pria itu, kau mengerti?" Ucapnya, dia terlihat marah, dan itu membuat Alyena sedikit takut, suaranya yang dalam dan terdengar dingin seakan memaksa Alyena menganggukkan kepalanya, atas ucapannya.
"Kemarilah." Ucap Jafier memerintah, suaranya tidak seperti biasanya yang lembut kepada Alyena. Suaranya bagai perintah yang tidak bisa di tolak.
"Apa paman?" tanyanya pelan.
Alyena sedikit ragu ketika mendekati Jafier, dia berdiri dari tempat duduknya, dan perlahan beranjak dan perlahan menghampiri Jafier. Tangannya di pegang oleh Jafier, dia terlihat cemas menanti apa yang akan di lakukan pria ini.
Suara ponsel berdering dari dalam tas Alyena, membuatnya menoleh ke tas yang di taruhnya di atas sofa begitu saja. Jafier melepaskan tangannya dan membiarkan Alyena untuk mengangkatnya, ketika Alyena melihat siapa yang menelepon, membuatnya mematung.
Sial, Kilian Regan.
Ponselnya tiba-tiba saja sudah ada di tangan Jafier. dia mengambil ponsel itu dan mengangkatnya.
"Halo?" Suara Jafier terdengar berat, bibirnya terlihat terkatup rapat, sementara itu Alyena terlihat cemas, dia masih menatap Jafier dengan ekspresi gelap di wajahnya.
Halo Mr. Alvaro, aku tidak tahu kalau kali ini kau yang mengangkat ponselnya, aku ingin bicara dengan Alyena, berikan ponselnya kepada Alyena.
"Kau bercanda? Jangan menghubungi Alyena lagi, dia tidak berurusan lagi denganmu, dia bukan lagi pekerja yang bekerja di kebunmu sehingga kau harus mengkhawatirkannya." Suara dingin yang tenang terdengar dari Jafier, tetapi menyiratkan ancaman dari setiap nada bicaranya.
Apa kau ayahnya? berhenti bersikap terlalu posesif, Mr. Alvaro. Alyena berhak melakukan apa yang ingin di lakukannya."
"Bukan urusan anda apa yang harus di lakukan dan tidak di lakukan oleh Alyena, sebaiknya anda jangan meneleponnya lagi, ini peringatan dariku." Jafier menutupnya tanpa menunggu Kilian Regan berbicara. Tatapannya mengarah ke tempat Alyena berdiri di sana seakan dia sedang menunggu vonis apa yang akan Jafier lakukan.
Tangannya terulur kepada Alyena, dia menarik lengannya hingga tubuhnya sedikit terhuyung ke depan dan menabrak tubuh Jafier yang keras, dia berdiri di hadapannya tampak menjulang di depannya.
"P-paman Jafier marah?" Bisik Alyena tidak sanggup mengeluarkan suaranya lebih keras, bagaimana kalau pria ini mengamuk, tetapi Alyena menyakini bahwa dia adalah pria dewasa tidak akan semudah itu cemburu hanya karena sebuah telepon.
Dia menarik dagu Alyena agar tatapan mereka bertemu, matanya seakan menembus iris mata Alyena yang tampak bergetar.
"Alyena, kau tahu? ketika aku menjalin hubungan, aku sama sekali tidak suka berbagi, kau mengerti maksudku sayang, jangan pernah lagi menerima telepon dari pria itu, kau mengerti?" Ucap Jafier.
Melihat wajah Jafier yang marah, Alyena sontak mengangguk begitu saja. "Baik paman." Ucapnya. Jafier masih terlihat kesal, dia melepaskan tangan Alyena ketika ponselnya berdering dan telepon itu mungkin berasal dari kantornya. Alyena terlihat lega, setidaknya ada yang mengalihkan perhatian pria itu dari tatapan tajamnya kepada Alyena.
Alyena duduk di salah satu sofa di ruang tamunya, dia menatap ponselnya yang masih di pegang Jafier di luar balkon, dan dia sedang menelepon dengan serius.
Mata Alyena sedikit terpejam, dia menunggu cukup lama ketika masih melihat Jafier bicara dengan serius kepada seseorang.
"Alyena? Alyena bangun kita harus pergi sekarang."
Alyena terbangun, dia mengerjapkan matanya, lalu mencoba membuka matanya lebar-lebar. "Kau tertidur, William akan mengirimkan jemputan untukmu, maaf aku tidak bisa mengantarmu, aku harus segera pergi."
"Ha? Tidak apa-apa, paman pergi saja, aku akan menunggu di taman depan, sebentar lagi juga akan datang." Wajahnya terlihat gelisah, dia berdiri dan menatap Alyena dengan cemas, kau yakin tidak apa-apa menunggu di taman?"
Alyena tertawa, "Aku yakin, paman bisa pergi, kelihatannya paman terburu-buru, setelah ini aku akan menunggu jemputan kak William." Ucap Alyena.
Jafier memasang jasnya dengan cepat, dia seperti dikejar sesuatu, Alyena berjalan di belakangnya, dia tampak melihat Jafier dengan pandangan aneh. "Apa rapat penting?" Gumamnya.
Alyena melihat kesempatan terbuka di depan matanya, dia mengantar Jafier sambil melambaikan tangannya, Alyena tersenyum penuh rencana, dia akhirnya sendirian, dia mengeluarkan jaket yang ada di dalam tasnya dan mengenakanannya, dia lalu berjalan meninggalkan pelataran penthouse milik jafier, padahal dia telah berjanji akan menunggu jemputannya datang, tetapi kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali, Alyena keluar dari sana dan berjalan menuju pusat keramaian, dimana orang-orang banyak berjalan kaki.
Alyena menatap etalase toko-toko yang menampilkan berbagai pernak pernik di setiap tokonya, dia lalu membeli makanan yang di jual di Food Court yang menyajikan berbagai menu makanan yang berada di pinggir jalan yang di sediakan dengan menggunakan mobil-mobil truck mini dengan gambar berbagai warna.
Dia memesan makanan khas meksiko Burrito berisi daging cincang dan sayuran serta Cola, dia lalu duduk menikmati pemandangan yang begitu ramai di tempat itu.
"Ini enak." Ucapnya, sambil terus mengunyah dan makan dengan lahap. Teleponnya terus berdering, tetapi Alyena tidak mendengarnya karena di tempat itu terlalu berisik dengan suara-suara musik yang cukup besar di jalanan besar itu sehingga Alyena tidak mendengarnya.
~
"Sial ! kemana Alyena?" Ucap William masih terus menghubungi Alyena, setelah itu dia menghubungi Jafier pun juga tidak di angkat, tetapi dari pesan jafier kepadanya bahwa sejak tadi dia telah berpisah dengan Alyena karena ada telepon penting yang mendesak, hingga dia tidak bisa mengantarnya.
William segera menghubungi pengawal yang biasa mengawasi Alyena, dia lalu mengangkatnya.
"Kau ada di mana?" Tanyanya.
"Aku sekarang berada di mansion, tuan."
"Kau tidak mengikuti Alyena?"
"T-tidak tuan, aku pikir dia telah kembali bersama dengan tuan Jafier."
"Bodoh, aku bilang awasi terus Alyena, segera cari dia."
"Baik tuan."
William segera menelepon supir yang akan mengantar Alyena. "Apa kau sudah menemukan Nona Alyena?"
"Tidak tuan, saya sudah memeriksa cctv di taman, sepertinya Nona Alyena pergi begitu saja tanpa menunggu jemputan mobil yang datang."
William segera mengenakan jaketnya dan mengambil kunci mobilnya dia lalu terburu-buru masuk ke mobilnya, "Dia pasti tidak begitu jauh dari penthouse Jafier, tidak jauh dari penthouse itu ada Townsquare, dia mungkin berjalan-jalan di sana."
Alyena menatap sesuatu dengan berdiri mematung di depan penjualan barang elektronik di toko itu, tampak wajah pria itu tersorot kamera di tv, dia terlihat cemas dan masuk ke dalam sebuah rumah sakit.
"Apa yang dilakukan paman disana?" Ucap Alyena, dia lalu membaca headline yang tertera di berita itu. "Model ternama Cecilia Orland mencoba melakukan percobaan bunuh diri dengan menyayat tangannya, hingga dia harus di bawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis."
"Apakah ini yang membuatnya terburu-buru pergi?" Ucap Alyena terlihat mematung menatap layar besar di depannya.
"Alyena?" Suara itu membuat Alyena berbalik, wajah Kilian regan tiba-tiba ada disana, dia berdiri tepat di hadapan Alyena.
"Kau baik-baik saja?" Matanya beralih ke monitor yang menampilkan berita hangat di sana. Alyena mengangguk, dia terlihat diam dan sedikit bingung ketika membaca berita itu.
Apakah wanita itu sampai harus melakukan hal mengerikan itu agar jafier kembali padanya?
"Sepertinya kau terlihat pucat." Ucap Kilian Regan, tangannya mengambil tangan milik Alyena dan menghelanya masuk ke dalam mobilnya. Alyena masuk begitu saja tanpa penolakan, dia seperti orang yang kebingungan. Kilian tidak menyukai sikap Alyena yang seperti seorang yang kehilangan pegangan, begitu mendengar berita itu.
"Alyena, kau sudah makan?" Ucapnya.
"Mm sudah, aku sudah makan siang tadi." Ucapnya. Alyena kini menyesali telah masuk ke dalam mobil pria ini, dia begitu terkejut dengan berita itu sampai-sampai dia seperti orang yang tidak tentu arah.
Kau memang bodoh Alyena.
"Bagaimana kalau kita makan bersama, sudah cukup lama sejak terakhir kita makan, jangan menolaknya Alyena, kesempatan seperti ini cukup jarang, iya kan?"
Alyena hanya tersenyum tipis, kini dia berada bersamanya, dan dia tidak tahu kemana pria ini akan membawanya.
"Jangan khawatir, aku akan memulangkanmu setelah makan malam, kita hanya akan makan sebentar."
"Mm, Ok."
Mobil mereka berhenti di salah satu restaurant terkenal di Seattle, dia membuka pintu mobilnya dan membukakan untuk Alyena, dia lalu membawanya masuk ke ruang VIP khusus, beberapa pelayan dengan cepat melayani mereka.
"Kau ingin makan apa?"
"Hem? A-apa saja aku suka."
Kilian tersenyum dan memesan makanan kepada pelayan. "Kau terlihat tidak baik-baik saja Alyena, apa berita itu sangat membuatmu terpukul?" tanyanya.
"Ha? tidak, aku baik-baik saja, aku hanya tidak menyangka wanita itu melakukan hal seperti itu." Ucapnya sambil mengangkat bahunya.
Matanya lalu mengarah ke seragam yang dikenakan Alyena.
"Jadi sekarang kau melanjutkan sekolahmu?" Tanyanya.
Pipi Alyena merona, dia malu karena sewaktu di desa dia sempat mengabaikan sekolahnya dan memutuskan bekerja di perkebunannya. "Ya, aku harus melanjutkan pendidikanku." Kilian tersenyum.
"Aku masih ingat bagaimana ketika kau masih bekerja di perkebunan, kau sangat ceria apalagi ketika kau berjumpa dengan teman-temanmu di sana." Ucapnya, sambil meneguk Wine yang telah di tuangkan oleh pelayan.
"Ya, aku juga masih mengingatnya, meskipun mereka tidak begitu antusias lagi bertemu denganku, itu semua karena anda sering mengajakku makan siang, sehingga mereka berhenti mengajakku bicara, mereka juga ingin makan siang dengan anda." Alyena akhirnya mengutarakannya, agar pria ini tahu, gara-gara sikapnya itu, teman-temannya menjauhinya dan dia selalu sendirian karena kecemburuan tidak berarti itu.
"Oh ya, aku hanya sedikit menyadarinya ketika aku melihatmu sering jalan seorang diri dan tidak pernah lagi bersama dengan temanmu yang lain."
"Iya, itu semua berkat anda."
Dia terkekeh, dia terlihat tampan dan tidak menakutkan ketika dia tersenyum seperti itu, diapun lebih mudah di ajak ngobrol dibandingkan dulu.
"Kau mau Wine?" Dia sengaja menawarkannya, Kilian mengetahui Alyena akan menolaknya karena dia tahu gadis ini tidak begitu menyukai wine beraroma keras seperti sekarang yang diminumnya.
"Tidak, terima kasih, aku masih tidak begitu menyukai aromanya." Jawab Alyena dengan jujur.
"Ya aku tahu itu." Jawabnya. Alyena menatapnya sembunyi-sembunyi, tiba-tiba pipinya merona ketika dia memandang bibirnya, pria ini pernah menciumnya, dan juga ketika di perpustakaan. Alyena lalu menunduk, tidak bisa memandang pria asing yang pernah menciumnya.
~
Setelah mendengarkan berita bahwa Cecilia mencoba menghabisi nyawanya, Jafier terburu-buru ke rumah sakit, dia tampak terkejut, sayangnya wajah khawatirnya tertangkap kamera saat itu, dia melewati mereka begitu saja, sehingga beberapa wartawan menyorot kedatangannya, hingga berita lainnya pun muncul. Dengan Headline yang lebih panas dari berita sebelumnya.
Dia berjalan dengan wajah khawatir, baru kali ini, wanita itu mengancamnya sampai-sampai ingin menghabisi nyawanya sendiri.
Ketika tadi siang dia makan dengan Alyena, pesan dari Cecilia masuk, dan dia mengirimkan pesan selamat tinggal kepada Jafier dan mengirimkan fotonya kepada Jafier yang sedang berendam di bathub dengan tangan bersimbah darah. Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan Alyena.
Jafier masuk ke dalam ruang perawatan, Wanita itu tampak tidur di sana, dengan beberapa peralatan medis di tubuhnya. Jafier menatapnya, sesaat sebelum jafier masuk, Cecilia sempat membuka matanya dan melihat pria itu berada di depan pintu, hatinya terasa sangat bahagia melihat wajah khawatir Jafier, dia kembali berpura-pura menutup matanya. Jafier berdiri di sisi tempat tidurnya. Ruangan perawatannya memiliki pencahayaan yang cukup agar pasien dapat tidur lelap.
"Ketika aku mendengarmu melakukan kebodohan itu, aku lalu berlari segera ke tempat ini, kau pasti bahagia mendengarnya, tetapi aku muak dengan segala tingkahmu." Tiba-tiba mata wanita itu terbuka lebar ketika mendengar ucapan dingin darinya.
"Jafier?" Ucapnya lirih.
Jafier menatapnya dengan pandangan membunuh. "Kenapa kau masih bisa selamat, bukankah kau ingin mati, aku sudah mengatakan kepadamu enyah dari kehidupanku, apa kau tuli? apapun yang akan kau lakukan, itu hidupmu jangan pernah mengaitkanku dengan kisah dramatismu, kau mengerti? Jika sekali lagi hal ini sampai terjadi, aku akan pastikan kau betul-betul akan mati." Jafier segera keluar dari ruangan itu meninggalkan wanita itu dengan wajah pucat ketakutan.