Flower On The River

Flower On The River
Meninggalkanmu 3



Aku menatap pria yang mengatakan kalau dia adalah kakekku, matanya sama persis dengan milikku berwarna hazel cerah, mereka memasuki sebuah mansion yang begitu besar, dua kali lebih besar dari kediaman Collagher, gerbangnya saja begitu jauh dari mansionnya, mereka melewati pancuran yang tinggi dan taman-taman yang rapi memanjang, di seberang pancuran terdapat taman dan berbagai bunga-bunga ada di sana, betul-betul sangat indah. Seseorang membuka mobilnya dan mereka keluar dari mobil.


Tuan Chandelier memegang tangan ruzy, menyandarkan lengannya padanya, ruzy begitu terheran-heran dengan tempat ini, tuan Chandelier melirik ruzy.


"Selamat datang di rumah ruzy, apakah kau melihat tulisan yang ada didekat gerbang? tanyanya. ruzy mengangguk, "Ya aku melihatnya bertuliskan "Cathy Sharon Chandelier".


"Ya, itu nama ibumu, karena mansion ini milik ibumu, dan sekarang akan menjadi milikmu." Katanya, "Kemarilah kakek ingin menjelaskan semuanya padamu."


~


Alex mengendarai mobilnya mengelilingi kota Pittsburgh, lalu mendatangi bandara mengelilingi tempat itu, dia sama sekali tidak melihat ruzy, dia berlari kembali menuju mobilnya dan memutarnya mencari-cari ruzy yang pergi entah kemana, dia mengutuk dirinya sendiri, mengapa dia tidak memberikan ponsel kepada ruzy sewaktu ruzy masih bersamanya, sekarang dia membenci kebodohannya sendiri.


Alex menepikan mobilnya, menelepon ricky dan nick meminta bantuan mereka, dia lalu menutup ponselnya menyandarkan tubuhnya memandang pemandangan kota dari kaca jendela mobilnya, "Ruzy kau ada dimana?" bisiknya. Dia lalu meneruskan perjalanannya mencari ruzy di kota Pittsburgh yang begitu luas ini sama dengan mencari jarum dalam jerami. Dia begitu frustasi ruzy betul-betul meninggalkannya.


~


Ruzy menatap kamar yang sangat luas itu, desainnya begitu indah dengan pernak pernik yang mewah, dia menelusuri tempat yang akan menjadi kamarnya, aku tidak tahu kalau mom memiliki segalanya dia lebih memilih lari bersama orang yang dicintainya dan hidup sederhana dibandingkan memilih kehidupan mewah.


"Ayah betul-betul beruntung memiliki mom." Bisik ruzy menatap foto yang terpajang diatas nakas, wanita cantik dengan mata hazel yang mirip sekali dengan ruzy, "Mom", dia mengusap foto ibunya lalu memeluknya.


Dia begitu bahagia bertemu kakeknya, ternyata ruzy tidak seorang diri, dia memiliki keluarga. Hatinya begitu gembira, terdengar ketukan dari pintu kamarnya. Ruzy membukanya dan melihat bibi Emy terisak dan memeluk Ruzy.


"Betapa bodohnya bibi, ruzy, membiarkanmu hidup menderita tanpa tahu asal usulmu, seharusnya lebih awal bibi mencari tahu keluargamu."


Ruzy menggeleng dan tersenyum, "Kalau tidak ada bibi di sampingku apa yang harus aku lakukan? aku sangat bersyukur bibi berada di sisiku selama ini."


Mereka berpelukan beberapa lama, lalu bibi emy menyeka air matanya, "Aku lupa, tuan Chandelier memanggilmu untuk makan malam", ruzy mengangguk.


Ruzy mencium bau sup yang begitu wangi, tetapi tiba-tiba tubuhnya bergejolak, dia seperti ingin muntah, dia menutup mulutnya lalu memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Kau tidak apa-apa sayang." mata bibi emy membelalak menatapnya.


"Kau sakit?" dia memegang kening ruzy, tidak begitu panas, pikir bibi emy.


Hal itu tidak terlewat dari tatapan tuan Chandelier, dia menatap bibi emy dan memanggilnya keruangannya. Bibi emy tertunduk tidak berani menatapnya.


"Apa yang terjadi pada ruzy?" tanyanya. Bibi Emy dengan takut-takut menjelaskan semuanya, hubungan rahasia antara tuan alex dan ruzy dan bagaimana keluarga itu memperlakukan mereka, dan mengusir ruzy agar tidak menampakkan dirinya di depan tuan alex.


"Collagher? aku tidak pernah mendengar tentang keluarga itu, kata tuan Chandelier. Dia memperlakukan cucuku seperti itu, aku ingin tahu tentang keluarga Collagher seberapa terkenalnya keluarga itu." Dengusnya.


Tuan Chandelier menelepon seseorang, "Roger hubungi dokter tim aku ingin dia segera kemari." Dia kemudian menutupnya.


Ruzy berada dikamarnya kepalanya sedikit pusing dan mual, Bibi emy masuk kedalam kamar bersama seorang dokter, dia memeriksa ruzy, tidak beberapa lama dokter itu keluar dari kamar ruzy dan bertemu dengan tuan Chandelier begitupun bibi Emy.


"Nona ruzy positif hamil, tuan Chandelier ." Bibi emy begitu terperanjat, tuan Chandelier dengan tenang mengangguk padanya.


"Terima kasih dokter tim." Dokter itu segera keluar dari ruangan tuan Chandelier, hanya bibi emy yang tertunduk di depannya.


"Apakah pria itu tuan muda di keluarga Collagher?" tanya tuan Chandelier. Bibi Emy dengan cepat menjawabnya.


"Iya tuan Chandelier."


"Apakah mereka saling mencintai?"


Bibi emy menganggukkan kepalanya, "Iya tuan." Tuan Chandelier memikirkan sesuatu, dan menyuruh bibi emy segera menemani ruzy jika saja ruzy menginginkan sesuatu.


Tuan Chandelier memanggil Roger melalui telepon. Seseorang masuk dan menghadap tuan Chandelier, "Tuan menginginkan sesuatu?" tanyanya.


Roger menunduk, "Baik tuan", dengan segera menelepon mereka. "Collagher...apa yang harus aku lakukan dengan keluarga itu, berani-beraninya dia memperlakukan keturunan Chandelier seperti itu, menjadikannya pelayan dan menuduhnya mencuri...kalian harus tahu apa akibatnya jika berhadapan dengan keluarga Chandelier." gumam tuan Chandelier melengkungkan bibirnya.


~


Sudah beberapa bulan ruzy tinggal di rumah ibunya bersama dengan kakeknya, dia sangat keras dan tegas meskipun begitu dia sangat menyayangi ruzy, dan sangat mengkhawatirkannya, meskipun ruzy hamil dan perutnya sudah membesar dia tidak berubah dan begitu perhatian padanya, ruzy sangat menyayanginya.


Taman ini sangat indah ruzy sangat menyukainya, penuh dengan beraneka ragam bunga. Ruzy melangkah dan berhenti ketika melihat bunga rose yang sama dengan bunga rose milik Alex. Dia sedikit menunduk lalu memegang bunganya. 'Aku sangat merindukanmu alex'. Bisik ruzy.


Tubuh Ruzy tidak sendiri lagi, kandungannya sudah mencapai 8 bulan sebentar lagi dia akan melahirkan, kakeknya pun sangat protect kepadanya, tidak dibiarkannya ruzy mengerjakan sesuatu sendiri, beberapa pelayan harus ada disampingnya. Bibi Emy selalu menemani ruzy, apapun yang dikerjakannya dia selalu menemaninya.


"Kau baik-baik saja sayang?" tanya bibi Emy yang duduk di samping ruzy.


"Aku baik-baik saja bibi", sambil mengelus perutnya.


"Menurut bibi dia akan mirip denganku atau mirip dengan Alex?" tanyanya, wajah bibi emy tersenyum lemah tetapi menghalau rasa terkejutnya. Mata berbinar ruzy tiba-tiba berair, dia lalu menghapus air matanya.


"Aku merindukan alex bibi, apakah dia tahu aku mengandung anaknya?" tangisnya pecah, ingin rasanya dia memeluk alex sekarang juga.


Bibi Emy memeluk ruzy sambil menangis, "Kau harus kuat ruzy, untuk anakmu sayang." bisik bibi emy, ruzy mengangguk sambil bersandar di bahu bibinya.


~


Beberapa club sudah didatanginya, alex sudah tidak sadarkan diri, ricky memegang alex agar dia tidak jatuh.


"Cukup untuk hari ini kawan, kau kuantar pulang." Kata ricky, alex menggeleng lalu tertawa, "Aku tidak mau pulang, rumahmu ricky, kerumahmu saja, Ok!"


Ricky menggeleng dan dengan cepat membawa alex ke dalam mobil.


Semenjak ruzy menghilang alex sangat kehilangan, malam dan siang tidak ada bedanya baginya, dia jarang pulang kerumahnya, dia malas bertemu dengan ibunya yang tidak kehilangan kesempatan menjodoh-jodohkan alex dengan kenalan-kenalannya dan itu membuat alex muak.


Dibaringkannya alex di tempat tidur, meskipun dia mabuk, matanya terbuka memandang di kegelapan, pikirannya selalu ke gadis bermata hazel itu, 'Ruzy kau meninggalkanku...kau tinggalkan aku, aku merindukanmu'. Bisiknya.


~


Seorang pria di kegelapan malam sedang bersandar di pohon, memikirkan seseorang, lalu menatap kedua tangannya yang kotor karena banyaknya pembunuhan yang dilakukannya, matanya menerawang menatap pohon-pohon didalam hutan yang disinari cahaya bulan dari dekat sungai, sudah beberapa minggu dirinya kembali sadar, dia tidak akan melihatnya lagi, tidak tahu untuk berapa lama, selama dia tidak melihat wanita itu sisi dirinya yang lain akan tersembunyi dan akan tertidur lelap, dia akan kembali normal tanpa harus terkurung di dalam dirinya sendiri, pria itu memiliki alter ego, dirinya yang lain yang kejam yang senang menyakiti wanita dan membunuhnya, tetapi suatu hari dia jatuh cinta....dia jatuh cinta kepada gadis bermata hazel itu, seorang pelayan dikediaman Collagher, dia selalu mendatanginya tiap malam hanya untuk menyebut namanya, tetapi wanita itu telah pergi.


Pria itu menghirup udara dalam-dalam setengah tersenyum dan berbisik, 'tidurlah lebih panjang, kini aku bisa menikmati hidup normalku kembali', dia lalu berjalan dan kembali ke villanya.


~


California two years later


"Bibi aku harus pergi hari ini, biarkan Willy bersamamu, aku hanya pergi sebentar, Diana tidak akan diam jika aku melanggar janjiku lagi, aku hanya perlu waktu setengah jam untuk sampai ke sentral park setelah itu aku akan kembali dan kita akan mengunjungi kakek di Pittsburgh." Jelas ruzy yang berhenti didepan mobilnya yang terparkir.


"Baiklah ruzy, tapi kau harus cepat Willy akan rewel jika tidak melihatmu sayang." Kata bibi emy cemas. ruzy tersenyum mengecup wajah Willy yang tangannya menggapai-gapai padanya.


"Mom akan segera kembali sayang." Dengan tergesa-gesa ruzy mengendarai mobilnya menuju gerbang dan segera bertemu diana temannya yang dulu sekampus dengannya.


Terdengar lagu mengalun sepanjang perjalanan, ruzy melirik dirinya sebentar di kaca, lalu melirik jam ditangannya.


"Semoga diana tidak mengomeliku kali ini, kami berjanji untuk berjumpa di sentral park lalu melanjutkan shopping, dia akan bertunangan minggu depan, dan dia ingin aku menemaninya mencari-cari gaun yang cocok untuknya.


Aku memarkirkan mobilku lalu dengan cepat turun dari mobil, beberapa orang melirik padaku, ada yang salah? hari ini aku mengenakan dress hitam selutut dengan jaket coklat pendek, rambutku yang coklat kemerahan kugerai begitu saja, sedikit make up membuatku merasa segar dan percaya diri.


Aku melambaikan tanganku kearahnya menatap diana yang berbincang dengan seseorang, seperti aku pernah melihat wajahnya, aku tiba-tiba saja berhenti melangkah secepat kilat sembunyi dibalik tembok besar, pria itu salah satu teman Alex, kalau tidak salah namanya Ricky, mengapa dia ada disini?