
Aku berdiri dan bersembunyi seperti orang bodoh menunggu kepergian ricky, untung saja ada tembok ini yang menutupiku. Ruzy kembali mengintip di antara tembok.
Mengapa Diana bisa mengenalnya? ponselku berdering lalu melihat nama diana di sana.
"Halo, i..iya sebentar lagi aku akan tiba, tentu aku datang." Aku memutar mataku, "Ok, sebentar lagi aku akan tiba." Aku mengintip sekali lagi dan melihatnya melambai pada Diana.
"ugh akhirnya dia pergi juga, mengapa diana bisa mengenal ricky."
Ruzy melangkah mendekati diana, "Sudah lama menunggu?" aku tersenyum padanya yang bersedekap memicingkan matanya.
"Kupikir kau tidak akan datang, bagaimana Willy? dia tidak rewel?" tanyanya.
"Willy bersama bibi emy, jadi kita harus cepat sebelum ponselku berdering." Mereka tertawa dan berjalan bersama memasuki mall, ruzy sedikit mengerling diana sahabatnya di kampus, mereka mengambil jurusan yang sama, "Aku melihatmu tadi dengan seorang pria, siapa dia?" tanya ruzy dengan sikap santai.
"Kau melihatnya? dia ricky dan dia teman Albert, aku berjumpa dengannya sewaktu Albert mengajakku ke club, dan kau tahu pria itu memiliki banyak club di Pittsburgh, aku kebetulan melihatnya dan menyapanya, Kenapa? apa kau mengenalnya." tanya diana pada ruzy.
"Ya, aku pernah melihatnya, sepertinya dia teman Alex." Kata ruzy mengernyitkan alisnya. mereka memasuki butik-butik lalu memilihkan berbagai gaun-gaun yang indah yang akan dikenakan diana ketika pertunangannya nanti bersama albert.
"Coba yang ini sangat cocok untukmu lihat saja, gaun ini terlihat indah di tubuhmu." Diana menatap gaun itu lalu tersenyum dan segera mencobanya di ruang ganti.
Ruzy menunggu dan memilih-milih gaun yang akan dikenakannya juga saat pesta diana nanti. Matanya mengerling melihat ricky bersama seorang wanita yang dikenalnya.
"Ellena dan rasa?" bisik ruzy dengan cepat sembunyi diantara baju-baju yang ada disana. 'Mereka bersama'? bisiknya lagi.
Diana keluar dengan gaun yang di kenakan, "Fantastis, perfect sangat cocok untukmu, kenapa kau tidak mengambil gaun itu saja?" kata ruzy yang bersedekap dan menilai penampilan Diana.
"Hem aku juga suka", diana berputar dan matanya menyala menatap seseorang dibelakang Ruzy. "Hai Ricky kau masih disini?"
Ruzy berdiri membeku, tidak berbalik menatap mereka. "Siapa teman cantikmu ini? tanya ricky dan disenggol oleh ellena. Ruzy dengan perlahan berbalik menatap mereka berdua. Mereka berdua begitu terkejut, ellena menutup mulutnya.
"Ru..Ruzy?" dia maju selangkah menatap wajah cantik dihadapannya.
"Kau ruzy bukan? aku mencari-carimu, kau dimana saja selama ini?"
Ricky dengan wajah terkejut menatap muram padanya. "Benarkah kau ruzy?" Diana memandang mereka tidak mengerti.
"Kalian mengenal ruzy?" tanyanya.
"Tentu kami mengenalnya, dia Ruzyana Wilhelm." kata ellena pada diana.
"Bukan, dia bukan Ruzyana Wilhelm, tapi Ruzyana Chandelier. Kata diana jelas.
"Aku tidak tahu kalau kalian mengenal cucu satu-satunya tuan Chandelier ini." Diana mengetahui persis cerita ruzy dimasa lalu, dan dia tidak menyangka dia bertemu dengan mereka.
"Ruzyana Chandelier?" bisik ellena. diana mengangguk, "Lama tidak berjumpa ellena", kata ruzy tenang. Ellena memandang ruzy seperti memandang orang lain, menatapnya lekat-lekat.
"Kakak mencarimu di Swiss tetapi dia tidak menemukanmu." Kata ellena, mengapa kau tidak menghubungi kami Ruzy?"
"Aku....", sebelum Ruzy menjawabnya ricky menyela ucapannya.
"Tidak ada gunanya lagi kan ellena, alex sebentar lagi akan bertunangan, ruzy hanya masa lalu baginya." Kata ricky dengan nada mengejek kepada ruzy.
"Jadi tidak perlu mengingat masa lalu bukan?" kata diana lagi. Dia tersenyum puas menatap ricky yang menggelengkan kepalanya padanya.
"Er..kami harus pergi, senang berjumpa denganmu ellena." Kata ruzy sedikit tersenyum.
Mereka meninggalkan ricky dan ellena yang memandang mereka dari kejauhan. Sekian lama aku ingin melupakan Keluarga Collagher aku tidak menyangka bertemu mereka disini. pikir ruzy didalam mobil.
~
Ruzy melangkah masuk ke penthousenya yang ada di California dengan cepat mencari Willy, dia menatapnya yang lagi tertidur bersama mainan-mainannya, ruzy bersandar di pintu memandangi putranya, aku sangat takut kehilangan Willy, jika keluarga Collagher mengetahui keberadaannya? tidak.. mereka tidak boleh tahu dan tidak ada gunanya karena Willy anakku tidak ada yang berhak memisahkan kami.
~
Pesta pertunangan diana dan Albert di selenggarakan malam ini di kediaman Tunangan diana, Albert Davis dia salah satu pemilik resort yang ada di California, ruzy telah mengenakan gaunnya berwarna pastel tanpa lengan yang melekat ketat di tubuhnya, ruzy tiba terlalu cepat di sana, dia begitu terkejut ketika sampai disana, apakah diana akan bertunangan atau menyelenggarakan pesta topeng? seorang pelayan di pintu masuk memberikan topeng padanya, meskipun hanya menutup mata dan hidung dengan warna krystal, ruzy memegang gagangnya mencoba mencari diana.
Meskipun sudah puluhan kali ruzy ke pesta, tetapi hal ini masih membuatnya kikuk, hari ini ruzy pergi seorang diri tanpa partner, memandang wajah orang-orang yang tidak dikenalnya, dan ruzy melihat diana dengan senyum indahnya bersama albert, tetapi seseorang berada di sampingnya dan ruzy mengenal betul bentuk tubuh, serta wajahnya meskipun dia memakai topeng, dia Alex masih sangat tampan, rambutnya sudah agak panjang pikir ruzy, dia bersama dengan seorang wanita yang menggandeng tangannya.
Hati ruzy menciut, apakah wanita itu tunangannya? langkah ruzy terhenti mengambil segelas minuman dan bersandar dibalik pilar tinggi membelakangi mereka.
Tiba-tiba Sosok itu berdiri dihadapannya, ruzy tidak mengenal pria pirang itu, "Halo, kau sendirian?" ruzy melangkah bergeser dari pria bertopeng ini.
"Tidak, aku sedang menunggu partnerku". Kata Ruzy cepat, dia bosan dengan pria-pria yang selalu mendatanginya saat dia sendiri kepesta.
Ruzy mengirimkan sesuatu di ponselnya lalu berbalik memunggungi pria yang masih menatapnya dan sedikit tersenyum. Dia keluar dari pintu utama, menuju lift yang akan membawanya pulang. Ruzy melepas topengnya dan menatap dirinya yang pikirannya terasa kosong setelah melihat Alex bersama wanita lain.
Seseorang masuk ke dalam lift dengan cepat ruzy mengenakan topengnya kembali. Pria itu tinggi dengan rambut hitam yang sedikit panjang dia juga mengenakan topeng tetapi dari balik topengnya aku tahu kalau dia memandangku.
Ugh Mengapa lift ini begitu lama, wangi dari tubuh pria ini seperti sangat kukenal, bahunya yang lebar membuatku teringat akan Alex. Bunyi Ding yang berdentang dari lift yang membuka membuatku bergegas keluar dari lift, tetapi tangan panjang pria ini menahanku, aku begitu terkejut, aku menatapnya. tetapi dia tidak menatapku, pandangannya tertuju kedepan, tetapi napasnya sedikit memburu, "Permisi? kataku tajam. Dia melengkungkan bibirnya. Dengan sigap dia menekan tombol lift menutup membuatku menepis tangannya.
"Apa yang kau lakukan? aku ingin keluar!" Dia berbalik padaku masih menutup wajahnya dengan topengnya, tetapi tangannya menepis tanganku hingga topeng itu terjatuh, aku melotot padanya.
"Apa yang kau lakukan?" suaraku begitu tinggi memandang pria tinggi di hadapanku.
"Kau masih tetap sangat cantik ruzy tetapi sepertinya ada yang berbeda dari tubuhmu sayang", bisiknya, "Tubuhmu terlihat sangat seksi, aku menyukainya." Dia lalu melepas topengnya dan perlahan aku mundur darinya, Aku sangat terkejut, Alex berada dihadapanku dia mengurungku di dalam lift dengan kedua tangannya, matanya menyala ketika dia menatapku. Ekspresinya sedikit membuatku takut, tidak ada senyum di wajahnya.
"Ruzy Wilhelm? bukan...Ruzyana Chandelier, kenapa kau terburu-buru? bukankah pestanya belum dimulai?" tanyanya, matanya tidak lepas dari wajah ruzy, sementara itu ruzy berusaha menghindari tatapanya.
"Tatap aku ruzy!" suaranya sangat dingin, membuat tubuhku meremang. Aku menatapnya, dia lalu memegang daguku menariknya keatas menahannya agar mataku tidak beralih ketempat lain.
"Alex..lepaskan aku." Pintaku, dia lalu tersenyum sinis, "Melepasmu? tidak akan lagi..". Dia lalu menyerang bibirku dan menciumnya dengan kasar, melumatnya tanpa ampun membuatku tidak bisa merasakan kakiku sendiri, dia mengangkatku sehingga aku harus berpegang padanya, Dia menjelajahiku dan mengerang di bibirku memaksanya membuka. Ciuman-ciumannya membuatku sulit bernapas meskipun begitu aku membalas ciuman kasarnya. Suara napas kami bersahutan.
Dia akhirnya melepas bibirku, "lepaskan aku brengsek, apa yang kau lakukan! jangan menyentuhku!" Aku begitu marah padanya dan tanpa sadar aku menamparnya. Mataku menatap tajam padanya, dia masih mengurungku dan tidak peduli dengan tamparanku. Alex menarik keras tubuhku hingga melekat di tubuhnya. "Malam ini kau tidak akan bisa melarikan diri dariku lagi ruzy." Bisiknya.
~
Seseorang berdiri di sana, mengenakan topengnya dengan menggeram, tangannya terkepal seakan sulit bernapas, kepalanya berdentum- dentum sudah lama dia tidak merasakan sakit kepala seperti ini, wanita itu kembali, dan dia akan tahu, seharusnya aku memperingatinya untuk menjauh dariku, kali ini dia tidak akan melepaskannya. "Sir anda baik-baik saja"? tanya seseorang padanya ketika melihatnya bersandar di pilar dengan wajah kesakitan. Dia melepas topengnya raut wajahnya kembali normal dan tersenyum miring.
'Klak', "Tentu, aku baik-baik saja." Senyumnya mengembang menatap dari kejauhan gadis bermata hazel yang dibawa oleh Alex.