Flower On The River

Flower On The River
Vol 25



Jam menunjukkan pukul 7 pagi hari, Alyena sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, dia mengenakan seragam sekolah dan jaket dan menyampirkan tasnya, setelah siap, Alyena segera turun ke bawah. Rupanya bukan dia sendiri saja yang bangun sepagi ini, kakaknya Willy telah duduk di sana dan sarapan sudah siap di atas meja.


"Pagi kak Willy." Ucap Alyena, dia mencium pipi Willy.


"Pagi, Kau mau kemana?" tanyanya.


"Kemana? aku akan berangkat ke sekolah, kemana lagi." Ucap Alyena dengan heran. Dia lalu duduk bersamanya dan mulai mengambil sandwich dan meletakkannya di atas piring. Willy menghela napasnya.


"hari ini kau tidak usah ke sekolah, kau harus istirahat di rumah."


Alyena yang ingin menuangkan teh englishnya terhenti begitu saja. "Apa? kakak bercanda kan? bagaimana mungkin aku tidak masuk ke sekolah di hari keduaku?"


"Apa kau tidak apa-apa? bagaimana jika wanita itu mencegatmu ketika pulang sekolah dan tidak ada seorangpun ada di sana untuk menolongmu." Ucap Willy sambil bersedekap, dia kemudian memandang Alyena tajam, dan tidak mau dibantah.


"Tapi kakakkan menyuruh pengawal mengikutiku, aku tidak akan apa-apa, aku sudah menanti-nanti berangkat ke sekolah untuk hari ini kak Will." Ucap Alyena menatapnya dengan mata memohon yang membuat Willy tidak bisa menolaknya.


"Apa kau yakin?"


"Aku yakin, kak Willy jangan khawatir." Alyena segera mengunyah sandwichnya sambil masih tersenyum kepada Willy agar dia mengizinkannya.


"Baiklah, tetapi kau harus pulang tepat waktu, jangan pernah mampir ketempat-tempat aneh."


Alyena tertawa, "Tempat aneh apa kak Willy? toko buku bukan tempat aneh, biasanya kan pelajar hanya pergi ke toko buku saja atau hanya membeli makanan dan minuman di kantin sekolah."


Willy memegang keningnya, tidak kuasa mendengar penuturan Alyena yang lugu. "Jadi menurutmu para pelajar tahunya hanya toko buku dan kantin sekolah?" Ucap Willy tidak percaya.


"Hmmm, iya setahuku sih seperti itu, sewaktu di desa aku sering ke toko buku dan hanya berbelanja di kantin sekolah saja atau terkadang ke supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari."


Willy menatap adiknya dengan pandangan sayang, dia lalu memeluk adiknya, dan berjanji akan membelikan apapun keinginannya jika Alyena menginginkannya, Willy dapat memakluminya, Alyena dulu tidak bisa berbelanja semaunya, dia harus menyimpan uangnya untuk kebutuhannya setiap hari, jadi dia hanya menganggap kebutuhan beli buku dan berbelanja di kantin adalah hal yang dilakukan oleh seorang pelajar.


"Baiklah, kau boleh ke sekolah hari ini dan jangan lupa, pulang secepatnya."


Alyena menganggukkan kepalanya lalu tersenyum senang, pagi itu Willy tidak sempat untuk mengantar Alyena ke sekolah, dia harus segera berangkat kerja, apalagi dia memiliki rapat hari ini.


Willy mengambil ponselnya dan menghubungi pengawal yang bertugas mengawasi Alyena selama di sekolah. "Jangan pernah lengah, ikuti kemana Alyena pergi dan jangan lepaskan pengawasanmu, jika sesuatu terjadi segera hubungi aku secepatnya."


"Baik tuan."


~


Hari ini Alyena membuka-buka ponselnya, dia tidak mendapatkan telepon maupun pesan dari Jafier, dia menghembuskan napasnya sedikit kecewa, sampai jam segini, telepon darinya tidak ada sama sekali.


Mobil SUV mewah hitamnya berhenti di depan gedung sekolah, tidak ada yang heran dengan mobil Alyena yang mewah, karena siswa-siswa lainnya pun sama sepertinya, mereka di antar oleh supir atau terkadang mereka membawa mobil mereka sendiri bersama dengan teman-temannya. Sebuah motor superbike titanium yang merupakan motor keluaran edisi terbatas melewati mobil Alyena dan terparkir di pelataran parkiran sekolah, Alyena menatapnya. Pria itu melambai kepada Alyena.


Setelah memarkirkan motornya, dia menghampiri Alyena.


"Pagi Al," Ucapnya ceria.


"Morning, Kau memanggilku Al?"


Nick lalu tertawa, "Al sepertinya terdengar keren, kalau aku memanggilmu Alyena, aku merasa seperti berada dalam cerita telenovela, atau seperti nama yang berasal dari desa yang jauh."


Alyena mendengus, "Itu nama pemberian ibuku, aku heran kenapa namamu Nick? kalau aku memanggilmu seperti aku telah berbuat kurang ajar karena memanggil nama depan ayahku."


"Hahaha, kau serius nama ayahmu Nick?" Ucapnya seperti bangga mendengarnya.


"Oh ya, sejak tadi aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, coba kau lihat di sebelah kirimu, sepertinya ada seorang Nyonya yang memperhatikanmu sejak tadi, rambutnya merah, tatapannya Euh mengerikan."


Alyena mengikuti arah pandang Nick, dia melebarkan matanya, wanita itu sedang mengawasi Alyena sejak dia tiba di sekolah.


"Bibi itu sepertinya mencurigakan, sejak tadi dia hanya menatapmu, tanpa sedikitpun memalingkan wajahnya." Ucap Nick dengan menampilkan wajah jijik.


"Apa dia seorang wanita yang menjual gadis-gadis di pasar gelap?" Seru Nick, sebelum Alyena sempat mencegahnya, Nick telah menghubungi pihak sekolah dan tidak lama kemudian empat orang security keluar dari gedung sekolah dan sedang menginterogasi wanita itu.


Tiba-tiba suara wanita itu terdengar membentak dan marah, mungkin dia merasa terhina dengan interogasi mereka. Alyena tersenyum dan segera meninggalkan area parkiran bersama Nick.


~


Suara-suara terdengar di dalam gedung sekolah kala jam istirahat berlangsung, setelah kelas pemerintahan, mereka memiliki waktu 30 menit untuk melakukan apapun di kantin, Alyena memperhatikan banyak siswa yang sibuk dengan segala kegiatan-kegiatan yang terjadi di sekolah itu, tetapi Alyena tidak begitu tertarik, sejak tadi dia terus memperhatikan ponselnya yang belum berdering, padahal Alyena telah mengirimkan pesan untuk Jafier sejak pagi hari.


"Apa kak Willy yang melarangnya untuk menghubungiku?" gumam Alyena di salah satu meja kantin sekolah. Terdengar ponselnya berbunyi sekali dan itu pesan dari Jafier.


Aku akan menjemputmu sepulang sekolah, jangan khawatir, aku sudah menghubungi Willy dan dia menyetujuinya.


"Oke paman." Alyena segera mengirimnya, nampak wajahnya kembali tersenyum lagi dan dia terlihat merona di kedua pipinya.


"Hai, kau sendirian?"


Suara itu membuat Alyena mendongakkan kepalanya, dia menatap seorang pria tinggi dengan tubuh Atletis dan tentunya berwajah tampan sedang berdiri di depan Alyena, tanpa Alyena sadari, sejak tadi meja di seberangnya tengah berisik dan mereka saling mendorong dan bertaruh siapa yang berani mendekati Alyena yang sedang duduk sendirian, padahal sejak tadi dia menunggu Nick yang tidak kunjung datang.


"Ha? tidak juga, aku sedang menunggu temanku." Jawabnya.


"Maksudmu si Nick, kemarin aku melihatnya berbincang denganmu, jangan terlalu dekat dengannya, dia pria aneh, dia terlalu banyak bicara, kalau kau mau, kau bisa ikutan di meja kami, apalagi anggota Cheerleader akan berkumpul di meja sebelah."


Alyena menatapnya jelas dengan pandangan tidak suka. "Tidak, terima kasih, aku masih menunggu Nick." Ujarnya.


pria itu terlihat tertegun, seakan penolakan Alyena tidak bisa di terimanya, "C'mon ikut saja, kami akan memperlakukanmu dengan baik, jika kau ingin di perlakukan sebagai seorang putri Collagher, kami juga bisa melakukannya." Dia berucap sambil berbalik ke arah temannya dan mereka memberikan dukungan dengan teriakan konyol mereka.


Kali ini Alyena memandangnya dengan pandangan Jijik kepadanya. "Aku bilang tidak, sebaiknya kau pergi, sebelum seseorang datang kemari dan itu akan membuatmu menyesal."


Sepertinya pria itu tidak menerima penolakan, dia memukul meja di depan Alyena dan memandangnya tajam seakan memerintah, belum lagi dia bergerak ingin melakukan sesuatu, dua orang pengawal dan dua orang security menyergapnya dan memelintir tangannya.


"Apa aku ketinggalan sesuatu yang penting?" Nick datang, dia baru saja datang sambil membawa buku dari perpustakaan.


"Pria-pria berotot Heh, mereka selalu sok di sekolah ini, Tch lihat saja, hanya badannya saja yang besar tetapi otaknya kecil, mereka suka sekali mengganggu murid-murid baru dan menjadikannya taruhan.


"Jangan pernah bergaul dengan mereka, apalagi dengan Cheerleadernya, mereka mengerikan." Ucap Nick.


"Mm, kau benar, lihat saja pandangan mereka kepadaku, apalagi gadis pirang itu, dia seperti ingin menelanku bulat-bulat."


"Sebentar lagi kau akan melihat aksinya." Ucap Nick.


"Apa maksudmu?"


"Sebelum pulang nanti mereka akan menghadangmu dan melakukan sesuatu untukmu, sebaiknya kau menempatkan penjaga di sekitarmu Al."


"Tch, apa tidak ada satu haripun ketenangan yang kudapatkan?" gumam Alyena sambil menyandarkan kepalanya di meja kantin.


~


"Periksa latar belakang pemuda itu, dan jangan biarkan dia pergi ke sekolah, apalagi bertemu dengan Alyena."


"Baik tuan."


"Harusnya aku melarang Alyena pergi ke sekolah hari ini, lihat saja, begitu banyak yang ingin menyerangnya, bahkan ketika dia tidak melakukan apapun."


~


Sepulang sekolah, Alyena di temani Nick sampai Jafier datang menjemputnya, mereka berbincang-bincang, Nick berada di atas motornya dan telah mengenakan helm dan kaus tangannya, sedangkan Alyena berada di sampingnya, mereka bercerita mengenai tugas sains yang diberikan gurunya tadi sebelum mereka semua pulang, Alyena sengaja membahas mengenai pelajaran itu kepada Nick, karena Nick akan berbicara dengan semangat jika mereka membahas pelajaran itu.


Alyena terkekeh, siapa yang membayangkan, mereka terlihat serius berbicara karena membahas masalah pelajaran.


"Sepertinya serius sekali, apa aku mengganggu kalian?"


Suara itu mengagetkan Alyena dan Nick, tanpa di sadarinya, Jafier telah berdiri di sana, sejak tadi memperhatikan percakapan mereka berdua.


"Aku tidak melihat paman sudah datang." Ucap Alyena.


"Selamat siang sir, perkenalkan namaku Nick, dan aku teman Al, kami teman sekelas, jadi anda jangan khawatir," Matanya lalu tertuju kepada Alyena.


"Al, aku pergi, sampai jumpa besok." Nick pergi dengan gaya sok keren di depan jafier. Sementara Jafier menaikkan satu alisnya dan menatap Alyena.


"Al? sejak kapan namamu menjadi Al, sayang?" Ucapnya, Alyena lalu tertawa.


"Nick yang memanggilku seenaknya, katanya namaku seperti nama dalam film telenovela atau gadis dari desa, jadi dia memanggilku dengan sebutan Al."


"Sepertinya kau juga menyukai nama itu, Hem?" Ucap Jafier.


"Cukup suka, terdengar akrab."


Jafier memegang tangan Alyena dan akan membawanya ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mereka berdiri.


~


"Kita akan kemana paman?" tanya Alyena, sesaat sebelum mereka tiba di penthouse milik Jafier.


"Kita akan ke penthouseku, aku sudah menyiapkan makan siang untuk kita berdua."


"Benarkah, sudah lama aku tidak ke penthouse paman," Ucap Alyena senang, matanya teralihkan dengan majalah yang ada di sampingnya, dia kemudian membuka-bukanya dan melihat profil-profil para pebisnis yang hot di Seattle, Alyena melihat satu persatu dan dia menemukan kakaknya Willy berada di deretan nomor 1, Alyena lalu tersenyum tidak percaya.


"Kakak berada di nomor satu?" Ucapnya, Jafier menoleh dan melihat apa yang dibaca oleh Alyena.


"Ya, Willy berada di peringkat pertama." Ucap jafier. "Kalau paman berada di peringkat berapa?" tanyanya.


Jafier berada di peringkat ke tiga, Alyena lalu membaca profilenya, dia membacanya dengan seksama, dia membalik halaman majalah itu dan melihat sederet wanita yang pernah dekat dengannya, dan salah satunya adalah wanita itu yang bernama Cecilia. Alyena terlihat jengkel, wanita-wanita yang pernah di gosipkan pernah bersama Jafier adalah wanita terseksi dan mereka semua sangat cantik, ada juga yang pekerjaannya sebagai model dan beberapa wanita pebisnis sepertinya.


"Sepertinya paman memiliki banyak pengalaman yang menarik." Ucap Alyena tiba-tiba. Jafier lalu berbalik dan melihat Alyena sedang membaca bagian tentang kedekatannya terhadap beberapa wanita yang ada di majalah.


"Lebih baik jangan membaca itu, banyak hal yang tidak benar yang di taruh di sana hanya untuk menyuguhkan gosip dan scandal yang dibuat-buat agar lebih menarik." Ucap Jafier.


Alyena mendengus, dia lalu melipat tangannya di depan dadanya, "Tetapi wanita bernama Cecilia itu bukan gosip, dan itu kenyataan yang pernah terjadi antara paman dan wanita itu."


Ucapan Alyena membuat Jafier menepikan mobilnya, dia lalu menatap wajah cemburu Alyena yang terlihat cantik. Pipinya merona merah dan bibirnya bergetar karena marah.


"Kau cemburu?" Ucap Jafier.


"Tidak, aku tidak cemburu, siapa yang cemburu?" Ucap Alyena dengan gugup.


"Alyena, aku memang tidak bisa merubah masa lalu, semua telah terjadi, dan aku tidak akan lagi memikirkannya, tetapi aku akan memperbaiki masa depan yang akan kita jalani bersama, kau mengerti maksudku? Aku tidak perduli dengan wanita itu, yang terpenting sekarang ini adalah kau, karena kau adalah masa depanku yang ingin kujaga dan tidak akan aku lepaskan, aku ingin kau mendengar ini baik-baik Alyena, meskipun nantinya kau lari dariku, atau kau ingin bersembunyi dariku dan tidak ingin bersamaku, aku akan pastikan kita akan bersama suatu hari nanti, kau tidak akan kulepaskan." Ucapnya.


Saat itu matanya yang tajam seakan menembus mata coklat milik Alyena, ungkapan Jafier yang terlihat sangat bersungguh-sungguh itu membuat Alyena tentu saja sangat senang, tetapi janji seperti itu cukup mengerikan di telinga Alyena.


~


"Jika sudah sejam, kalian segera menjemputnya."


"Baik tuan."


Willy menerima pesan dari Jafier, agar dia dapat menjemput Alyena dan akan makan siang dengannya, meskipun Willy menolaknya pria itu sangat keras kepala, dia pasti tetap akan menjemputnya bahkan jika Willy melarangnya, kadang sikap keras kepalanya itu membuat Willy khawatir.


Jafier tidak begitu berbeda dengan Willy, sikap arogan dan pemarah serta keras kepala yang begitu melekat di dalam diri mereka, serta sikap protektif yang berlebihan dan yang membuat Willy paling khawatir mengenai hubungan mereka berdua selain wanita bernama Cecilia, adalah sikap posesif berlebihan yang dimiliki oleh Jafier, dia terkadang dapat mengerikan di banding dengan dirinya sendiri.