
Makan malam itu terasa aneh dengan kehadiran Killian Regan di antara mereka. Dia datang tidak lama ketika Willy selesai menelepon. "Selamat malam, maaf aku mengganggu makan malam kalian." Ucapnya sambil menatap Audry dan Alyena.
Audry tersenyum sopan begitupun dengan Alyena. Pria itu duduk di samping Willy, setelah kedatangannya mereka berdua mulai berbincang, dan anehnya Willy tampak rileks ketika bersamanya, dia bahkan tertawa seperti dulu, seperti ketika dia masih berteman dengan Jafier.
Alyena makan dengan tenang, kadang dia membalas pesan Jafier dan menyampaikan jika dia sedang makan malam bersama dengan William dan Audry. Mereka berbincang sedangkan Audry juga sibuk menelepon dengan seseorang, Alyena pergi sebentar dan menerima telepon dari Jafier.
"Kau masih di sana?"
"Mm, aku pergi sebentar dari kak William, dia sibuk berbicara dengan tuan Kilian Regan." Alyena lalu menutup mulutnya, karena telah keceplosan, hening sesaat.
"H-halo?" Ucap Alyena.
"Apa yang Regan lakukan di sana? kenapa dia bisa makan malam bersama kalian?" suaranya terdengar mendesis ketika dia berbicara.
"Kak Willy memiliki kerja sama dengan perusahaan Regan, jadi mereka sering bertemu." Jawab Alyena sedikit mengecilkan suaranya.
"Oh ya, aku tutup dulu sayang, ada yang harus aku lakukan."
"Ok."
Alyena mengambil napas, dia kemudian berbalik dan terkejut ketika pria itu ada di belakangnya.
"Kenapa kau terkejut Alyena? sepertinya teleponmu itu terlarang untukmu." Ucapnya sambil tersenyum kepada Alyena.
Alyena mengernyitkan alisnya, "Terlarang? aku minta maaf, tapi ini bukan urusan anda." Ucap Alyena, sambil mengernyitkan alisnya tidak suka.
"Kilian, panggil namaku dengan Kilian." Pria itu berdiri di sana sambil bersedekap, memperhatikan sejak tadi tingkah Alyena yang aneh ketika menerima telepon.
Alyena berdiri di sana sambil memeluk ponselnya, dia lalu memasukkannya di sakunya, dan kemudian hendak pergi. Pria itu menghalanginya dan memegang tangannya.
"Kau tahu? pada akhirnya aku yang akan menang, Alyena. Kita akan lihat sejauh mana Jafier akan berusaha kali ini, sepertinya hubungannya dengan William tidak begitu bagus, aku bisa mengatakannya buruk." Ucapnya sambil tersenyum.
Kernyitan Alyena semakin dalam, "Aku tidak mengerti apa yang anda katakan, tetapi tidak ada permainan di sini, tidak ada yang menang atau kalah, karena aku yang memilih orang yang akan kucintai." Ucap Alyena dengan jengkel, dia menghentak pegangan tangannya dan segera pergi meninggalkannya.
Kilian tersenyum. "Kita akan lihat Alyena, apakah perkataanmu itu benar, karena aku juga tidak akan menyerah semudah itu."
~
Alyena akhirnya kembali ke penthouse, setelah makan malam, hanya dia sendiri yang pulang, William masih ada pertemuan dengan Kilian Regan bersama rekan bisnisnya yang lain, sedangkan Audry pergi, karena teman-temannya menghubunginya dan dia akan pulang larut malam.
Alyena keluar dari mobilnya, dia lalu berbalik dan melihat satu mobil porsche yang berhenti di sana, ponselnya tiba-tiba berdering.
"Halo Alyena."
"Jafier? Kau dimana?" Tanya Alyena.
"Aku berada tidak begitu jauh dari penthousemu, apa kau sendiri?"
"Ya aku sendirian, tetapi di sini penuh dengan pengawal dan banyak cctv." Ucapnya.
"Ya, aku juga melihatnya, William betul-betul menempatkan pengawal di setiap sudut."
"Aku akan keluar."
"Jangan, biar aku yang masuk."
"T-tapi bagaimana cara paman masuk kemari?"
"Jika Willy begitu hebat bersembunyi, maka aku hebat mengendap-endap dan masuk ke rumah yang terlarang untukku, sebaiknya kau masuk dan tunggu aku."
"T-tapi paman." Ponselnya di tutup, Alyena tahu dia harus mengikuti ucapan Jafier, jika tidak, nanti rencananya kacau, dan dia akan ketahuan. Alyena masuk ke dalam penthouse itu dengan jantung berdebar, dia sangat khawatir jika dia ketahuan dan tertangkap, Alyena sedang berada di kamarnya, dia mondar mandir sejak tadi, tangannya memegang ponsel begitu erat, dia berharap Jafier dapat masuk dengan selamat.
Suara ketukan terdengar dari luar, dia kemudian membukanya sedikit dan melihat Jafier sedang berdiri di depan pintu kamarnya, dengan cepat Alyena membuka kamarnya dan menarik Jafier masuk ke dalam kamarnya.
Alyena menghembuskan napasnya. "Paman, kau membuatku jantungan, aku takut sekali jika kau ketahuan."
"Paman?" Ucap Jafier, dia lalu menarik Alyena ke dalam pelukannya, dia memeluknya dengan begitu erat. "Kau pasti tidak tahu kalau aku sangat merindukanmu." Bisik Jafier.
Alyena membalas pelukannya, dia meletakkan wajahnya di dada Jafier. "Aku tahu kalau kau sangat merindukanku karena itu aku juga sangat merindukanmu." Balasnya. Mereka berpelukan cukup lama, hingga Jafier memandang wajahnya dan menempelkan hidung mereka sambil tersenyum.
"Apa kau akan bisa bertahan di dekatku tanpa menyentuhku malam ini?" Ucap Alyena seperti memiliki rencana di kepalanya.
Alyena mengalungkan kedua tangannya di leher Jafier dan dia menciumnya, Jafier tentu saja membalas ciumannya.
Entah sejak kapan, mereka berciuman dan berakhir di atas tempat tidur. Sebuah ketukan terdengar dari luar pintu kamarnya, Alyena dan Jafier saling menatap, bibir mereka lalu terlepas. Jafier bangun, begitupun dengan Alyena. Dengan cepat Alyena menarik Jafier dan memaksanya masuk ke dalam lemari pakaian milik Alyena.
Alyena memperhatikan dirinya dan segera membuka pintu kamarnya, dan berakting mengantuk di depan Willy yang menatapnya dengan heran.
"Owh, kak Willy, aku pikir kau akan pulang malam karena rapat. Oh ya, kak Audry pergi bersama teman-temannya, sepertinya dia akan pulang larut malam." Ucap Alyena sambil berpura-pura menguap.
Tajam matanya menyelidik, "Kau sudah mengantuk? padahal kakak ingin membuatkan cemilan tengah malam, kalau kau mengantuk tidurlah, besok kau harus kuliah kan?"
Alyena mengangguk dan kembali menguap. "Baiklah sayang, selamat tidur." Dia mengacak rambut Alyena dan segera meninggalkan kamarnya. Alyena segera menutupnya dan menghembuskan napasnya.
"Aku pikir jantungku akan melompat, aku tidak menyangka kak Willy pulang secepat ini." Gumamnya. Jafier dengan perlahan keluar dari lemari, dia mendengar Alyena menggumam seorang diri. Tatapannya tiba-tiba mengarah kepada Jafier tetapi ada sesuatu yang di pegangnya yang membuat Alyena membelalakkan matanya.
"Apa ini Alyena? kenapa kau memiliki barang seperti ini?" Ucap Jafier.
Dengan cepat, Alyena ingin merampas lingerie dari tangan Jafier, lingerie itu sangat tidak pantas di milik oleh Alyena, karena bentuknya sangat seksi dan tentu saja transparan.
"I-itu hadiah sialan si Nick, dia memberikannya kepadaku saat ulang tahunku, dia memberikannya hanya karena iseng saja."
"Dan kau masih menyimpannya, bagaimana jika Willy sampai melihat ini?" Ucap Jafier, dia menaikkan tangannya ke atas tinggi-tinggi agar Alyena tidak dapat menjangkaunya.
"B-berikan padaku paman, jika tidak aku akan menyerangmu dan kau tidak akan bisa menahan-nahan dirimu lagi." Ancam Alyena.
Jafier lalu terkekeh, "Hoho, sekarang Alyena kecil bisa mengancamku? itu perubahan besar."
"T-tentu saja, aku bukan lagi anak-anak." Ucap Alyena dengan marah. "Berikan padaku paman Jafier, itu hadiah untukku, aku akan memakainya ketika aku bersama suamiku suatu hari nanti." Ucapnya, dia lalu merebut dari tangan Jafier karena ucapan Alyena membuatnya terkesiap.
"Tentu saja kau akan memakainya, meskipun aku lebih suka warna yang lebih gelap." Ucapnya lagi.
Alyena lalu tertawa. "Apa kau yakin, aku akan menjadi istrimu kelak?" Ucap alyena, dengan cepat dia menyimpan lingerie itu ke dalam lemarinya dan menutupnya.
"Selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan pria manapun akan menjadi suamimu, karena kau akan menjadi istriku kelak." Bisiknya. Dia membawa Alyena ke tempat tidur dan menyelimuti tubuh mereka.
"Kali ini hanya saling berpelukan, tidak ada ciuman atau serangan mendadak darimu Alyena, kau mendengarku sayang?" ucap Jafier sambil mengambil rambut-rambut yang menempel di dekat wajah Alyena.
Mereka tidur sambil berpelukan dan menatap satu sama lain. Jafier tersenyum dan memberikan kecupan singkat.
"Tidurlah, atau kau ingin aku menyanyi untukmu?" Alyena tersenyum sambil mengangguk. Malam itu Jafier menyanyikan sedikit lagu tidur untuk Alyena, tetapi karena dia tertawa terus ketika mendengar suaranya, Jafier lalu berdecak dan berhenti bernyanyi, dia lalu memeluk Alyena dan kemudian memaksanya memejamkan matanya.
***
Pelukan itu begitu hangat seakan menyelimuti tubuh Aylena, debaran jantungnya dapat di rasakannya. Sinar matahari telah menerangi kamar itu meskipun masih tertutupi oleh gorden dari pintu balkon, Alyena mengerjap, dia membuka matanya, dan menatap dalam jarak sangat dekat, bahkan tidak ada jarak lagi di antara mereka. Wajah Jafier yang bernapas lembut di depan wajah Alyena. Dia mengangkat tangannya dan memegang pipinya, lalu turun ke hidungnya yang mancung.
Alyena mengamati dirinya, kaki mereka saling melilit, meskipun saat itu Jafier masih mengenakan jeansnya dan hanya mengenakan kaos putih yang melekat di tubuhnya. Alyena menarik hidungnya lalu tertawa ketika alis tebalnya mengernyit.
Dia kembali menarik hidungnya dan kembali terkikik. "Berhenti sayang, atau aku akan menyerangmu sekarang juga." Ucap Jafier, matanya masih terpejam, tetapi dia sudah bangun sejak tadi.
Dia perlahan membuka matanya dan menemukan wajah cantik Alyena menyambutnya. "Morning, kau sangat cantik ketika bangun tidur seperti sekarang ini, apalagi kau bangun di sampingku."
Jafier memberikan kecupan singkat, tiba-tiba saja ketukan kembali terdengar dari pintu kamarnya.
"Alyena, kau sudah bangun? sarapan sudah siap, ayo lekas turun dan kita sarapan bersama." Ucap Willy, dia kembali mengetuk.
"Mm tunggu, sebentar lagi aku akan turun." Teriaknya.
Ketukan dari Willy tidak terdengar lagi, dengan cepat bangun dari tidurnya lalu masuk ke kamar mandi, sementara itu Jafier mengenakan jaketnya, tidak menunggu lama, Alyena keluar dari kamar mandi, tanpa dia sadari dia hanya mondar mandir dengan mengenakan handuk yang begitu kecil yang sering di pakainya. Dia segera masuk ke dalam kamar pakaiannnya, tetapi tangannya di pegang erat oleh Jafier. Dia lalu memberikan ciuman panjang yang membuat Alyena sesak dan memegang erat handuknya agar tidak jatuh.
"Segeralah berpakaian sebelum aku berubah pikiran dan menjadi gila, atau aku akan segera keluar dan membeberkannya semua kepada Willy mengenai hubungan kita."
Tentu saja Alyena tidak akan membiarkannya, dia berlari dan masuk ke kamar pakaiannya, dan segera mengenakan pakaiannya. Setelah make-up sebentar dia akhirnya keluar sambil membawa tas yang di sampirkan di pundaknya.
"Bagaimana kau akan keluar dari sini?" tanyanya.
Jafier hanya tersenyum, "Jangan khawatir aku akan pergi dari sini tanpa di ketahui oleh siapapun, apalagi Willy, segeralah keluar sebelum Willy menjadi tidak sabar dan kembali lalu mengetuk pintu kamarmu lagi." Alyena mencium pipinya dan segera keluar dari kamarnya. Dia berlari-lari kecil dan segera menyapa William yang sibuk membuka-buka ponselnya.