Flower On The River

Flower On The River
Rencana



Rambutnya sedikit panjang, dia mengacak-acaknya, mengambil minuman didepannya dan meneguknya sekaligus, memikirkan ruzy bersama Alex membuatnya geram, hiburan dan rayuan dari wanita yang ada di club itu tidak membantu sama sekali untuk mengenyahkan bayangannya.


Dia mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya, sudah lama dokter max tidak merokok, tapi melihat ruzy bersama alex Membuatnya begitu geram.


Seorang wanita mendatanginya, memeluknya erat.


"Ada apa sayang? sepertinya kau sedang memusingkan sesuatu."


Wanita itu bersandar dan mengambil rokok dari tangannya, dia menghisapnya lalu tersenyum miring.


"Apakah karena gadis itu lagi? dia betul-betul pengaruh buruk untukmu." Max menatapnya, dia mendorong menjauhi tubuh wanita itu.


"Aku tidak ingin mendengarkan ucapanmu, sebaiknya kau pergi". Katanya kasar. Wanita itu lalu tersenyum, "Aku benarkan? kau tidak pernah sekasar ini padaku, jika saja kau tidak bertemu dengannya." ucap wanita itu sambil menghembuskan rokok dari mulutnya.


Max tidak memperdulikannya, dia menyandarkan kepalanya disofa mencoba untuk rileks.


"Kau perlu bantuanku? aku bisa membantumu apa saja max, kau tahu dengan jelas bagaimana perasaanku padamu". Max masih memejamkan matanya. "Kau ingin memiliki wanita itu bukan?" Kali ini max mendapat perhatiannya.


"Apa maksudmu Sandra?" Wanita itu memeluk tengkuk max, dan mendekatkan bibirnya.


"Aku akan memberitahumu tapi temani aku malam ini." Max menaikkan alisnya, lalu menyeringai, "Ok, bukan masalah untukku."


~


Alex berada di kantornya setelah mengantar Rlruzy dan mengecup Willy yang tertidur. Dia menghembuskan napasnya, berpikir dengan rencananya yang datang tiba-tiba setelah mengetahui William Rojes Chandelier hanya kamuflase dari tuan Chandelier sendiri, memikirkan rencananya itu membuatnya merasa bersalah, dia menghempaskan semuanya dari atas mejanya, maafkan aku ruzy, ini harus aku lakukan, aku tidak punya pilihan lain, ini semua kesalahan tuan Chandelier, dia merampas semua milikku.


Keluarga Collagher kini hanya sebuah nama, aku bekerja keras dua tahun ini memperbaiki segalanya, tapi itu tidak cukup, cintaku padamu bukanlah sebuah kebohongan ruzy.


Dia lalu menghempaskan kembali barang-barang diatas mejanya lalu berteriak keras, dia baru saja menerima telepon dari adiknya ellena kalau ibunya telah wafat, beberapa resort miliknya sudah dibeli dan diambil alih oleh keluarga Chandelier.


Yang tertinggal dari dirinya hanya perusahaan satu-satunya yang sekarang dia miliki, bantuan dari nick dan ricky membuatnya kembali bangkit sedikit demi sedikit, dan Chandelier tidak tahu itu, dia membangun perusahaannya sendiri dan tidak mengaitkan sama sekali dengan nama Collagher.


"Aku sangat mencintaimu ruzy tapi aku tidak bisa hancur begitu saja di tangan kakekmu." Rahangnya mengatup keras, Alex mengambil mantelnya, dan kembali ke kediamannya di Pittsburgh Pennsylvania.


~


Ruzy menggendong Willy lalu mengecup dan bermain-main dengan willy, "Sebentar lagi kita semua akan bersama sayang, dan kau tidak akan berpisah dengan ayahmu Willy, kita akan selalu bersama." Dia memutar Willy yang tertawa-tawa di gendongannya.


Bibi Emy membawakan makanan kesukaan ruzy, tersenyum melihat kegembiraan ruzy, mereka makan bersama di meja makan, ruzy menolak jika bibi Emy memanggilnya nona atau memperlakukannya seperti tuan rumah, mereka menikmati makanan bersama di meja makan. Perapian yang bergejolak melengkapi kehangatan malam itu, ruzy begitu gembira dengan apa yang diucapkan Alex padanya.


"Kau terlihat begitu bahagia sayang, kalian memang harus bersama." Dia memeluk ruzy dengan sayang. "Kau berhak bahagia rumah." Ruzy memejamkan matanya merasakan kehangatan dari bibi Emy, "terima kasih bibi karena kau selalu berada di sampingku selama ini", bisiknya.


~


Hari itu mereka semua berkumpul di pemakaman nyonya Collagher, ellena terisak di pelukan Ricky, seluruh keluarganya berkumpul di sana. Wajah-wajah berkabung sedikit demi sedikit pergi dari tempat itu, yang tertinggal hanya Alex yang masih ingin di pemakaman ibunya.


"Sampai terakhir pun kau tidak ingin melepaskan nama Collagher ibu, kau tahu betul jika aku akan berusaha keras membangun semuanya dari awal, tapi kau tidak mempercayaiku, nama Collagher sangat kau agungkan, aku tidak ingin seperti dirimu, larut dalam kesedihan dan akhirnya pergi seperti ini, aku tidak akan melepaskan satupun apapun akan kulakukan, apa yang menjadi milikku dan orang yang kucintai, meskipun dia nanti akan membenciku, aku tidak akan melepaskannya."


Dokter max melengkungkan bibirnya, wanita itu betul-betul tajam, setelah apa yang kuceritakan dia muncul dengan idenya yang brilian, Sandra memang menarik, tapi dia tidak bisa memuaskan keinginanku, yang kuinginkan hanyalah Ruzy.


~


Alex tidak menemui ruzy hari ini, dia berada di kantornya memijit-mijit keningnya yang sakit, terdengar ketukan dari pintu kantornya.


"masuk".


Nick membuka kantor Alex dan melihat semuanya berserakan di lantai, dia bersandar di kursinya dan beberapa botol minuman tengah menemaninya. "Bagaimana kabarmu Alex, kau ok?" tanyanya.


Alex hanya mengangguk, "tentu Nick, aku baik-baik saja". Dia mengambil gelas dan menuangkan minuman untuk Nick.


"Benarkah? tidak terlihat seperti itu bagiku." Kata Nick tidak mengambil minuman yang dituangkan untuknya.


Alex tersenyum, "Tentu aku harus baik-baik saja, banyak hal yang harus aku lakukan nick, aku tidak memiliki alasan untuk berkabung dalam waktu lama."


kata Alex sambil mengguncang gelasnya dan menatapnya. Nick mengernyitkan alisnya.


"Kau tidak menemui ruzy?" tanyanya.


"Tentu, sebentar lagi aku akan menemuinya." kata Alex lagi.


"Kau tidak akan menceritakan tentang ibumu?" tanya Nick.


Alex mengerling marah padanya. "Untuk apa Nick, ibuku hanya kenangan buruk bagi ruzy, dan aku tidak ingin dia mengetahui kondisiku yang menyedihkan kehilangan semuanya gara-gara kakeknya, dan aku tahu itu semua salah ibuku." kata Alex marah.


"Jadi, apa rencanamu?" tanya nick lagi, Alex memijit-mijit keningnya.


"Aku akan menikahinya, tentu kau tahu kami memiliki Willy."


"Itu saja? karena kau mencintai ruzy dan memiliki Willy? kau tidak memiliki rencana yang lain bukan?" kata nick menatap tajam pada Alex.


Dengan pandangan dingin dia menatap Nick. "Apa maksudmu?" Nick dengan santai membolak-balik kertas yang ada dihadapannya.


"Kau tahu dengan jelas apa yang kumaksudkan alex, kau ingin mengambil apa yang telah direbut oleh tuan Chandelier?dengan menikahi ruzy?" katanya tajam.


Alex berdiri dengan marah, "Jangan membuat kesimpulan seenakmu nick, aku tidak....."


Alex terdiam lalu duduk kembali sambil memandang pemandangan diluar jendela. "Terserah apa yang ingin kau katakan nick, tapi aku betul-betul mencintai ruzy." kata alex tenang.


Nick berdiri tidak bertanya lagi kepada alex, sebelum dia pergi nick berbalik dan memandang Alex.


"Jangan sampai kau kehilangan ruzy untuk kedua kalinya alex, pikirkan kembali apa yang kukatakan." Nick berlalu dan pergi, Alex memandang pintu yang menutup lalu melemparkan gelas pada pintu itu sehingga berserakan di lantai.


"Sial ! umpatan Alex menggema di kantornya.