
~Pitthsburg
"Ayolah ruzy, sudah dua minggu ini kau terus berada di dalam mansionmu, apa kau tidak bosan, bibi akan menemanimu berjalan-jalan sebentar mengelilingi kota Pittsburgh, kita ajak willy." Kata bibi emy menghiburnya. Ruzy menatapnya dengan mata sayu.
"Sudah dua minggu kita di pitthsburg?" tanya ruzy pada bibi emy, bibinya mengangguk heran.
"Astaga ruzy kau sampai lupa berapa lama kau menghabiskan waktumu di mansion ini? hentikan tangismu, dan jangan membuat dirimu terpuruk lebih menyedihkan, tuan alex akan datang dengan sendirinya jika dia betul-betul mencintaimu."
"Bibi..kau tahu alex sudah mengambil keputusan, dia tidak akan kembali padaku." Ruzy menggeleng dengan lemah.
"Kalau begitu hentikan tangisanmu tunjukkan pada tuan alex kau juga bisa hidup tanpanya." Bibi emy berdiri menjulang dihadapan ruzy dengan paksa menarik selimut yang ruzy kenakan.
"Bibi akan menunggumu di bawah bersama Willy, kita akan bersenang-senang hari ini." Serunya.
Dengan malas ruzy turun dari tempat tidurnya lalu mengenakan bathrobe berwarna pinknya. Dia harus kuat demi Willy pikirnya, ruzy mengenakan dress panjang berwarna karamel dengan rambutnya yang digerai hingga ruzy terlihat begitu cantik.
"Mom", Pekik Willy menjulurkan kedua tangannya kepada ruzy, dia lalu mengambil willy dari bibi emy.
"Kau tampak cantik sayang, sepertinya tuan keil sudah menunggu lama di mobil dari tadi, kita berangkat sekarang." kata bibi emy riang.
Mereka berangkat mengelilingi pitthsburg dengan panoramanya yang begitu indah, beberapa taman mereka singgahi bermain-main dengan willy, setelah itu mereka berbelanja di butik, lalu makan di sebuah restoran yang terkenal di pitthsburg.
"Hari ini kau sangat cerah dan cantik sayang apalagi ketika kau tertawa, kau harus kuat, bibi akan selalu di sampingmu." Sambil menggenggam erat tangan ruzy.
Senja telah terlihat, mereka harus kembali ke mansion, mereka berjalan-jalan di sepanjang taman menikmati indahnya gemerlap lampu berwarna-warni. Bibi emy mendorong kereta bayi willy, dia sudah tertidur karena kelelahan.
"Ruzy? Suara itu membuat kami berbalik, ruzy melihat mata coklat terang sedang menatap padanya.
"Nick?" ucap ruzy berbalik menatapnya lalu Tersenyum.
"Lama tidak berjumpa ruzy." Matanya yang coklat berkilau menatap ruzy, bentuk tubuhnya yang kekar tidak jauh berbeda dengan alex meskipun rambut pirangnya sudah mulai memanjang.
Ia mengamati wajah ruzy, dia tersenyum miring membuat ruzy menatapnya dengan pandangan aneh.
"Kau terlihat begitu cantik ruzy." Mulutnya melengkung membentuk senyuman.
"Terima kasih nick, apa yang kau lakukan di Pittsburgh?" tanya ruzy. Dia tersenyum cerah, tapi kemudian dia mengernyitkan keningnya.
"Hanya merindukan kota ini saja, sudah begitu lama aku tidak kembali ke sini."
"Oh ya, ehm sebaiknya aku pergi Nick, Willy sudah menungguku."
"Juan...panggil aku Juan, ruzy."
Senyumannya membuat ruzy sedikit takut padanya.
"Baiklah, aku juga harus pergi senang berjumpa denganmu." Dia lalu mengambil tangan ruzy begitu cepatnya.
Ruzy sangat terkejut dia merapatkan bibirnya, Nick mengecup tangan ruzy, membuat ruzy merasa tidak nyaman. Ruzy menarik napas dan melepas tangannya dari nick.
"Sa..sampai jumpa nick eh Ju..juan." seru Ruzy berlari kecil menuju mobil yang menunggunya.
Otot di rahangnya bergerak-gerak melihat itu semua, dia menggertakkan giginya, dia tersenyum tidak percaya. Alex menutup kaca mobilnya lalu keluar dari mobilnya berjalan cepat menghampiri Nick, satu pukulan mendarat tepat di wajah Nick, ekspresi Alex mengeras dirinya terbakar oleh amarah.
"Sepertinya ini yang kau tunggu nick, mengambil kesempatan di belakangku, apa yang kau pikirkan, kau jelas tahu bagaimana hubunganku dengan ruzy, Sialan!" teriaknya.
Nick mencoba berdiri setelah menerima pukulan dari alex, dia memegang bibirnya yang sedikit berdarah, senyum melengkung terbit di wajahnya.
"Hubungan? beberapa minggu yang lalu kau mengatakan sudah berakhir, kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan ruzy." Kata Nick tenang.
"Sialan kau nick." Teriak Alex di taman itu tanpa memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang menatap mereka.
"Aku sudah memperingatkanmu, jangan pernah kehilangan ruzy untuk kedua kalinya, tapi dengan mudahnya kau melepas ruzy begitu saja, dia wanita sangat cantik dan menarik, selain aku tentu banyak pria yang akan mendekatinya."
Nick terkekeh senang, 'Cant help falling love with you...hemm....'
Alex terpaku menatap heran kepada nick yang bersenandung senang, "Kau sakit Nick !", Kata Alex lalu memandang gusar padanya.
Suaranya kini berbeda, nadanya seperti memperingati.
~
Alex datang ke mansion milik ruzy seperti biasa seorang pelayan menggendong Willy agar di berikannya willy ke ayahnya. Tapi kali ini dia dengan tergesa-gesa membuka pintu kamar ruzy seperti mendobraknya, alex betul-betul di bakar cemburu, ruzy sangat terkejut, matanya berkedip-kedip memandang Alex, dia baru saja membuka dressnya, dan hanya mengenakan handuk yang melekat di tubuhnya.
Gerakannya sangat cepat dia menarik tubuh ruzy lalu mengguncangnya. "Apa yang kau lakukan bersama Nick? mengapa kalian terlihat bersama di taman tadi?" matanya berkilat dengan kemarahan.
"Lepaskan aku, mengapa kau peduli aku bertemu dengan siapa? bukankah kau sudah tidak peduli padaku?" sudut matanya berkerut memandang alex yang hanya sejengkal dari wajahnya.
Dia diam terpaku, pupil matanya membesar mendengar kata-kata ruzy, lalu seringai muncul di wajahnya. "Rupanya benar, kalian memiliki hubungan selama ini?"
"Terserah dengan apa yang kau katakan alex, meskipun aku menjelaskannya tidak ada lagi urusannya denganmu, kau sudah memutuskan hubungan kita dengan semaumu." Teriak ruzy, Wajahnya memerah menahan tangisnya.
Mulutnya menyentak menutup, dengan gerakan kasar, dia menarik ruzy dipelukannya, "Kau betul-betul membuatku marah ruzy, aku sudah tidak perduli lagi, aku menginginkanmu." Geram alex di bibir ruzy.
Dengan sekali sentakan dari tangan alex ruzy sudah berada di pelukannya. Ruzy mencoba melawannya tapi Alex tersenyum miring melihat perlawanan ruzy, dengan cekatan dia menangkap ruzy dan mendorongnya ke tembok di belakangnya, dia lalu melepaskan hasratnya, karena beberapa minggu ini seperti neraka bagi alex, dia begitu sangat menginginkan ruzy.
Percintaan panas mereka berdua berlangsung begitu panjang. Hari sudah begitu larut, napas mereka menggema dan bersahutan di kamar itu.
Ruzy membelakangi Alex, dia menangis karena sakit di tubuhnya begitu terasa. Terdengar suara isakan di sampingnya hingga alex memeluk tubuh ruzy dan mengangkat tubuhnya agar dia dapat melihat wajah ruzy.
Ruzy menggigit bibirnya yang bengkak, Alex kemudian menghapus air matanya.
"Aku...aku pikir bisa meninggalkanmu ruzy dan hanya bertemu dengan Willy saja, tetapi aku salah....". Alex menelan ludahnya, kemudian menarik napas panjang.
"Melihat nick mengecup tanganmu saja sudah membuatku seperti orang gila, aku tidak sanggup melihatmu bersama pria lain, membayangkan seorang pria memeluk tubuhmu membuatku menggila.
Ruzy menatapnya dengan mata berkaca-kaca, "Maafkan aku ruzy, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku sangat membutuhkanmu, nick sialan itu menyadarkanku betapa berartinya dirimu dalam hidupku."
Kata-kata itu membuat ruzy menangis sejadi-jadinya didada alex, dia mengeluarkan semua tangisannya yang selama dua minggu membuatnya mati rasa ketika kehilangan Alex dalam hidupnya.
"Berjanjilah padaku alex jangan pergi seperti itu lagi, kalau kau meninggalkan aku, aku betul-betul akan menghilang dari hidupmu." Ancam ruzy, alex setengah tersenyum.
"Kemanapun kau pergi aku akan menemukanmu." Dia lalu mengecup kening ruzy mereka akhirnya terlelap karena tubuh mereka sangat letih.
Ruzy tertidur dipelukan alex, tetapi mata alex masih terbuka memikirkan berbagai cara agar dia dapat menghadapi tuan Chandelier, aku tidak akan mengikuti permainanmu lagi tuan Chandelier. Ruzy adalah milikku, tidak akan kubiarkan kau memisahkan kami lagi. Pikir alex sambil mengecup puncak kepala Ruzy.
~
Tuan Chandelier tersenyum miring mendengar berita bahwa alex kembali bersama cucunya ruzy. "Apa yang akan anda lakukan tuan?" tanya Roger padanya.
"Untuk saat ini biarkan saja, ruzy akan sakit jika dia menangis berminggu-minggu karena kehilangan pria itu." Tuan Chandelier menghela nafasnya.
"Dia betul-betul mirip dengan ibunya, mengapa mereka mengambil langkah yang sama? Mencintai seorang pria berlarut-larut seperti itu, kita kembali ke Perancis roger, aku ingin bertemu dokter Hendrik." Roger menunduk sembari memberikan tongkatnya pada tuan Chandelier. "Baik tuan."
~
Keremangan malam membungkus tubuh pria itu, memandang pantulan dirinya di cermin, dia tertawa mengejek mendengar ucapan nick kepada Alex sore tadi.
"Kau memperingatinya nick, melindungi ruzy dari diriku?"
"Berhenti Juan, jika aku sudah terlelap tidur, dan tidak akan kembali lagi menguasai tubuhku, kau akan merasakan pedihnya segala perbuatan kejimu sendiri, meskipun aku harus menghilang dari dunia ini."
"Omong kosong nick, kau bukan tipe pria yang rela berkorban untuk seseorang." Kata juan yang memandang dirinya sendiri di dalam cermin.
"Kita lihat saja Juan, aku tidak akan membiarkanmu berbuat semaumu lagi, apalagi menyakiti Alex, dia teman baikku." Bentak nick dari dalam cermin.
"Persetan dengan pertemanan kalian, yang kuinginkan hanyalah ruzy, dia milikku semenjak aku pertama kali melihatnya di sungai itu, Kau tahu betul yang kurasakan, karena kita satu tubuh dengan dua jiwa nick, Aku betul-betul menginginkannya."
Pria bernama Juan memukul cermin menjadi serpihan-serpihan hingga tangannya terluka.
"Sebaiknya kau tidur untuk selamanya Nick." Bisiknya.