Flower On The River

Flower On The River
Vol 1



Flower On the Rive



Satu duri yang menancap di setiap sulur pepohonan di dekat sebuah rumah yang cukup nyaman, di heningnya malam terdengar nyanyian merdu yang tertiup angin dari gunung bernama Gimmelwald tepatnya di pegunungan Alpen bernesse di swiss. Seorang gadis sedang duduk di atasnya, sambil memandang langit malam yang bertabur bintang. Setiap hari gadis itu hanya duduk di sana, menatap indahnya langit dan kemilaunya gunung dari kejauhan, membuatnya jatuh cinta dari hari ke hari. Meskipun sunyi, hanya terdengar angin bergemuruh dari pegunungan, seperti riuh suara yang datang menyerang rumah-rumah penduduk.


Gadis itu sebentar lagi berusia 17 tahun, dia seorang diri tinggal di rumah besar itu, setelah ibunya meninggal dunia, ketika usianya 10 tahun dan tidak lama kemudian ayahnya pun menyusul meninggalkan Alyna seorang diri, dari hari ke hari gadis itu tumbuh tanpa ada orang tua di sisinya.


Dia gadis kuat yang ceria dan aktif, namanya Alyena Adams, diambil dari nama belakang Nick Adams, berusia 17 tahun, dia adalah putri dari Ruzy Chandellier dan Nick Adams, usia kedua pasangan itu memang tidak muda lagi, tetapi setelah 6 bulan pernikahan mereka, ruzy tidak menyangka bahwa dia hamil, mereka dianugrahi seorang anak perempuan yang cantik, dia sangat bersyukur anak yang berada di dalam kandungannya sehat-sehat saja, mengingat usianya tidak muda lagi, tetapi sayang sekali keluarga Chandelier, Collagher dan Adams tidak ada yang tahu keberadaan Alyna, putri Ruzy dan Nick, dia gadis yang cantik, berambut coklat dengan mata Coklat terang sama dengan rambut ayahnya, Nick.


•••


Tepat pukul 6 sore hari, seluruh aktivitas para buruh pemetik anggur berhenti dan mereka kembali ke rumah mereka masing-masing, sama halnya dengan Alyena, dia pun bekerja di sana sebagai buruh pemetik anggur di perkebunan keluarga besar Regan. Rambut coklatnya beterbangan tertiup angin malam, setelah menyelesaikan memetik anggur di kebun keluarga besar bangsawan Regan. Dia lalu beranjak ke tempat biasa ibunya memetik bunga di atas pegunungan, duduk di sana seorang diri sambil menikmati indahnya malam dan menatap bunga snow buttercup berwarna kuning nan cantik.


"Mom, Dad, aku ingin pergi ke kota dan menemukan saudaraku yang ibu pernah katakan kepadaku, tapi bagaimana cara aku mencari mereka?" Gumam Alyena sambil menghembuskan napasnya, matanya kembali menatap langit biru malam dengan taburan bintang, dia mengingat kembali kisah ibunya, yang pernah di ceritakan Ruzy kepada Alyena sewaktu dia masih kecil dulu, dia tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


"I am sorry mom, tapi aku tidak akan seperti Mommy, aku tidak akan mengalami nasib yang sama seperti mom, aku akan mencari mereka, setidaknya mereka berdua tahu tentang keberadaanku, aku adalah anak Ruzyana Chandelier dan Nick Adams. Kembali Alyna menghembuskan napasnya. "Mungkinkah aku akan menemukan mereka? Di negara yang luas itu?" Alyna meluruskan kakinya sambil kembali menikmati indahnya pemandangan malam.


•••


Flashback on


Hari-hari indah di lalui oleh Ruzy, setelah pernikahannya dengan Nick, dan hal itu menjadi berita besar bagi Willy dan Audrey, mereka berdua sangat terkejut, meskipun willy sangat menentang pernikahan mereka berdua, tetapi melihat keceriaan dan kebahagiaan di wajah ibunya, dia pun akhirnya merestui pernikahan mereka berdua, tetapi setelah itu, willy jarang bertemu dengan ibunya, dia tidak lagi mengunjungi ibunya, dia begitu sibuk, hanya audrey yang terkadang menelepon ibunya dan menanyakan kabarnya.


"Sayang, sebaiknya kau istirahat dulu, biar saya yang akan memasak makanan untuk makan malam." Ucap Nick. Dia menatap Ruzy dan putri kecilnya yang berusia 10 tahun, yang sedang berbaring di pangkuan ibunya.


Ruzy mengangguk dan memberikan kecupan singkat kepada sang suami, keluarga kecil mereka hidup berkecukupan, mengingat bagaimana status Nick sebagai seorang buronan, maka Ruzy pun pergi dari Villa yang di bangunkan Willy untuknya, dia menjual villa itu dan membeli satu rumah kecil di dekat perkebunan anggur yang cukup jauh dari gosip orang-orang di desa, meskipun masih berada di desa yang sama yaitu di Gimmelwald Pegunungan Bernesse.


Hari-hari mereka begitu bahagia, apalagi ada si cantik Alyna yang selalu menghibur mereka berdua. Ruzy terbatuk-batuk, sesekali dia menyembunyikan batuknya dari Nick, dia takut nick akan khawatir kepadanya dan nekat mencari dokter untuknya, Nick tidak boleh terlalu menonjolkan dirinya di desa, orang-orang masih belum melupakan kasus Juan Teves seorang pembunuh berantai mengerikan, meskipun sudah bertahun-tahun lamanya, tetapi Ruzy sangat khawatir jika suatu hari Nick tertangkap dan meninggalkan mereka.


Makan malam akhirnya siap, mereka bertiga duduk di meja makan, mereka makan sambil berbincang, terkadang Alyna membuat lelucon dan membuat ayah dan ibunya tertawa.


"Alyna sayang kemarilah, ada yang ibu ingin ceritakan kepadamu." Ucap Ruzy.


Alyna duduk di samping ibunya, dia selalu berpikir betapa cantiknya ibunya ketika dia masih mudah dahulu, "Alyna sayang, ibu ingin menceritakan sesuatu kepadamu, ingat perkataan ibu baik-baik."


Alyna mengangguk, "Oky mommy."


Ruzy tersenyum lalu mengusap kepala putrinya. "Alyna kau memiliki dua orang saudara yang tinggal di Pitthsburg di penssylvenia, kau memiliki kakak laki-laki bernama William Collagher dan kakak perempuan bernama Audrey Collagher."


Alyna menganga, wajahnya takjub dan terkejut. "Benarkah mommy? Aku memiliki saudara?" Ucap Alyna dengan senang, wajahnya berseri-seri mendengar ucapan ibunya.


"Suatu hari jika ibu dan ayahmu sudah tidak ada di dunia ini, kau akan sebatang kara, maka kau harus mencari saudara-saudaramu, kau mengerti sayang."


Muka Alyna lalu menjadi cemberut. "Tidak mau, aku tidak mau mencari mereka, mommy dan Dad akan baik-baik saja sampai Alyna menjadi tua, kita akan selalu bersama selamanya." Ucapnya sambil menghapus air matanya.


"Tentu sayang, kita akan bersama selamanya." Ruzy mengusap kepala putrinya dan mengecupnya.


"Ayahmu sebentar lagi datang, kita harus menyiapkan makan siang untuknya." Senyum Ruzy. Senyuman yang cantik itu terus melekat di ingatan Alyana akan wajah ibunya, begitupun kelembutan ayahnya, dia sangat menyayangi Alyna mengajarkannya berbagai hal, senyuman orang tuanya selalu melekat di kepala Alyna sampai-sampai dia mengurung dirinya di rumahnya sendiri ketika ayah dan ibunya telah tiada, untung saja Alyna memiliki tetangga yang sangat baik yang menjaga Alyna dan memperhatikannya, Alyna tumbuh menjadi gadis mandiri, kuat dan tidak mudah menyerah. Sejak usianya masih sangat muda dia sudah mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Tanpa sadar air matanya berjatuhan mengingat semua kebersamaannya dulu bersama orang tuanya, dia cepat-cepat menghapusnya lalu kembali menatap langit malam yang indah.


"Aku akan mencari kak Willy dan Kak Audrey, mom, Aku akan menemukan mereka." Gumam Alyna sambil tersenyum.


"Alyna, kau dimana?" Suara itu terdengar dari kejauhan, Alyna lalu mengintip dari atas bukit. Dia lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Aku di sini Nalia." Teriak Alyna sambil tertawa, gadis itu berusia sama dengan Alyna dia mendongakkan kepalanya dan berkacak pinggang.


"Ayo turun waktunya makan malam." Serunya. Alyna mengangguk dan segera berdiri dari tempat itu, dia kembali memandang pegunungan sunyi dari kejauhan, semangatnya tiba-tiba muncul kembali.


"Kak Willy, kak Audrey aku akan menemukan kalian." Bisiknya.