
"Anda baik-baik saja tuan Chandelier?" tanya seorang dokter yang berdiri di sampingnya, Dia membuka matanya dan ingatannya langsung tertuju pada gadis yang di temuinya siang tadi. Dia mencoba bangun, "Jangan memaksakan diri tuan Chandelier, anda harus beristirahat."
"Tidak, ada hal sangat penting yang harus aku lakukan." bentaknya, suara pintu kamar terbuka, salah satu pelayan masuk dan membisikkan sesuatu kepada tuan Chandelier, "Biarkan dia masuk." perintahnya.
James brown melangkah, melihat tuan Chandelier tengah duduk menunggunya, dia berhasil menemui tuan Chandelier dan mengatakan sesuatu yang betul-betul menarik perhatiannya, beberapa penyelidikannya mengenai ruzy membuatnya yakin dia adalah cucu dari tuan Chandelier.
"Anda baik-baik saja sir?" tanyanya. Tuan Chandelier hanya mengangguk singkat, sambil memegang tongkatnya.
"Apa yang kau katakan padaku ternyata benar, aku menemuinya tadi siang, wajahnya sama persis dengan anakku Cathy."
"Dimana kau mengetahuinya detektif brown?" tanya tuan Chandelier.
Detektif brown mengambil secarik kertas dan memegangnya, "Peristiwa pembunuhan terjadi di kediaman Collagher, dan tanpa sengaja aku menemukan liontin di kamar gadis itu, liontin itu memiliki ukiran, 'Chandelier dan grigori' seperti ini, mata tuan Chandelier membulat melihat sketsa yang diberikan padanya.
"Grigori, ya....pria yang membawa Cathy bernama Adrik grigori', dia lebih memilih pria Rusia itu dibandingkan keluarganya sendiri." Raut wajahnya begitu sedih, kebenciannya pada pria rusia itu sedikit demi sedikit telah memudar, mereka berdua telah tiada dan meninggalkan cucuku di sana.
"Jadi, apa yang dikerjakan ruzy di kediaman Collagher?" tanyanya lagi.
"Dia diasuh oleh teman nona Cathy yang tinggal di Swiss bernama Emely Wilhelm, sepertinya dia menyematkan nama belakangnya untuk cucu anda tuan", dan nona ruzy bekerja di sana sebagai seorang pelayan."
Tuan Chandelier menutup matanya marah dan sedih mendengar kehidupan cucu satu-satunya itu, "Cucuku, ruzyana Chandelier, Aku ingin pergi sekarang juga kesana." kata tuan Chandelier berusaha bangkit dari tempat duduknya.
"Sebaiknya jangan tuan Chandelier, anda belum betul-betul sehat, biar aku yang langsung menjemput nona ruzy." Kata detektif brown padanya. Tuan Chandelier mengangguk semangat.
"Sebaiknya kau bergegas menjemputnya, aku tidak ingin melihat cucuku berada di sana melayani orang-orang itu." perintahnya.
"Baik tuan."
~
Sekuat tenaga ruzy menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir, mengambil pakaiannya yang sedikit itu kedalam bagasi tasnya memasukkannya begitu saja, melihat sekelilingnya sebentar dan beranjak dari tempat itu, baju-baju bibi emy sudah di rapikannya dan berada di dalam mobil Thomas, terdengar ketukan pelan dari pintunya.
"Ruzy kau berada di sana, buka pintumu." ruzy menutup mulutnya, itu Alex dia membisikkan padaku ingin datang malam ini dan aku melupakannya.
Dia terduduk di lantai menahan air matanya, setelah beberapa menit lamanya, akhirnya alex menyerah dan pergi, Sepertinya dia betul-betul tidak mendengar kejadian sore tadi.
Ruzy mengintip dan memasang telinganya di pintu, dia perlahan membukanya dengan cepat, menarik bagasinya perlahan agar tidak membangunkan yang lainnya. Dia memasukkan tasnya kedalam mobil, melihat Thomas yang seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Jangan mengatakan apa-apa kepada tuan Alex, kumohon Thomas." Dengan ragu dia akhirnya mengangguk.
Ruzy masuk ke dalam mobil, menatap rumah besar itu, dan melihat seseorang dari kejauhan menatapnya. Dia yakin itu pasti nyonya Collagher, Mobil itu menjauh meninggalkan semua kenangannya di sana bersama dengan orang yang dicintainya.
~
Pagi-pagi sekali semua terlihat dan berjalan normal, mengerjakan tugas-tugas mereka masing-masing. Joan pergi ke kamar ruzy dan mengetuknya.
"Ruzy buka pintunya." teriak Joan. Dengan tidak sabar Joan membuka kamar ruzy yang tidak terkunci, dia sangat terkejut segala sesuatu di kamar itu sudah kosong, hanya pakaian pelayan yang berada di sana di balik lemari.
Dia berlari memberitahu Jessy, "Ruzy pergi." bisiknya agar tidak terdengar oleh yang lain, Jessy menutup mulutnya tidak percaya, lalu menarik Joan ke belakang taman didekat sungai. "Benarkah? bagaimana bisa? bagaimana dengan bibi emy, apa sebenarnya yang sedang terjadi?" bisik Jessy.
Nyonya Collagher, sedang duduk di ruang kerjanya, menelepon seseorang, "Ok, nyonya Catherine kapan waktu yang tepat? oh benarkah, aku menantikannya." Dia menutup teleponnya dan tersenyum puas.
Ellena masuk ke kamar ibunya tanpa mengetuknya, "Sangat sopan ellena, itulah mengapa kau sering ditegur nenekmu itu." Ellena mendengus mendengarnya.
"Apa yang ibu rencanakan? mengapa dress itu ada dikamar bibinya Ruzy." tanyanya.
"Rupanya kau juga tahu gadis bernama ruzy? katanya, sambil mencatat-catat di bukunya.
"Dan kau juga tahu hubungan antara Alex dan gadis itu?" kata ibunya dengan senyum miring. Wajah ellena memucat.
"Ck, apa yang tidak kuketahui jika mengenai anakku? seorang ibu tahu segalanya ellena."
Dan apa yang ibu lakukan kepada Ruzy?" Kata ellena berjalan cepat ke meja ibunya. Dia tersenyum. "Bukankah tugasku sebagai seorang ibu dan kepala di rumah ini menjauhkan segala sesuatu yang merusak nama baik keluarga Collagher?" katanya singkat.
Ellena mengambil napas, "Dan...apa yang ibu lakukan padanya? kata ellena malas mendengarkan ceramah ibunya. Nyonya Collagher mengangkat satu alisnya dan tersenyum tenang, "Gadis itu telah pergi, ibu masih begitu baik memberikan kesempatan padanya."
"Dia pergi kemana?" tanyanya lagi.
"Ibu tidak tahu ellena, dan kau membuang waktuku dengan pertanyaan tidak pentingmu itu, ibu sibuk". Ellena memicingkan matanya kearah ibunya.
"Ibu tidak ada bedanya dengan nenek tua itu." Teriak ellena.
"Hati-hati dengan lidahmu ellena, dia nenekmu." Ellena memutar matanya dan keluar dari kamar ibunya. Dia berjalan mondar mandir di kamarnya. Apa yang harus aku lakukan? memberitahu alex? Ellena membuka kamarnya dan membuka kamar mandinya dan ternyata kosong, dia tidak ada di sana.
"Kemana Alex?"
~
Setelah mengetuk beberapa kali tidak ada tanggapan dari ruzy, dia melihat ponselnya, Ricky sedang meneleponnya dan mengangkatnya, "Aku di rumah ricky, tidak sedang bersama ruzy sepertinya dia melupakan janji kami, ok aku akan kesana."
Club itu penuh dengan orang-orang yang sedang berdansa dan duduk bersama sambil memesan berbagai macam minuman. "Kau disini Alex, apa yang membawamu kemari, bukankah setiap malam kau bersama Ruzy?" tanya Nick padanya.
"Dia kelihatannya sangat letih, dia tidak membuka pintu kamarnya." kata alex lalu mengambil minuman dihadapannya. Ricky tertawa.
"Biarkan dia beristirahat sehari saja, tubuhnya akan ambruk jika kau sering mendatanginya setiap malam."
Alex memandangnya menyuruh ricky diam. Seorang wanita dengan gaun seksi mendekati mereka dan matanya menyala dengan senang ketika melihat Alex.
"Hai Alex lama tidak melihatmu." Senyum Meredith padanya, Alex tersenyum melihat Meredith yang pernah menjadi teman kencannya sebelum bertemu ruzy.
"Aku bisa menemanimu malam ini, bisik wanita itu ditelinga Alex dengan bisikan menggoda.
"Bagaimana jika pergi denganku Meredith? kata nick sambil mengedipkan matanya. Meredith tergoda mendengar permintaan Nick padanya, jarang sekali nick memintanya untuk menemaninya.
"Ok, tentu...sorry alex Sepertinya nick lebih membutuhkanku". Alex hanya menggeleng tidak mempermasalahkannya.
Alex terbangun di rumah Ricky, dia lebih memilih menginap di rumah ricky yang tidak jauh dari clubnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 pagi, dengan malas dia bangkit dan mandi, melihat ponselnya sebentar dan mendapati 19 kali panggilan dari ellena. Apa yang menyebabkan ellena meneleponnya sebanyak ini? Dengan cepat dia menelepon ellena.
"Kau dimana Alex? teriak Ellena di seberang telepon.
"Ada apa ellena? Ellena mengatakan sesuatu yang membuat Alex terdiam lama, membeku di tempatnya.
"Halo..halo Alex kau mendengarku? Dengan cepat Alex masuk ke kamar mandi lalu mengenakan pakaiannya, tidak memperdulikan ricky yang membuat sarapan untuknya.
Alex telah tiba di rumahnya dia berlari langsung ke kamar ruzy, napasnya memburu, dia melihat kamar ruzy sudah kosong, dia kemudian berlari ke kamar bibinya, dan mendapati kamarnya juga kosong.
"Apa yang sebenarnya terjadi, SIAL !" umpatnya, terdengar langkah kaki yang menghampirinya dan melihat thomas dengan ragu menatapnya.
"Er...tuan Alex aku ingin cepat menghubungimu tapi aku tidak tahu anda dimana."
"Dimana Ruzy?!" tanyanya, matanya memerah memandang Thomas.
"Dia telah pergi tuan Alex, er....aku tidak tahu harus menjelaskan ini pada anda tapi sebaiknya anda mengetahuinya."
"Katakan padaku", dia menggeram tidak sabar,
"Sepertinya nyonya Collagher tahu hubungan anda dengan Ruzy."