Flower On The River

Flower On The River
Umpan



Mereka tiba petang hari, menyandarkan tubuh mereka di kursi kemudi, saling menatap sebelum mereka berpisah dan menghadapi kenyataan perbedaan diantara mereka berdua. Alex mengusap pipi ruzy dan memainkan rambutnya, ruzy menghapal betul ekspresi wajah pria dihadapannya ini.


"Aku tidak ingin berpisah", bisik alex padanya, ruzy hanya tersenyum mengangguk padanya. Alex membisikkan sesuatu pada ruzy yang membuatnya tersipu.


Ruzy keluar dari mobil alex, dan menatap dari kejauhan mobilnya yang memasuki pagar besar kediaman Collagher. Gerimis membuat pakaian yang dikenakannya sedikit basah, langkah seseorang membuat ruzy berbalik, dia terperanjat menatap pria tua yang ditemuinya di Chatedral of learning mengapa dia ada disini?


Pria itu melangkah menghampiri ruzy, tidak memperdulikan gerimis yang mulai membasahi mantel panjangnya. Ruzy sedikit tersenyum.


"Kita bertemu lagi sir, anda tinggal di dekat-dekat sini?" tanya ruzy padanya, wajah tuan Chandelier begitu pilu, seakan dia bertemu kembali dengan putrinya, wajahnya yang sama persis dengan wajah putrinya yang melarikan dari rumah bersama pria Rusia itu. Mata hazelnya sama persis dengan Cathy putrinya, kecuali kulitnya sepertinya dia mewarisi kulit putih porselen ayahnya yang berkebangsaan Rusia.


"Bolehkah aku berbicara denganmu sebentar?" tanya tuan Chandelier dengan tersenyum sedih, pancaran di wajahnya ingin sekali memeluk gadis itu. ruzy mengangguk dan menunjuk cafe yang tidak jauh dari halte.


Mereka berdua duduk di satu meja dekat kaca besar, memesan dua cangkir teh, "Apa yang ingin anda bicarakan sir?" tanya ruzy dengan sopan.


Setetes air mata jatuh di pipi tuan Chandelier, dengan cepat dia menghapusnya dengan sapu tangannya, membuat ruzy terheran.


"Anda baik-baik saja sir?" tanya Ruzy. "Aku baik-baik saja." Dia kembali memandang ruzy.


"Siapa namamu nak?" tanyanya.


"Namaku ruzy Wilhelm." Wajah tuan Chandelier sedikit berkerut, "Wilhelm? Kau berasal dari mana?" tanyanya lagi, dengan wajah terheran ruzy menjawab pertanyaannya. "Aku tinggal di Swiss bersama bibiku."


"Dimana ayah dan ibumu nak?" Dengan tidak sabar tuan Chandelier ingin mendengar jawaban ruzy dia duduk gelisah sambil memegang tongkatnya.


"Mereka telah meninggal sir, sejak usiaku 5 tahun." Bisik ruzy, entah mengapa dia menjawab pertanyaan-pertanyaan pria di hadapannya ini.


Wajahnya tiba-tiba terkejut, "Saat usiamu 5 tahun?" Kemudian dia memegang dadanya, ekspresi wajahnya kesakitan. Tiba-tiba seseorang berjas berjalan kearahnya dan memegang tuan Chandelier.


"Tuan anda baik-baik saja?" napas pria itu tersengal-sengal. Pria yang menunggunya dengan cepat membawanya keluar dari cafe, tangan tuan Chandelier menunjuk-nunjuk ruzy tetapi kesakitan yang dia rasakan tidak bisa ditahannya lagi, sehingga pria itu membawanya, sepertinya dia akan dibawa ke rumah sakit.


Ruzy memandang mobil itu dari kejauhan. Siapa tuan itu? mengapa dia ingin berbicara denganku? Ruzy menaikkan bahunya dan berlari-lari kecil menuju kediaman Collagher.


~


Sebuah tamparan cukup keras terdengar di ruang tamu di kediaman Collagher, bibi Emy merosot di lantai sambil menangis terisak, berteriak kepada madam Janet bahwa bukan dia pelakunya, "Bukan aku..bukan aku yang melakukannya." Teriak bibi Emy pada keluarga itu. Nyonya Collagher, madam Janet serta ellena berada di sana.


"Kalau begitu jelaskan mengapa dress biru ini berada di kamarmu? ini dress Grace, mengapa dress ini ditemukan di kamarmu?"


Bentak madam Janet, dengan wajah bingung bibi emy memandang siapa saja yang ada di sana meminta pertolongan tapi tidak seorangpun yang dapat menolongnya.


"Periksa dia, bawa dia kekantor polisi, paksa dia agar mengaku dimana dia menyembunyikan Grace cucuku." Teriak madam Janet, ruzy berlari-lari kecil memasuki ruang tamu, dia bingung kenapa mereka semua berkumpul di sana.


"Ruzy kemana saja kau hari ini?" tanya Joan. ruzy terperanjat menatap pemandangan dihadapannya, bibi emy duduk bersimpuh di antara Keluarga Collagher, hanya alex yang tidak berada di sana.


"Bibi Emy? Ruzy ingin menghampiri bibi Emy tapi dihalangi oleh Jessy. "Jangan ruzy, kau nanti akan dijadikan tersangka." Ruzy menatapnya tidak percaya,


"tersangka? tersangka apa?" ucap Ruzy.


Joan menariknya dan menjelaskan kejadian yang terjadi pagi tadi. "Baju nona Grace berada di kamar bibi emy, dan Emely yang melaporkannya kepada madam Janet.


"Tidak mungkin, mengapa...bibi Emy." Tanpa memperdulikan siapapun ruzy berlari menghampiri bibinya yang bersimpuh di lantai, "bibi Emy." Ruzy memegang bibinya menghapus darah dari bibirnya. "Kau tidak apa-apa bibi"?


Bibi Emy tiba-tiba mendorongnya, "Jangan kesini, pergi ruzy jangan membuatmu terlibat pergilah." Bisik bibi Emy padanya.


"Siapa gadis itu?" tanya madam Janet pada seorang pelayan bernama Emely.


"Dia keponakannya, dia membawanya bekerja di sini, dia berasal dari Swiss." jelasnya.


"Gadis jalang ini sepertinya bersekongkol denganmu heh!?" Orang-orang kotor seperti kalian tidak pantas bekerja di sini." Dia menjambak rambut ruzy dan menghempaskan tubuhnya, ellena lalu berdiri menahan serangan wanita tua itu.


"Hentikan ! bukan ruzy pelakunya..mengapa kau libatkan dia." mata ellena begitu tajam memandangnya.


"Oho, Kau selalu menentang nenekmu ini ellena, bahkan pelayan tidak berharga sekalipun lebih penting dibandingkan membela nenekmu ini. Telepon detektif itu, katakan pelakunya sudah di temukan. Dan jangan membantahku, buktinya sudah di temukan." Teriaknya, Nyonya Collagher memijit-mijit kepalanya dan masuk ke kamarnya.


Ruzy memohon kepada ellena, "Nona ellena jangan biarkan bibi Emy dibawa kumohon, bibi emy tidak bersalah."


Ruzy memohon sambil menangis, memegang tangan ellena, sambil memohon-mohon.


"Pergilah ruzy kau tidak boleh terlibat ini salah bibi, pergilah." Dia lalu memandang ellena.


"Nona kumohon jangan membiarkan anak ini terlibat denganku, aku hanya bibinya yang merawatnya sejak dia kecil, kami tidak memiliki hubungan darah, jadi dia tidak ada hubungan denganku." Bibi emy berkata sambil terisak.


Mata ruzy membelalak, "Bibi apa yang kau katakan?" Bibi Emy tidak mau memandangnya.


"Pergilah ruzy, jangan membuat dirimu terlibat dengan masalah ini."


Terdengar beberapa mobil, beberapa polisi mendengarkan penjelasan ellena, tetapi tidak ada gunanya, bibi emy akan di bawa ke kantor polisi, ruzy menarik-narik tangannya, "Jangan bawa bibi tolong ! jangan bawa dia. BIBI !" Teriaknya.


Ruzy berlari kehujanan menatap bibi Emy yang dibawa oleh beberapa polisi berseragam itu. Tangisnya pecah di bawah derasnya air hujan, Tidak ada yang bisa menolongnya. Dia terduduk di tanah yang basah menangis tanpa henti.


Terdengar langkah kaki, membuatnya memandang seorang pelayan bernama Emely, "Ikut aku". perintahnya. Tanpa memperdulikan dirinya yang kebasahan, dia mengikutinya dia terheran-heran, dimana ini? kamar ini begitu besar tetapi keremangan di tempat itu membuatnya ketakutan. Suara langkah kaki membuatnya berbalik menatap seseorang yang duduk di hadapannya.


Wajah Ruzy tersentak begitu terkejutnya hingga ia terduduk di lantai dengan pakaiannya yang basah berlumuran dengan tanah.


"Nyonya Collagher?" bisiknya, Wanita itu menatap ruzy dengan pandangan tidak suka, tanpa memperhatikan wajah ruzy dengan jelas dia kemudian berbicara. "Namamu Ruzy?" tanyanya.


Ruzy mengangguk, "Kau ingin membebaskan bibimu?" tanyanya lagi, ruzy kemudian mengangguk cepat.


"Tolong bibiku nyonya, kumohon dia tidak bersalah." kata ruzy memohon padanya.


"Aku tahu dia tidak bersalah." Senyumnya. Wajah Ruzy terheran.


"A..anda tahu?" bisik ruzy.


Dia melengkungkan senyumnya, dia berbicara sangat santai, tanpa ada nada ancaman yang keluar dari bibirnya. "Tentu aku tahu, tidak mungkin dia yang menculik Grace, dan melakukan pembunuhan sadis itu."


"Tapi mengapa? mengapa nyonya tidak berkata apapun pada polisi tadi?" tanya ruzy nekat.


"Menangkap bibimu hanyalah sebuah umpan, kau sepertinya belum mengerti juga, Kau pikir aku tidak tahu hubunganmu dengan anakku Alex?" katanya tajam.


Ruzy begitu terperanjat, wajahnya begitu pucat, bibirnya Kelu tidak bisa membuka. Nyonya Collagher tersenyum. "Kau ingin membebaskan bibimu bukan?"


Ruzy mengangguk dengan cepat.


"Kalau begitu tinggalkan alex, pergi dari sini dan jangan pernah muncul dihadapannya." katanya tenang. "Aku tidak ingin Alex mengetahui jika aku yang menyuruhmu meninggalkannya, kau pasti tahu sifat anakku yang keras kepala, dia tidak akan mendengarkanku." Dia memutar matanya.


"Pergi ! jangan muncul dihadapannya lagi, dan aku akan membebaskan bibimu, kau pasti tahu pilihan mana yang terbaik, kau tidak ingin melihat bibimu berada dipenjara dengan tikus-tikus dan membusuk di sana."


Wajah ruzy begitu pucat, dengan menahan tangisnya dia mengangguk cepat, "A..aku akan pergi, aku....aku tidak akan muncul lagi dihadapannya." Bisik ruzy sambil terisak.


Nyonya Collagher tersenyum. "Bagus, kemasi barang-barangmu malam ini dan jangan biarkan Alex melihatmu, pergilah dan besok kau akan melihat bibimu Kembali." Nyonya Collagher menautkan jari-jarinya, dia lalu berdiri sedikit mengerling ruzy dan meninggalkannya yang masih membeku di tempatnya.