Flower On The River

Flower On The River
Pertemuan Mendebarkan 2



~Pittsburgh Sehari sebelum pesta


"Aku tidak menyangka kita bertemu dengannya di tempat itu, segala upaya yang dilakukan alex untuk mencarinya ternyata dia berada di kota yang sama dengan kita." kata Ricky memandang ellena yang bersandar di bahunya.


"Siapa yang sangka dia adalah cucu tuan Chandelier, berita ini sudah setahun lalu aku mendengarnya tapi aku ragu jika ruzy yang dimaksudkan." ucap ellena sambil menautkan jemarinya kepada ricky.


"Apakah Alex perlu mengetahuinya? dan kenapa kau mengatakan sudah terlambat? bukankah alex membatalkan pertunangannya dengan wanita itu beberapa bulan yang lalu? Siapa namanya?" tanya ellena sinis.


" Oh ya Rory, dia juga ingin membatalkan pertunangannya dengan alex setelah mengatakan alex tidak bisa memberikan apa yang diinginkannya. Dasar wanita licik dia kan selingkuh dengan Jhon setelah pesta pertunangan kita, alex melihatnya masuk ke kamarmu dan tidak keluar selama beberapa jam, bagaimanapun alex juga tidak perduli, sekarang alex begitu gila kerja, apa yang harus kita lakukan pada pria itu." Kata ellena memanas.


"Sedikit memanas-manasi ruzy, bolehkan?" Biar nanti aku yang berbicara dengannya." Kata Ricky antusias.


Alex sedang menelepon dengan seseorang ketika ricky masuk dengan santai dia duduk di kursi lalu menatap alex yang menganggukkan kepalanya.


"Sibuk"? tanyanya.


"Hari ini aku harus ke California, sepertinya rapat di sana tidak berjalan lancar, Ten betul-betul membuatku kerja dua kali, dia tidak bisa menyelesaikan negoisasinya, dan harus meminta bantuanku." Kata alex yang mengumpulkan semua kertas-kertas yang ada di atas mejanya.


"Ngomong-ngomong kami bertemu dengannya." Kata ricky santai tanpa memandang Alex.


"dengannya? Siapa yang kau maksud?" tanya alex membuka lemarinya dan mengambil tas kerjanya di dalam lemari.


"Siapa lagi kalau bukan gadis yang pernah kerja di tempatmu, siapa namanya? oh ya ruzy", kami bertemu dengannya di sentral park."


Ricky tidak memandang alex, tetapi tas kerja alex jatuh begitu saja di lantai, matanya terbuka lebar mendengar ucapan ricky.


"Ruzy?" kata Alex.


"Ya, Sepertinya dia bertambah cantik, ellena harus memandangnya lekat-lekat untuk memastikan dia ruzymu." Kata ricky dengan wajah setengah tersenyum.


Dia sangat senang melihat reaksi alex, gadis itu betul-betul sangat mempengaruhi alex. Kertas-kertas pentingnya terbuang begitu saja, walaupun dia mencoba menyembunyikan kalau dia begitu terkejut.


"Oh ya, benarkah?" kata alex yang melirik Ricky.


"Sepertinya dia akan datang ke pertunangan Albert Davis, betul-betul beruntung kau tahu, ternyata tunangan Albert itu sahabat ruzy. Kau akan datangkan?" tanya ricky memandang alex yang mematung dengan rahang terkatup.


"Kapan acaranya?" tanyanya.


"Besok malam, ajaklah kakakku Lona ke pesta, biar mom yang menjaga bayinya, dia sangat ingin bertemu dengan diana tapi dia tidak memiliki teman partner untuk pergi ke pesta, suaminya sedang keluar kota."


~Alex


Dan disinilah aku berdiri menunggunya menatap lift yang berdentang, siapa saja yang keluar dari sana membuatku berbalik dua kali, hari ini aku pergi dengan Lona kakak ricky, dia sekarang bersama salah satu temannya Diana. Aku menunggunya dan berdiri diantara tamu-tamu yang tidak kukenal, lalu menyesap minumanku, akhirnya dia datang, dia terlihat begitu cantik dan mempesona tubuhnya begitu indah siapa saja yang melihatnya akan melirik dua kali, aku tanpa sadar menggeram, dirinya yang begitu mencolok, kulitnya yang seputih porselen tentu saja menjadi pusat perhatian pria-pria yang ada disini, gaun itu melekat ketat di tubuhnya membuat tubuhku bereaksi dengan sendirinya.


Aku tahu jika ruzy menatapku, kau tidak akan bisa pergi lagi dariku Nona Ruzyana Chandelier, melihatnya terburu-buru masuk ke dalam lift membuatku hilang kendali, aku begitu merindukanmu ruzy.....


~


Tanpa melepaskan tangannya alex membawa ruzy di mobilnya, meskipun ruzy meronta tetapi tidak dipedulikannya.


"Lepaskan Aku Alex."


Ruzy tidak bisa melepaskan tangan alex darinya, ruzy digenggam erat olehnya. Mereka tiba di sebuah penthouse, tanpa ragu diangkatnya ruzy didalam pelukannya, menyerang bibirnya tanpa ampun, bibirnya masih menempel di ruzy tapi entah mengapa dengan cekatan pintu rumahnya telah terbuka dan mengangkat ruzy di pinggangnya, ruzy meronta-ronta mencari oksigen, napas mereka bersahutan.


"Alex, lepaskan aku, kau menyakitiku, kau kasar sekali." keluh ruzy mendorong alex yang mulai menjelajahi tubuh ruzy hingga gaunnya robek.


Dia mengangkat tubuh ruzy di atas tempat tidurnya, memagut bibirnya menuntut, tubuh ruzy terasa terbakar selama ini dia merindukan dekapan dan sentuhan Alex.


Desahan ruzy lolos dari bibirnya, alex tentu saja mengetahui betul bagian sensitif mana dari tubuh ruzy yang membuatnya lebih bergairah, dia menciumnya dan membuat ruzy teriak, akhirnya ruzy menyerah untuk memberontak, dia juga sangat menginginkan alex. Mereka akhirnya menyatu mengeluarkan kerinduan mereka masing-masing.


Napas teratur terdengar dari pria yang tertidur di sampingnya, ruzy berbalik dan memandang wajah alex yang tertidur, setelah percintaan panas mereka membuat ruzy sedikit merasa bersalah.


"apa yang telah aku lakukan?" mengapa begitu mudahnya aku menyerahkan diriku lagi padanya? Ruzy terduduk menutupi tubuhnya dengan selimut, mencoba mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai dengan beberapa robekan yang menyedihkan.


"Kau mau kemana ruzy?" tanyanya dengan mata menyala.


"Aku harus pulang alex, aku tidak bisa berlama-lama di sini." serunya.


Alex terduduk memandang setiap gerak gerik ruzy menatap tubuhnya yang separuh tertutup selimut, "Kau ingin pergi begitu saja?" Ruzy menatapnya, dan melihatnya tidak percaya.


"Tentu aku harus pergi, aku tidak mungkin seharian di sini Willy akan mencariku." Tanpa sadar ruzy menyebut anaknya Willy, dia sedikit terkejut dengan perkataannya sendiri.


"Willy? tanyanya dingin. "Siapa Willy?" kata alex dengan rahang terkatup. ruzy melirik padanya dan mengenakan satu persatu pakaiannya di depan alex.


"Dia sangat penting dan berarti bagiku, aku harus pulang sekarang." Geraman alex membuat ruzy terperanjat dia membawa ruzy kembali ke tempat tidur, menyobek dressnya begitu saja hingga tubuhnya kembali terlihat.


"Kau bersama pria lain selama ini?" sorot matanya begitu tajam dan kasar.


Ruzy tertawa tidak percaya. "Itu tidak penting, sekarang lepaskan aku brengsek, bukankah kau juga sudah memiliki tunangan?" teriak ruzy pada alex. Alex memegang kedua tangan ruzy diatas kepalanya.


"Jadi kau mengetahuinya? lupakan ! yang kubutuhkan hanya kau ruzy, hanya dirimu." Geram alex yang kini mencium setiap jengkal tubuh ruzy. Beberapa kali ruzy terus memukul Alex tetapi dia tidak sanggup melawan serangan kasar Alex, hingga fajar menyingsing mereka menghabiskan waktu bersama. Ruzy terbangun dan duduk, dia meringis karena bagian tubuhnya sedikit sakit. Dengan perlahan dia mencari baju di lemari dan menemukan t-shirt Alex dan mengenakannya, dia berjinjit menahan perih diantara kedua kakinya, lalu membuka pintu dan menutupnya perlahan.


Alex membuka matanya, menyadari kepergian ruzy, lalu menatap kartu nama yang diambilnya diam-diam dari tas ruzy.


"Ruzyana Chandelier, tidak akan kubiarkan kau pergi kali ini." bisik Alex.


Dengan cepat ruzy mengendarai mobilnya mencari butik terdekat, dia membeli dress hitam dan membeli jaket kulit untuk menutupi lengannya yang terbuka. Sentuhan dan wangi dari tubuh Alex masih dapat dia rasakan.


Willy pasti sedang menangis sekarang, "ayahmu memang pria pemaksa, tidak sabaran dan egois." gumamnya.


Ruzy menggigit bibirnya memikirkan bagaimana jika Alex mengetahui keberadaan Willy? Aku sangat takut jika nanti dia akan membawanya ke keluarga Collagher dan merebut Willy dariku, pikir ruzy.


Ruzy telah tiba di penthousenya, untung saja kakek berada di Pittsburgh dia akan cepat mencium hal yang mencurigakan dariku jika saja dia ada di sini, apa yang harus kukatakan kepadanya?! jika malam ini aku tidur bersama ayah Willy?


"Kau darimana saja Ruzy? tanya bibi Emy yang menggendong Willy yang terisak memanggil-manggil ibunya, ruzy dengan cekatan mengambil Willy menggendongnya dan menciumnya.


"Maafkan aku bibi Emy, er...diana menahanku untuk berpesta, maafkan aku sayang." Sambil mencium lekat-lekat Willy, matanya terbuka lebar melihat ibunya menggendongnya.


"Mom..mom". Teriak Willy sambil memeluk erat ruzy.


"Ada apa honey, "Kau ingin makan sesuatu?" tanyanya. Willy menggeleng dan hanya memeluk ruzy erat tidak melepasnya.


"Apakah Willy sudah makan? tanyanya, bibi Emy mengangguk.


"Baru saja selesai". ucapnya


"Kalau begitu kita ke kamar mommy." Seru ruzy sambil memandang anaknya yang sangat mirip dengan Alex.


~


Alex mengenakan bajunya setelah mandi, menatap dress ruzy dilantai yang sudah tidak berbentuk lagi, dia mengambilnya menahannya lalu menghirup wangi ruzy yang tertinggal di gaunnya. Senyum perlahan tercetak di wajahnya, menatap kartu nama yang diambilnya dengan diam-diam. Alex lalu mengambil ponselnya.


"Hai Nick, aku ingin memintamu bertemu Harold dan menyelidiki seseorang, namanya Chandelier, ok aku menunggu informasimu."


"Chandelier, nama itu begitu familiar ditelingaku, tapi apakah Rojes Chandelier yang terkenal itu? Keluarga Chandelier sangat terkenal, bukan hanya dikalangan keluarga bangsawan di amerika, nama chandelier juga sangat terkenal dikalangan bangsawan di Eropa, mereka sangat menghormatinya.


Alex mengenakan kemejanya, lalu keluar dari penthousenya, mencari alamat yang tertera di sana, dia mendapati sebuah poenthouse yang sangat besar dan luas, tertera di sana Chandelier, mobil sportnya diparkir tidak begitu jauh sehingga dia dengan mudah memandang seseorang di sana. Matanya tiba-tiba menyala melihat ruzy menggendong dan memeluk seorang anak kecil yang menempel erat di tubuhnya.


Tanpa menunggu lebih lama alex keluar dari mobilnya lalu berdiri didepan ruzy yang sangat terkejut melihatnya. "


Alex.....apa yang kau lakukan di sini?"


Matanya membelalak bibirnya bergetar dia mencoba menyembunyikan anak itu. Wajah Alex menjadi pucat dia tertegun, tubuhnya menjadi kaku perlahan dia menatap anak yang berada di gendongan ruzy, dia seperti melihat dirinya sendiri sewaktu masih kecil.


"Dia anakku." Kata Alex menggeram lalu menatap tajam ruzy.