
Dinginnya malam membuat tubuh ruzy sedikit menggigil, baru saja ruzy berpisah dengannya pagi tadi tapi, dia sudah merindukannya, ruzy terbaring di tempat tidur membayangkan jika Alex disampingnya, memeluknya dan mendekapnya.
Malam ini ruzy tidak bisa tertidur, dia bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar Willy yang berada di sebelah kamarnya, setiap malam ruzy menengok kamar putranya, memastikan dia tertidur dengan nyenyak dan nyaman. Ruzy memperbaiki boneka-boneka disekitar tempat tidur Willy lalu mengecup keningnya, "mimpi yang indah sayang". bisik ruzy.
Hari ini kakek berangkat ke san Diego setelah beristirahat sebentar, seandainya saja ruzy tidak menyuruh Alex pergi, malam ini ruzy pasti akan bersamanya, pikirnya yang mulai mengantuk.
"Kenapa jendelanya terbuka? apa bibi Emy lupa menutupnya."
Ruzy menutup jendela yang terbuka lebar lalu menguncinya. Mengapa mereka begitu ceroboh? pikir ruzy, dia lalu masuk ke dalam kamarnya, dan membaringkan tubuhnya yang mulai lelah.
Keningnya terasa hangat, ruzy berada di kamarnya di tempat tidurnya berukuran king size, dia merasakan sesuatu yang menyentuh rahangnya sampai kelehernya, sayup-sayup didengarnya suara seseorang yang memanggil namanya dengan suara serak.
Ruzy mengernyit merasakan sensasi tidak nyaman di dadanya, ruzy lalu terbangun dan terduduk, dia memandang setiap sudut kamarnya, tidak ada seorangpun di sini, lalu memandang dirinya, jubah tidurnya berbahan satin terbuka lebar hingga tubuh bagian atasnya dapat terlihat jelas.
Ruzy menutup kembali tubuhnya dan tertidur, dia bermimpi buruk seakan-akan ada seseorang di dalam kamarnya mengamati setiap gerak geriknya. Terdengar bunyi klik pada pintu yang menutup di tengah malam buta, napas pria bermantel itu begitu tidak beraturan, melihatnya terbaring dengan rentan kapan saja dia bisa membawanya dan memilikinya, tapi si pengacau dalam kepalanya belum juga menyerah membuat sakit kepalanya kembali berdentum-dentum sehingga ia berhenti menelusuri tubuh ruzy.
~
Terdengar teriakan keras dari kamar ruzy, dan lenguhan panjang mendesah membuat tubuh ruzy semakin terbakar, gerakan Alex yang kasar semakin membuatnya membenamkan dirinya di tubuh ruzy lebih dalam. Napas mereka masih memburu, pagi tadi alex datang begitu saja, melihat ruzy yang masih tertidur dengan separuh tubuhnya terbuka membuat Alex menyerang ruzy tanpa ampun.
"tanpa sepatah kata pun darimu alex, dan kau begitu saja menyerangku yang masih tertidur?" kata ruzy sedikit kesal padanya.
Alex terkekeh sambil memeluk ruzy diatas tubuhnya.
"Kau yang menggodaku dengan tubuhmu, bagaimana bisa aku menahannya?" Alex masih bergerak ditubuh ruzy, membuat ruzy menyentak dan mendorong tubuh alex.
"berhenti Alex, ini sudah terlalu lama Willy pasti mencariku."
Alex akhirnya menyerah dan melepas ruzy, mengingat Willy mencari-cari ibunya. Dia menatap ruzy yang mengenakan jubah tidurnya kembali, sedikit mengernyit memandang luka gigitan tepat di dada bagian atasnya.
"Aku tidak mengingat kalau aku menggigitmu tepat di sana ruzy." Ruzy berbalik dan menatap dirinya dan melihat bekas gigitan menyentuhnya dan terasa sedikit perih.
"tentu saja kau tidak mengingatnya alex, kau menyerang tubuhku seperti orang kesetanan."
kata Ruzy kesal. Alex berdiri dan memeluk ruzy memberinya ciuman panjang
"Morning kiss." Bisiknya, "Aku ingin sarapan bersama Willyku." kata Alex yang mengenakan kimono tidur yang disediakan ruzy untuknya.
Mereka bertiga sarapan bersama di meja makan, Willy menarik-narik baju alex dan menggigitnya.
"kau membuat baju daddy basah sayang."
Alex menyuap Willy dengan bermain-main agar willy membuka mulutnya. Ruzy mengangkat ponselnya yang berdering menatap nama Roger di ponselnya.
"Halo, ada apa Roger?" tanya ruzy sedikit khawatir.
"Apa maksudmu? kakek di rumah sakit? Baik aku akan segera ke sana." Dengan cepat ruzy berdiri.
"Ada apa sayang, ada apa dengan tuan Chandelier?" tanya Alex menatap ruzy yang panik.
"Kakek berada di rumah sakit, roger baru saja meneleponku." Dengan bergegas ruzy mengambil tasnya.
"bibi Emy jaga Willy aku akan segera kembali", ruzy mengecup Willy yang mulai mengerutkan alisnya tidak ingin berpisah dari ibunya.
"Aku yang akan mengantarmu ruzy", kata Alex, mengecup Willy dan mereka segera keluar. Bibi Emy sangat cemas, semoga tuan Chandelier tidak apa-apa, pikir bibi Emy mengantar mereka sampai teras depan. Wajah ruzy begitu cemas, dia sangat mengkhawatirkan kakeknya.
Mereka tiba di rumah sakit Found Valley di LA, mereka berdua berjalan di sepanjang koridor rumah sakit dan menemukan roger sedang berdiri di depan pintu kamar.
"Bagaimana dengan kakek Roger?" kata ruzy cemas.
"Penyakit lamanya kambuh lagi, jadi tuan Chandelier harus beristirahat." Ruzy menatap tuan Chandelier dari kaca pintu kamarnya. Semoga kakek sembuh kembali, bisik ruzy. Alex sedang pergi sebentar karena menerima panggilan dari ponselnya.
Ruzy bersandar di pintu kamar kakeknya. Memikirkan penyakit kakeknya yang sudah lama diidapnya, dia memiliki penyakit jantung yang cukup parah.
Beberapa dokter dan perawat berlalu lalang di depannya tanpa memperdulikan siapapun yang melewatinya.
"Ruzy? kau ruzy bukan?" Suara seorang pria berdiri dihadapannya menyaksikan wajah ruzy lekat-lekat dengan wajah penuh senyum.
"Ruzy ! senang sekali berjumpa denganmu, aku tidak pernah berpikir akan bertemu denganmu di sini." Dia mengulurkan tangannya kepada ruzy lalu menjabat tangannya sebentar dan menariknya dengan cepat.
Roger berdiri di sampingnya, dengan tampang datar seperti biasanya menatap dan mencurigai siapa saja yang ada di sekitar ruzy. Max menatap roger dengan sedikit mengernyitkan alisnya.
"Kau tampak berbeda." ucap dokter max menatapnya dengan senyum miring kepada Ruzy. "Ngomong-ngomong siapa yang sakit?" tanyanya kembali.
"Kakekku, dia dirawat disini." kata ruzy singkat.
Ponsel Roger berdering dia meninggalkan ruzy dengan dokter max di depan kamar.
"Kau sangat cantik ruzy, kau betul-betul berbeda." Matanya berbinar menatap ruzy dengan sedikit tidak sopan.
Ruzy tersenyum sinis padanya, "Aku tidak perlu pujianmu dokter max, terus terang saja kenanganku padamu hanya kenangan buruk yang ingin kulupakan." Jawab ruzy sambil melipat kedua tangannya.
Dokter Max melengkungkan bibirnya, "Aku tidak tahu itu, tapi...terus terang saja dirimu masih melekat kuat dipikiranku." Dia memiringkan kepalanya mendekat ke Ruzy.
"Dan selama 2 tahun ini aku selalu mencarimu sejak peristiwa itu." Ruzy betul-betul ingin menampar mulut tidak sopannya.
"Seseorang tiba-tiba menarik pinggang ruzy dengan sedikit keras. "Semua baik-baik saja sayang?" Alex datang tepat waktu dan menatap dokter max.
"Halo dokter max, lama tidak berjumpa."
Dengan wajah tidak percaya, dokter max menatap ruzy dan Alex.
"Lama tidak berjumpa alex, aku kebetulan bertemu dengan ruzy." Dengan memicingkan matanya, menelusuri mereka berdua dengan pandangan tidak suka.
"Aku harus pergi senang berjumpa denganmu Ruzy." Dia pergi begitu saja, Urat di lengannya terlihat jelas ketika menatap Alex yang memeluk ruzy dengan posesif.
"Ingin sekali ku enyahkan pria itu." Kata alex yang menyipitkan matanya memandangnya dari kejauhan.
"Dia mengatakan sesuatu padamu?" Alex menggenggam erat jemari ruzy dan menggeleng menenangkannya, "Dia hanya terkejut melihatku, itu saja."
"Jauhi pria itu, aku tahu betul dari dulu pria brengsek itu menginginkanmu." Wajah alex menegang.
"Sudahlah alex, kita tidak perlu membicarakannya Hem." ucap ruzy menenangkannya.
Alex mengecup bibir ruzy, "Baiklah, bagaimana keadaan tuan Chandelier?" tanyanya sambil menatap pintu coklat besar dihadapannya.
"Dia harus beristirahat, pekerjaannya membuat penyakitnya kambuh lagi." Roger datang, matanya yang terang dan sedikit terkejut melihat Alex yang berada di samping Ruzy.
Dia tidak mengatakan apa-apa tapi ruzy tahu, sebentar lagi kabar tentang Alex bersamanya akan terdengar di telinga kakek.
"Sebaiknya nona pulang saja, aku akan menelepon Anda jika tuan sudah siuman, beberapa perawat pribadi tuan Chandelier sudah datang." kata Roger, dengan ragu ruzy mengiyakannya tapi kemudian dia mengingat Willy yang menunggunya di rumah.
"Baiklah roger, hubungi aku jika kakek sudah sadar." Dia mengangguk dan sedikit membungkuk. Ruzy akhirnya pergi bersama Alex yang masih menggenggam jemarinya.
Ruzy memandang alex, wajahnya sedikit kaku, ada apa dengannya? Mereka sedang dalam perjalanan pulang, alex masih terdiam.
"Alex? ada apa? tanya ruzy menatapnya yang mengerutkan alisnya, sadar ruzy memperhatikannya, dia lalu tersenyum.
"Bukan apa-apa sayang, hanya mengingat bagaimana jika aku bertemu dengan tuan Chandelier."
"Kau mencemaskan apa yang akan kakek katakan padamu?" kata ruzy melirik dalam pada Alex. Dia setengah tersenyum.
"Itu juga termasuk, aku meninggalkanmu bersama Willy, kau tahu maksudku." Aku menggenggam jemarinya.
"Semua akan baik-baik saja Alex". senyum ruzy menenangkannya. Tetapi sepertinya bukan itu saja yang dia resahkan.
"Ruzy? dia menepikan mobilnya, jalanan cukup lengang, ruzy menatapnya curiga, "Ada apa Alex?" ruzy bersandar di sampingnya membuatnya bahagia dia masih mengaitkan jemarinya di jemari ruzy.
"Menikahlah denganku, kita telah memiliki Willy, aku ingin secara resmi menjadi suamimu dan ayah dari Willy". Mata ruzy seketika menjadi kabur, dia menelusuri setiap garis di wajahnya, pandangannya berkabut mendengar ucapannya, bibir ruzy bergetar lalu memeluknya dan menangis di pelukannya.
"Seharusnya dari awal aku mengatakannya sayang, maafkan aku." Ucap alex sambil mengusap dan mengecup pipi ruzy yang basah karena tangisnya. Mereka berpelukan didalam mobil hingga melupakan waktu .
Mobil Fortune hitam berhenti tidak jauh dari mobil Alex yang terparkir di sisi jalan, mengamati mereka berdua, jemarinya di bibirnya, melengkungkan mulutnya, seringai muncul di wajahnya. "Ruzyana Chandelier eh? Kau tetap cantik dan menarik, dulu dan sekarang, aku masih sangat menginginkanmu." ucapnya sambil merekatkan mantelnya yang panjang.