Flower On The River

Flower On The River
vol 3



Hembusan angin dingin dari pegunungan terdengar berhembus pagi itu, sejuk terasa meskipun dingin, Alyena keluar dari rumahnya sambil merekatkan sweater merah yang di kenekannya, pagi-pagi sekali dia suka berjalan-jalan di bukit tempat biasa ibunya duduk-duduk di sana, dia duduk sambil menunggu matahari terbit, memancarkan sinarnya yang indah. Rambutnya beterbangan di tiup angin pagi itu. Dia menghirup udara pagi lalu menghembuskannya dengan lega.


"Oke, saatnya berangkat kerja." Ucap Alyna.


Hari itu seperti biasa dia mengenakan denimnya berwarna biru dan jeans yang biasa digunakannya dan tas yang di sampirkan di bahunya, dia menatap heran kepada dua sosok gadis yang sedang berjalan ke arahnya.


"Kalian pasti bercanda?" Ucap Alyena menatap wajah mereka berdua yang telah di polesi dengan makeup. "Kalian yakin akan ke perkebunan dengan ehhm wajah seperti itu?" Tanyanya.


"Yups, tentu saja yakin." Ucap Rudith terdengar sewot mendengar ucapan Alyena.


"Kita berangkat sekarang."


Mereka bertiga berangkat menuju ke perkebunan, meskipun beberapa pekerja menatap Rudith dan Nalia dengan pandangan heran.


"Kalian lihat tidak? Orang-orang menatap ke arah kita, apa kubilang, ide ini sangat cemerlang, siapa yang akan menyangka bisa saja tuan muda itu akan melirik kepada kita." Bisik Rudith.


Mereka mengakhiri percakapan mereka, dan mengganti dengan pakaian kerja, sebelum mereka mulai bekerja, keringat sudah membasahi wajah mereka bertiga, sehingga polesan make up kedua teman Alyena telah luntur dan membuat wajah mereka tambah berkeringat.


"Alyena kemarilah, bawa surat ini kepada tuan Alfon, Miss Edith tidak masuk hari ini karena putranya sakit, kau bisa memberikan surat ini kepadanya.


"Baik." Jawab Alyena.


Dia berjalan menuju ke salah satu pos penjaga dan mencari pria paruh baya bernama Alfon. Alyena celingak celinguk ketika mencarinya, dia mendengar suara-suara dari salah satu pos di dekat perkebunan, dan dia melihatnya, pria paruh baya itu sedang berbincang dengan seorang pria yang baru pertama kali dilihatnya.


"Siapa pria itu?" Gumam Alyena, dia pria tampan, setiap pekerja yang lewat pasti memandang ke arah pria itu. "Ah, apa itu tuan muda yang dimaksud oleh Rudith dan Nalia?" Gumam Alyena, tanpa ragu dia terus berjalan ke tempat dimana tuan Alfon sedang berbincang, langkahnya yang terus mendekat, menyadarkan mereka berdua yang masih berbincang sehingga mereka berdua berbalik.


"Erm, Sir Alfon surat ini dari miss Edith." Ucap Alyena.


"Oh ya." Pria itu mengambilnya, Alyena menunduk dan hendak pergi tetapi pria bernama Alfon itu menahannya.


"Pergilah ke gudang anggur dan bawakan tuan Regan sebotol anggur putih." Perintahnya. Pria itu tidak bersuara hanya menatap ke arah Alyena.


"Baik sir."


Alyena segera pergi ke gudang anggur yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri. Alyena berjalan cepat dan segera masuk ke gudang itu. Wajahnya di penuhi butiran keringat karena berlari, dia memberitahu kepada penjaga tentang pesan tuan Alfon dan membiarkan Alyena masuk kedalam gudang penyimpanan anggur yang menyimpan ratusan anggur di bawah tanah, gudang anggur itu memiliki tangga batu yang meliuk ke bawah, seluruh anggur itu di simpan di sana untuk mengatur dan menyesuaikan perubahan suhu pada anggur-anggur itu.


"Di mana anggur putih yang dimaksudkan Sir Alfon, kenapa aku tidak bisa menemukannya? Ck meskipun aku bekerja di tempat ini, aku sama sekali tidak pernah mencicipinya meskipun sedikit, aromanya yang kuat saja membuatku pusing." Gumam Alyena sambil memeriksa satu persatu lemari anggur itu.


"Apa kau sudah memeriksa di lemari ini?" Suara lembut yang mengalun di telinga Alyena, membuatnya berbalik dengan terkejut, pria itu sudah ada di sana membuka salah satu lemari anggur dan mengambil sebotol anggur, dia kemudian tersenyum dan memperlihatkan botol itu kepada Alyena.


"Aku tidak tahu kalau tersimpan di sana." Gumamnya.


"Apa kau pernah mencicipinya?" Tanyanya.


"Tidak sir, eh tuan." Ucap Alyena sedikit gugup.


"Kau mau mencicipinya?" Tanyanya.


"Apa? Oh, tidak tuan, saya harus bekerja, saya tidak yakin tubuhku bisa menahan kadar alkohol itu ketika saya meminumnya, dan saya harus bekerja." Tolak Alyena, dia menunduk tanpa menatap wajah pria di hadapannya.


Pria itu tersenyum. "Baiklah jangan khawatir, kau boleh pergi, katakan kepada tuan Alfon, kau sudah memberikannya kepadaku wine ini." Ucapnya.


"Baik tuan." Setelah membungkuk sebentar, Alyena segera berbalik dan segera keluar dari gudang penyimpanan anggur itu. Killian tersenyum, dia mengganti botol anggur itu dan mengambil sebotol wine yang lainnya.


"Dia menolak minum denganku?" Gumamnya sambil tersenyum tidak percaya.


•••


"Kau dari mana saja Alyena, sudah hampir makan siang kau baru kembali." Ucap Rudith. Wajah Alyena berubah kemerahan karena dia berlari dengan cepat. "Tuan Alfon menyuruhku mengambil anggur di gudang penyimpanan anggur." Ucapnya sambil memegang dadanya yang terasa sakit karena habis berlari.


"Sudahlah, sebaiknya kau istirahat dulu, apalagi sebentar lagi sudah jam istirahat." Ucap Nalia. Seperti biasa mereka makan siang bersama di bawah pohon di dekat perkebunan anggur, cuaca kali ini sungguh terik, dan terasa kering, mereka memetik beberapa tangkai anggur sebagai makanan penutup mereka bertiga. Setelah berbincang, mereka kembali bekerja seperti biasanya.


"Syukur kau sudah kembali Alyena, ada yang ingin saya sampaikan kepadamu, kau tahu tuan Regan yang berbincang denganku tadi, bukan?" Tanyanya. Alyena lalu mengangguk tidak mengerti.


"Dia mengundangmu makan malam dengannya." Ucap Sir Alfon dengan wajah serius.


Mulut Alyena ternganga, "Makan malam, tapi kenapa sir, apa saya melakukan kesalahan?" Tanyanya.


Sir Alfonso menggelengkan kepalanya, "tidak, tuan Regan mengundangmu makan malam bukan kerena kau melakukan kesalahan, dia tadi berpesan kepadaku agar kau makan malam dengannya, segeralah bersiap-siap, jam 7 nanti akan ada pengawal dari mansion yang menjemputmu dan mengantarmu bertemu tuan Regan."


"Ta..tapi tuan, bagaimana bisa."


"Tidak ada waktu lagi Alyena, segeralah bersiap." Tanpa menunggu jawaban Alyena, tuan Alfon segera pergi meninggalkannya dengan mulut ternganga.


"Kesalahan apa yang kubuat sampai aku diundang makan malam dengannya," ucap Alyena, dia segera bergegas masuk ke dalam rumahnya, sekarang pukul 06.30, dia harus segera bersiap, sebelum pengawal dari mansion datang menjemputnya.


~


"Sebenarnya apa yang kulakukan di tempat ini?" Ucap Alyena. Dia berada di ruang makan, dia duduk seorang diri di sana, sambil menatap lalu lalang para pelayan yang menyediakan menu makanan di atas meja.


"Apa aku terlalu cepat datang? Kenapa sih aku diundang? Mengenalnya saja tidak, mengapa dia mengundangku?" Gumamnya pelan. Matanya terpukau sejak awal masuk ke dalam mansion ini, ruangan luas dengan dinding seperti berlapis emas, pilar-pilar besar dan patung harimau berada di tengah-tengah ruangan membuat Alyena berasa berada di dunia lain, seumur hidupnya baru kali ini dia masuk ke tempat mewah dan elegan seperti ini, dia kembali menatap pakaian yang di kenakannya. "Apakah pantas? Tch, aku kan hanya duduk dan makan bukannya mau pergi ke pesta, lagi pula banyak tempat duduk di sekitarku, mungkin akan datang para pekerja lain yang terpilih untuk makan malam bersama."


Suara langkah sepatu terdengar dari tangga, Alyna berbalik dan menatap pria yang di temuinya di gudang tadi, dia lalu bediri demi sopan santun.


Pria itu tersenyum ramah kepada Alyena, dia melangkah mendekat ke tempat Alyena sedang berdiri.


"Selamat malam." Ucapnya.


"Ah, s-selamat malam tuan." Ucapnya dengan wajah tertunduk.


Kilian duduk di kursi meja makan setelah itu mempersilahkan Alyena untuk duduk. "Kau pasti terkejut karena tiba-tiba mendapatkan undangan dariku." Alyena mengangkat wajahnya dan menatap wajah tampan di hadapannya. "Ya tuan." Ucapnya.


"Aku sengaja mengundangmu untuk makan malam bersamaku, semenjak aku mendengar bahwa kau tidak pernah mencicipi anggur buatan keluarga Regan, aku sampai tidak percaya jika kau tinggal dan bekerja di tempat yang dekat dari perkebunan anggur dan selama ini kau tidak pernah mencicipinya, bukankah itu sangat ironi."


"M-maafkan saya tuan, tetapi saya bukannya tidak suka anggur, cuma tubuh saya tidak bisa menerima wine itu karena mengandung alkohol cukup tinggi, jadi saya tidak pernah meminumnya."


Dia tersenyum, seperti tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Alyena, dia menuangkan wine itu kedalam gelas yang berada di hadapan Alyena.


Aku bilang kan tidak bisa, kenapa dia masih menuang wine itu?


"Cicipilah sedikit." Dia tersenyum.


Alyena mengambil gelas wine itu dan sedikit menghirup aromanya, wangi yang menyengat langsung menusuk hidung Alyena. Dia meneguknya perlahan setelah itu menyimpannya kembali.


"Bagaimana? Sangat lezat bukan?" Tanyanya.


Alyena hanya mengangguk saja, sebenarnya lidahnya terasa mati rasa karena wine yang tajam dan menusuk itu, dia hanya mengangguk menyetujui, lagi pula dia sama sekali tidak mengerti mengenai wine-wine itu. Makanan telah tersaji di atas meja, setelah menikmati wine, tidak ada perbincangan berarti antara Alyena dan tuan muda itu.


"Apa kau tahu? Wajahmu sangat berbeda dengan orang-orang yang ada di sini." Ucapnya tiba-tiba setelah selesai makan malam. Alyena terkejut, dia tidak menyangka mendengarkan kalimat ini.


"Berbeda?" Ucap Alyena tidak mengerti.


Dia kembali tersenyum, "tidak usah kau pikirkan." Dia kembali mengangkat gelas winenya dan kemudian menyesapnya, dia melirik kepada Alyena


, dan memperhatikannya, wanita itu lebih memilih meminum air putih di bandingkan menghabiskan wine yang di berikan untuknya.


"Kau boleh pulang." Ucapnya tiba-tiba.


"A-Apa? Ah baik tuan." Alyena segera berdiri, dia sedikit membungkuk dan segera keluar dari mansion itu.


"Tch, sombong sekali, menyuruhku datang dan mengusirku semaunya, apa-apaan dia, heeh sudahlah, aku juga tidak mau berlama-lama berada di sana." Gumam Alyena. Pria itu berdiri di depan jendela dan menatap kepergian wanita itu dengan sorot tatapan yang tajam.