Flower On The River

Flower On The River
Vol 67



Pasangan itu benar-benar melarikan diri malam itu juga, tentu saja atas bantuan Audry, Clara dan Nick. mereka menyiapkan semuanya, agar Willy tidak melihat kepergian pengantin baru itu.


Jafier dan Alyena telah berada di bandara menuju kota Venice di italia, mereka merencanakan bulan madu mereka dan mengunjungi negara-negara indah di Eropa. Koper mereka berdua telah siap, Nick dan Clara yang sibuk mengurusi semuanya.


"Alyena, selamat bersenang-senang, kau tahu maksudku kan?" kikik Clara sambil menyenggol Alyena.


"H-hentikan Clara." Gumam Alyena menjadi malu dan merona.


"Kami pergi, salam buat kak Willy, katakan jangan khawatir kami akan pulang dengan selamat." Mereka berdua melambaikan tangannya kepada Clara dan Nick.


Jafier memegang tangannya, dia terlihat dua kali lebih tampan dan tampak lebih muda dari usianya, pancaran wajahnya terlihat sangat bahagia.


"Paman Jafier tampan juga tanpa setelan resmi yang selalu di pakainya." Ucap Clara memandang mereka hingga keduanya menghilang.


"kau benar juga, dia hanya memakai kaos putih dan jaket, dia terlihat Cool." Gumam Nick. "Oh ya sebaiknya kita pulang, aku tidak mau bertemu paman Willy dalam beberapa hari ini, dia pasti mencurigai kita membantu Alyena melarikan diri dengan paman Jafier."


"Tsk kau benar, sebaiknya kita pulang...." Willy telah berdiri di belakang mereka sambil bersedekap. "Ikut aku, kalian harus mendapatkan pencerahan, seharusnya kalian berdua berada di pihakku, bukannya berada di pihak Jafier, kalian masih muda tetapi suka ikut campur." Ucap Willy sambil menjewer kuping keduanya hingga mereka masuk ke dalam mobil.


Kepala pelayan Harbert memegang ponselnya dan menghubungi seseorang. "Siapkan pesawat, kita akan meyambut kedatangan Nyonya Alyena...." Tiba-tiba dia berhenti ketika Audry berdiri di depannya, sambil menatapnya tajam.


Tuan Harbert, bagaimana jika anda beristirahat di kediaman kami, saya yakin anda pasti sangat lelah setelah perjalanan jauh dari London." Ucap Audry dengan senyum memaksa. "Tidak boleh ada gangguan kepada kedua mempelai."


***


Penerbangan itu mebutuhkan waktu yang panjang yaitu 9 jam 35 menit perjalanan, sehingga Alyena terlihat sangat lelah, saat ini dia sedang tidur, sedangkan Jafier berada di sebelahnya. Mereka masih berada di pesawat. Pesan masuk, dia kemudian membaca pesan dari Willy.


Jaga Alyena dengan baik, jangan menyakitinya dan memaksanya, kau harus bersikap lembut. Aku akan menunggu kedatangan kalian.


Jafier membalas pesannya dengan jawaban singkat.


Ok, aku akan mendengarkan semua nasehatmu kakak ipar.


Jafier tergelak, dia memutuskan tidur karena sebentar lagi mereka akan tiba di tempat tujuan mereka.


Langit tampak berawan, memperlihatkan keindahannya, apalagi langit di sore hari nampak indah di kota Venice yang terkenal dengan kota di atas air. Saat ini Alyena tidak tahu bahwa Jafier telah mempersiapkan segalanya untuk bulan madu mereka, ada beberapa negara yang telah di persiapkkannya ketika nanti mereka bulan madu, dia mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum mereka menikah, salah satunya adalah kota Venecia di italia.


Alyena masuk ke dalam mobil hitam mewah, nampak pengawal berdiri di sekitar mobil mereka dan berjaga, Jafier membawa Alyena ke salah satu pulau buatan milik keluarga Alvaro, perjalanannya hanya 2 jam dari kota Venice, Alyena bersandar di bahu Jafier, dia sangat lelah karena perjalanan jauh yang mereka tempuh. Mereka akhirnya tiba, para pelayan dan pengawal menyambut kedatangan tuan muda mereka.


Jafier mengangkat Alyena karena dia tidak bangun sejak tadi, dan Jafier tidak ingin membangunkannya, dia membiarkan Alyena terlelap dengan nyenyak. Sebuah kapal boat mewah telah menunggu mereka dari mansion menuju pulau yang tidak jauh dari mansion, di tempuh dengan jarak cukup dekat, hanya 15 menit dari mansion. Pulau buatan itu terlihat indah, di tumbuhi pepohonan lebat dan bunga-bunga yang indah.


Setibanya di pulau itu, nuansa indah pasir putih serta Villa mewah dengan nuansa romantis terlihat sangat kental.


***


Bunyi deburan ombak membuat Alyena sedikit demi sedikit membuka matanya, dia mengerjap menatap sekelilingnya, nampak ruangan indah dan romantis. Alyena lalu duduk, dia menatap pakaiannya yang telah diganti. "Ugh, aku sepertinya tertidur cukup lama." Ucapnya.


Suara langkah kaki membuat Alyena mengangkat wajahnya. Dia lalu tersenyum kepada Jafier yang baru saja masuk setelah duduk di luar menikmati indahnya malam bulan purnama.


Alyena lalu berdiri, dia melompat ke tubuh Jafier dan memeluknya. "Ouch seharusnya aku tidak memelukmu Jafier, aku sangat gerah, aku butuh mandi." Ucap Alyena.


"Oke sayang, aku akan menyiapkan makan malam." Bisiknya. Alyena mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar mandi, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, dia menatap pantulan wajahnya dari cermin dan memegang dadanya yang sejak tadi berdebar.


"K-kenapa aku berdebar seperti ini? Kami pernah hampir melakukannya, jika saja Jafier tidak berhenti di saat yang tepat." Gumam Alyena.


Jafier sedang membuat makan malam, dia tidak melakukan banyak hal karena para pelayan sudah mengerjakannya dan menyimpan bahan-bahannya di kulkas. Jafier berpesan kepada mereka agar mereka menyimpan bahan mentah biar dia yang mengolahnya.


Alyena keluar dari kamar mandi, dia sedikit berjinjit karena tidak mau ketahuan ketika dia telah selesai mandi, buru-buru dia mengeringkan rambutnya dan membuka lemari mencari pakaian yang cocok. Dia mundur dan menabrak tubuh kokoh itu tepat berada di belakangnya. Alyena begitu terkejut dan menoleh ke Jafier.


"A-aku tidak mendengar kedatanganmu." Ucap Alyena tergagap.


Jafier hanya diam, melihat wajahnya saja sudah menyiratkan keinginan yang telah lama di tahannya. Tanpa mengucapkan apa-apa dia mengangkat Alyena dan membiarkannya berdiri di depannya. Satu tangannya membelai wajah cantik di depannya, tetapannya tajam memerangkap mata Alyena agar tidak mengalihkan tatapannya. Jempol tangannya membelai lembut bibir bawah Alyena, dia perlahan menunduk menyapukan bibirnya dengan lembut. Jafier ingin melakukannya perlahan dan tidak terburu-buru, agar mereka berdua dapat mengingat dengan jelas malam pertama mereka.


Jantung Alyena berdebar kencang, dia dapat merasakannya, Jafier mengangkat dagu Alyena ke atas, dan perlahan mengecup bibir ranum dan terbuka itu. Jafier mengulum dan mengeksplor lebih dalam, Alyena mencoba membalasnya tetapi nampaknya dia kesusahan untuk sekedar bernapas dan membalas tuntutan Jafier di bibirnya. Jafier memberikan ruang bernapas untuk Alyena, tetapi dia kemudian melanjutkan ciumannya.


"Kau percaya padaku?" Bisik Jafier. Alyena terlihat mengangguk pasrah.


"Kau akan memberikan segala milikmu untukku, apapun permintaanku, dan akupun akan memberikan segalanya untukmu malam ini, tidak ada jarak atau batas di antara kita berdua." Bisik Jafier di telinganya, Alyena memegang lengan Jafier saat bibirnya menyapu lembut ke leher jenjang milik Alyena. Sekali hentakan dari tangan Jafier, handuk milik Alyena jatuh begitu saja di lantai.


***


Willy terlihat berbaring dengan mata terbuka, tubuh terlentang di atas tempat tidur, dia tidak mau memikirkan apa yang Jafier sedang lakukan sekarang. Dia bangun dari tidurnya dan berdiri di balkon kamarnya. Matanya mengarah ke langit malam yang penuh bintang. "Apakah Alyena baik-baik saja?"


~


Alyena menatap langit-langit kamarnya, dia sedang memandang atap berjumbai dari atas tempat tidurnya, kepalanya pening merasakan sentuhan Jafier dimana-mana ditubuhnya, bibir Jafier mengulumnya disana hingga Alyena memekik, baru kali ini Alyena melihat Jafier yang berbeda.


Jafier menatap mata coklat yang balas menatapnya, rahangnya terkatup rapat dengan gigi menggertak. Alyena tidak kuasa memekik ketika milik Jafier berada di kelembutannya, tubuhnya menerima Jafier dengan sepenuhnya meskipun dia merasakan sakit di sana, irama hentakan Jafier membuat Alyena mengerang dan mendesah, Alyena tidak bisa menahan lagi hingga dia mencakar punggung jafier sekuat tenaga hingga tubuh mereka ambruk begitu saja di terjang puncak badai kenikmatan.


Malam begitu larut, tetapi rupanya percintaan mereka belum berhenti, Jafier mengeluarkan segala jurusnya, malam itu terasa panjang bagi Alyena, entah bagaimana Jafier tidak menghentikan dirinya, hingga Alyena mengeluh karena lelah, dia kemudian berhenti dan membiarkannya tertidur setelah tubuhnya sekali lagi ambruk di bawah kuasa Jafier.