Flower On The River

Flower On The River
Vol 64



"Rupanya dua tikus kecil sedang sarapan di sini ya?" Ucap wanita itu. Dia tersenyum mengejek dan melangkah mendekati Alyena.


"Ck ck lihat wajah kecilmu itu, sekarang di penuhi luka karena aku telah menghajarmu sampai puas." Ucap wanita itu sambil tergelak. Clara lalu turun dari tempat tidurnya, dia melompat dan merasakan darahnya mendidih melihat wajah wanita itu. Sementara Alyena masih pusing, dia mencoba berdiri tetapi sakit di kepalanya membuat tubuhnya oleng dan hampir terjatuh.


"Tikus kecil? dasar kau kodok jelek, sekarang coba kau perhatikan wajahmu itu, apa kau mau lihat wajah kodok yang sedang babak belur? Kau bisa melihatnya di wajahmu,


Ck ck, wajahmu sekarang membuat pria akan berlarian menjauh, mereka mungkin mengira seekor kodok sedang mengenakan makeup dan telah habis dihajar." Perempuan itu melotot mengerikan, apalagi ketika kalimat Clara itu membuat Alyena tertawa, dia merasa perkataan Clara itu lucu, Alyena masih tertawa dari atas tempat tidurnya.


"Kalian akan habis kali ini, cukup aku sendirian dan kalian akan habis di tanganku." Ucapnya dengan suara bergetar dengan matanya melotot mengerikan.


"Kalian akan habis kali ini, cukup aku sendirian dan kalian akan habis di tanganku."


Clara meniru ucapannya dengan menambah mimik di wajahnya agar terlihat menjengkelkan, hingga perempuan itu tidak tahan lagi ingin menghajar Clara. Suara pintu terbuka dan langkah kaki terdengar dari arah pintu belakang.


"Kenapa ribut sekali? Ada apa Clara? Siapa dia." Ucap Audry sambil bersedekap menatap dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, melihat wanita itu luka-luka dan wajahnya yang terlihat luka dan lebam, Audry sepertinya tahu siapa wanita yang sebentar lagi akan meledak itu.


"Kak Audry. Perkenalkan, dia adalah perempuan kodok yang menyerang kami karena kecemburuannya kepada Alyena, dia sepertinya ingin mejadi kekasih paman Willy atau paman Jafier tetapi mimpinya itu terlalu tinggi, akhirnya semua ketidakmampuannya dia salahkan kepada Alyena. Dasar wanita bodoh." Ucap Clara.


Wanita itu menyerang Clara dengan menarik rambutnya, dengan cepat Alyena turut melompat dan menolong Clara, tetapi Audry bergerak lebih cepat, dia menarik kasar rambut wanita itu, dan mendorongnya.


"Kau sama saja dengan adikmu itu, dasar wanita j4lang tidak tahu diri." Teriaknya. Sebelum dia menyerang Audry. Dia telah mendapatkan tendangan keras di perutnya dari Audry hingga dia terjatuh dengan tubuh kesakitan. Pintu membuka, dua pengawal membuka pintu dan segera menyeret wanita itu.


"Bawa dia ke tempat seharusnya dia berada, dia harus berkumpul bersama kawan-kawan tersayangnya di penjara."


"Dasar wanita mengerikan, dia gila. Seharusnya dia di bawa ke rumah sakit jiwa." Ucap Clara.


***


Setelah wanita itu di tangkap, mereka bertiga duduk di sofa sambil bercerita. Pintu menjeblak terbuka, wajah Willy terlihat khawatir, dia mencari-cari Alyena. "Apa yang terjadi? kenapa wanita mengerikan itu keluar dari kamar ini?" Ucap Willy.


"Dia mencoba menyerang Alyena dan Clara. Tentu saja aku menyerangnya hingga wanita gila itu terlempar. Aku heran, mengapa wanita itu bisa gila seperti itu karena sebegitu bencinya dengan Alyena?"


Willy memperhatikan wajah Alyena, dia menatapnya. "Apakah ada yang terluka atau kau merasakan sakit?" Alyena lalu menggeleng aku baik-baik saja kok kak Willy."


***


Seminggu setelah Alyena keluar dari rumah sakit, dia full beristirahat di rumah, Willy tidak membiarkannya keluar dari penthouse sama sekali, Willypun membatasi dirinya untuk pergi dari sisi Alyena meskipun dia begitu sibuk. Saat itu sebuah mobil mewah berwarna silver baru saja terparkir di depan penthouse. Pria berkacamata hitam itu turun dari mobilnya. Pria itu Kilian Regan.


"Mengapa dia bisa datang kemari padahal kak Willy sedang berada di kantor?" Gumam Alyena.


Pria itu masuk dan di persilahkan duduk di ruang tamu oleh pelayan, tidak lama kemudian seorang pelayan mendekat ke Alyena dan memberitahukan bahwa tuan Regan mencarinya. Alyena menuju ke ruang tamu, pria itu tampak santai, dia sedang memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan Alyena. Dia lalu tersenyum ketika Alyena masuk, tetapi senyumnya di gantikan dengan wajah khawatir ketika melihat wajah Alyena.


"Aku mendengar kau baru saja keluar dari rumah sakit, bagaimana keadaanmu sekarang, Alyena?" tanyanya.


Dia menghembus napasnya, lalu menatap wajah Alyena lekat-lekat bahkan dia ingin menyentuh lukanya, tetapi Alyena segera menjauhkan wajahnya dan mengatakan dia baik-baik saja.


"Alyena, menikahlah denganku." Ucap pria itu.


Alyena terkejut mendengarkan ucapannya. Suasana canggung membuat suasana di ruangan itu tidak mengenakkan. "Sepertinya anda lupa kalau aku sedang menjalin hubungan dengan Jafier Alvaro, bagaimana bisa anda berkata seperti itu? Ucap Alyena tidak suka.


Pria itu menunjukkan wajah serius dan tidak senang dengan ucapan Alyena. "Apa kau mencintai Jafier?" tanyanya.


"Aku mencintainya." Jawab Alyena.


"Tidak, kau tidak mencintainya, Alyena. Kau bersamanya hanya karena terbiasa, dia selalu berada di sisimu, sama halnya seperti Willy. Kau dekat dan merasa kau mencintainya karena dia selalu datang melihatmu, bukankah seperti itu?" Ucap Kilian Regan.


"Saya tidak tahu kalau anda bisa menebak perasaan seseorang, hanya saya sendiri yang mengetahui bagaimana perasaanku pada Jafier, dia selalu ada untukku, dan aku membutuhkannya. Aku tidak bisa menerimamu karena aku hanya menyukai Jarier." Ucap Alyena.


Wajahnya terlihat dingin, dia lalu berdiri seolah ucapan yang di katakan Alyena tidak berarti apapun.


"Sepertinya aku harus pergi, waktuku istirahatku telah habis." Kilian Regan berjalan menuju ke pintu luar, sementara Alyena masih berdiri di ruang tamu menatapnya dari kejauhan. Pria itu berhenti berjalan. Dia lalu kembali dan terdengar suara umpatan dari mulutnya.


"Sial. Aku tidak bisa pergi begitu saja Alyena. Aku tidak akan menyerah begitu saja." Ucap pria itu memegang wajah Alyena dengan perlahan dan hendak menciumnya. Alyena menepisnya, dia mundur dan mencoba menghindarinya. Pria itu menarik kasar pinggang Alyena. Kali ini dia dengan kekuatannya dia mencoba mencium Alyena, tetapi bahunya di pegang oleh seseorang, dia berbalik dan satu pukulan melayang di wajah Kilian hingga dia terjatuh ke lantai.


Napas Jafier terengah, kemarahan menguasainya, "Jauhkan tanganmu dari Alyena. Kau pikir sedang melakukan apa?" Jafier hendak menyerang kembali Kilian, tetapi Alyena menarik tangannya agar dia berhenti menyerangnya.


"Jafier hentikan." Ucap Alyena menarik tangannya.


Kilian mengerang karena bibirnya pecah, satu pukulan dari Jafier begitu kuat hingga pria itu terjatuh di lantai. Tajam matanya menatap kepada mereka berdua, dia lalu terkekeh dan menghapus darah dari bibirnya.


Tanpa mengucapkan apapun, pria itu meninggalkan penthouse. Suara ribut-ribut tadi mengundang para pelayan mengintip dan menahan napas mereka ketika melihat adegan tadi. Mereka saling berbisik-bisik, bahkan ada yang bertaruh siapa yang akan memiliki Nona Alyena pada akhirnya. Tentu saja semua pilihan jatuh kepada Jafier, tetapi beberapa orang dari mereka masih memiliki harapan bahwa Nona Alyena akan berakhir dengan tuan Kilian Regan.


Wajah marah Jafier masih membingkai. Dia mencoba menahan amarahnya tetapi percuma, pukulan itu masih belum membuatnya puas.


"Kau tidak apa-apa, Alyena? Apakah dia menyakitimu?" Tanyanya.


Alyena menggelengkan kepalanya. Sebelum dia mulai memaksa, kau datang. Aku sekarang tidak apa-apa." Ucap Alyena menenangkannya.


"Kenapa pria itu datang kemari dan apa yang pria itu katakan?"


"Apa? Dia hanya datang menjengukku, entah bagaimana tetapi sepertinya dia tahu aku baru keluar dari rumah sakit. Dia hanya... menanyakan kabarku saja." Ucap Alyena tidak mauenambah masalah, tetapi pandangan tajam Jafier membuat Alyena akhirnya jujur.


"Dia... melamarku, meskipun begitu aku tentu saja menjelaskan hubungan kita, jadi dia menjadi marah dan menyerangku." Ucap Alyena dengan suara kecil. Dia menatap Jafier, sepertinya dia menekan kemarahannya.


"Kita akan menikah Alyena, aku akan bicara dengan Willy dan menyakinkannya." Ucap Jafier tegas, dia tidak mau menunggu terlalu lama lagi, kali ini Willy harus merestui pernikahan mereka.