
William menatap mereka bertiga ketika baru saja kembali dari pesta. Dia sudah berada di depan pintu sambil memperhatikan mereka keluar dari mobil Limousine.
"Paman Willy menyeramkan, bagaimana kau bisa bertahan dengan pria seprotektif seperti dia, Alyena?" Gumam Clara.
"Aku akan mengingat ucapanmu Clara, aku tidak akan lupa menyampaikan kepada paman Willy nanti." Ucap Nick.
"Kalian berdua diam dulu." Ucap Alyena berusaha tenang. Mereka berjalan sampai ke depan pintu masuk dan memandang Willy dengan wajah pura-pura tidak tahu apapun.
"Ah kak Willy, rupanya sudah datang ya, kami juga baru saja pulang dari pesta, apa kak Audry tidak mengatakannya kepada paman?" Ucap Alyena. Sementara kedua temannya bersembunyi di belakang Alyena.
"William bersedekap menatap Alyena. "Kau tidak memberitahuku kalau kau ke pesta malam ini?" Ucap Willy dengan pandangan tidak suka.
"Apa kak Audry tidak menyampaikannya? mungkin dia lupa." Tiba-tiba langkah seseorang dari dalam terdengar. Dia Audry dan dia sedang menatap jengkel kepada Willy.
"Masuklah, aku yang memberi izin mereka ke pesta, tetapi sebenarnya mereka tidak harus melakukannya karena mereka secara hukum sudah dianggap dewasa, jadi kau tidak perlu bersikap berlebihan Willy, mereka wajar saja pergi ke acara-acara seperti itu." Ucap Audry menggeleng tidak mengerti akan tingkah kakaknya.
"Alyena dan kedua temannya melewati William dan masuk sambil berlari-lari kecil dan segera masuk ke dalam kamarnya, terdengar kembali perdebatan dari luar antara Willy dan Audry.
"Uhh, nyaris saja, paman Willy menakutkan." Ujar Nick.
"Mereka selalu bertengkar seperti itu kalau itu tentang aku, apa kak Willy segitu tidak percayanya kepadaku? aku bisa menjaga diriku." Ucap Alyena sedikit merasa sedih.
"Jangan menyalahkan kak Willy juga, dia hanyalah seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya, karena di luar sana itu mengerikan dan kejam, Alyena." Ucap Nick ditanggapi dengan Clara yang mendengus.
"Kau selalu mencari tempat aman Nick," Clara melipat tangannya sambil menempelkan telinganya di pintu kamar Alyena mencoba mendengar pertengkaran William dan Audry.
Alyena terduduk di tepi tempat tidur, dia jadi merasa bersalah kalau akhir-akhir ini mereka selalu bertengkar karenanya.
"Apa sebaiknya aku lari dari rumah ya, aku tidak mau mereka bertengkar seperti itu."
"Jika kau lari, kau akan mempersulit situasi, dengan kata lain kau hanya akan menambah beban kak Willy, bagaimana jika kau menikah saja dan tinggal dengan paman itu, sepertinya dia masih lebih mendingan di bandingkan penyakit kak Willy yang berlebihan melindungimu."
"Kau ingin paman Willy melakukan pembunuhan ya? paman Jafier satu-satunya yang selalu ingin dia hindari, kau malah menyarankan mereka menikah?" Dengus Nick.
"Kupikir itu solusi terbaik, tapi pertama-tama, Jafier harus berusaha berbaikan kembali dengan kak William, kalau sudah berbaikan, kami akan bicara dengan serius mengenai pernikahan kami." Ucap Alyena bersemangat
"Menurutmu gampang? melihat sikap paman willy saja seperti tidak ada celah untuk menerima maaf dari paman Jafier." Ucap Clara.
"Haaah, apa yang membuat kak Willy terlalu protek kepadaku?" Gumam Alyena sambil menatap langit-langit kamarnya.
***
Pusat kota York
"Tuan William ada tamu untuk anda." Ucap salah seorang sekertaris.
"Siapa?"
"Dia tuan Kllian Regan dari perusahaan R.K enterpraise di New York."
"Biarkan dia masuk." .
"Baik tuan."
Pria itu tersenyum ramah, dia masuk ke dalam kantor William. Pandangannya tentu saja masih terlihat ragu dan menyelidik, meskipun perusahaan mereka telah bekerja sama, tetapi ingatan Willy mengenai pria tinggi di hadapannya ini masih terekam jelas olehnya, mengenai kisah adiknya dan hubungannya dengan pria ini.
"Selamat pagi Mr.Willy, aku datang sepagi ini ke kantor anda, bukan karena tidak memiliki alasan, tetapi mengenai proyek kerja sama kita yang ada di Manhattan, aku ingin membicaraknnya dengan anda."
"Silahkan duduk Mr. Regan, tentu saja, saya juga menunggu kedatangan anda untuk berdiskusi, karena proyek ini sangat penting apalagi menyangkut dua perusahaan besar."
"Terima kasih."
Hari itu Regan sama sekali tidak membicarakan mengenai Alyena, dia hanya membahas mengenai pekerjaan dan itu membuat Willy cukup mempercayainya, setelah berbincang cukup lama, akhirnya Regan keluar dari kantor Willy, dia sama sekali tidak menanyakan kabar Alyena atau menyebut namanya, terlihat murni kerja sama antar dua perusahaan.
***
Mobil Porsche hitam terparkir di depan Universitas York siang itu, sejak dua puluh menit yang lalu, Alyena tersenyum lalu melambaikan tangannya kepada Jafier. Dia berjalan cepat dan segera naik ke atas mobilnya.
"Bagaimana dengan harimu selama di kampus, Alyena?" tanyanya, setelah memberikan kecupan singkat di pipinya.
"Aku sangat senang, aku punya cukup banyak teman-teman, dan mengikuti beberapa perkumpulan di kampus bersama Nick dan Clara."
"Kedengarannya bagus, kau harus mencobanya selagi kau masih kuliah, nikmati semua yang menurutmu terbaik." Ucap Jafier.
Alyena menatapnya, "Kenapa?" tanya Jafier melihatnya sedikit tertunduk.
"Andaikan kata-kata Kak William sepertimu aku pasti akan senang sekali, tapi kak Willy akan memeriksa semua perkumpulan yang aku ikuti, semua perkumpulan itu hanya membahas masalah perkuliahan saja, dan aku belum bisa memilih klub yang ingin aku masuki sebelum ada pemeriksaan dari kak Willy."
"Klub apa?" tanyanya.
"Erm, aku mencoba klub tenis, bersama Nick dan Clara."
"Mereka ada di semua tempat." Ucap Jafier.
Alyena hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum. "Kita akan makan di mana?"
"Bagaimana kalau kita membeli makanan di Food Cart dan makan di taman?" sepertinya menyenangkan kan?" Ucap Alyena, dia bosan makan di tempat yang formal.
"Alyena, kita harus berhenti." Ucap Jafier di sela-sela mereka berciuman ketika berada di dalam mobil. Alyena menarik kemeja Jafier hingga kancingnya berjatuhan, dia memojokkannya dan menggesekkan tubuhnya kepada Jafier.
"Alyena? Alyena berhenti !" Jafier sekuat tenaga menahan gairahnya, dia memegang bahunya, agar Alyena berhenti. Napas mereka saling kejar mengejar, suhu tubuh mereka panas membutuhkan, tetapi sekuat tenaga Jafier menahannya, dia tidak mau berbuat kesalahan yang sama kepada Alyena.
Jafier memeluknya dan mencoba menetralkan napas mereka berdua yang saling kejar mengejar. "Aku suka kau seperti ini, tapi setelah kita menikah. Aku takut aku bisa menyerangmu kapan saja, apa kau mau?" Ucap Jafier sambil memeluk tubuh Alyena.
Kepalanya menggeleng, Jafier lalu tersenyum dan mengecup keningnya penuh sayang. "Sebaiknya kita kembali ke kampusmu, kau memarkir mobilmu di sana kan?"
"Mm..."
Jafier mengelus kepalanya dan menyandarkan Alyena kembali ke kursinya. Dia kemudian menyetir dan menuju ke kampusnya. Perjalanan mereka tidak begitu lama hingga tiba di kampus Alyena, dia segera keluar dari mobil Jafier dan melambaikan tangannya, lalu segera menuju mobilnya yang berwarna biru yang terparkir di pelataran kampus.
"Alyena."
Suara itu membuatnya berbalik. Dia melihat Kilian Regan berdiri didepan mobilnya sambil bersandar di sana.
"A-anda? apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Alyena terkejut.
Dia tersenyum, "Hanya menemuimu saja, aku bertanya kepada temanmu yang bernama Clara, kebetulan aku tadi bertemu dengannya, dia bilang sebentar lagi kau akan kembali ke kampus." Ucapanya.
"Ah, ya aku memang pergi siang tadi."
"Bagaimana kalau kita makan malam?" Ucapnya sambil tersenyum.
"Mm, maafkan aku, hari ini aku sudah berjanji dengan kakak untuk pulang tidak terlalu sore dan kami akan makan malam bersama." Tolaknya.
"Oh ya, sayang sekali, kalau begitu lain kali saja kita makan malam." Dia tersenyum dan kemudian dia kembali ke mobilnya, Alyena pun kembali ke mobilnya, dia melambai dari dalam mobilnya dan segera pergi.
Alyena menarik napasnya, "Uhh, tidak lagi, aku tidak mau menimbulkan keributan, menghadapi kak William ketika aku bersama Jafier saja sudah sangat sulit, apalagi di tambah dengan kedatangan Kilian Regan." Gumamnya. Dia melajukan mobilnya dan segera kembali ke rumahnya.
***
"Kenapa kita harus makan malam di luar, kak Audry?" Tanyanya, ketika dia baru saja pulang, Audry menyuruhnya untuk segera bersiap-siap.
"Entahlah honey, kak William menunggu kita di salah satu restaurant, dia akan langsung menuju ke sana dan menunggu kita, sebaiknya kau segera mandi dan berpakaian."
"Okey." Alyena segera berlari-lari kecil menuju kamarnya, dia lalu segera mandi. Ketukan pintu terdengar saat itu Alyena telah selesai bersiap-siap, dia membuka pintu kamarnya dan segera turun ke lantai bawah.
"Kak Willy sudah mengomel, dia menyuruh kita untuk segera datang." Mereka berdua segera keluar dari mobilnya dan menuju ke restaurant tempat Willy menunggu. Mereka akhirnya sampai 20 menit kemudian, sejak tadi dia terus menatap jam di pergelangan tangannya dan berdecak ketika mereka telah tiba.
"Kenapa kalian lama sekali?" Ucap Willy.
"A-aku ketiduran tadi, jadi kak Audry yang membangunkanku." Ucap Alyena kepada Audry dan meminta kepadanya dengan wajah permohonan agar dia mau menutupi kebohongannya.
"Dia tadi siang sangat lelah, jadi baru sore-sore ini aku membangunkannya.
"Oh ya kalian pesan makanan, aku menelepon sebentar." Ucap Willy, dia pergi sebentar dan memesan makanan. Audry memandangnya dengan pandangan penuh arti.
"Katakan, tadi siang hingga sore, kau kemana saja Alyena? Kau tidak melakukan hal yang membuat Willy marah, bukan?" Ucap Audry sambil berbisik.
Alyena menelan ludahnya, sudah saatnya dia harus jujur kepada Audry mengenai hubungannya dengan Jafier. "S-sebenarnya yang kulakukan ini membuat kak William benar-benar akan marah." Ucapnya. Audry lalu menarik tangan Alyena dari atas meja dan memelototinya.
"Apa yang kau lakukan Alyena, apa kau melakukan One night stand dengan seorang pria?" Ucapnya.
"What? Kak Audry bercanda ya, bagaimana mungkin aku melakukannya, aku tidak akan melakukan hal itu dengan sembarang pria, aku akan melakukannya dengan pria yang akan menikah denganku dan yang aku cintai, aku tidak melakukannya hanya karena coba-coba." Ucap Alyena menjadi malu membicarakan hal itu.
"Jadi apa yang akan membuat Willy marah besar kepadamu."
"A-aku.....
Alyena melirik ke kiri dan ke kanan. "Aku telah menjalin hubungan dengan paman Jafier, maksudku Jafier." Ucapnya sambil memajukan tubuhnya dan berbisik kepada Audry.
Audry menganga mendengarnya. "Kau bertemu dengannya? kapan?" Ucap Audry terkejut.
"Sst, jangan berisik kak Audry nanti kak Willy dengar."
"Jadi kapan kau bertemu dengannya."
"Beberapa hari yang lalu, kami bertemu di pesta dan berbicara cukup lama, dan dia menyatakan perasaannya, terus aku juga menyatakan bagaimana perasaanku, aku...aku menyukainya." Ucap Alyena dengan jujur.
Audry memegang keningnya, dia berpikir sebentar. "Jadi sekarang ini apa usaha yang dilakukan Jafier untuk kembali berbaikan dengan Willy, sepertinya tidak ada celah, dia bahkan akan mengomel jika kita menyebut namanya, apalagi jika dia mendengar kau berhubungan dengan Jafier, mungkin dia akan meledak."
"Sst, kak Willy datang." Bisik Alyena.
"Kalian sudah memesannya?" tanyanya, lalu kembali duduk.
"Mm sudah, kau sibuk sekali, siapa yang menelepon?"
Willy melirik kepada Alyena, lalu menjawab pertanyaan Audry. "Kau tahu kan Kilian Regan, perusahaannya bekerja sama dengan perusahaanku, jadi kami akan lebih sering bertemu untuk membahas kerja sama perusahaan kami, kau tidak masalah dengan itu kan Alyena?" Tanya Willy.
Alyena hanya mengangkat bahunya, "Sama sekali tidak."
"Dan aku lupa memberitahu kalian, karena pekerjaan ini mendesak, jadi aku mengundangnya makan malam bersama kita, setelah ini kami ada rapat di kantor, jadi aku akan telat pulang ke rumah." Ucap Willy.
"Dasar Jafier bodoh, kau harusnya segera bergerak, sepertinya Kilian Regan bermain pintar untuk merebut perhatian Willy, kali ini kau harus berusaha keras sendirian, aku tidak mau terlibat." Gumam Audry sambil menggelengkan kepalanya.