
Alyena melihat sir Alfon dari kejauhan dan sedang menuju ketempat dimana Alyena biasa berkumpul bersama teman-temannya, melihatnya berjalan cepat seperti itu Alyena telah berlari duluan, bersembunyi di suatu tempat sambil membawa bekalnya, dia cukup mengenal daerah ini, jadi dia tahu tempat bersembunyi yang tidak diketahui oleh orang-orang.
Tempat itu berada di tengah-tengah perkebunan, terdapat beberapa pohon yang tumbuh di sana sehingga orang-orang akan kesulitan jika mencarinya.
"Sial, padahal aku ingin makan siang dengan Rudith dan Nalia, apa yang harus aku katakan kalau sir Alfon selalu mencariku untuk makan siang dengan tuan Regan. "Alyena menghembuskan napasnya, dia harus menghabiskan waktunya di sini seorang diri, dia tidak memiliki pilihan lain selain memakan bekalnya seorang diri di bawah pohon itu.
"Jadi, kau sedang bersembunyi di sini?" Suara itu mengagetkan Alyena, pria bernama Jafier sedang duduk di antara pohon di dekat Alyena, dia sedang berbaring di sana tanpa Alyena ketahui.
"Jadi kau menghindari kilian Regan, pemilik perkebunan ini? Bukankah itu akan menyulitkanmu jika kau menghindarinya?" Tanyanya, sambil tersenyum, dia kini duduk di samping Alyena.
"B-bukan urusan paman." Ucap Alyena sambil menunduk, dia malu karena semua ucapannya di dengar oleh pria ini.
"Bagaimana kalau kau katakan saja bahwa kau makan siang denganku, aku bersedia menolongmu." Ucapnya.
"Lagi pula aku belum makan siang, bagaimana jika kita makan siang bekal yang kau bawa itu." Sambil menunjuk bekal yang berada di pegangan Alyena.
"Paman mau?" Tanyanya.
"Jika kau mau memberikan sedikit untukku." Alyena tidak memiliki pilihan lain, dia harus makan dengan pria di sampingnya ini.
°°°
"S-saya minta maaf tuan, saya tidak menemukan Alyena, kata teman-temannya, sejak tadi dia tidak melihatnya ketika mereka memetik anggur." Lapor tuan Alfon, meskipun begitu tersirat kelegaan di hati tuan Alfon, dia khawatir terjadi sesuatu kepada gadis itu, biar bagaimanapun, dia mengenal dengan baik Nick ayahnya, dan dia pernah berpesan agar menjaga putrinya sebelum dia meninggal dunia.
"Kau boleh keluar."
"B-baik tuan."
Kilian berdiri dari tempat duduknya, dia berdiri di depan jendela dan memandangi orang-orang di perkebunan, dia kemudian mengernyitkan alisnya ketika dari kejauhan dia melihat dua orang sedang makan di bawah pohon, "siapa mereka?" Ucapnya.
~
"Kemana sih Alyena, apa dia sedang sakit perut?" Ucap Rudith memperhatikan para pekerja yang sedang beristirahat .
"Sejak pagi Alyena memang tampak aneh, dia terlihat mengkhawatirkan sesuatu, apa dia sedang sakit ya? Seharusnya dia tidak usah datang ke perkebunan jika dia merasa tidak enak badan."
~
Mereka makan dalam diam, sementara itu Alyena melirik pria yang ada di sampingnya, dia makan sandwich itu dengan lahap, setelah makan, dia memetik sedikit anggur dan memberikannya kepada Alyena.
"Makanlah, ini makanan penutup."
Alyena mengambilnya dan memakannya, terdengar bel kembali berbunyi dan Alyena dengan cepat berdiri lalu mengibaskan pakaiannya dari rerumputan yang menempel di pakaiannya.
"Kau akan bekerja lagi?"
"Tentu saja, aku harus kembali bekerja." Alyena berjalan dan masuk lebih dalam ke tempat anggur-anggur yang masih belum di petiknya, pria itu ada di belakangnya, mengikutinya.
"Kelihatannya menarik, aku akan memetikkan sedikit untukmu." Ucapnya.
Alyena tidak menjawabnya, dia hanya melirik lelaki itu, dia memetik buah-buah anggur dan memasukkannya ke dalam keranjang, Alyena tidak menyangka pria itu membantunya mengisi keranjang itu hingga hampir penuh.
"Jadi, kau akan memberiku upah karena membantumu."
"Paman bercanda, sejak tadi aku yang lebih banyak memetiknya." Ucap Alyena.
"Apa begini seorang pekerja memetik buah anggurnya? lihat, banyak anggur yang terlepas dari tangkainya, kau harus berhati-hati."
Paman ini cerewet sekali
Tanpa terasa hari semakin sore, sehingga Alyena menghentikkan pekerjaannya, apalagi sejak tadi keranjangnya telah penuh karena bantuan paman itu. Alyena tidak menyangka jika pria itu membantunya sampai sesore ini.
Apa dia betul-betul ingin diupah? Pikiran itu membuat Alyena terlihat berpikir serius dan menghitung-hitung berapa jam mereka berdua mengumpulkan anggur bersama-sama.
"Sudah selesai, sebaiknya kau segera mengumpulkan anggur ini, sebelum yang lain pulang." Alyena terdiam, dia bingung ingin mengatakannya, "U-upah paman, aku tidak bisa memberikannya sekarang karena sebulan sekali mereka mengupah kami." Ucap Alyena masih menghitung-hitung di kepalanya berapa yang harus di berikannya kepada pria ini.
Suara tawa terdengar dari Jafier, tanpa sadar, dia mengacak rambut Alyena hingga berantakan.
"Apa sih yang paman lakukan." Ucapnya, sambil kembali merapikan rambutnya yang berantakan.
Dia berhenti tertawa, kemudian memikirkan sesuatu yang lain, "bagaimana kalau kau mengupahku dengan mengajakku ke tempat yang indah di desa ini, sebelum aku kembali ke Amerika." Ucap Jafier.
"Semua tempat di desa ini indah paman, tempat yang mana paman inginkan?" Tanyanya.
"Besok, kau harus menemaniku mengelilingi tempat ini, jika tidak, aku akan meminta upahku yang setengah hari tadi."
Alyena tidak bisa berkata-kata, dia mendengus, "pelit," gumamnya. Mereka bersama-sama keluar dari perkebunan, Jafier mendorong troli berisi buah anggur itu keluar dari perkebunan, untung saja separuh pekerja telah pulang begitupun Nalia dan Rudith hingga mereka berdua tidak terlihat mencolok.
Setelah menyimpan anggur-anggur itu, Alyena segera mengganti bajunya lalu bersiap keluar dari perkebunan, Jafier menunggu di luar perkebunan, dia berdiri di sana sambil mengobrol dengan willy.
Dari kejauhan Alyena melihat mereka berdua mengobrol, "Kenapa mereka mengobrol di sana, apa dia sengaja menungguku di pintu keluar perkebunan agar dia bisa meminta upahnya, tapi sepertinya pria itu tamu dari tuan Regan, apa dia sedang bercanda denganku?" Dia hendak berjalan menuju pintu keluar tetapi seseorang bergabung dengan mereka, dia adalah tuan Regan.
Melihatnya ada di sana, membuat Alyena berhenti melangkah, refleks dia sembunyi dan mengintip dari jauh.
"Tuan Regan ada di sana, aku tidak mau bertemu dengannya." Gumam Alyena.
Alyena kembali berlari memutari manshion dan melewati jalan pintas hingga tiba di jalan utama, Alyena berjalan cepat dan akhirnya sampai ke rumahnya, dengan cepat dia masuk dan menguncinya. Jantungnya berdegub kencang, "Nyaris saja." Ucapnya.
"Kenapa tuan Alvaro dan tuan Collagher berbincang di tempat ini? sebaiknya anda masuk ke dalam, kita bisa mengobrol di tempat yang lebih santai, atau anda sedang menunggu seseorang?" tanyanya.
"Kau sedang menunggu seseorang?" Ucap Willy kepada Jafier.
"Tidak, saya hanya iseng berdiri di sini, apalagi dari sini pemandangan tampak lebih indah bukan?" Matanya melirik ke samping dan menyadari gadis itu tidak akan lewat sini karena ada regan di sana.
~
Setelah menyelesaikan makan malam, Alyena akhirnya bersantai dan beristirahat, dia sengaja mematikan lampunya lebih cepat agar tidak ada orang yang mengetuk rumahnya, tetapi suara ketukan terdengar pelan di pintunya, Alyena sedang membaca buku lalu terduduk, dia hanya mengenakan pakaian tidur selutut, dia turun dari tempat tidurnya, mencoba kembali mendengar suara ketukan itu. Alyena mengenakan sweaternya berwarna coklat dan jalan dengan berjinjit, dia mengintip dari jendela dapurnya, dan melihat seorang pria berdiri di sana dengan mengenakan jaketnya.
"Aku harus membukanya atau tidak? Dia harusnya berpikir aku sudah tertidur, sebaiknya dia pulang, please segeralah pulang." Ucapnya.
Seseorang memanggilnya sehingga kilian regan menoleh dan menatap seorang pria yang sedang memanggilnya.
"Sepertinya dia tidak ada dirumahnya tuan, sejak siang tadi saya juga tidak menemukan Alyena.
"Apa kau yakin dia tidak ada di rumahnya?"
"Saya yakin tuan."
Mereka berdua akhirnya pergi, tuan Regan kembali ke mansion, sedangkan Sir Alfon kembali ke rumahnya, Alyena merasa lega, dia tidak bisa menghadapi tuan Regan larut malam seperti ini, "apa lagi yang diinginkannya, mencoba produk terbaru anggurnya? sejujurnya aku tidak begitu menyukai wine atau sejenisnya, tubuhku tidak bisa menerimanya." Gumam Alyena.
"Kenapa sih tuan itu bersikap seperti ini padaku? Apa dia menyukaiku? tapi itu tidak mungkin, memangnya wanita di dunia ini telah menghilang dan dia tertarik dengan gadis 17 tahun sepertiku?" Alyena menghempas tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai terlelap tidur.
~
Pagi yang indah di akhir pekan, Alyena hari ini libur kerja, jadi dia bisa menghabiskan waktunya seharian, hari ini Alyena akan menemani pria itu berkeliling desa ini meskipun tidak banyak tempat indah yang di ketahuinya di desa Gimmelwald ini.
Setelah sarapan dan bersiap-siap, Alyena segera keluar dari rumahnya, di ujung jalan tampak Jafier sedang berada di dalam kendaraannya dan menunggunya, melihat Alyena datang dia segera keluar dari mobilnya.
"Ermm, k-karena paman membantuku hanya setengah hari saja, maka akupun akan mengajak paman mengelilingi tempat ini sampai siang hari saja, setelah itu kita akan pulang."
"Kau perhitungan sekali gadis kecil, ayo naik."
Alyena naik ke dalam mobil Jafier, tanpa mengetahui seseorang telah berdiri dan melihat mereka dari kejauhan, dia memandang mereka dengan seringai di wajahnya, dia memegang sesuatu di tangannya, setelah melihat kepergian mereka, Kilian kembali ke mansion.
°°°
"Kau yakin tempat ini salah satu wisata di desa ini?" Ucapnya ketika melihat hanya sebuah padang rumput yang terbentang luas di hadapan mereka, tidak ada satupun pohon yang tumbuh di padang itu.
"Setahuku ini salah satu tempatnya, apa aku lupa dimana tempatnya ya?" Gumam Alyena.
"Kau sama sekali tidak bisa menjadi seorang pemandu wisata, bagaimana kau bisa tidak tahu tempat indah di desa ini sedangkan kau tinggal di sini."
Tch, paman ini cerewet sekali, seharusnya dia mencari orang lain untuk menemaninya.
"Bagaimana kalau naik itu saja paman, kereta gantung juga cukup terkenal di desa kami, karena dulu tidak ada kendaraan yang bisa masuk ke desa ini, orang-orang menggunakan kereta gantung untuk mencapai desa seberang, sekarang banyak turis yang datang dan menggunakannya." Kali ini setidaknya Alyena mengetahui sesuatu.
"Hm, menarik juga, aku ingin mencobanya." Mereka berdua masuk ke kereta gantung setelah membeli tiket masuk, tidak begitu banyak pengunjung yang datang meskipun akhir pekan seperti ini, sehingga hanya mereka berdua saja yang berada di atas kereta gantung yang meluncur sejauh 300 meter dengan ketinggian 120 meter yang melintasi perbukitan.
"Bagaimana, indah bukan pemandangannya, setiap akhir pekan aku dan teman-temanku menghabiskan waktu berjalan-jalan dan naik kereta gantung ini untuk melintasi desa seberang, setelah itu kami akan kembali lagi dan pergi ke pasar dadakan yang ada di desa." Ucap Alyena bersemangat.
"Kau menyukai desa ini?" tanyanya.
"Tentu saja paman, di desa ini aku dilahirkan dan di besarkan, banyak kenangan menyenangkan di desa ibuku ini."
Jafier menatapnya, melihat gadis ini begitu kuat menghidupi dirinya seorang diri dengan usia yang masih sangat muda, tanpa keluarga, dia pasti kesepian. Tanpa sadar dia mengelus kepala Alyena dan menepuk punggungnya seakan ingin menguatkannya.
"A-apa sih yang paman lakukan, kalau paman menyentuhku tanpa seizinku, itu namanya pelecehan, apa paman tidak tahu?" Alyena merasa ceroboh duduk didekat pria itu, dia kemudian pindah ke tempat duduk di ujung dan menjaga jarak padanya.
"Jadi aku harus meminta izinmu, jika aku ingin menyentuhmu?"
"Tidak usah membahasnya, L-lupakan yang kukatakan." Ucap Alyena.
Setelah seharian naik kereta gantung mereka akhirnya makan siang di salah satu restaurant, Alyena bercerita banyak hal kepadanya, tanpa sadar dia menjadi terbuka dan tidak canggung lagi di depan Jafier, dia bercerita dan Jafier mendengarkannya.
"Paman akan kembali ke Amerika?" tanya Alyena.
"Ya, malam ini, kenapa? apa nanti kau akan merindukanku?" tanyanya.
"Tch, paman mimpi ya?"
"Ambil ini." Ucap Jafier.
"Simpan baik-baik kartu namaku, jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menghubungiku." Ucapnya, sambil memberikan kartu namanya berwarna silver.
Alyena membacanya. "Jafier Alvaro? itu nama paman ya."
"Ya itu namaku, jika kau membutuhkan sesuatu atau kau mengalami masalah, segera hubungi aku, kau mengerti Alyena?"
"Oke," Senyum Alyena. Jafier mengetahui jika Kilian Regan menginginkan sesuatu dari gadis ini, dan itu membuatnya cukup tidak tenang, apalagi sebentar malam mereka akan kembali ke Amerika, apa yang akan terjadi dengannya.
Hari telah gelap ketika mereka kembali, Jafier menurunkan Alyana di depan rumahnya mereka bercerita sebentar dan akhirnya Jafier kembali ke mansion.
"Kau kemana saja seharian ini?" Tanya william.
"Aku sedikit jalan-jalan."
"Bersama siapa?" tanyanya.
"Seorang gadis."
"Ck, kau cepat juga, siapa gadis itu?" Tanya Willy.
"Kenapa? dia salah satu pekerja di perkebunan anggur ini dan dia cukup tahu tempat yang indah di desa ini."
"Oh ya, tapi kau bukanlah tipe orang yang suka pergi berjalan-jalan, kau bahkan lebih suka menghabiskan waktumu bekerja di mansionmu, gadis itu pasti special."
"Entahlah, tapi aku merasa tenang jika bersama dengannya."
~
"Ugh, lelah sekali, untung saja perutku sudah kenyang, aku bisa langsung....
Alyena berhenti berjalan, seseorang bersandar di depan pintu rumahnya dan dia adalah Kilian Regan. Dia menyadari kedatangan Alyena, pria itu kemudian berdiri di sana seperti sebuah patung yang menghalangi pintu masuk.
"T-tuan Regan, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Alyena dengan suara bergetar.
"Kau dari mana saja Alyena, sejak kemarin kau menghilang, aku sudah menyuruh sir Alfon mencarimu tetapi dia bilang kau sedang tidak ada di rumah."
"Aku pergi ke rumah temanku dan menginap di sana." Ucap Alyena berbohong.
"Benarkah? lalu hari ini kau pergi dengan siapa?" tanyanya, dia mulai berjalan pelan mendekat ke tempat Alyena berdiri.