
Pukul 06.30
Pagi itu willy berjalan-jalan sebentar, tidak biasanya dia joging pagi-pagi sekali, dia berlari-lari sambil mengenakan headphonenya, untuk menghilangkan perasaannya yang kacau, joging di pagi hari dapat menghilangkan pikiran negatif yang selalu masuk ke pikirannya. Jam 06.30 pagi hari, Willy masih berlari, setelah berlari tanpa sadar dia menabrak seorang wanita bertubuh kecil yang baru saja turun dari bus.
"A-aku minta maaf, aku sedang buru-buru." Gadis itu berlari dan segera masuk ke dalam sebuah Cafe di pinggir jalan, Willy berhenti sejenak dan masuk ke dalam Cafe memesan kopi dan wafel serta sandwich, dia membuka ponselnya dan membalas beberapa email dan pesan yang masuk. Perhatiannya teralihkan ketika mendengar omelan dari seorang pria kepada gadis itu.
Gadis yang menabraknya tadi berada di sana sedang sibuk melayani pembeli.
Tanpa sadar Willy mengamati segala gerik gadis itu sambil mengernyitkan alisnya. "Kenapa dia ceroboh sekali?" Gumam Willy. Seorang pembeli tidak terima cipratan dari cangkir di kopinya tertumpah dan melukai tangannya. Gadis itu sekali lagi meminta maaf, dia terlihat kesulitan melayani pelanggan itu yang terus marah-marah.
"Kenapa kau ceroboh sekali, bodoh !" Ucap pria itu marah-marah tanpa henti. Gadis itu dengan wajah pucat terus meminta maaf. Manager cafe itu keluar dan meminta maaf kepada pelanggan tadi.
"Gajimu akan saya potong kalau kau terus membuat kesalahan," Gadis itu hanya mengangguk dan terus meminta maaf. Tanpa sadar Willy menggertakkan giginya.
"Kenapa pria itu sejak tadi marah-marah? dan kenapa gadis itu hanya menunduk patuh? harusnya dia mengatakan sesuatu untuk membela dirinya, apa dia bodoh?"
Willy lalu berdiri setelah menghabiskan sarapannya, dia hendak keluar, matanya melirik gadis yang masih menunduk dan terlihat termenung. "Tsk, bukan urusanku, sebaiknya aku pergi." Gumamnya.
Terdengar umpatan kasar dari dalam dan pecahan gelas membuat Willy sekali lagi berhenti, dia membelakangi Cafe itu, kemudian berbalik dan memutuskan ikut campur, sebelum tamparan itu melayang di wajah gadis itu, Willy telah memegang tangan seorang pria.
"Sebaiknya kau berhenti, sebelum saya menelepon polisi." Ucap Willy dingin menatap tajam pria itu.
"Cih, perhatikan jika kau bekerja, kenapa kau merugikan pelangganmu?" Pria itu melepaskan tangannya dari Willy dan akhirnya keluar dari Cafe itu.
"T-trima kasih, tuan."
Willy menatapnya, dan memijat-mijat keningnya sendiri.
Apa aku bermimpi? kenapa wajah memelasnya mirip dengan Alyena, dia selalu terlihat membutuhkan pertolongan.
"Tidak masalah." Willy berbicara dengan managernya, matanya lalu melirik kepada gadis itu, dia sedang mengambil sapu lalu membersihkan serpihan kaca di lantai, gadis itu membersihkannya hingga bersih. Willy berjalan dan berhenti lagi, dia menatap sejak tadi punggungnya.
"Nama." Suara dingin Willy membuatnya terkejut.
"Y-ya?" Ucap gadis itu.
"Siapa nama kamu."
"Ivy, namaku Ivy Ainsley, tuan."
Willy meliriknya sebentar. "Hubungi nomor ini jika kau mengalami kesulitan." Ucap Will, gadis itu mengambil kartu namanya dengan perlahan, Willy kemudian pergi, dia membuka pintu Cafe itu dan segera menuju pelataran parkiran, tiba-tiba gadis itu berlari dan mengejarnya, dia lalu memegang tangannya.
"T-tolong aku, tuan. Aku akan melakukan apapun." Wajahnya terlihat memelas, dia terlihat berusaha menghilangkan rasa malunya, pipinya memerah karena meminta pertolongan kepada orang yang pertama kali di kenalnya. Willy hanya menatapnya dalam diam, dan melihat tangan gadis itu bergetar.
"Masuk ke dalam mobil."
Gadis itu terlihat memberanikan dirinya, dia lalu masuk ke dalam mobil Willy, dan tertunduk di sana.
"Apa yang kau butuhkan." Ucap Willy tanpa memandang gadis di sebelahnya, dia terus menyetir dan menatap ke depan. Ivy terlihat menggenggam roknya erat-erat, dengan takut-takut dia melirik ke arah Willy.
"A-aku membutuhkan bantuan, tuan. Aku berasal dari Portland, saya berada di York sudah sebulan. S-saya tinggal bersama adikku berusia 12 tahun, seminggu yang lalu dia kecelakaan dan sekarang dia masih belum sadarkan diri, S-sekarang dia di rumah sakit.
Willy terdiam, dia masih mendengarkan cerita gadis ini.
"O-orang tua kami telah wafat, jadi kami memutuskan datang ke negara ini, kami bermaksud tinggal bersama paman dan bibiku, tapi mereka tidak ada, mereka tidak tinggal lagi di negara ini, aku tidak tahu mereka pergi kemana.
A-adikku sakit parah. A-aku tidak tahu lagi harus kemana dan meminta bantuan kepada siapa. Aku ... aku akan melakukan apapun, tapi selamatkan adikku."
"Dia berada di Central Hospital, tuan." Ucap gadis itu. Willy memutar mobilnya dan segera menuju ke rumah sakit. Mereka akhirnya tiba, Ivy keluar dari mobil Willy, dia berjalan cepat dan menunjukkan arahnya kepada Willy.
Seorang perawat baru saja keluar dari kamar pasien. "Keluarga Ainsley?" Ucap perawat itu. "Adik anda mengalami luka yang sangat serius, kami meminta maaf, adik anda tidak dapat kami selamatkan, keputusan operasi anda terlambat." Gadis itu masuk ke dalam kamar adiknya dan menangis memanggil-manggil adiknya. Sementara itu Willy menatapnya, dia segera menghubungi orangnya dan mengurusi semuanya.
***
Setelah penguburan selesai, gadis itu tampak lebih rapuh, dia duduk di depan pusara adiknya dan menatap kosong. William ada di sana, dia berjalan mendekati gadis itu.
"Ikut denganku." Ucapnya.
Perlahan dia berbalik dan menatap Willy.
"I-ikut kemana tuan." Ucapnya.
Willy memegang tangannya dan membawa gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Kita akan kemana, tuan?" Ucapnya.
"Kita akan ke rumah barumu, mulai hari ini kau akan tinggal denganku."
***
Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat dia seakan pasrah dengan nasibnya, dia sama sekali tidak memiliki apapun lagi, keluarga di tempat asalnya, dan adiknya pun sudah meninggalkannya, kini dia sebatang kara. Tepat saat dia bertemu dengan Willy, tepat pula dia di pecat dari pekerjaannya karena pergi begitu saja.
"B-barang-barangku masih di Flat , tuan." Ucap Ivy terlihat cemas.
"Jangan khawatir, pengawalku telah mengantar barangmu ke penthouseku." Ivy masih cemas, dia tidak tahu pria seperti apa yang berada di sampingnya ini. Jantungnya berdegub kencang. Ketakutan tentu saja menderanya, tetapi tidak ada pilihan lain lagi, dia harus ikut bersama pria yang telah menolong dan mengurusi seluruh biaya rumah sakit dan pemakaman adiknya, sehingga adiknya mendapatkan tempat yang layak di tempat terakhirnya.
Ivy melihat pengawal di mana-mana ketika dia memasuki pelataran parkiran di sebuah penthouse yang mewah.
"Ikut aku." Ucap Willy.
Gadis itu mengikutinya dengan berlari-lari kecil mengimbangi langkah cepat di depannya. Mata ivy terbuka lebar ketika memasuki rumah itu, segala kemewahan dapat di lihatnya.
Willy naik ke atas tangga, gadis itupun mengikutinya, dia lalu masuk ke dalam kamarnya. Ruangan itu di dominasi dengan hitam dan putih serta jendela besar terpampang di depannya.
"Duduklah." Ucap Willy, dia mengambil gelas dan menuangkan minuman di depannya.
Willy duduk di depannya sambil menyilangkan kakinya. Pandangan tajam Willy membuat gadis itu menelan ludahnya kasar, dia tahu apa yang diinginkan pria ini.
Apa dia menginginkan tubuhku? Apakah aku harus melepasnya untuk pria ini, sekarang?
Pikiran itu membuat Ivy meneguk minuman itu dengan sekali teguk, sehingga dia mabuk begitu saja, baru kali ini dia meminum minuman seperti ini. Dengan berani wanita itu berdiri dan mulai membuka pakaiannya satu persatu, Willy memuncratkan minuman dari mulutnya dan terbatuk-batuk.
"Hei Ivy, apa yang kau lakukan?" Ucap Willy ikut berdiri. Gadis itu membuka perlahan pakaiannya hingga dia terlihat polos tanpa sehelai benangpun di depan Willy.
"Kau mabuk, sebaiknya kau tidur, aku tidak mengerti kenapa kau membuka pakaianmu, Ivy. Aku hanya ingin bicara denganmu mengenai pekerjaan yang akan aku berikan padamu di penthouse ini." Ucap Willy mencoba memalingkan wajahnya, gadis itu terkesiap.
"A-apa? Aku pikir kau membawaku karena ....
Dia begitu malu, wajahnya memerah, dengan cepat dia berjongkok dan menutupi tubuhnya.
Ivy bodoh bodoh, kenapa kau begitu percaya diri? memangnya dia mau menyentuh tubuh kurusmu itu? Uuugh, aku sungguh malu, ini semua karena keseringan membaca novel.