Flower On The River

Flower On The River
Vol 11



Seattle Amerika serikat.


Gadis itu baru saja menapaki kota besar yang terkenal dengan Emerald citynya, dia terkagum-kagum dengan menara tinggi menjulang dengan barisan bangunan yang tinggi, banyaknya orang-orang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing, Alyena menyeret kopernya keluar dari bandara dan segera mengambil bis pertama menuju pusat kota Seattle.


Perjalanan jauh yang membutuhkan waktu berjam-jam sungguh membuatnya sangat lelah, dia duduk di kursi penumpang dengan nyaman, dan menyaksikan pemandangan kota dari bis. Alyena berencana akan mengunjungi tempat-tempat terkenal di kota itu, setelah dia menemukan tempat tinggal, dia telah menulis rute perjalanannya di secarik kertas. Yang pertama, Alyena ingin mengunjungi sebuah tempat yang terkenal di kota itu bernama Seattle center, merupakan ikon di kota itu yaitu menara tinggi yang menjadi ikon seattle, dan berbagai destinasi lain yang akan banyak dikunjunginya, selain mencari kakaknya, dia juga akan berlibur untuk menghilangkan segala penatnya.


Alyena menyeret kopernya dan ransel yang masih betah di punggungnya, perutnya keroncongan, dia berjalan di tempat lalu lalangnya orang-orang dan mencari rumah makan yang murah, tetapi tidak ada yang murah di kota ini, uangnya yang telah di tukar dengan nilai dollar, cukup untuk biayanya selama beberapa bulan, dia melihat di ujung jalan banyak orang-orang yang mengantri di sebuah truck, dia kemudian membacanya.


"FoodCar Truck?" Wajahnya yang lesu seketika berubah menjadi bersemangat, dari dulu dia ingin mencoba jajanan ini, setelah tiba di depan sebuah Truck makanan itu, Alyena membaca menunya, ternyata yang dijual makanan simple yang juga banyak di jual di negaranya.


"Satu hamburger dan satu Cola." Ucap Alyena. Setelah beberapa menit, makanannya pun siap, dia menarik kopernya dan duduk di kursi yang kosong yang tersedia dia samping truck mobil.


Dia makan dengan lahap dan menikmati cerahnya langit siang itu, meskipun kota itu terkenal dengan curah hujan yang tidak menentu tetapi hari ini cuaca sangat cerah. Alyena mengambil buku kecil yang memang telah disediakan dan sudah lama dia menulis disana tempat-tempat yang wajib dikunjunginya dan tempat yang sesuai ketika mencari tempat tinggal yang murah.


"Apa uangku cukup untuk membeli ponsel?" Gumamnya.


Dia menghembuskan napasnya dan mengambil kartu nama milik Jafier. "Telepon tidak ya, apa dia akan datang jika aku meneleponnya?" Gumam Alyena.


"Baik, aku akan membeli ponsel, setelah itu aku akan menelepon paman Jafier, mungkin saja dia bisa menolongku mencarikan tempat tinggal yang murah.


Alyena berdiri dan kembali menyeret kopernya, dia bermaksud mencari toko ponsel, dan akhirnya dia menemukannya. Dia masuk ke dalam toko dan membeli ponsel yang cukup murah dan bisa di gunakan secepat mungkin.


Tidak butuh waktu lama ketika Alyena telah membeli ponselnya, uangnya masih cukup untuk menyewa satu flat untuk bermalam, tiba-tiba saja ada keributan dari belakangnya, tanpa dia sadari dia lalu menempel ke dinding bangunan ketika melihat orang-orang berlari-lari. "Apa yang terjadi? Kenapa mereka berlari?" Alyena segera pergi ketika situasinya telah aman, tetapi dia menatap tangannya yang kosong.


"Koperku mana?" Gumam Alyena, dia menoleh ke kiri dan ke kanan kopernya sama sekali tidak ada, didalam koper itu segala kebutuhannya ada di sana. Hanya ranselnya saja yang berada di punggungnya. Meskipun uang serta passportnya berada di tas ranselnya, tetapi pakaiannya semua ada di dalam koper itu.


"Apa aku telah di copet?" Ucap Alyena dengan bingung, dia berjalan kesana kemari, tetapi kopernya tidak nampak sama sekali.


Alyena duduk di bawah pohon, untung saja ponselnya masih berada di sakunya dan segala hal penting lainnya ada di dalam tas ranselnya, dia segera mengambil kartu nama Jafier dan menekan nomor yang tertera di kartu nama itu.


Deringan pertama berbunyi, tidak begitu lama setelah deringan kedua terdengar suara seorang pria.


"Halo?"


Alyena mengambil napas.


"H-halo ini paman ya?" Tanyanya.


"Paman? Siapa yang menjadi pamanmu, kau salah samb..


Suaranya terdiam sejenak. "Alyena?? Apa kau Alyena?"


"Iya paman, aku Alyena."


"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Ucapnya, terdengar panik.


"Ermm, aku sekarang ada di kota ini, di Seattle."


"APA? Kau dimana?"


"Di seattle paman, itu...koperku di ambil orang." Ucap Alyena malu-malu.


"Tunggu aku, jangan kemana-mana, jangan menutup ponselnya, kau mendengarku Alyena? aku akan segera melacak lokasimu."


"Oke paman."


Suaranya panik, terdengar dari telepon ketika dia berbicara dengan seseorang, dia membatalkan semua janjinya hari itu, dan berbincang dengan Alyena tanpa jeda.


Setelah menunggu sekitar 15 menit, Alyena melihat satu mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depannya, dia membuka pintu mobilnya dan segera keluar dari mobilnya. Wajahnya terlihat khawatir, membuat Alyena begitu heran.


"Maaf paman, aku mengganggumu aku...


Pelukan erat dirasakan Alyena ketika bertemu dengannya, dia memeluknya terlalu erat hingga Alyena seperti tenggelam di pelukannya.


"P-paman jafier, kau baik-baik saja?" Tanyanya.


Dia melepaskan pelukan eratnya dan seperti lega ketika melihat keberadaannya. "Apa yang kau lakukan di Seattle? Seandainya saja aku tidak memberikan kartu namaku, kau akan kemana? Kau sangat ceroboh Alyena." Ucap Jafier.


Alyena tidak mengerti kenapa dia marah-marah. "Aku datang kemari ingin mencari kakakku, tapi aku tidak tahu memulainya dari mana, jadi aku telepon saja paman, siapa tahu paman bisa membantuku." Ucap Alyena.


Jafier mengacak rambutnya, "Kau harusnya meleponku sesampainya kau di sini, kupikir kau tidak punya ponsel?" Tanyanya.


Alyena mengangkat tangannya sambil menggoyangkan ponsel di tangannya. "Untung aku membelinya sebelum koperku di ambil." Ucap alyena sambil tersenyum.


"Oh ya, Willy mencarimu, dia menyusulmu ke Swiss." Ucap Jafier.


"Siapa Willy?" Ucap Alyena tidak mengerti.


"Kau sedang mencari kakak-kakakmu bukan?" tanya jafier terheran.


"Ya, aku mencarinya, tetapi namanya William dan Audrey." Ucap Alyena dengan lugu.


Jafier tertawa, "Kakakmu William itu di panggil Willy, dia juga telah lama mencari-carimu."


"B-benarkah? Benarkah itu paman? tapi dimana dia sekarang?" Ucap Alyena begitu terkejut, dia tidak menyangka secepat ini dia bisa bertemu dengannya.


"Sejak dia tahu kau adalah adiknya, dia langsung menyusulmu ke Gimmelwald."


"A-apa?"


"tenanglah, sebentar aku akan meneleponnya supaya dia segera kembali ke Seattle, apa yang membuatmu tiba-tiba datang ke kota ini mencari Willy?"


"Sudah lama aku mencari kak William, tetapi baru sekarang terlaksana, yaa paman pasti tahu kan, untuk mencarinya, aku harus mengumpulkan uang dulu." Ucap Alyena sambil mengangkat bahunya, "Kita akan kemana, paman?"


"Mulai hari ini kau akan tinggal di rumahku, jangan khawatir aku tinggal sendiri, anggap saja rumahmu sendiri sampai Willy datang menjemputmu, tetapi kalau kau merasa nyaman bersamaku, kapanpun kau bisa tinggal denganku dibandingkan tinggal dengan kakakmu."


Alyena tersenyum dan mengangguk, dia senang sekali karena tadi dia begitu ketakutan ketika kopernya menghilang. 20 menit perjalanan, akhirnya Alyena tiba di sebuah Penthouse mewah, mobil mereka memasuki gerbang besar yang di jaga oleh sejumlah orang berpakaian hitam. Setelah memarkirkan mobilnya, Jafier keluar dari mobil dan segera membukakan mobil untuk Alyena.


"Terima kasih."


Alyena keluar dari mobil dan menatap bangunan tinggi di hadapannya. "Apa ini rumah paman?" tanyanya dengan kagum.


"Ya, ini rumahku, bagaimana? kau suka?"


"Wah besar sekali, tentu saja aku menyukainya."


"Ayo masuk." Dia menghela Alyena, tanpa sadar tangannya memegang tangan Alyena dan membawanya ke dalam penthousenya, membuat Alyena merasa sedikit risih dengan genggaman tangannya.


"Duduklah, aku akan membuatkan minum, setelah ini kita akan makan siang, kau pasti lapar."


Alyena mengangguk bersemangat, dia masih terkagum-kagum dengan kemewahan yang dilihatnya, sama halnya dengan mansion tuan Regan, mansion itu seperti langit dan bumi jika di bandingkan dengan rumahnya yang ada desa.


Alyena masuk ke dalam sebuah kamar yang luas dan terlihat sangat mewah berwarna biru cerah, "Bagaimana? kau suka, mulai hari ini kamar ini akan menjadi milikmu."


"Wah, ya aku suka, terima kasih paman." Senyum bahagia terlihat di wajah Alyena. Jafier mengusap rambutnya.


"Beristirahatlah Alyena, aku akan memanggilmu kalau makan siang telah siap, oh ya pakailah pakaian yang ada di lemari, semua itu untukmu."


"A-apa, Ah baik paman."


Jafier menutup kamarnya, meninggalkan Alyena di kamar itu dengan perasaan sangat senang, dia menyimpan tas ranselnya di atas tempat tidur lalu duduk, dia menatap ruangan itu dengan kagum, dia kemudian berdiri dan membuka lemari di hadapannya, semua pakaian yang dibutuhkan Alyena ada di sana, gaunpun ada sampai pada baju tidur. "Kapan paman menyediakan semua ini?" Gumam Alyena.


Setelah Jafier menutup kamarnya, dia segera masuk ke ruangannya, dia lalu menelepon seseorang, "Ini aku Alvaro, apa kau sudah menyelidiki mengenai Kilian Regan, dimana dia sekarang?" tanyanya, sebelum Jafier pergi dari desa itu dia telah menempatkan salah salah satu orangnya untuk menyelidiki segala gerak gerik Kilian Regan serta kerja samanya selain milik perusahaannya.


"Tuan Regan sedang melakukan perjalanan keluar negeri, tiba-tiba saja dia pergi pagi itu juga."


"Apa kau menyelidiki apa yang terjadi di kediamannya?"


"Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan tuan, mengenai perusahaan tuan Regan."


"Benarkah? Apa ada hal lain yang dilakukannya?"


Saya sempat melihat seorang gadis berlari dari Villanya pada malam hari, setelah itu saya melihat gadis itu lagi, dia keluar dari gudang penyimpanan anggurnya larut malam sambil menangis, tetapi saat itu tuan Regan mengantar gadis itu kembali ke rumahnya."


"Selidiki terus, nanti aku akan menghubungimu." Dia menutup teleponnya.


Dia memukul meja dengan keras, sehingga benda-benda di atasnya bergerak, dan beberapa jatuh ke lantai, dia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berdiri di depan jendelanya. Tangannya mengepal kuat.


"Sialan kau Regan, apa yang telah kau lakukan kepada Alyena."


°°°


Perjalanan yang cukup melelahkan, tetapi kekhawatiran Kilian terhadap Alyena membuatnya tidak perduli dengan semua itu, dia masih berada di atas pesawat, dan segera menghubungi orang-orangnya agar mencarinya, keberangkatan terakhir yang dilihatnya sejam sebelum penerbangannya adalah kota Seattle di Amerika, Kilian yakin tempat itu menjadi tujuan Alyena.


"Aku harus menemukannya, dan ketika aku menemukan Alyena, aku tidak akan melepaskannya." Gumamnya.